
Yan Xu berdiri dan menangkupkan kedua tangannya sambil membungkuk sedikit dan berkata, "Sebelum mengatakan itu, aku akan meminta maaf terlebih dahulu atas ketidaksopanan yang akan ku lakukan berikutnya."
Setelah mengatakan itu, dia berdiri tegak dan berjalan ke arah Su Yueyin dengan langkah yang tegas.
Su Yueyin yang hanya memperhatikan situasi, tiba-tiba merasa gugup ketika Yan Xu berjalan ke arahnya. Kelopak matanya tidak berhenti berkedip karena terkejut. Namun, itu semua tidak menggoyahkan ekspresi dingin yang berada di wajahnya.
Yan Xu telah sampai di sampingnya, dia menggenggam tangan ramping Su Yueyin dengan tangan kanannya sementara yang lain merangkul tubuh ramping itu. Kemudian, dia menarik Su Yueyin hingga berdiri di dekapannya.
"Bagiku, dia adalah sebuah permata yang sangat berharga dan tidak tergantikan!"
Bukan hanya istrinya Su Lixuan, Su Weiyan juga menjatuhkan rahangnya karena pergerakan yang tiba-tiba itu. Udara di dalam ruangan menjadi berubah, aura dominasi milik Su Lixuan akhirnya kalah telak dengan angin musim semi yang dibawakan oleh Yan Xu.
Su Yueyin yang berada di dekapan Yan Xu, hanya menundukkan kepalanya. Dapat terlihat dari wajah peri yang dingin itu, kulit putih nan indahnya telah merah merona. Kulit wajahnya sudah terasa panas, membuat dia hampir tidak dapat berdiri dengan benar.
'Bukankah kalian menanyakan pendapatku? Kenapa jadi diam begini?! Apa ... aku sudah mengatakan hal yang salah???'
Ruangan itu menjadi hening, ditambah Ye Miao'er yang sudah tidak ada di sana bahkan sudah tidak dipedulikan lagi oleh pihak lain. Mereka terlalu fokus dengan tindakan Yan Xu yang spontan dan sangat impulsif melebihi perkiraannya.
Brukk!
Tangan ramping Su Lixuan menampar meja yang ada di depannya.
Wajahnya ikut memerah dengan ekspresi cemberut. Dia menunjuk ke arah Yan Xu dan berteriak, "Ku-kurang ajar! Ka-kamu pikir, apa yang kamu lakukan?! Beraninya kamu menyentuh putri kecil kami tepat di hadapanku?!"
Niat membunuh yang sangat pekat dapat terlihat dengan mata telanjang di sekitar Su Lixuan, itu mengarah langsung pada Yan Xu. Suaminya hanya bisa menghela napas, dia hampir terkena serangan jantung karena tidak menyangka hubungan mereka sudah sangat dekat. Sebagai seorang ayah dia senang, namun ada perasaan sedih ketika sadar harus melepas putri kecilnya saat ia sudah melangkah ke tangga kedewasaan.
__ADS_1
'Kamu ingin adu niat membunuh siapa yang paling pekat? Gadis nakal! Biarkan leluhur ini mengajarimu bagaimana caranya menekan seseorang menggunakan niat membunuh yang sebenarnya!'
Yan Xu yang menerima niat membunuh itu ikut terpacu keinginannya dalam saling adu, niat membunuh manakah di antara mereka yang paling pekat dan mendominasi.
Mengeluarkan sebagian niat membunuhnya, dia mengarahkan itu secara langsung kepada Su Lixuan. Niat membunuh yang datang dari Yan Xu mulai melahap milik Su Lixuan, menyebabkan serangan balik hingga dia mundur beberapa langkah.
Gubrak!
Kursi yang berada di belakang Su Lixuan terjatuh ke lantai, sedangkan dua orang lainnya merasa bingung dengan apa yang terjadi.
"Xuanxuan, ada apa denganmu?" tanya Su Weiyan sambil memegang bahu Su Lixuan.
Su Lixuan yang menerima serangan balik segera menekan titik dantiannya untuk mengurangi rasa sakit, kemudian mendengus dan berkata, "Kamu! Kamu bukan pria yang baik! Tidak mungkin orang baik akan memiliki niat membunuh sepekat itu! Aku yakin kamu pasti— ...."
"—Cukup!"
Su Yueyin kembali melanjutkan membelanya.
"Kakak Ketiga, bukankah kamu sudah keterlaluan? Lihat perbuatan mu selama ini. Tidak hanya bersabar dengan seluruh hinaan yang selalu kamu lontarkan kepadanya, Yan Xu juga tidak pernah membalas sekalipun sikap tidak sopan mu itu. Aku sarankan agar kamu menarik kembali ucapanmu barusan, kalau tidak ...."
Su Yueyin tidak melanjutkan sisa kalimat terakhirnya. Dia cuma menunjukkan tatapan dingin yang sangat tajam, menandakan bahwa ia benar-benar marah kepada pihak lain atas perilaku tidak sopan tersebut.
Su Lixuan menyipitkan matanya dan menatap tajam ke arah Su Yueyin lalu berkata, "Apa kamu yakin ingin membela dia? Kamu yakin sudah mengenal pria ini? Sebaliknya, aku lihat kamu tidak mengenali dia sama sekali. Bahkan, kamu tidak tahu kalau dia adalah pria yang sangat berbahaya dan memiliki niat membunuh terlalu pekat!"
Dia menaikkan suaranya hingga melengking. Berharap agar Su Yueyin dapat memikirkan kembali maksud dari ucapannya. Namun, kenyataan telah mengkhianati harapan Su Lixuan.
__ADS_1
Bukannya ingin mengerti, Su Yueyin berbalik melawan.
"Kakak Ketiga, bukankah itu juga berlaku kepada mu? Kamu juga tidak mengenal dia, bahkan tidak pernah sekalipun mengetahui kebiasaan sehari-harinya! Meskipun apa yang kamu katakan benar, aku yakin dia juga memiliki alasan sendiri!"
"Urkh!— kamu ...."
"Hentikan itu, kalian berdua," ucap Su Weiyan sebagai penengah.
Dia menatap ke arah Yan Xu dan berkata, "Nak, kamu juga. Berhenti bermain-main dengan bibimu, dia saat ini sedang sensitif jadi jangan mencari banyak masalah, oke?"
Yan Xu yang mendengarkan saran itu menghela napas dan seketika, niat membunuh yang sudah menelan Su Lixuan telah hilang. Udara di sekitar telah kembali normal dan tidak terasa suram lagi bagi Su Lixuan.
Dia menangkupkan kedua tangannya dan berkata, "Maaf Paman Weiyan, Murid terlalu impulsif."
"Selama kamu sadar, itu bagus. Kamu juga, Xuanxuan," Su Weiyan menegur istrinya dengan tegas sebagai seorang suami maupun ayah dari Su Yueyin. Dia menekan bahu Su Lixuan agar istrinya mau duduk tenang kembali.
Menyadari tindakannya yang terlalu impulsif, Su Lixuan hanya duduk dan masih mempertahankan ekspresi muram di wajahnya. Dia bahkan tidak meminta maaf ataupun mengakui kesalahannya. Yah, tidak ada yang berharap bahwa dia akan mengaku semudah itu.
Suasana ruangan itu hening sejenak dan suara daois tua— Su Weiyan— mulai terdengar kembali.
"Maaf jika aku menyela, tapi ... ummm ... mau sampai kapan kalian akan terus seperti itu?" tanya Su Weiyan sambil menatap mereka berdua yang masih saling berpegangan satu sama lain.
Tidak terganggu, bukannya Yan Xu, malah Su Yueyin yang menjawab, "Tidak perlu dipikirkan, kami akan terus seperti ini— aiya!"
Sebelum dia selesai, Yan Xu menjentikkan jarinya ke dahi Su Yueyin lalu mendudukkan nya kembali. Dia juga kembali duduk di kursinya. Walaupun masih terlihat datar, kakak seniornya tahu bahwa saat ini Su Yueyin sedang cemberut.
__ADS_1
Wajah dingin yang cemberut juga terlihat sangat manis di mata kedua pasangan dao itu. Yan Xu yang juga sadar akan hal itu, hanya pura-pura tidak tahu agar Su Yueyin menerimanya dengan lapang dada.
Jika dia tahu kalau Yan Xu juga memahami wajahnya yang sedang cemberut, Yan Xu takut Su Yueyin akan balas dendam ketika datang saat yang tepat dalam melakukannya. Menyebabkan dia menjadi keringat dingin karena pikiran yang terbayang-bayang, seperti apa Su Yueyin yang berwajah dingin menusuknya hingga mati menggunakan pedang tak terlihatnya.