Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Aturan Tak tertulis Puncak Angin (4)


__ADS_3

Seperti yang diharapkan, Ye Miao'er mengangguk setuju, "Seperti yang Guru ucapkan, begitulah adanya Saudari Ruolan."


"Kalau begitu, kamu memiliki kedekatan dengan elemen air dan kayu?" tanya Wang Jia Li penasaran.


"Ya."


"Terus, bagaimana denganmu?" Wang Jia Li mengarahkan pandangannya kepada Xiu Ruolan.


Bukannya menjawab, Xiu Ruolan juga bertanya, "Bagaimana denganku, Saudari Miao'er?"


Miao'er memikirkannya sejenak hingga ada jeda beberapa menit kemudian dia menjawab, "Angin dan ..." dia menggaruk punggung kepalanya, "Aku tidak tahu yang kedua karena ini juga kali pertama, aku melihat warna ungu gelap."


Demi melakukan pertunjukan tadi, sebenarnya Miao'er menggunakan bantuan sistem untuk memberikan warna yang sesuai dengan para murid. Dia juga hanya mengerti sedikit karena itulah yang dikatakan oleh sistem. Namun, ada juga yang tidak dijelaskan seperti warna oren cerah, emas dan ungu hitam.


Jadi, dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang berkaitan dan hanya mengangkat bahu sebagai balasan.


Xiu Ruolan menghela napasnya, "Kalau begitu, sangat disayangkan."


Wang Jia Li menepuk pundak Xiu Ruolan sambil menghiburnya, "Tidak perlu khawatir Saudari Ruolan, mungkin saja Guru tahu tentang kedekatan elemen milikmu. Kamu tinggal menanyakannya saja nanti saat Guru memulai bimbingan."


"Um, yang dikatakan oleh Kakak Senior Jia Li itu benar, Saudari Ruolan. Tidak perlu berkecil hati, itu karena wawasanku yang kurang."


Xiu Ruolan yang terhibur walaupun sebenarnya dia pura-pura tidak tahu karena mencoba untuk mengkonfirmasi pengetahuan kultivasi di dunia ini. Dia tersenyum hangat sambil berkata, "Terima kasih banyak, Saudari Jia Li dan Saudari Miao'er."


"Lalu, bagaimana kelanjutan dari penjelasanmu?" tanya Wang Jia Li.


Ye Miao'er terbatuk sekali, "Menurut Kakak Senior, penilaian ketat dari Guru adalah suatu garis awal bagi mereka yang berpotensi menjadi kultivator abadi."


Orang pertama yang mengangkat suaranya adalah Xiu Ruolan, "Apakah ada suatu penjelasan yang mendukung teori tersebut?"


Ye Miao'er memegang dagunya sambil mendongak ke atas seakan berpikir keras untuk mengingat.


Setelah beberapa saat kemudian, dia menjawab, "Terakhir kali Kakak Senior membicarakan ini, dia mengatakan sesuatu tentang ... um ... ugh ... aku ... ah!— Kemurnian!" bahu Miao'er merosot ke bawah, "Maaf, aku cuma mengingat satu kata itu saja."


Terdapat beberapa penyesalan dalam suara Miao'er. Dia mengutuk otak yang melupakan penjelasan penting dan telah membuatnya gagal tampil keren di depan dua murid baru.


Namun, pemikiran tajam Xiu Ruolan menemukan sebuah ide dari kata kunci yang disebutkan oleh saudarinya, "Mungkin yang kamu maksud adalah kemurnian energi qi pada tubuh kita?"

__ADS_1


Ye Miao'er segera menepuk tangannya dan berkata, "Benar! Itulah salah satu faktor yang mempengaruhi penilaian Guru terhadap calon muridnya!"


"Kalau begitu, bukankah seharusnya Bibi Yueyin bisa menjadi murid langsung Guru?" tanya Wang Jia Li keheranan.


Xiu Ruolan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Saudari Jia Li, itu hanyalah salah satu persyaratan. Artinya, bukankah masih ada hal lain yang mempengaruhi penilaian ketat Guru?"


Ekspresi Wang Jia Li menjadi cerah seolah-olah disinari cahaya ilahi yang penuh akan pengetahuan, "Benar juga! Terima kasih atas koreksinya, Saudari Ruolan."


Xiu Ruolan hanya mengangguk sebagai jawaban dan dia kembali menatap ke arah Miao'er yang sudah menghilang bilah tombak energi, "Bagaimana dengan aturan selanjutnya?"


"Aturan tidak tertulis selanjutnya ..." Ye Miao'er menunjuk ke arah Yan Xu dan Lan Xihe dengan bersemangat, "Sebentar lagi kalian akan melihat demonstrasi langsung."


Sementara itu, Lan Xihe masih mengejar dan menyerang Yan Xu dengan cambuk seribu keadilan.


"Guru, tolong jangan perlakukan Murid terlalu kasar begini!" teriak Yan Xu sambil berpindah-pindah dengan cepat ke sisi lain maupun ke dalam tanah secara bergantian.


"Murid Nakal! Kamu duluan yang membawa ini pada dirimu sendiri, humph!" Lan Xihe mengejar dan menyerang Yan Xu secara terus-menerus dengan kemampuan penuh fisiknya tanpa menggunakan energi qi sedikitpun.


Yan Xu yang terus kabur dengan susah payah akhirnya dapat memperlebar jarak di antara mereka sebanyak tiga puluh meter.


Tepat ketika dia keluar dari dalam tanah dengan akar kayu biru, Yan Xu segera bersujud.


"Guru! Tolong jangan perlakukan Murid seperti seorang suami yang ketahuan berselingkuh! Jika guru terus-menerus begini, bukankah kita akan terlihat seperti pasutri? Kenapa tidak sekalian saja guru menikah dengan murid!" teriak Yan Xu.


Lan Xihe yang sedang mengejar berhenti seketika saat jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa langkah lagi. Dia berjalan dengan santai berjalan ke arah Yan Xu dengan wajah yang memerah juga berkeringat.


Jari ramping Lan Xihe memegang dagu Yan Xu, kemudian dia mendongakkan nya dengan lembut hingga wajah dan tatapan mereka bertemu. Dia tersenyum dengan hangat namun mata merah cerah dan mulut dengan bibir yang indahnya berkata lain.


"Baik, baik, aku akan menikah denganmu. Jadi, kamu harus menerima pemukulan brutalku setiap hari tanpa harus lari. Kalau kamu masih punya tenaga untuk melamarku ..."


Lan Xihe mengencangkan cambuk seribu keadilan di tangan satunya, "Gunakan itu untuk menghindar atau melawan balik dengan segenap kekuatanmu!"


Sebuah cambukan yang sadis mendarat ke tubuh Yan Xu tanpa ampun.


"Aiya!— Guru, tolong jangan galak dengan suamimu! — Aarrgghh!! Guru sakit! — Arrghh!!!"


Teriakan Yan Xu memenuhi udara di sekitar Puncak Angin, sehingga mencapai ke tiga murid yang masih membicarakan tentang aturan tidak tertulis puncak mereka saat ini.

__ADS_1


Ye Miao'er melanjutkan penjelasannya dengan ekspresi serius, "Pertama, jangan menyinggung perasaan Guru. Sebagai wanita, kalian berdua juga tahu sendiri bukan ada garis yang tidak boleh dilewati saat mengatakan kebiasaan mereka tepat di depan orangnya?"


Keduanya mengangguk dengan ekspresi tak berdaya dan setuju pada ucapan saudari mereka.


"Selanjutnya, kalian harus terbiasa dengan lamaran pernikahan dari Kakak Senior. Dari semua orang, yang bisa menjawab dengan cepat hanyalah Guru, sementara aku ... yah, siapa juga yang tidak terkejut ketika ada seseorang melamarmu secara tiba-tiba, bukan?" Ye Miao'er memiliki ekspresi malu-malu sambil mengangkat bahunya.


Kedua gadis yang mendengarkan mengangguk sebagai tanda persetujuan.


"Jadi, sebisanya kalian harus menjawab jujur dan menolaknya dengan kalimat yang tidak jelas. Karena hierarki yang tidak tertulis mengatakan bahwa hanya Guru yang bisa menjawabnya dengan persetujuan, sementara kita para murid boleh jujur dengan perasaan sendiri tetapi wajib menolaknya seperti yang sudah disebutkan."


"Jika ada yang ingin menolak hierarki tak tertulis ini, silakan tantang dan kalahkan Guru. Jika kalian menang, dengan sukacita aku akan memberikan acungan keempat jempol yang aku miliki!" Ye Miao'er tersenyum lebar sambil mengacungkan jempolnya.


Kedua murid hanya tersenyum kecut dan mengangguk sebagai jawaban atas aturan hierarki yang tak tertulis itu.


"Oke! Aku pikir itu sudah semuanya! Sekarang, kita tinggal menunggu Kakak Senior selesai dengan plot liciknya."


"Apakah Kakak Senior Yan Xu akan baik-baik saja?" tanya Wang Jia Li khawatir.


Xiu Ruolan segera menjawab rasa khawatir saudarinya, "Sudah pasti dia akan babak belur."


Ye Miao'er mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya kepada jawaban tepat sasaran Xiu Ruolan.


Ketiga gadis itu memiliki pemikiran tersendiri saat melihat pertunjukan dari Kakak Senior Yan Xu. Namun, masing-masing orang memiliki kilatan aneh dengan kemungkinan akan menjadi sesuatu yang bengkok. Tidak ada yang tahu bagaimana isi hati maupun pikiran dari para peri cantik ini.


Sementara itu, butuh lima jam lebih Yan Xu dipukuli dengan sangat kejam dan langsung disembuhkan, kemudian dipukuli lagi oleh Lan Xihe. Semua murid hanya mengira bahwa Kakak Senior telah menginjak garis milik Guru yang tidak boleh dilewati.


Sedangkan pada jendela pemberitahuan sistem milik Lan Xihe ....


"Ding! Berhasil mendisiplinkan Murid Tertua «Yan Xu»! Mendapatkan .... Koin!"


"Ding! Berhasil mendisiplinkan Murid Tertua «Yan Xu»! Mendapatkan .... Koin!"


"Ding! Berhasil mendisiplinkan Murid Tertua «Yan Xu»! Mendapatkan .... Koin!" (↑×999, ... ,999 ... )


Dia sangat berusaha mendapatkan pemberitahuan itu sebanyak-banyaknya. Bukan hanya karena kesal, dia juga memang berniat memukuli Yan Xu yang merupakan tambang koin kesayangannya demi modal fungsi undian pada sistem.


'Bagus sekali, Murid Nakal! Kamu benar-benar tambang koin terbaik yang pernah ada!'

__ADS_1


__ADS_2