Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Kakak Senior Memberikan Gambaran Umum Tentang Sapi Dewasa Pada Guru


__ADS_3

Yan Xu dengan tenang memandangi langit biru beserta awan yang mereka lewati. Dia merasakan sebuah perasaan nostalgia ketika ia dan Ye Miao'er baru bergabung dengan Puncak Angin. Setelah melewati bahaya, mereka juga dibawa seperti ini.


"Merasa nostalgia?" tanya Lan Xihe yang berada di sebelahnya.


Yan Xu mengangguk lembut sambil tersenyum hangat dan berkata, "Apakah Guru merasakan sensasi yang sama seperti yang Murid rasakan?"


"Benar, aku tidak menyangka bahwa dari dua orang sekarang kita memiliki lebih banyak anggota."


"Sebaiknya Guru mempersiapkan diri mulai sekarang."


Lan Xihe memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung, "Kenapa?"


"Karena akan ada lebih banyak lagi anggota baru yang bergabung dengan Puncak Angin kita setelah menjadi lebih besar! Pada saat itu, walau Murid juga ikut membantu tetap saja tidak akan ada waktu untuk bersantai."


"Oh, apakah kamu sudah mempersiapkan diri terlebih dahulu?"


Yan Xu menggelengkan kepalanya dengan wajah muram, "Tidak, kalau bisa kita hanya perlu menjadi puncak kecil atau menengah saja. Murid tidak ingin kita terlalu mencolok dan membuat banyak serigala kelaparan menargetkan Puncak Angin."


Di dunia manapun, akan selalu ada yang namanya persaingan antar kelompok. Itu juga termasuk di dalam Sekte Abadi Luo. Jika mereka terlalu berkembang, Yan Xu khawatir bahwa masih ada tulang tua yang lebih picik dibandingkan Su Weiyan.


Dengan basis kultivasinya saat ini, dia cuma bisa bersembunyi dari ketidakpedulian pihak lain terhadap Puncak Angin. Tidak mungkin bagi Yan Xu untuk meniru perilaku para tokoh utama dimana mereka akan selalu menantang orang kuat sebagai batu loncatan.


Apabila bisa dimenangkan, dia akan maju tanpa gentar. Namun, jika pertarungan itu tidak memiliki peluang untuk menang sama sekali, ia tidak akan pernah ragu untuk lari maupun memeluk paha orang yang lebih kuat— seperti gurunya.


'Puncak Angin hanya perlu menjadi puncak kecil atau menengah. Kami tidak boleh terburu-buru dalam berkembang agar lepas dari kecurigaan puncak lain!'


Berbagai masalah sudah bisa dia bayangkan, namun ia juga tidak dapat berbuat apa-apa tentang itu. Semua keputusan diambil oleh Guru, sementara dia sebagai murid akan patuh dan berusaha keras untuk menyenangkan hati gurunya demi keuntungan pribadi.


Lan Xihe tertegun sejenak dengan pendapat Yan Xu yang agak blak-blakan. Dia segera pulih dan berkata, "Kamu tidak ingin Puncak Angin berkembang menjadi yang terbaik dari seluruh puncak?"


Yan Xu segera menjawab, "Tidak."

__ADS_1


Lan Xihe tersenyum kecut. Dia awalnya ingin mencari tahu ambisi seperti apa yang dimiliki oleh Murid Nakal, namun tak disangka jawaban secara langsung itu membuatnya ingin tertawa.


Saat melihat Lan Xihe memiliki ekspresi seperti itu ketika mendengar jawabannya, hati Yan Xu menjadi muram. Dia tahu bahwa saat ini, Lan Xihe sedikit menggodanya untuk mengatakan tujuan utama yang ingin dia raih.


Namun, itu adalah topik mustahil untuk dikatakan kepada orang lain bahwa dia hanya ingin bertahan hidup karena takut akan kematian meskipun ia memiliki tubuh yang abadi!


Siapapun yang mendengarnya, pasti tidak akan percaya dan menganggap bahwa dia sudah kehilangan akal sehatnya. Jadi, Yan Xu hanya bisa menelan seluruh alasan setiap tindakan yang ia lakukan di dalam hati.


Beberapa saat kemudian, suara lembut Lan Xihe kembali terdengar, "Untuk pemuda nakal sepertimu, apakah ini adalah hasil yang sepadan?"


Yan Xu menatap bingung ke arah Lan Xihe sambil berkata, "Apa maksud Guru?"


Lan Xihe tertawa cekikikan sambil menutupi mulutnya kemudian berkata, "Aku tahu kalau kamu sebenarnya sudah memperkirakan bahwa suatu hari benteng yang kokoh bisa hancur dimakan waktu. Jadi, kamu menunggu mereka jatuh dengan sabar."


Apa yang dimaksud oleh Lan Xihe dengan kata "mereka" adalah sebutan lain untuk keluarga Jiang. Hanya saja, dia masih belum jelas dengan alasan yang membuat Yan Xu rela menunggu juga bergerak menyelamatkan mereka.


Di sisi lain, Yan Xu mengerti bahwa Lan Xihe juga memikirkan hal yang sama. Namun, ada beberapa alasan juga janji yang tidak bisa dia ucapkan kepada siapapun. Mengambil hasil akhir seperti ini juga adalah hal terbaik yang paling bisa ia lakukan untuk memenuhi janji di antara mereka bertiga.


"Sapi dewasa yang ditinggalkan oleh gembala, apakah masih bisa bertahan lama?" tanya Lan Xihe penasaran.


"Selama mereka tidak memakan rumput yang beracun dan tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan rumput emas," jawab Yan Xu sambil mengangkat kedua bahunya.


Menurut Yan Xu, membiarkan para orang tua dari keluarga Jiang melakukan segala hal sesuka mereka adalah pilihan yang tepat. Selama mereka tidak menginjak garis batas dari pihak manapun, mereka masih bisa bertahan di tengah badai.


'Namun, sangat jelas sekali bahwa mereka tidak takut mati. Aku takut sesuatu yang melebihi batas garis itu, sudah mereka langgar sejak lama dan dengan rela meminum air sungai yang beracun.'


Yan Xu yang tidak ingin terlibat jauh dalam urusan keluarga Jiang masih mempertahankan posisi saling memberi terhadap mereka. Apapun yang terjadi pada keluarga Jiang di dunia sekuler, saat ini sudah tidak ada hubungannya lagi karena dia berhasil mengamankan garis keturunan langsung dengan bakat yang baik.


Lan Xihe mengangguk ringan sambil memikirkan apa yang dimaksud oleh murid nakalnya.


Yan Xu yang tidak tahan melihat gurunya terlalu berpikir keras, segera mengirimkan transmisi suara, "Jiang Nan pasti akan mengambil langkah yang lebih berani karena dia sudah mempercayakan kepada kita bakat garis keturunan langsung mereka."

__ADS_1


Lan Xihe mengernyit heran dan segera menjawab, "Apa maksudmu dia akan mengambil langkah yang lebih berani?"


Yan Xu terkekeh geli dan berkata, "Jiang Nan saat ini sudah tidak peduli kepada siapa mereka akan berdagang. Bahkan malaikat kematian sekalipun akan dia layani selama memberikan keuntungan!"


Kelopak mata indah Lan Xihe terbuka lebar. Dia akhirnya mengerti yang dimaksud oleh murid nakalnya.


"Kamu ... Murid Nakal, mengapa kamu membiarkan itu terjadi? Bukankah mereka adalah tambang emas yang penting untuk kita?"


Yan Xu menggelengkan kepalanya, tatapannya jatuh pada kening Lan Xihe yang berkedut. Dia membenarkan posisi kening gurunya dengan lembut kemudian memberikan penjelasan yang ia miliki.


"Justru karena mereka penting, membuat Murid terdorong dalam membiarkan banyak pihak lebih memperhatikan mereka. Dengan begitu, tidak ada yang akan bergerak sembarangan, termasuk musuh-musuh yang masih mengintai di dalam bayangan."


Lan Xihe memijat kening dengan kedua ujung jari rampingnya. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa skema Murid Nakal lebih dalam daripada yang ia bayangkan sebelumnya.


Yan Xu tertawa lembut dan melanjutkan dengan mulutnya, "Sementara itu, sapi yang tidak pernah melupakan siapa pemiliknya, pasti akan selalu memberikan hasil susu perahnya kepada pemilik yang dikira orang lain sudah meninggalkan mereka."


Lan Xihe mengacungkan kedua jempolnya pada Yan Xu sambil berkata dengan senyum lebarnya, "Skema biadab yang sangat luar binasa, Murid Nakal!"


Yan Xu mengangguk bangga, "Murid anggap itu sebagai pujian yang indah."


Kedua orang itu tertawa cekikikan sehingga membuat para anggota baru di belakang mereka bergidik ngeri. Tiap orang yang ada di barisan belakang memiliki pemikiran yang sama kecuali Jiang Nalan.


'Orang-orang ini terlalu aneh!' dan begitulah adanya, tanpa mereka sadari bahwa kedua orang itu sedang membicarakan nasib yang sedang menunggu keluarga Jiang di dunia sekuler.


Dengan tawa bahagia yang dapat terdengar dari kedua insan itu, awan putih yang membawa mereka terus melaju dengan kecepatan tinggi.


...----------------...


Akhirnya, saya bisa melewati bagian alur yang penuh akan skema licik dari setiap pihak karena sulit untuk memeras otak dalam menjelaskan ketika badan masih kurang fit. Maaf jika dirasa kualitas menurun. ༎ຶ‿༎ຶ


__ADS_1


__ADS_2