Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 10 - Bromance


__ADS_3

Pagi ini Lusia sudah bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Reisa. Dua gelas susu hangat dan roti bakar yang sudah ia sajikan dimeja. Sementara Reisa masih terbaring manja tidur dikasur.


Lusia membuka tirai jendela berharap bisa menyilaukan Reisa. “Reisa, bangun. Reisa...” panggil Lusia yang melihat pergerakan mata Resia. Reisa masih mencoba pura-pura tidur seolah tak terganggu dengan silaunya cahaya matahari pagi.


Plakkk... !


Lusia membalas pukulan semalam dengan memukul pantat Resia. “Berhenti pura-pura..!” teriak Lusia menarik selimut Reisa.


“Mengapa kau sudah rapi pagi-pagi begini ? Uahhh…” tanya Reisa sambil menguap, ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju meja. Ia duduk dikursi, meraih ponselnya memeriksa pesan masuk dan update-an account sosial medianya.


“Kau lupa ? aku harus mengembalikan mobil pria itu dan mengambil kembali mobil Cafe” jawab Lusia merapikan rambutnya duduk dimeja rias sederhana milik Reisa.


“Oh… kau benar, apa kau mau aku temani ? Aku sangat penasaran dengan pria itu” tanya Resia bertopang dagu dengan senyum kecil kearah Lusia.


“Bukankah kau ada kencan dengan David hari ini ? berhenti cari masalah. Aku bisa melakukannya sendiri” jawab Lusia meraih tasnya dan kunci mobil.


“Emmm... kau benar, jadi sekarang kau akan ke Galeri dahulu untuk mengambil mobilnya ? kau akan pergi dengan apa ? sementara motor sekutermu masih di Cafe ?” tanya Reisa.


"Aku akan naik bus. Oh ya habiskan sarapannya, jangan sampai David melihatmu semakin kurus dan berfikir aku menyiksamu dirumah” perintah Lusia sambil meneguk susu dan bergegas meninggalkan Reisa.


“Hubungi aku jika terjadi sesuatu… !!!” teriak Reisa mengintip sisa bayangan Lusia yang meninggalkannya.


***


Seusai mengambil mobil Rayn di Galery, Lusia bergegas pergi berkendara ke Villa Rayn. Ketika memasuki kawasan perhutanan, Lusia merasa takjub saat ia disuguhkan dengan indahnya pemandangan pagi yang dia lewatkan malam itu karena gelap.


“Wahhh, apa aku tidak salah jalan ?” ucap Lusia melirik navigasi mobil Rayn.


Perhutanan pinus yang dilaluinya tampak asri, mempesona, bahkan udaranya sangat sejuk. Lusia merasa bahwa sesungguhnya tempat itu tidak seburuk yang dia gambarkan dalam pikirannya semalam. Tentu saja bukan salah mata Lusia jika dia berfikir tempat ini horor karena tidak adanya penerangan sepanjang jalan.


Kini Lusia justru sangat menikmati perjalanannya yang sangat berbeda dari padatnya jalanan kota. Pepohonan yang hijau menjulang tinggi, bahkan tanpa disadari dia sudah sampai dihalaman Villa. Lusia memarkirkan mobil Ryan tepat disebelah Momo.


“Maafkan aku meninggalkanmu semalaman disini sendiri Momo” ucap Lusia mengelus sepion mobil Cafe yang mereka beri nama Momo.


"Kau mau membunuhku… ?” Terdengar suara teriakan dari dalam Villa.


Lusia yang mendengar sontak berlari kearah suara itu berasal. Terlihat dari sebuah jendela kecil yang terbuka, ada dua orang pria sedang berdebat. Salah satu pria itu adalah Rayn, namun seorang pria lain berdiri membelakangi Lusia sehingga tidak bisa melihat wajahnya


"Aku melakukannya karena aku peduli denganmu" balas teriak pria itu. Lusia spontan langsung menunduk dibawah jendela mendengarkan percakapan mereka untuk bisa memahami situasinya.

__ADS_1


"Apa mengancam nyawa seseorang kau sebut peduli ?" tanya Rayn.


"Tapi bagaimana bisa kau menyebutnya dengan membunuhmu, dengarkan aku dulu” pinta pria itu berusaha menjelaskan.


Lusia masih saja terus menguping mendengarkan dengan seksama, ia jongkok dibawah jendela. Diliriknya pria itu melangkah mendekatkan diri kepada Rayn, namun Rayn langsung menarik langkah mundur.


“Kuperintahkan hentikan langkah kakimu itu…!!” ucap Rayn tegas.


Pria itu langsung menghentikan langkahnya. “Kenapa ? apakah semuanya masih sama, aku masih tidak bisa menyentuhmu ?” tanya pria itu.


Mendengar perdebatan yang tidak biasa diantara dua pria membuat liar pikiran Lusia. “Apa yang sedang mereka lakukan ? apa jangan-jangan mereka… ? (bromance). Oh My God…!!“ ucap Lusia histeris dalam hati menunduk kembali setelah mengintip keduanya.


“Sudah kukatakan padamu untuk tidak memaksakan diri dengan melakukan hal yang tidak berguna“ lanjut ucap Rayn.


Lusia semakin fokus. “Apakah yang baru saja kulihat adalah pertengkaran antara pasangan?” gumam Lusia lirih penasaran.


“Lagian apa yang kulakukan disini, kenapa kau juga ikut konyol dengan bersembunyi Lusia” lanjut ucap Lusia berniat mengakhiri persembunyiannya. Ia mulai merasakan kesemutan dikakinya karena terlalu lama jongkok.


“Lalu bagaimana dengan gadis itu ? apa yang berbeda darinya ? bahkan dia bisa mendekapmu” teriak pria itu menunjuk keluar tepat kearah Lusia yang sudah bangkit dari persembunyiannya.


Menyadari pria itu melihat kearahnya, Lusia langsung menunduk kembali.


“Kau bahkan tahu soal bagaimana gadis itu bisa mengatasiku. Sudah kuduga, kau juga ada disana malam itu“ jawab Rayn tersenyum sinis.


Lusia yang kembali menunduk tetap bertahan jongkok. “Tunggu, apa yang sedang mereka bicarakan adalah kejadian semalan dan gadis yang dia maksud…  AKU ??? ” tanya Lusia menunjuk dirinya sendiri.


"Sudah kuperintahkan kau untuk mengosongkan Galery karena aku akan mengunjunginya, tapi apa kau lakukan ? kau sudah gila, kau ingin mengujiku ?” tanya Rayn serius.


“Apapun kita harus mencobanya dan metode itu yang..." jawab pria itu belum selesai sudah dipotong Rayn.


“Bukankah kau juga ada disana dan melihatnya dengan matamu sendiri, rasanya aku benar-benar seperti sulit untuk bernafas kembali" jawab Rayn memotong pembicaraan.


Lusia yang mendengarkan pembicaaran mereka asal menyimpulkan sendiri situasinya jika mereka pasti adalah sepasang kekasih. "Apa tadinya mereka hanya ingin datang berdua saja karena itu dia meminta mengosongkan Galeri ? Bikin iri saja sampai harus menyewa 1 Galeri" celetuk Lusia.


“Jadi pria itu juga ada disana semalam ? kenapa dia tidak menolongnya saat itu ? Aaaa…, aku tahu pasti karena hubungan terlarang mereka jadi dia tidak bisa melakukannya, karena itu dia marah” lanjut ucap Lusia semakin liar.


“Aku akan mencari gadis itu...” ucap pria itu tegas.


“Mickey ....!!!!” teriak Rayn menyebut nama pria itu kareba sudah tidak bisa menahan amarahnya.

__ADS_1


“Dan aku adalah pelakor diantara mereka ? Wahh situasi macam apa ini, sepertinya kegilaan ini belum berakhir. Apa yang akan ia lakukan setelah menemukanku ?" tanya Lusia merasa semua menjadi kacau.


“Tidak akan pernah ada yang berubah dengan kondisiku jadi berhentilah membuang waktumu…!” Perintah Rayn mengakhiri perdebatannya.


Malam itu, Mickey seharusnya mengatur permintaan Rayn untuk mengosongkan Galery dengan menyewa Galery dihari dimana Rayn akan berkunjung. Namun Mickey sengaja tidak melakukannya dan membiarkan Galery dibuka untuk umum seperti biasa. Dia berencana membantu Rayn mengatasi Haphepobianya dengan menekannya berada dalam situasi dikelilingi orang asing.


Mickey tidak menyangka jika akan terjadi mati lampu. Saat itu dia sedang berada ditoilet, dia sudah bergegas mencari Rayn dengan menghubunginya namun Rayn tidak menjawab panggilannya. Ketika ia sudah menemukan Rayn dilantai 2, saat itu Rayn sudah bersama dengan Lusia.


Rayn memang kesulitan untuk menerima sentuhan orang lain, namun dokter keluarganya di Canada mengatakan kepada Mickey jika ia seharusnya masih bisa berada dekat dengan banyak orang. Asalkan tidak menyentuhnya itu tidak akan membahayakannya. Ia menyarankan sesekali Rayn harus pergi bersosialisasi dan berada ditempat umum.


Rayn harus belajar menyesuaikan diri berada dalam satu tempat lebih dari 4-5 orang. Karena ia bukan tidak bisa berada diantara banyak orang. Namun rasa takut akan seseorang bisa saja menyentuhnya secara tidak sengaja yang membuatnya tidak ingin berada dalam kerumunan. Hal ini justru akan memperburuk kondisinya.


“Apa barusan aku mendengar apa yang seharusnya tidak kudengar ? Bromance ?“ tanya Lusia dalam hati merasa geli.


“Apa aku pergi saja ? tapi bagaimana dengan kunci mobilnya ? atau aku pura2 bodoh membunyikan bel pintu... ?.  Tidak, tidak, tidak itu sama saja aku bunuh diri ditangan kekasihnya" lanjut gerutu Lusia.


Kring.. Kring…


Bunyi ponsel Lusia mengejutkannya, dengan sigap ia menerima panggilan telepon yang masuk. “Kelvin …? Ada apa ?” tanya Lusia lirih dalam panggilan.


"Apa yang kau lakukan? Reisa mengatakan kau pergi seorang diri mengambil Momo?” sudah ku katakan aku akan mengurusnya" ucap Kelvin.


“Tidak apa, aku sudah akan kembali. Jangan khawatir, aku akan menyelesaikannya dan segera kembali” jawab Lusia.


“Benar…, kau harus segera kembali !” terdengar suara seorang pria secara nyata berbicara kepadanya dibalik Jendela.


 


***To Be Continued***


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.

__ADS_1


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2