Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 114 - Ketakutanku


__ADS_3

Di Friends Cafe, Lusia tampak sibuk dengan ponsel nya, jemarinya terus bergerak, manik matanya pun bergerak mengikuti pergerakan tampilan layar ponsel yang ia scroll. Meskipun Cafe rame pengunjung, tapi para pelanggan semua yang ada di Cafe sudah terlayani dengan baik, sehingga beberapa staf bisa mengamati Cafe dengan santai.


Dave yang sedari tadi memperhatikan Lusia menjadi semakin penasaran, apa yang sedang dilakukan Lusia dengan ponselnya itu. Dave menghampiri Lusia, tanpa basa-basi ia langsung bertanya untuk memuaskan rasa penasarannya. Tanpa menjawab dengan kata, Lusia justru hanya merespon dengan senyum sembari menunjukan tampilan layar ponselnya kepada Dave.


Toko buku online? Ya, laman itulah yang saat ini sedang dilihat Lusia. Sebuah toko buku online merujuk pada halaman buku dongeng. Mengetahui hal itu, Dave menyarankan Lusia untuk pergi ke sebuah toko buku offline yang pernah ia kunjungi. Toko buku tersebut memiliki begitu banyak koleksi buku dongeng.


Lusia terlihat sangat antusias dengan tempat yang disarankan Dave. Ia memutuskan untuk pergi ke sana sepulang dari Cafe. Secara kebetulan hari ini Lusia masuk shift pagi sehingga dia memiliki waktu untuk pergi ke toko buku itu.


Dave penasaran tentang apa yang akan dilakukan Lusia dengan buku dongeng itu mengingat dia tidak hobi membaca. Bahkan Lusia tidak memiliki saudara ataupun kerabat yang berusia anak-anak. Kecuali adik Lusia bernama Lucas, namun usianya saat ini seharusnya sudah tidak mungkin lagi bagi Lucas masih memiliki ketertarikan membaca buku dongeng.


Lusia hanya bisa tersenyum dan berkata. "Tidak ada syarat batas usia membaca buku dongeng, Dav" ucapnya dengan menepuk bahu Dave lalu pergi menyambut pelanggan yang baru saja masuk Cafe.


Tentu saja tidak dapat diragukan lagi, Lusia mencari buku dongeng sudah dapat dipastikan untuk ia berikan kepada Rayn. Rayn satu-satunya orang yang dia kenal memiliki hobi membaca dan mengoleksi begitu banyak buku dongeng.


"Aku dengar kak Lusia akan mengambil cuti panjang, apa itu benar? Apa yang akan kak Lusia lakukan dengan cuti selama itu?" tanya Dave menghampiri Lusia yang baru saja selesai menerima pesanan pelanggan.


"Ya, anggap saja aku sedang pergi berlibur" sahut Lusia yang tidak mengatakan dengan detail jika ia akan pergi ke Kanada bersama Rayn.


...***...


Sepulang dari Cafe Lusia pergi ke Toko Buku yang disarankan Dave. Ia terkejut, ternyata yang dikatakan Dave benar, toko buku itu memiliki begitu banyak koleksi buku dongeng. Baik dongeng lama hingga buku dongeng dengan cerita yang paling modern. Lusia berpikir jika suatu saat nanti ia perlu membawa Rayn pergi ke toko itu. Meskipun kemungkinan besar Rayn sudah memiliki semua koleksi yang ada di sana. Tapi, Lusia percaya jika Rayn pasti akan menyukai tempat ini.


Jemari Lusia menyentuh setiap deretan baris buku yang tersusun begitu sangat rapi. Manik mata Lusia terus bergerak membaca setiap judul untuk menemukan satu judul buku dongeng yang ingin ia beli. Sebuah buku dongeng legendaris yang penuh nilai berharga karya Hans Christian Andersen yang memiliki kisah-kisah sangat klasik dan timeless.

__ADS_1


Hampir 30 menit berlalu, entah apa karena Lusia tidak pernah membaca buku dongeng atau tidak paham dengan pengelompokan susunan, Lusia sangat kesulitan untuk menemukan buku yang ingin ia cari itu.


Lusia menatap setiap lorong rak buku lalu menghela nafas, akan sulit jika mencari nya satu-persatu seorang diri. Sementara ia sebenarnya sadar jika dirinya hanya perlu pergi ke kasir dan menanyakan apa mereka memiliki buku dongeng yang sedang ia cari.


Jujur, Lusia sedari tadi enggan memilih jalan pintas bertanya karena ia ingin mendapatkan buku itu dengan perjuangan sendiri. Tapi apalah daya, sudah 3 baris rak buku ia telusuri dengan mata yang terbuka lebar namun tetap tidak ada hasil. Lusia pun akhirnya menyerah, mengibarkan bendera putih berjalan pergi ke kasir. Selain itu, saat ini diluar sedang turun hujan begitu deras, jadi ia tidak bisa lagi lama-lama berada di sana.


Tiba-tiba ponsel Lusia berbunyi sebelum ia sampai di kasir. Melihat adanya panggilan masuk dari Mickey membuat Lusia seketika menghentikan langkahnya dan langsung menjawab panggilan itu. Tanpa menyapa, Mickey langsung bertanya dimana posisi Lusia saat ini, apakah dia berada di Villa atau bahkan mungkin sedang bersama Rayn. Suaranya begitu lantang seolah menegaskan seperti sedang terjadi sesuatu.


Lusia pun menegaskan kepada Mickey jika saat ini ia tidak berada di Villa dan tidak bersama Rayn. Lusia penasaran, apa yang membuat Mickey menanyakan hal itu pada saat dia masih berada di Kanada. Menjawab rasa penasaran Lusia, Mickey mengatakan jika ia mendapat laporan ada dua mobil yang tertangkap cctv memasuki wilayah villa Rayn. Mickey bahkan kesulitan menghubungi Rayn dan juga Arka, karena itu ia mencari Lusia.


Mickey sudah memerintahkan beberapa pengawal untuk pergi ke Villa, tapi mereka akan membutuhkan waktu lama untuk menempuh perjalanan dari markas mereka untuk sampai di Villa.


"Apa kau tahu siapa mereka?" tanya Lusia dengan nada suara yang mulai panik.


Mickey pun masih belum bisa memastikan siapa mereka sebelum mendapatkan laporan dari para bawahannya. Lusia segera menutup telepon dan pergi meninggalkan toko buku. Ia bahkan sudah lupa dengan tujuannya untuk membeli buku. Lusia pun berlari menerobos hujan menuju mobilnya, ia bahkan mengabaikan tawaran payung yang ditawarkan staf toko yang bersedia mengantarnya sampai mobil.


Lusia terus melajukan kendaraannya, pandangan minim karena hujan lebat tidak menghalangi dirinya. Ia terus mencoba melakukan panggilan namun hasilnya masih sama, tidak ada jawaban sehingga semakin menambah kecemasan Lusia. Sangat jelas wajah Lusia yang panik dan gelisah.


"Semoga tidak terjadi sesuatu dengannya" batin Lusia dalam hati berharap Rayn baik-baik saja.


Lusia sudah memasuki kawasan perhutanan menuju Villa, langit mulai menjadi gelap dan hujan masih turun dengan lebatnya. Belum jauh, Lusia melihat silau sorot lampu kendaraan mobil dari arah berlawanan. Seperti yang dikatakan Mickey, benar ada 2 kendaraan yang sudah memasuki area perhutanan Villa, bahkan mobil itu saat ini berjalan ke arahnya dari arah Villa.


Lusia melambatkan kendaraannya ketika kendaraan mereka akan saling berpapasan. Lusia mengeluarkan ponselnya untuk memotret setiap plat mobil itu. Kedua mobil itu melewati mobil Lusia begitu saja, tidak ada petunjuk apapun. Lusia semakin cemas dan bertanya dalam hati, apakah Rayn berada di Villa atau mungkin bersama mereka.

__ADS_1


Lusia tampak ragu sejenak dan bingung apa yang harus ia lakukan. Ia akhirnya mengirim 2 gambar plat mobil kendaraan itu kepada Mickey lalu memutuskan lanjut menuju Villa sembari menghubungi Rayn lagi.


Setelah cukup jauh ia berkendara tiba-tiba mobilnya mati. Sebuah ketidakberuntungan yang sangat sempurna, ia kehabisan bahan bakar disaat seperti ini. Lusia sesungguhnya tahu jika bahan bakarnya menipis dan ia memang sudah berencana mengisinya sepulang dari toko buku. Namun semua rencana itu buyar setelah ia menerima telepon dari Mickey. Padahal sedikit lagi ia sudah akan sampai di Villa.


"Tuhan, aku mohon padaMU" ucap Lusia memohon sembari menyalakan kendaraannya kembali.


Lusia menghela nafas kasar, ia sadar tidak akan ada harapan. Bagaimanapun juga tidak akan ada keajaiban yang akan membuat bahan bakar terisi tiba-tiba sehingga kendaraannya bisa kembali menyala.


Tanpa berpikir panjang lagi, Lusia keluar dari mobil dan langsung berlari menuju Villa dibawah guyuran derasnya air hujan. Ia meninggalkan mobilnya berlari sekuat tenaga untuk bisa segera sampai di Villa. Hanya Rayn yang ada dipikirannya, kecemasannya terhadap Rayn yang memberinya dorongan dan tenaga untuk terus berlari.


Namun kesialan Lusia belum selesai, ia terjatuh dan tersungkur saat tengah berlari. Lusia segera bangkit dan lanjut berlari hingga akhirnya ia sampai didepan Villa. Dengan terburu-buru, dengan tangan yang gemetar ia menekan sandi dengan cepat. Tetesan air hujan dari pakaiannya yang basah kuyup membasahi lantai depan pintu. Sandi terverifikasi, Lusia langsung masuk ke dalam Villa mencari keberadaan Rayn dengan terus berteriak memanggil nama Rayn.


"Rayn...!" panggilnya dengan mata yang bergerilya kemana-mana.


Lusia bergegas menaiki tangga ke lantai 2. Ia pergi ke kamar Rayn namun tidak mendapati Rayn di sana. Lusia hanya menemukan ponsel Rayn yang tergeletak diatas nakas. Lusia meraih ponsel Rayn dan melihat begitu banyak panggilan masuk darinya dan Mickey.


Lusia semakin panik, matanya tak lagi berkaca-kaca tapi mulai menjatuhkan buliran air mata. ia sangat mencemaskan Rayn, takut sesuatu terjadi dengan Rayn. Lusia semakin tidak bisa membendung rasa takutnya. Ia bahkan tidak tahu siapa mereka yang datang ke Villa, untuk apa mereka datang, apa yang mereka lakukan kepada Rayn. Tapi, dari semua itu yang terpenting saat ini dimana Rayn.


"Kekuatanku saat ini tidak lebih dari imajinasi yang mengerikan. Aku cemas untuk semua hal yang mungkin terjadi dengannya. Bahkan sulit bagiku untuk berpikir lebih jernih dan tenang. Apa yang terjadi dengannya? Apa dia baik-baik saja? Pertanyaan ini yang kini mengisi seluruh kepalaku, sebuah kecemasan yang tidak memiliki batas."


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2