Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 149 - Drama Romantis


__ADS_3

Waktu sebentar yang dijanjikan oleh Lusia terasa begitu sangat lama untuk Rayn. Rayn masih menunggu, sesekali ia menatap para pengunjung yang berada diluar vip room. Sesaat Rayn tampak menikmati setiap kali melihat pasangan kekasih yang terlihat akur dan bersikap manis satu sama lain. Tidak hanya itu, Rayn juga tampak memandang iri melihat sekelompok pengunjung yang berkumpul dengan rekan kerja mereka. Perasaan iri Rayn hanya sebatas merasa, mungkin hidupnya akan lebih berwarna jika dirinya juga bisa melakukan itu.


Waktu terus berlalu dan Rayn mulai merasa bosan menunggu seperti seekor burung yang ditahan didalam sangkar. Sesekali Rayn melihat Lusia yang masih saja sibuk keluar masuk dapur. Lusia sepertinya benar-benar belum bisa meninggalkan Cafe karena tiba-tiba Cafe menjadi semakin ramai.


Lebih dari satu jam berlalu Rayn menunggu hingga dia mulai mengantuk. Dia menggunakan kedua tangannya bertungku diatas meja sebagai bantalan kepalanya. Mata Rayn semakin sayu dan rasa ngantuknya pun tak tertahan hingga akhirnya ia memejamkan mata hampir tertidur.


Rayn kembali membuka matanya ketika mendengar suara geseran pintu sliding yang dibuka Lusia. Lusia merasa sedih saat melihat Rayn yang tampak terlihat lebih lelah darinya. Menunggu memang bukan hal yang menyenangkan. Lusia merasa bersalah karena sudah membuatnya menunggu. Lusia melangkah masuk lalu duduk tepat disamping Rayn.


"Maafkan aku sudah membuatmu menunggu dan bahkan aku lupa membuat ruangan ini lebih terang" ucap Lusia dengan wajah rasa bersalah.


Rayn tidak ingin mendengar hal itu dari Lusia karena dirinya baik-baik saja. Rayn bertanya apakah Lusia sudah benar-benar menyelesaikan perkerjaannya dan Lusia menjawab dengan anggukan. Rayn meminta kini meminta Lusia untuk menunggunya sebentar lagi.


"Sebentar saja, biarkan aku mendapatkan nyawaku lagi sebentar" ucap Rayn lirih.


Lusia tentu saja tidak keberatan dengan hal itu. Lusia mengatakan jika dirinya saja yang mengemudi. Rayn bisa pulang bersamanya sementara Arka bisa kembali ke Villa membawa mobil Rayn. Ryan langsung menolak, karena dia tidak akan membuat istrinya yang menngemudi untuk dirinya.


"Baiklah, jika kau butuh istirahat sejenak, ambil waktumu dan kau bisa pejamkan matamu. Aku akan menunggu, jangan cemaskan aku. Dan juga apa suhunya terlalu dingin? Aku akan menurunkan suhunya untukmu " ucap Lusia bangkit dari duduknya untuk meraih remote AC.


Rayn menahan tangan Lusia dan memintanya untuk duduk kembali. Lusia menatap Rayn yang saat ini juga sedang menatapnya.



"Duduklah, kaulah energi yang aku butuhkan, jadi biarkan aku tetap menatapmu seperti ini, sebentar saja" ucapnya.


Lusia kembali duduk dan membiarkan Rayn menatapnya hingga puas. Lusia pun lalu ikut menyandarkan kepalanya menggunkan kedua tanganya sebagai bantalan. Rayn dan Lusia pun saling menatap hingga keduanya justru ketiduran berdua.


Waktu terus berlalu dan kini mereka berdua sudah berada dalam mobil perjalanan kembali pulang ke Villa. Arka yang mengemudikan kendaraan tidak sengaja melewati lubang sehinggga mobil yang mereka tumpangi cukup mendapatkan guncangan.


Rayn merasa kesal karena sudah memperingatkan Arka untuk berkendara dengan hati-hati dan pelan-pelan. Hal itu karena Rayn tidak ingin membangunkan istrinya yang masih tampak nyaman tidur bersandar dibahunya. Tapi sayangnya guncangan baru saja telah membangunkan Lusia.


Lusia mengerjapkan matanya dan terkejut saat menyadari dirinya sudah berada didalam mobil. Dia melihat Rayn duduk disampingnya dan Arka duduk dikursi kemudi sedang mengemudikan kendaraannya. Lusia terdiam sejenak, ia tampak sedang memutar otak memikirkan situai apa yang terjadi.


"Aku rasa ini benar mobilku" ucapnya berbicara sendiri sembari melirik setiap detail kendaraannya.


"Kau benar, ini mobilmu. Aku meninggalkan mobilku di Cafe dan Arka yang akan mengurusnya nanti" sahut Rayn.

__ADS_1


"Ah Benar, Cafe" sahut Lusia dengan suara tinggi.


Lusia merasa jika ada sesuatu yang ia lewatkan. Lusia mulai mengajukan banyak pertanyaan kepada Rayn tentang bagaimana dirinya bisa berada didalam mobil dalam perjalanan kembali ke Villa. Sementara terakhir kali Lusia ingat jika masih berada di Cafe bersama Rayn.


"Apa mungkin aku ketiduran? Ah, tidak! Atau jangan-jangan aku tidur seperti orang mati lalu kau menggendongku dari Cafe hingga ke mobil. Haha... situasi seperti itu tidak mungkin terjadi kan Rayn?" tanya Lusia dengan tertawa canggung yang diselimuti rasa tidak percaya dan gelisah.


"Sayang nya aku harus jujur karena tidak suka berbohong. Memang itu yang terjadi" sahut Rayn.


Lusia kembali duduk tenang menyandarkan tubuhnya, ia meminta Rayn memberikkan topi yang dia pakai untuk dirinya. Lusia pun segera menggunakan topi itu untuk menutupi wajahnya karena merasa sangat malu. Saat ini tidak ada siapapun didalam mobil selain Rayn dan Arka. Maka menurut Rayn apa yang dilakukan Lusia sekarang sangatlah percuma.


Arka menceritakan tentang apa yang terjadi. Saat itu seperti yang Lusia tahu jika keduanya bersama lalu sama-sama ketiduran cukup lama. Arka yang sedari tadi menunggu diluar mulai merasa khawatir karena keduanya tak kunjung keluar dari Cafe. Setelah mencoba menunggu cukup lama, Arka akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam Cafe mencari keduanya.


Arka melihat Rayn dan Lusia sedang tertidur, bahkan keduanya tampak sangat pulas dengan tangan yang saling menggenggam.


"Tangan saling menggenggam?" potong Lusia. Arka membenarkan hal itu dan kembali melanjutkan penjelasannya.


Arka ragu apa dirinya harus membangunkan Rayn dan Lusia atau menunggunya sebentar lagi. Karena Cafe sudah akan tutup maka Arka tidak bisa menunggu lagi. Hal ini membuat Arka tidak punya pilihan lain selain membangunkan keduanya.


Namun Arka kembali dibuat bingung. Siapa yang harus ia bangunkan, hingga pada akhirnya Dave meminta Arka untuk membangunkan Rayn. "Lebih baik kita bangunkan Kak Rayn, karena jika dia tahu anda mengganggu tidur istrinya, sepertinya Kak Rayn akan menjadi sangat marah, bukankah begitu?" Saran Dave untuk Arka.


Dave mengatakan jika Rayn tidak perlu meminta maaf karena mereka masih baru akan mulai persiapan tutup. Rayn menatap ke arah Lusia yang masih terlihat sangat pulas. Ia tidak ingin membangunkan tidur istrinya. Tidak ada cara lain, perlahan Rayn meraih tas yang masih tergantung di tubuh Lusia. Rayn meletakkan tas itu diatas meja lalu mengangkat tubuh istrinya dengan kedua tanganya.


Lusia sepertinya sangat kelelahan, ia tampak tak terganggu dan masih tertidur dalam gendongan Rayn. Lusia seperti anak kucing yang merasa nyaman berada dalam pelukan hangat ibunya. Lusia dengan sangat nyaman menyandarkan kepalanya pada bidang datar dada sang suami.


"Bawa tas Lusia, kita akan pulang dengan mobilku" ucap Rayn sembari menggendong Lusia keluar vip room.


Arka segera meraih tas Lusia. "Baik Tuan Muda, saya akan mengurus mobil Ny.Lusia setalah mengantar anda kembali ke Villa" ucapnya sembari memberi perlindungan untuk Rayn lewat.


Semua mata para staf yang menyaksikan kejadian ini sungguh dibuat heran, tidak percaya bercampur kagum dan iri melihat adegan bak dalam sebuah drama. Bukankah ini adalah adegan romantis dalam sebuah drama yang selalu menjadi idaman para wanita. Memiliki seorang suami yang tampan, kaya, sangat perhatian dan juga peka. Bahkan dia tidak segan-segan menunjukkan keromantisan itu didepan umum.


"Tunggu, apa yang baru saja dikatakannya pria tadi? Tuan Muda? Nyoya Lusia? Pria itu memang beberapa kali terlihat datang kemari tapi aku saja tidak terpikirkan jika mereka berkencan. Tapi, aku tidak salah dengar? Kenapa Lusia dipanggil Nonya?" tanya seorang staf wanita yang penasaran.


Dave menggelengkan kepalanya berulang kali. "Sudah sewajarnya bagi dia bawahan suaminya akan memanggil istri bosnya dengan panggilan Nnyoya" sahut Dave sembari meletakkan tongkat pel pada tangan wanita itu.


"Su... suami.....??? Istri....??? Jadi apa mereka benar-benar sudah menikah?" tanyanya lagi kepada Dave.

__ADS_1


.


.


"Tidakkkkk...tamatlah aku" teriak Lusia didalam mobil.


Rayn mengatakan jika itu adalah obrolan mereka yang terakhir ia dengar sekilas saat meninggalkan Cafe. Lusia tidak tahu bagaimanan dia harus menghadapi rekap-reka kerjanya nanti. Lusia meminta seharusnya Rayn membangunkannya, maka mungkin tidak akan menimbulkan gosip yang tidak-tidak diantara rekan-rekannya.


Rayn meminta Lusia untuk tidak cemas dan panik karena itu bukan masalah besar yang perlu dikhawatirkan. Mereka sudah resmi menikah, maka menggendong istrinya yang tertidur bukanlah hal yang tidak pantas.


"Itu masalahnya..." sahut Lusia lemas.


"Memangnya masalah apa yang akan tersebar sementara kita memang sudah menikah?" tanya Rayn.


Lusia menjelaskan jika dia sama sekali belum memberitahu mereka jika dirinya sudah menikah.


"Sungguh? Kenapa? Itu sungguh membuatku sedih" sahut Rayn,


Lusia menjelaskan jika dirinya sama sekali tidak ada niatan untuk menyembunyikan status pernikahannya. Lusia hanya belum memberitahu mereka. Lusia tidak ingin meladeni jiwa-jiwa kepo mereka. Mereka akan banyak menanyankan hal-hal yang sulit dijawab. Mereka juga akan mengeluh kenapa tidak ada undangan sampai ditangan mereka jika Lusia benar sudah menikah. Menghadapai mereka lebih merepotkan daripada menghadapi seorang reporter.


"Tapi Rayn, aku tidak memberitahu mereka bukan karena kita tidak bisa mengadakan resepsi atau..." jelas Lusia yang tidak ingin Rayn salah palam atau merasa bersalah karena tidak bisa memberikan itu semua untuk Lusia.


"Baiklah, jika begitu sebagai suamimu aku harus melakukan sesuatu untuk istriku" sahut Rayn.


"Sesuatu? Sesuatu seperti apa?" tanya Lusia.


"Apa lagi, aku harus memberikan apa yang mereka inginkan untuk ngganggantikan momen yang mereka lewatkan" sahut Rayn.


Lusia tampak penasaran, apalagi yang akan dilakukan Rayn kali ini. Rayn hanya tersenyum dan meminta Lusia untuk tidak mencemaskan apapun. Sikap tenang Rayn itu justru membuat Lusia semakin curiga karena Rayn adalah orang yang tak terduga.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2