Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 141 - Aku Tidak Bisa Membencimu


__ADS_3

Kelvin tidak ingin melakukan pembelaan apapun di depan Lusia. "Kau boleh marah padaku atau membenciku, aku akan menerima itu. Tapi, aku mohon kau akan mengingatnya, jika meskipun aku adalah putra dari X Group, aku tidak akan pernah menyerah terhadap ayahmu." lanjut ucap Kelvin lalu melepas kedua tanganya dari bahu Lusia.


Lusia menghela nafas. "Meskipun aku sangat marah, tapi bagaimana aku bisa membencimu. Jikapun nanti ayahku terbukti tidak bersalah, jikapun nanti terbukti pamanmu dan orang-orangnya yang telah tega menjebak ayahku serta ..." ucap Lusia tertahan.


"Serta..., meskipun terbukti perusahaan ayahmu terlibat dan menutupi perbuatan pamanmu, aku tetap tidak akan membencimu. Mungkin aku akan membenci mereka semua hingga mendarah daging. Tapi, aku tidak akan pernah membencimu. Itu bukanlah kesalahmu dan semua terjadi bukan karena kehendakmu. Karena itu aku tidak berhak membencimu. Dan jikapun aku sangat marah sekarang, yang membuatku marah bukan karena kau adalah putra dari X Group, tapi keputusanmu meyembunyikan semuanya dariku. Sungguh ini menyakitiku dan membuatku semakin menyedihkan." jelas Lusia.


Lusia mengatakan jika ia merasa sangat bodoh ketika teringat kembali momen saat Kelvin pertama kali datang ke rumahnya di perkampungan nelayan waktu itu. Lusia sungguh mengira jika saat itu Kelvin benar-benar pertama kali bertemu dengan ibunya. Bahkan ia memperkenalkan Kelvin kepada ibunya seperti orang yang tidak pernah bertemu. Tapi nyatanya Kelvin dan Ibunya sudah saling mengenal bahkan sebelum dirinya mengenal Kelvin.


"Maafkan aku Lusia" ucap Kelvin kembali mengucapkan maaf dengan tulus.


"Mungkin saat ini menurutku sudah cukup, aku harus pergi menemui ayahku" sahut Lusia lalu turun dari ranjang mengakhiri perbincangan mereka.


Kelvin masih sangat mengkhawatirkan Lusia. Kelvin membantu Lusia turun dari ranjang serta membantunya berjalan keluar karena tubuh Lusia yang masih terasa lemas. Untuk kondisinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk Lusia bertemu dengan ayahnya. Kelvin mengatakan jika dirinya akan menemani Lusia bertemu dengan ayahnya.


Di balik pintu tirai, disana Rayn masih berdiri menunggu Lusia. Rayn menoleh memandang ke arah Kelvin dan Lusia yang berjalan keluar. Lusia menatap Rayn yang juga sedang menatapnya sekarang. Lusia meminta Kelvin untuk melepaskan bantuannya, ia mengatakan jika dirinya akan pergi menemui ayahnya dengan Rayn, suaminya.


Kelvin menatap ke arah Rayn lalu perlahan melepas kedua tanganya. Ia mengambil langkah mundur menjauh dari Lusia agar Rayn bisa mendekat. Rayn mengambil langkah dekat usai Kelvin berdiri jauh dari Lusia. Rayn meraih kedua bahu istrinya untuk membantunya berjalan lalu mereka pergi ke kamar 503.


Di depan kamar pasien 503, Lusia tampak mempersiapkan diri untuk membuka pintu. Ibu Lusia yang baru saja kembali usai mengganti air menghampiri Lusia yang masih berdiri didepan pintu. "Apa kau sudah baik-baik saja?" tanyanya kepada Lusia.


Lusia menatap ibunya lalu tidak bisa menahan airmatanya lagi. Lusia langsung memeluk ibunya dan tangisnya pun pecah dalam pelukan ibunya.


Ibu Lusia melepas pelukannya usai Lusia merasa lebih tenang. Ia pun lalu memandang Rayn yang berdiri tak jauh dari mereka. "Bukankan ini sangat sulit untukmu, biarkan ibu saja yang akan menemani Lusia menumui ayahnya" ucap ibu Lusia kepada Rayn.


Rayn menunduk mempersilahkan ibu mertuanya. Ibu Lusia lalu menuntun lengan putrinya untuk masuk. Dengan kaki yang gemetar Lusia berjalan mendekati pria paru baya yang tak berdaya duduk dikursi roda tepat didepannya. Lusia mendekat dan memanggilnya "Ayah...."

__ADS_1


Lusia memanggil menyebut kata ayah untuk kedua kalinya namun ayah tirinya itu tidak menghiraukan panggilannya. Lusia kembali menangis tatkala ayahnya sama sekali tidak memandang dirinya. Ayah tiri Lusia hanya menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong seolah tidak ada satupun orang didekatnya.


"Ayah, maafkan Lusia. Maafkan Lusia" ucap Lusia memohon kepada ayahnya.


Ayah Lusia pun lalu menoleh meskipun tubuhnya sulit untuk digerakan, hanya lirikan mata dan bibir yang kesulitan untuk bicara yang bergerak. Ayah Lusia berusaha mengucapkan nama putri tercintanya. Meskipun Lusia bukanlah anak kandungnya, namun terlihat jelas dari sorot matanya, betapa ia sangat mencintai dan merindukan sosok putrinya itu.


Ayah Lusia berusaha memanggil nama putrinya dengan susah payah, ia berteriak dengan suara yang terdengar sangat lemah. "Luuuuu...uuuu....aaaa" ucapnya tidak jelas.


Lusia, nama yang sangat ingin ia sebut namun hanya bisa menguncapkannya seperti seorang anak yang baru belajar bicara.


"Ayah.."  panggil Lusia lagi sembari mendekap pipi ayah tirinya.


Sungguh mengiris hati Lusia, Lusia semakin menangis terisak meminta maaf kepada ayahnya. Lusia merasa telah


berdosa dan bersalah karena sangat membenci ayahnya selama ini. Ia membenci tanpa tahu kesulitan yang dihadapi ayahnya selama ini.


Ayah Lusia terus dihantui rasa bersalah, bahkan semakin menyiksa hatinya tatkala melihat anak dan istri para korban yang hanya bisa menangisi kepergian suami dan ayah mereka.


Ayah Lusia yang sudah sangat putus asa memutuskan untuk berhutang kepada beberapa rentenir untuk mendapatkan uang. Tidak hanya barang-barang berharganya yang satu persatu ia jual, tapi ia bahkan manggadaikan rumah yang menjadi tempat tinggal keluarga kecilnya. Setelah bersusah payah ia mendapat izin ibu Lusia dan berjanji akan menebusnya kembali segera.


Sungguh sulit dipercaya, uang yang ayah Lusia dapatkan dari menjual barang dan menggadaikan rumah itu ia bagikan dan berikan kepada para korban. Yang dilakukan ayah Lusia saat itu sungguh sebuah perjuangan yang luar biasa. Namun, sayangnya ia tidak memiliki jalan dan harapan lain selain berhutang.


Ayah Lusia terus berhutang dan berhutang sembari berjuang mendapatkan hak mereka. Namun, bukan hak para pekerja yang ia dapat. Ayah Lusia justru dipanggil dan dituding sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Ayah Lusia dituduh menggelapkan dana perusahaan sehingga peristiwa itu terjadi. Semua menjadi semakin sulit dan rumit namun dia terus berjuang sampai pada akhirnya kecelakaan itu terjadi. Ayah Lusia tidak bisa lagi memenuhi janjinya kepada Ibu Lusia untuk mendapatkan kembali rumah yang sudah ia gadaikan.


Lusia terus menangis, ia menggenggam tangan ayahnya. Menatap tangan sang ayah yang memiliki luka goresan-goresan kecil. Luka itu ayahnya dapat ketika mentalnya tidak dalam kondisi baik. Sebelum kelumpuhan semakin parah, ayah Lusia sering menyakiti dirinya sendiri. Lusia lalu perlahan memeluk ayahnya, sementara ayahnya hanya bisa bersuara dan berusaha mengatakan sesuatu kepadanya.

__ADS_1


"Aaaa.....aaaa....." ayah Lusia hanya bisa mengucapkan kata itu.


Suara yang tadinya lemah tiba-tiba terdengar kuat dan tinggi. Semakin Lusia memeluknya erat suara ayah Lusia terdengar semakin keras dan semakin keras. Bahkan terdengar seperti ayahnya sedang berusaha berteriak. Ayah Lusia terus bergerak sekuat tenaga hingga membuat kursi roda yang ia duduki bergerak tak kendali.


"Aaaaa...eee....aaaaa" teriaknya terus menerus.


Kelvin yang sedari tadi berdiri diluar mulai panik mendengarnya. Mendengar dan melihat apa yang terjadi dengan ayah Lusia membuat tubuhnya tiba-tiba menjadi gemetar, bahkan ia tampak sedang menahan diri.


Kelvin mulai mendengar suara yang hanya dirinya seorang diri yang mendengarnya. Tidak ada satupun disana yang mendnegar suara itu. Suara teriakan yang terus terdengar dan mengisi pikirannya. Sebuah suara teriakn penuh dengan makian. "Mati kau, sialan. Kau sangat kejam, tidak punya hati nurani. Kau bukan manusia...!!!!"


Bulir keringat mulai bermunculan dan mengalir menetes membasahi kening Kelvin.  "Tidak...!!!" ucap Kelvin mengepalkan tanganya dengan kuat.


Kelvin menutup kedua telinganya mengingat semua kejadian 15 tahun lalu. Tepat teriakan itu membekas dalam ingatannya. Kejadian saat ia pergi dengan ayahnya mengunjungi ayah Lusia untuk kedua kalinya. Saat itu ayah Lusia yang hanya berdua saja dengan Kelvin di kamar pasien tiba-tiba menyerang dan mencekik leher Kelvin. Dengan sorot mata penuh kebencian dan amarah, ayah Lusia berusaha untuk mengakhiri nyawa anak laki-laki yang saat itu berada dibawah kukuhannya.


Dengan nafas yang hampir habis, Kelvin berusaha keras meminta tolong. "Ayah.... tolong.. to..long... ayah" pinta Kelvin menatap pintu kamar yang tertutup.


"Mati kau, sialan. Ini semua salahmu. Kau sangat kejam, tidak punya hati nurani. Kau bukan manusia...!!!!"


Ya, umpatan itu yang terus diucapkan ayah Lusia kepada Kelvin sembari semakin kuat mencekik leher Kelvin saat itu.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2