Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 13 - Kopi dari Sang Pangeran


__ADS_3

Keesokan hari Lusia memulai kembali rutinitasnya seperti biasa. Ia bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk Reisa dan juga untuk dirinya. Ia memasang alarm di ponsel Reisa jam 07.30 pagi dengan pesan ‘Bangun dan habiskan sarapanmu’.


Lusia berangkat kerja lebih awal dibandingkan dengan Reisa. Mengenakan kaos yang dilapisi dengan kemeja panjang dipadu celana jeans panjang. Sepatu Velcro berwana putih dan tas totebag berwarna polos dengan varian warna yang dimilikinya. Lusia biasa hanya mengikat satu rambutnya, jarang sekali mengurai rambut. Itulah penampilan sederhananya setiap hari.


“Semangat Lusia” ucapnya menarik nafas panjang setelah merekatkan rekatan sepatunya.


Sepanjang perjalanan di Bus ia terus memikirkan tawaran Mickey. Jika ia menerimanya maka bisa dengan lebih cepat membantu ibunya bebas dari jeratan hutang yang ditinggalkan ayah tirinya.


Lusia berencana mengirim pesan kepada Reisa untuk memberitahu dan meminta pendapat Reisa soal tawaran Mickey. Tapi ia tidak yakin jika Reisa akan sependapat dengannya menerima tawaran itu.


“Lupakan, aku juga tidak mungkin meninggalkan Cafe” ucap Lusia dalam hati penuh kegalauan. Ia pun mengurungkan niatnya mengirim pesan kepada Reisa setelah merangkai kata-kata panjang. Lusia menghapus pesan yang belum dikirimnya dan memasukkan kembali ponselnya kedalam tas.


***


Lusia mulai membuka Toko Bunga tempatnya berkerja. Ia membawa keluar satu persatu keranjang bunga dan menyusunya untuk dipajang di depan toko.


Tidak lama, suara klakson mobil Kelvin mengejutkannya. Ia tersenyum menyapa Kelvin yang keluar dari mobil dengan melambaikan tangan. Kelvin meletakkan dua cup kopi yang dibawanya dimeja yang terletak tepat didepan toko. Tanpa permisi Kelvin langsung mengambil keranjang bunga dari tangan Lusia untuk membantunya membawa keluar dan menyusunnya. Lusia tidak terkejut lagi dengan sikap baik Kelvin, karena meskipun dilarang Kelvin juga akan tetap melakukannya.


“Duduklah, aku bisa melakukannya” ucap Lusia karena melihat Kelvin tampak usai lembur dengan wajah kusutnya seperti tidak tidur semalaman.


"Tidak apa, aku bisa membantumu lebih cepat, agar selebihnya waktumu bisa untuk menemaniku minum kopi sebentar” ucap Kelvin merapikan berapa bunga.


“Tak perlu menyingkat waktu, aku tetap bisa menemanimu minum kopi, karena pagi biasa masih sepi” ucap Lusia dengan merapikan beberapa bunga dikeranjang lain.


“Jika aku bosmu ditoko ini, aku pasti sudah menilaimu telah memakan gaji buta dengan bersantai ria... haha” sahut Kelvin tertawa lalu duduk dan menyeduh kopinya.


"Apa kau lembur lagi semalam ?” tanya Lusia duduk tepat berhadapan dengan Kelvin.


"Seperti yang kau lihat, tampang lusuhku ini tidak bisa menipumu jika aku bilang tidak” jawab Kelvin dengan mendorong cup kopi ke tangan Lusia.


Kelvin adalah seorang Arsitektur. Ayahnya memiliki perusahan Property dan Real Estate. Kelvin lulusan universitas ternama diluar negeri, University of California, Berkeley (UCB). Universitas yang memiliki salah satu departemen arsitektur terbaik di dunia. Ia memiliki perusahaan sendiri meskipun masih berada dibawah naungan perusahaan ayahnya.


Kecintaannya terhadap kopi mendorongnya untuk menjalankan bisnis Cafe. Tempat dimana Lusia bekerja, yang artinya Kelvin adalah pemilik ‘Friend’s Cafe’ dan juga Momo. Friends Cafe selalu ramai dengan pengujung. Tak Jarang Lusia sampai harus membantu menjadi barista jika Cafe sedang ramai.


Cafe pasti akan selalu penuh dengan pengunjung wanita jika official account Instagram Friend’s Cafe sudah membagikan story ‘Sang Pangeran ada disini’ . Tentu saja pangeran yang dimaksud adalah Kelvin. Hal ini terjadi bermula saat Dave mengunggah video berdurasi pendek, dimana saat Kelvin menjadi barista diwaktu luangnya. Wajah rupawan dan postur tubuh yang apik menjadi daya tarik utama Kelvin.


Semenjak itu Cafe diburuh oleh para gadis-gadis setiap mengetahui Kelvin sedang berada di Cafe. Tidak hanya sampai disitu, Instagram Kelvin pun menjadi sasaran sehingga memiliki banyak pengikut yang gila untuk bisa update unggahannya. Ditambah dengan karyawan lainnya yang juga memiliki penampilan menarik termasuk wajah Dave dan Lusia menjadikan Friends Cafe terkenal dengan sebutan Surganya Berhalu Ria.


“Benar, begitu kau bilang akan mengurus Momo kemarin, sementara kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri sekarang” ucap Lusia menghela nafas kasar mendengar jawaban Kelvin lalu menyeduh kopi miliknya.

__ADS_1


Mendengar Lusia menyebut Momo mengingatkan Kelvin dengan kejadian malam itu, dimana saat dia menjemput Lusia dari Villa Rayn. Kelvin sesungguhnya masih kesal karena Lusia tidak mendengarkan perkataannya dan tetap pergi seorang diri mengambil Momo dari Villa itu.


“Pria sepertimu harus bepenampilan rupawan dipagi hari, agar penggemarmu semakin bertambah. Apa lagi jika kau mau duduk disini setidaknya hingga 2 jam kedepan, aku yakin akan banyak wanita yang mengantri demi dirimu alih-alih membeli bunga… Hahaha” ledek Lusia.


“Lalu apa kau juga akan ikut mengantri ?” tanya Kelvin mengejutkan Lusia. Lusia pun terbatuk-batuk mendengar ucapan Kelvin.


“Berhenti menggelitik tenggorokanku dipagi hari” celetuk Lusia.


Meskipun Kelvin adalah pemilik Café tempat Lusia bekerja, namun mereka memang sudah lama saling kenal dan dekat. Bahkan kedekatan keduanya sebelum Lusia bekerja di Cafe. Kelvin adalah teman baik David, tentu saja pertemuan awal Lusia dengan Kelvin karena David.


“Apa kau masih tidak ingin menceritakan padaku tentang apa yang terjadi malam itu ?” tanya Kelvin.


“Sekarang semua sudah selesai dan aku baik-baik saja, bukankah itu sudah cukup” jawab Lusia tersenyum dan kembali menyeduh kopinya.


“Kau yakin dia tidak melakukan apapun terhadapmu ?” tanya Kelvin kembali.


“Maafkan aku jika sudah membuatmu khawatir saat itu. Tapi bukankah kau mengenalku, jika terjadi sesuatu aku pasti sudah akan menghajarnya dan tidak akan melepaskannya” jawab Lusia dengan mengepalkan tangannya seolah akan melakukan tinjuan maut. Ia berusaha meyakinkan Kelvin meskipun malam itu dirinya sangat ketakutan.


“Hanya saja…” ucap Lusia menunda perkataanya.


“Hanya saja ?” tanya Kelvin menaikkan alisnya menunggu Lusia melanjutkan ucapannya.


“Tidak apa, lupakan” sahut Lusia mengehela nafas kasar lalu mengalihkan pandangannya menatap kearah jalanan.


“Haha tidak ada yang kusembunyikan darimu dan lagi pula kenapa juga aku harus menyembunyikannya” jawab Lusia tertawa memecahkan keseriusan Kelvin.


“Lalu ?” tanya Kelvin.


“Temannya menawarkan pekerjaan padaku” jawab Lusia.


“Pekerjaan ?" tanya Kelvin.


“Aku masih mempertimbangkannya” jawab Lusia meneguk kopinya hingga habis lalu berdiri.


“Apa kau menerimanya dan akan berhenti dari Cafe ?" tanya Kelvin ikut berdiri.


“Tentu saja tidak, jangan khawatir aku akan tetap setia Boss” ucap Lusia memberi hormat kepada Kelvin yang berdiri didepannya dengan tersenyum.


"Kalian baru saja bertemu, sangat mencurigakan jika tiba-tiba memberimu tawaran" ucap Kelvin. Ia ingin sekali meminta Lusia untuk mendiskusikannya dahulu dengannya. Namun ia takut Lusia akan merasa tidak nyaman karena bukan haknya untuk meminta seperti itu.

__ADS_1


“Sudahlah, pulanglah istirahat. Kau sudah tampak seperti bunga disana” ucap Lusia menunjuk salah satu bunganya yang sudah mulai layu.


“Kau memerintahku ? dan bunga apa ? kau menghinaku ?” tanya Kelvin menunjuk dirinya dan bunga yang dimaksud Lusia.


“Hahaha” tawa Lusia.


“Meski bunga itu mulai layu tapi tetap dia bunga yang mempesona hanya perlu sedikit sentuhan air” lanjut Lusia meledek Kelvin agar kembali pulang dan membersihkan diri.


“Menyesal aku datang kemari membawakanmu kopi” decak Kelvin.


“Jangan khawatir, meskipun kondisimu seperti ini, tapi kau tetap tampan dan rupawan. Aku yakin penggemar-penggemarmu diluar sana justru akan teriak-teriak histeris dengan sisi lain dari idolanya. Aaa.... oppa sepertinya aku rela menjadi sprei agar bisa terus melihatmu setiap kau bangun menyapa pagi" ledek Lusia dengan memeperagakan ala-ala fangirl sehingga membuat Kelvin merinding.


"Apa perlu aku memotretmu sekarang dan mempostingnya diInstagram Friend’s Cafe ? lalu menyapa dengan Caption ~Good Morning~ .” Lusia terus menggoda Kelvin.


“Teruskan saja” ucap Kelvin kesal memandang tingkah Lusia.


“Lanjutkan pekerjaanmu, salahku yang mengganggu, aku pergi” imbuh Kelvin meninggalkan toko bunga.


“Jangan khawatir aku akan selalu jadi penggemar nomor satumu” teriak Lusia.


Mendengar teriakan Lusia, Kelvin menghentikan langkah kakinya menoleh, dilihatnya Lusia mengacungkan jempol kearahnya dengan tersenyum.


“Ingat, jika kau terlembat ke Cafe hari ini aku akan memotong gajimu” ancam Kelvin malanjutkan kembali langkahnya menuju mobil.


Lusia hanya tertawa mendengar ancaman Kelvin. Seperti itulah mereka saat berada diluar dari jam kerja di Cafe. Siapa yang menyangka jika Kelvin adalah bosnya. Jika penggemar Kelvin melihat, pasti mereka akan menuding Lusia karyawan kurang ajar.


“Berhenti memancingku dengan senyumu itu” gerutu Kelvin dalam mobil menatap Lusia yang tersenyum kepadanya dengan melambaikan tangan. Kelvin pun tersenyum kecil lalu mejalankan mobilnya meninggalkan toko bunga.


 


*** To Be Continued***


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)

__ADS_1


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2