
Keesokan hari…
Di dapur, Lusia sedang menyiapkan makan siang untuk Rayn. Ia melamun memikirkan pertanyaan yang Rayn tanyakan kepadanya kemarin.
"Jika saja, jika saja aku tidak bisa sembuh atau mungkin lebih buruknya kau tidak bisa menyentuhku, apa kau akan tetap bersamaku?"
Pertanyaan itu terus mengganggu dan sangat mengusik dirinya. Lusia bisa meyakinkan dirinya sendiri jika apapun yang terjadi ia akan tetap selalu ada untuk Rayn. Namun, yang Lusia takutkan jika Rayn lah orang yang akan menjadi lemah dan ingin menyerah terhadap dirinya atau pengobatannya.
Ting…Tung….
Bel pintu berbunyi dan membuyarkan lamunannya. Mendengar itu, Lusia menghentikan aktivitasnya dan memeriksa siapa yang datang. Ia melihat seseorang yang sudah ditunggu Rayn berdiri di depan pintu. Lusia menghela nafas lalu ia membuka pintu dan menyapanya.
“Dr. Leona” sapa Lusia mempersilahkannya masuk.
Kedatangan Dr. Leona adalah untuk memenuhi jadwal yang sudah disepakati Rayn dan Dr. Leona untuk melakukan Hipnoterapi hari ini.
Lusia hendak mengantar Dr. Leona untuk menemui Rayn di lantai 2. Namun, sebelum itu ia ingin menanyakan sesuatu yang sangat mengusiknya itu kepada Dr. Leona.
“Dr. Leona” panggil Lusia.
“Boleh kah aku menanyakan sesuatu padamu?” lanjut tanya Lusia dengan ragu.
“Tentu saja, apapun itu” jawab Dr. Leona.
“Rayn mengatakan kepadaku jika dia menemuimu kemarin, apa ada sesuatu?” tanya Lusia lirih. “Oh ya, ini bukan soal aku cemburu atau sebagainya, aku hanya khawatir dan ingin tahu apa ada sesuatu dengan pengobatannya?” lanjut tanya Lusia.
"Dasar Rayn, apa dia melakukan hal bodoh dengan membuatmu cemas?" tanya Leona.
Dr. Leona menghela nafas, ia lalu memberitahunya. Lusia menjadi semakin takut dan cemas mendengar apa yang dikatakan Dr. Leona.
Dr. Leona tersenyum lalu mendekat dan menepuk pundak Lusia. “Jangan kahwatir, semuanya akan baik-baik saja” ucapnya kepada Lusia.
Lusia membalas dengan senyum kecil, lalu mempersilahkan Dr. Leona untuk mengikutinya naik ke lantai 2. Lusia meminta Dr. Leona untuk menunggu di ruang baca yang sudah disiapkan untuk hipnoterapi. Ia lalu pergi memanggil Rayn yang sedari dari masih sibuk di ruang melukis.
Lusia mengetuk pintu lebih dahulu lalu menekan sandi untuk masuk. Ia selalu melakukannya untuk memberi tanda kepada Rayn jika dirinya akan masuk.
“Rayn, Dr.Leona sudah menunggumu di ruang baca” ucap Lusia menghampiri Rayn yang duduk di depan papan easel menyelesaikan lukisannya.
Rayn menghentikan aktivitasanya, ia meletakkan papan palet kayu yang dipenuhi berbagai paduan warna cat dan kuas rigger dari tangannya kesebuah meja kecil tepat disebelahnya duduk. Ia melepas apron ditubuhnya lalu memutar tubuhnya di kursi menghadap Lusia yang kini berdiri tepan di depannya.
Rayn meraih tangan Lusia untuk membuat tubuh Lusia lebih dekat dengan dirinya. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggul Lusia. Ia mendongak menatap Lusia yang terlihat lebih cemas dari darinya.
“Jika itu sulit untukmu, aku bisa melakukannya sendiri. Kau bisa menunggu disini mendengarkan musik dengan earphone. Abaikan semua yang kau dengar diluar sana. Atau aku akan meminta Arka mengantarmu ke Dervilia dan kau bisa menungguku dengan beristirahat disana” ucap Rayn.
Rayn tidak ingin membuat Lusia sedih saat menemaninya melakukan hipnoterapi sepertinya yang terjadi sebelumnya. Lusia melepaskan rangkulan tangan Rayn dan memandangnya. Ia terpikirkan apa yang dikatakan Dr. Leona kepadanya tadi.
"Dia bertanya kepadaku apa yang terjadi jika kenyataan itu lebih menyakitkan dari segala kemungkin buruk yang yang bisa ia terima. Maka hanya akan ada 2 kemungkinan yang terjadi,memperburuk phobianya atau menemukan kuncinya untuk kesembuhannya"
Lusia lalu tersenyum, ia meraih tangan Rayn. “Apa yang kau bicarakan? Dr. Leona sudah menunggu di ruang baca, aku akan menemanimu” ucapnya. Ia mengajak Rayn keluar dengan menggandeng tangannya.
.
.
Di ruang baca, Rayn sudah berbaring setengah duduk dengan posisi senyaman mungkin. Ia sudah siap menerima instruksi dan sugesti dari Dr.Leona. Sebuah sugesti yang merupakan inti dari proses Hipnoterapi. Sama seperti sebelumnya Dr.Leona memberi arahan mengatur pernafasan diringi alunan musik. Rayn mulai relax dan fokus dengan sugesti yang diberikan Dr. Leona.
Dr. Leona mulai mendapatkan akses yang lebih luas pada memori masa kecil Rayn dengan teknik affect bright atau jembatan perasaan. Rayn mulai mendapat bimbingan terapis dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadarnya. Lusia duduk tepat disebelah Rayn dengan terus menggenggam tangan Rayn. Kini Rayn mulai memasuki kondisi hipnosis yang lebih dalam.
#Flasback
.
Rayn kembali ke momen dimalam ia pergi ke acara festival dengan ibunya. Ia kini berada di dalam kendaraan yang di kemudikan oleh ibunya.
__ADS_1
“Tahun depan kita bisa pergi bersama dengan Mickey” ucap ibu Rayn kepada Rayn yang duduk disebelahnya.
"Dan aku harap jika tahun depan ibu Mickey sudah bisa bersama kita" sahut Rayn.
Ibu Rayn tersenyum, ia sangat bahagia mendengar kata yang sudah seperti doa mengharapkan kesembuhan ibu Mickey.
"Ibu, apa setelah pulang nanri ibu bisa membuatkan sup ayam untukku?" tanya Rayn.
"Sup ayam?" Bagaimana jika meminta bibi membuatkannya sekarang? Saat pulang nanti sudah bisa lansung dinikmati" sahut ibunya.
"Aku hanya mau buatan ibu karena aku sudah sangat merindukan sup ayam buatan ibu. Mickey juga sangat menyukainya." potong Rayn menolah saran ibunya.
"Rayn, bukan ibu tidak senang melakukannya, tapi kau harus bisa menerima masakan semua orang. Bagaimana jika ibu sudah tidak bisa memasakkannya lagi untukmu? Ahh... jika kau sudah lebih dewasa nanti bagaimana jika ibu mengajarimu membuatnya? Jadi ibu yang akan selalu merindukan sup ayam buatanmu" ucap sang ibu.
"Baiklah, sup ayam buatanku nantinya akan lebih enak dari buatan ibu" sahut Rayn membanggakan diri.
Perbincangan hangat keduanya terhenti saat ponsel Ryan berbunyi adanya panggilan masuk dari Mickey.
.
.
#Back Hipnoterapi
"Mickey memanggilku" ucap Rayn.
"Apa kau menerima panggilannya?" tanya Dr. Leona.
"Aku menjawabnya" jawb Rayn.
“Apa yang dikatakan Mickey kepadamu dalam panggilan itu?” tanya Dr. Leona.
“Dia memintaku kembali” jawab Rayn.
"Kenapa? Apa alasan dia memintamu kembali?" tanya Dr. Leona.
.
.
#Flashback
“Oh, Mickey, kita sudah hampir sampai, aku akan menghubungi segera” ucap Rayn dalam panggilan.
“Bisakah kau kembali Rayn?" tanya Mickey.
“Kembali?” tanya Rayn. “Bersabarlah, aku dan ibu sudah hampir sampai" ucap Rayn seraya menatap jalanan.
“Aku mohon kembalilah, kalian dalam bahaya” ucap Mickey.
Doooaaarrrrrrr…… Doaarrrr…..
Rayn melihat gemerlap kembang api mengudara dengan indahnya dilangit diikuti dengan suara gemurunya. Masih dalam panggilan dengan Mickey, Rayn bergegas membuka kaca mobil dan menikmati indahnya cahaya warna-warni yang menghiasi langit.
“Miceky apa katamu tadi?” tanya Rayn.
“Rayn kau dengar aku?” tanya Mickey.
“Mickey tunggu, kembang api sudah dilepaskan dilangit. Tunggu sebentar, aku akan menggantinya dengan panggilan video, aku takut jika menunggu sampai disana maka kembang apinya sudah selesai” potong Rayn ia mengubahnya menjadi panggilan Video dengan Mickey.
“Rayn, dengar aku Rayn, aku tidak peduli dengan kembang api” ucap Mickey.
"Wahhh...” ucap Rayn takjub, ia tidak mendengarkan apa yang sedang dikatakan Mickey.
Rayn yang merasa kurang puas dengan posisinya, membuatnya membuka kaca mobil dan membuka sabuk pengaman. Ia duduk berpangku pada lutut menghadap kaca, merekam momen itu untuk disaksikan bersama dengan Mickey.
“Rayn, itu berbahaya sayang, turun dan pakai sabuk pengamanmu kembali” perintah sang ibu yang masih mengemudikan kendaraannya.
__ADS_1
“Mickey lihatlah…” ucap Rayn dengan menjulurkan tangannya keluar dengan kedua siku berpangku pada kaca yang kini sudah senuhnya terbuka dan mengabaikan peringatan ibunya.
“Rayn… “ panggil sang ibu dengan satu tangannya meraih tubuh Rayn dan menariknya untuk kembali duduk.
Rayn pun duduk, namun ia masih sibuk merekam untuk Mickey. Ibu Rayn memintanya memakai sabuk pengaman, namun Rayn hanya asal memakainya tanpa mengunci. Ibunya berusaha meraih sabuk pengaman Rayn untuk dikunci.
Klekkk…
Bersamaan dengan sabuk yang sudah terpasang dengan aman, Rayn kembali memandang kedepan lalu berteriak memanggil nama ibunya.
“Ibu mobilnya....!!!!”
Teriak Rayn kepada ibunya saat mobil yang mereka tumpangi sudah semakin dengan barisan mobil yang berhenti di depannya karena lampu merah. Ibu Rayn langsung kembali fokus ke depan dan membanting setir menghindari mobil di depannya. Meskipun berhasil menghindar, namun ibu Rayn tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya sehingga menerobos lampu merah. Bersamaan dari arah lain sebuah kendaraan datang dengan kecepanan tinggi menghantam mobil mereka.
“Rayn….!!!” Teriak ibu Rayn memanggil nama putranya.
Tidak hanya sampai disitu, usai dihantam mobil, mobil ibu Rayn terseret hingga menghantam kendaraan lain dan akhirnya terbalik. Kecelakaan itu hanya disaksikan oleh beberapa kendaraan yang sedang berhenti di lampu merah dan segelintir pejalan kaki. Semua orang sedang ramai berkumpul di pusat acara festival.
Kejadian itu membuat semua mata yang ada disana menjadi tercengang, merekapun berteriak histeris tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi di depan mata mereka.
“Ibu…. “ panggil Rayn yang masih sadar dengan suara yang begitu lirih.
“Ibu…, ibu…., Ibu…" terus panggil Rayn, ia berusaha mengeluarkan suara sekuat mungkin memanggil ibunya dengan menangis.
"Ibu buka matamu, aku mohon buka matamu bu..." panggilnya menangisi ibunya.
Rayn berusaha mengulurkan tangannya dengan sisa tenaga yang ia punya. Semua menjadi hening, ia hanya mendengar suaranya yang memanggil ibunya dan hanya melihat ibu yang dicintainya tidak sadar dengan bercucuran darah.
.
.
#Back Hipnoterapi
Lusia menjadi panik melihat Rayn yang mulai bercucuran keringat dingin, wajahnya tampak pucat. Ia menoleh memandang Dr. Leona berhapan dia akan mengentikannya.
“Argggghhh…. Ibu, maaf kan aku” ucap Rayn masih dengan mata terpejam.
Lusia semakin erat meenggenggam tangan Rayn. “Bisakah kita menghentikannya?” tanya Lusia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Mungkin kita akan menemukan kuncinya setelah ini” ucap Dr. Leona.
“Tapi kau juga bisa membuatnya semakin buruk, apapun itu aku mohon hentikan." Lusia memohon, ia tidak tega melihat Rayn yang terlihat begitu tersiksa dibawah alam sadarnya.
"Lusia, aku tidak yakin dia akan melakukannya setelah...” ucap Dr. Leona, belum sampai ia menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh teriakan Lusia.
“Hentikan kataku” perintah Lusia.
Dengan tubuh yang gemetar dan air mata yang mulai membasahi pipinya, Lusia meminta Dr. Leona untuk membawa Rayn kembali.
Dr. Leona yang tidak punya pilihan lain menyetujui untuk menghentikannya. Dr. Leona hendak melakukan terminasi, sebuah tahapan membangunkan Rayn setelah diberikan sugesti.
“Lanjutkan…!”
Terdengar suarah seorang pria yang tiba-tiba sudah berada diruang baca, ia memerintahkan Dr. Leona untuk tetap melanjutkan hipnoterapi.
.
.
*** To Be Continued***
Siapa pria itu ?
Benarkah Rayn sendiri penyebab kecelakaan itu?
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Pria Misterius yang membunuh ibunya usai kecelakaan terjadi?