Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 185 - Buah Hati


__ADS_3

Reisa sudah mengetahui dan mendengar dari Leona tentang kecelakaan Lusia. Bukan hanya fakta dibalik peristiwa itu yang membuat Reisa sangat marah, melainkan hal besar yang sudah dikorbankan dan direnggut dari Lusia.


Kecelakaan yang terjadi memang benar bukanlah sebuah aksi sabotase dimana ada orang lain yang ingin membunuh Lusia melalui kecelakaan itu. Akan tetapi, sebuah insiden yang memang sudah direncanakan dengan matang.


Mickey dan Dr. Leona adalah orang yang merencanakan semua dan Lusia bersedia terlibat di dalamnya. Semua ini dilakukan untuk penanganan Haphephobia yang dimiliki Rayn. Dr. Daniel dan Dr. Leona telah memutuskan menggunakan metode Flooding untuk kesembuhan Rayn.


Pembanjiran atau flooding adalah metode yang tepat untuk melenyapkan rasa takut Rayn dengan memaparkan subjek stimulus yang ditakuti secara langsung. Penanganan itu melibatkan pemunculan rasa takut Rayn di taraf sepenuhnya, atau bahkan mendekati penuh.


Cara ekstrim itu terpaksa dilakukan karena tidak ada jalan lain dan mereka membutuhkan Lusia sebagai subjek dalam metode ini. Bukan keputusan yang mudah untuk Mickey menyetujui keterlibatan Lusia, akan tetapi Lusia sendiri pun rela berkorban demi kesembuhan Rayn.


Lusia sudah menyepakati rencana mereka sebelum dari Rayn dan dirinya datang ke Kanada. Itu artinya, kepergian Lusia ikut Ryan ke Kanada juga bagian dari rencana. Waktu penangan yang tepat dihari peringatan kematian ibu Rayn pun juga bagian dari rencana.


Lusia sangat sadar akan resiko yang harus ia terima. Terlepas dari jaminan yang diberikan Mickey untuk keselamatannya, Lusia tetap akan memilih melakukannya demi Rayn, suaminya. Meskipun pilihan itu mengharuskan dirinya berkorban dengan bertaruh nyawa pun Lusia akan tetap melakukannya. Itulah keputusan mutlak yang dibuat Lusia dan ia tidak akan goyah.


Saat Lusia menerima pesan dari Mickey untuk bertemu disuatu tempat tanpa Rayn, saat itulah Lusia mulai menerima skenario untuk peran yang harus ia mainkan. Mickey telah kembali memberi penawaran kepada Lusia untuk menolak, maka Mickey akan langsung membatalkan rencana itu tanpa berpikir panjang. Namun, Lusia tetap pada keputusannya. Mengingat peristiwa perkelahian Rayn, membuat Lusia tidak bisa menahan diri hanya dengan melihatnya saja. Setidaknya masih ada yang bisa ia lakukan untuk Rayn, suaminya.


Lusia meninggalkan Rayn dengan alasan menjemput Resia adalah bagian dari skenario. Meminta Rayn menunggunya di sebuah pemberhentian bus juga bagian dari skenario. Mengulang kembali peristiwa itu dan menggantikan posisi ibu Rayn dengan Lusia adalah sebuah skenario yang sempurna.


Mereka menggunakan para aktor stuntman yang sudah profesional dalam melakukan peran pengganti dalam setiap adegan berbahaya. Termasuk semua penangan untuk menjaga kondisi Lusia agar tetap aman selalu menjadi prioritas mereka.


Satu hal yang Lusia lakukan di luar skenario adalah saat dia mengirimkan pesan gambar kepada Rayn. Begitu juga saat dia menghubungi karena ia sangat ingin mendengar suara Rayn. Lusia sangat bahagia bahkan ia merasakan kebahagian yang luar biasa saat melihat Rayn di sana menunggunya. Itulah alasan kenapa ia tersenyum, karena pada akhirnya ia bisa melakukan sesuatu untuk suaminya.


Bagi Lusia, pengorbanan yang ia lakukan masih tidak sebanding dengan apa yang sudah Rayn berikan kepada dirinya selama ini. Cinta, kasih sayang, bahkan pengorbanan lain yang sudah Rayn lakukan untuknya telah membuat hidupnya lebih berarti.


Momen yang Lusia kenang detik-detik itu adalah momen paling indah disaat Rayn memasangkan cincin dijari manisnya dengan ikrar janji suci yang diucapkan Rayn. Momen bahagia itu yang terlintas dalam ingatan Lusia sebelum dia menoleh menatap kendaraan sedan hitam melaju dengan kecepatan penuh ke arahnya.


Semua memang sudah direncanakan dan disiapkan jauh hari dengan matang oleh dirinya dan juga Mickey. Mickey sempat khawatir karena di hari perencanaan, ia mendengar ayahnya kabur dan tidak berada dalam penerbangan pesawat. Meskipun semakin membuat situasi semakin berbahaya, namun Mickey tidak bisa menunda rencana mereka. Dan pada akhirnya keputusan itu telah membawa hasil dimana metode itu dapat mereka selesaikan sesuai dengan rencana.


Mengetahui kondisi Rayn saat ini, sepertinya metode itu telah membawa hasil yang diinginkan. Pengorbanan besar yang dilakukan Lusia tidak sia-sia. Namun, sayangnya bukan hanya Lusia yang berkorban disini, tetapi ternyata masih ada pengorbanan lain yang membuat Reisa marah dan murka kepada Mickey saat mengetahuinya dari seorang perawat. Pengorbanan itu adalah kehamilan Lusia, dimana Lusia kehilangan bayi pertamanya dalam insiden itu.

__ADS_1


"Reisa, katakan padaku apa yang terjadi? Kau membuatku takut. Apa karena kau sudah tahu jika kecelakaan ini hanya...." tanya Lusia ragu.


"Aku sangat mengerti dirimu kenapa bertindak sebodoh ini, karena itu aku tidak akan bertanya kenapa kau rela melakukannya, tapi...." ucap Reisa tertahan.


Melihat alat tes kehamilan yang masih utuh, Reisa sangat yakin jika Lusia pasti masih belum tahu tentang kehamilannya. Lusia belum tahu jika dia saat itu tengah mengandung buah cintanya dengan Rayn. Itu artinya Lusia juga belum mengetahui jika karena insiden itu, dia telah kehilangan bayinya.


Reisa tidak tahu harus mulai mengatakannya dari mana. Ia sungguh tidak tega jika harus dengan jujur memberitahu Lusia. "Aku melihat alat tes kehamilan didalam tasmu, apa kau yang membelinya?" tanya Reisa.


Melihat Reisa menanyakan hal itu dengan menangis tersedu itu artinya sesuatu yang buruk mungkin telah terjadi. Akan tetapi Lusia mencoba menjelaskan situasi yang ia tahu untuk menunda mendengar apa yang akan dikatakan Reisa.


"Aku merasakan sesuatu, tetapi aku juga belum yakin. Aku membelinya untuk mengetahui apakah aku hamil. Jika benar maka aku berharap itu bisa menjadi hadiah yang paling indah untuk Rayn" jelas Lusia.


Reisa kembali menangis mendengar ucapan Lusia, itu sungguh sangat menyayat hatinya sekarang. Reisa terus mengusap air mata yang terus saja mengalir tanpa henti.


"Reisa... apa .. aku memilikinya?" tanya Lusia lirih dengan terbata. Pertanyaan itu semakin membuat Reisa menangis terisak.


"Jika benar, lalu kenapa kau menangis? A..pa, apa.., aku kehilangannya?" lanjut tanya Lusia berusaha untuk tegar mendengar jawaban Reisa.


Lusia merasakan sesak pada dadanya seperti sedang diremas begitu kuat saat mendengar jawaban Reisa. Air mata yang sudah terbendung pun menetes tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun. Isakan tanpa suara semakin menyiksa batin Lusia.


"Apa Rayn mengetahui hal ini?" tanya Lusia lirih.


Lusia merasa kenyataan pahit ini seperti membunuhnya, tetapi akan ada orang lain yang akan lebih terluka mendengarnya. Orang itu adalah Rayn, suaminya.


Rayn adalah orang yang sangat menginginkan kehadiran seorang anak diantara mereka. Lusia kembali ingat momen-momen dimana Rayn sangat menginginkannya.


"Bagaimana jika kita memiliki seorang bayi? Aku ingin menjadi seorang ayah."


"Melihat sepatu yang mungil ini, aku tiba-tiba takut akan melukainya saat memeluk bayi kita nanti."

__ADS_1


"Hal Pertama? tentu aku akan terus mengajarinya untuk memanggilku ayah."


"Aku ingin menjadi ayah yang bijaksana dan bisa dia banggakan."


"Aku akan membuatnya hadir diantara kita. Ayah akan terus berjuang menciptakan mu didalam sana."


"Rayn, mari kita berusaha."


Lusia terus menjatuhkan air matanya mengingat semua momen itu. Jika Rayn mengetahui apa yang terjadi, tentu saja dia akan sangat menyalahkan dirinya. Apa lagi jika Rayn tahu semua terjadi disaat Lusia terlibat dalam penanganan Haphephobia yang di deritanya. Rayn tidak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidupnya.


Tidak ada seorang ayah manapun yang akan rela mengorbankan istri dan calon anaknya hanya demi dirinya. Lebih baik Rayn tidak mengetahuinya, itulah keputusan yang dipilih Luisa. Bagi Lusia, cukup hanya dirinya yang akan menanggung beben rasa bersalah itu seumur hidup.


"Bisakah kau merahasiakannya dari Rayn?" Lusia meminta kepada Reisa untuk tidak memberitahu Rayn tentang kehamilannya.


Reisa sangat mengerti perasaan Lusia saat ini, namun ia sungguh tidak bisa memahami kenapa Lusia memilih menanggung beban itu seorang diri. Lusia mengatakan jika dirinya adalah orang yang sudah memutuskan untuk terlibat itu artinya dia juga sudah seharusnya menanggung semua konsekuensi, bukan Rayn.


Lusia meminta Reisa menganggap jika dia tidak pernah mengetahuinya dan Lusia akan menjadikan semua itu rahasia yang akan ia simpan seumur hidupnya. "Biarkan aku yang menanggungnya seumur hidupku" ucap Lusia.


"Akulah orang yang tega membunuhnya, akulah ibu yang sudah membunuhnya" ucap Lusia lalu menangis tersedu dalam pelukan Reisa. "Reisa, akulah ibu yang membunuhnya."


Tangis Lusia pun pecah dalam pelukan Reisa, sebuah Isakan yang terdengar begitu menyayat hati. Ia tidak bisa menahan rasa sakit yang seperti sedang meremas jantungnya.


Meskipun Lusia berusaha untuk tetap tegar, namun tetaplah tidak ada seorang ibu yang akan bisa merelakan kepergian bayi nya begitu saja. Lusia merasa dirinya telah gagal melindungi buah hati yang sangat mereka dambakan untuk hadir di dunia dan menjadi bagian dari keluarga kecilnya.


"Rayn, maafkan aku...."


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2