
Semua yang ada di sana menjadi semakin tegang saat informasi digital menunjukkan operasi telah selesai. Tidak selang lama dua Dokter yang melakukan operasi keluar dari ruang operasinya.
"Bagaimana dengan operasinya?" tanya Rayn.
Kedua Dokter tersebut hanya saling menatap satu sama lain dengan wajah sedih. Kecemasan semakin terlihat di wajah Rayn menantikan jawaban dari Dokter akan pertanyaannya.
"Katakan padaku bagaimana kondisinya?" tanya Rayn kembali.
"Rayn, tenanglah" ucap Reisa.
"Operasinya berjalan dengan lancar, tapi..." ucap seorang Dokter lalu menahan ucapnya.
"Apa yang terjadi? Apa dia akan baik-baik saja?" potong Kelvin.
Kelvin dan Rayn mendengarkan penjelasan Dokter yang lanjut mengatakan jika operasi Lusia berjalan dengan lancar. Namun, Lusia mengalami shock saat menjalani operasi dan hal ini terjadi karena Lusia ternyata memiliki alergi terhadap anestesi. Lusia mengalami koma meski kondisinya sudah tidak kritis lagi.
Reisa yang mendengarnya langsung shock dan nyaris terjatuh tak sadarkan diri. Dengan sigap David menahan tubuh Reisa yang jatuh lemas dengan mata yang berkaca-kaca. "Lusia...." ucapnya lirih.
"Apa maksud anda saat ini dia masih tidak bisa sadarkan diri?" tanya Rayn gugup.
"Butuh waktu lebih lama dari yang diharapkan untuk bangun dari anestesi. Kami akan terus pantau kondisinya dan berusaha semaksimal mungkin" jawab Dokter.
Mendengar hal tersebut membuat jantung Rayn rasanya seperti diremas begitu kuat. Ia memejamkan matanya diikuti buliran air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan diri jika Lusia pasti akan baik-baik saja dan segera siuman.
Dokter memindahkan Lusia ke Unit Perawatan Intensif dan memantau perkembangan kondisinya. Di ruangan ICU itu, Lusia terbaring koma dengan bantuan alat medis khusus yang dipasang pada tubuhnya. Dokter melarang Rayn dan yang lain memasuki ruangan itu sampai kondisi Lusia memiliki perkembangan yang membaik.
Dengan tubuh yang gemetar Rayn berdiri menatap wanita yang dicintainya berada didalam sana berjuang seorang diri untuk bisa bertahan hidup. Rayn semakin berderai air mata, tidak pernah terbayangkan jika dirinya harus benar-benar akan kehilangan Lusia.
Hari mulai berganti hari demi hari, perawat mendapati pupil mata Lusia merespon. Meskipun ini adalah kemajuan yang luar biasa, Dokter mengatakan jika mereka masih perlu memantau perkembangannya. Ia juga mengimbuhkan jika keinginan Lusia untuk bangun paling penting seperti sekarang.
Kondisi Lusia membuat hidup Rayn seperti runtuh, hal yang semakin sulit bagi Rayn disaat ia berdiri didepan ibu Lusia. Ingin rasanya ia memeluk dan meminta maaf kepada ibu Lusia. Namun sayangnya ia tidak bisa melakukan itu. Rayn hanya bisa saling berbicara duduk dengan jarak 1 meter diantara keduanya.
"Maafkan saya" ucap Rayn lirih.
"Kenapa kau harus meminta maaf nak, ini semua sudah kehendak Tuhan" jawab Ibu Lusia menatap Rayn yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Maafkan saya karena tidak bisa melindunginya, saya seharusnya menyelamatkannya lebih cepat. Bahkan saya terlalu pengecut sebagai kekasihnya" ucap Rayn yang tidak mampu menahan bendungan air matanya.
__ADS_1
Ibu Lusia mengulurkan tangannya ingin menepuk bahu Rayn, namun ia menahannya karena ingat Lusia pernah mengatakan jika Rayn memiliki phobia terhadap sentuhan.
"Nak Rayn, jangan menyalahkan dirimu. Ibu percaya jika dia akan segera siuman. Kita harus bisa lebih kuat untuk menyambutnya nanti saat ia sadar, jangan membuatnya ikut bersedih" ucap Ibu Lusia.
Setelah hampir satu minggu, Lusia mulai di pindahkan ke ruangan HCU. Tubuh Lusia mulai menunjukkan perkembangan, namum ia tetap perlu pengawasan ketat dari tenaga medis karena kondisinya yang belum sadar masih dengan mudah bisa dipindahkan ke ICU kembali bila kondisinya memburuk.
Rayn selalu menjaga dan menemani Lusia sepanjang hari semenjak ia di pindahkan ke ruang HCU. Ia setiap hari datang dan terus bersama Lusia hingga dia sendiri pun tidak memperhatikan kesehatannya. Rayn membantu Lusia menyeka tubuhnya dan sesekali ia membacakan dongeng yang selalu menjadi favoritnya.
Rayn tidak pernah absen dan selalu membawakan bunga yang ia letakkan di ruangan itu. Rayn hanya bisa duduk dengan menggenggam tangan Lusia, sesekali ia menangis menatap Lusia yang masih enggan membuka matanya. Seperti layaknya pasien sakit namun tidak bisa diajak bicara.
"Apa kau tidak penasaran alasan kenapa aku menyukaimu? Padahal aku selalu ingin tahu kenapa kau memilihku" ucap Rayn dengan tatapan sendu.
Banyak hal yang Rayn lakukan termasuk selalu mendoakan wanita yang dicintainya itu segera siuman. Ia tidak bosan terus mengajak Lusia berbicara dengan harapan jika Lusia akan mendengar suaranya, mendengar panggilannya yang selalu menunggunya.
Rayn menceritakan banyak hal, semua berita terbaru tentang dirinya, pekerjaan Lusia di Cafe, tentang sahabatnya Reisa, tentang siapa saja yang sudah datang mengunjunginya termasuk ibu Lusia dan apa yang sudah ia bicarakan dengan ibu Lusia. Ia selalu menantikan keajaiban akan segera datang pada Lusia. Ia terus menemaninya dan tidur di sisi Lusia sambil berpegangan tangan.
"Rayn...."
Terdengar suara Lusia memanggil namanya dengan suara lirih.
"Apa kau lelah? Kau tahu, aku tidak menyukai dirimu yang bersikap seperti ini, mengabaikan kesehatanmu" keluh Lusia.
Terdengar panggilan itu lagi tapi kini bukan suara Lusia, melainkan suara Reisa yang sudah berdiri tak jauh dari ranjang Lusia memanggil namanya.
"Lusia...!"panggil Rayn dengan nada khawatir.
Rayn terbangun, ia ketiduran di ranjang Lusia. Rayn segera menatap Lusia yang masih terbaring dengan mata terpejam. Rayn mengusap air matanya yang tiba-tiba sudah membasahi pipinya, ia kecewa saat sadar jika semua itu ternyata hanya sebuah mimpi.
"Rayn, pulanglah dan pergi istirahat, aku akan menggantikan dirimu untuk menjaganya. Aku tahu kau mencemaskannya, kami semua pun juga merasakan hal yang sama. Tapi jangan memaksakan dirimu dan membuatnya khawatir jika nanti kau juga sakit" ucap Reisa menatap Rayn yang terlihat sangat kelelahan.
Rayn menarik nafas dalam lalu bangkit dari duduknya. "Maafkan aku, selama aku ada disini kau jadi tidak bisa menemani dan menjaga disisinya" ucap Rayn menunduk meminta maaf kepada Reisa.
"Kau tidak perlu berbicara seperti itu, aku sangat mengerti" sahut Reisa.
"Aku akan mengambil waktu sejenak untuk istirahat" ucap Rayn.
"Eemm..., jangan khawatir" ucap Reisa mempersilahkan Rayn untuk pergi istirahat.
__ADS_1
Baru melangkah 2 langkah, tubuh Rayn tiba-tiba limbung dan terjatuh. Rayn pingsan karena memiliki banyak tekanan batin dan kelelahan. Reisa segera memanggil Dokter untuk melakukan tindakan medis dan Rayn pun mendapatkan penanganan medis.
.
.
.
2 Hari kemudian,
Terlihat Rayn sedang duduk di depan papan melukisnya. Lusia datang menghampiri Rayn dan mengeluhkan kenapa Rayn hanya membawakan bunga yang tak lebih dari 10 tangkai setiap hari untuknya.
Lusia lalu mendekat dan tersenyum kepada Rayn, ia duduk diatas pangkuan Rayn dengan merangkulkan satu tangannya pada jenjang leher Rayn dan berkata. "Aku mendapat bunga dari seorang pria, bunga yang sangat banyak. Aku ingin kau juga memberiku banyak, jauh lebih banyak dari pria itu" ucapnya sambil mengerutkan kening menyipitkan matanya.
"Kau sedang memamerkannya? Pria mana yang berani memberi wanitaku bunga sebanyak itu?" sahut Rayn menatap Lusia yang berada dalam pangkuannya.
"Apa itu akan membuatmu cemburu?" tanya Lusia.
"Apa kau akan meninggalkanku dan memilihnya hanya karena bunga itu?" serang balik tanya Rayn.
"Apa kau akan melepasku?" tanya Lusia balik.
"Apa dia jauh lebih baik dariku dan bisa melindungimu?" balas tanya Rayn.
Lusia segera turun dari pangkuan Rayn dengan kesal. Ia menatap tajam Rayn yang terlihat tetap tenang memandang dirinya.
"Ada apa denganmu? Lalu apa kau benar-benar akan melepasku jika dia lebih baik dan bisa melindungiku?" tanya Lusia.
"Asalkan aku bisa tetap melihatmu tersenyum dan tidak lagi berada disana (ICU), itu sudah cukup bagiku. Aku sangat takut, apa kau tahu seberapa takutnya diriku?" tanya Rayn.
Di ruang HCU, Lusia masih terbaring tidak sadarkan diri, dengan mata terpejam ia menjatuhkan air matanya. Perlahan air mata itu membasahi pipinya. Ia seperti baru saja melihat gambaran itu di bawah alam sadarnya.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued***