Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 103 - Aku Tanpamu


__ADS_3

3 Minggu berlalu


Kring.......


Suara alarm berbunyi begitu keras untuk kesekian kalinya, namun tubuh seorang pria yang masih terbaring di atas ranjang tempat tidurnya sama sekali tidak terusik. Seolah tidak mendengar suara dari benda yang terus bersuara dan bergetar bahkan hampir memecahkan gendang telinga itu. Pria itu masih saja tidur dengan satu kaki yang menjuntai ke lantai.


Sepertinya hanya terik cahaya matahari yang mampu membuatnya terbangun saat ia mencoba membalik tubuhnya menjadi telentang. Ia sontak refleks memicingkan mata menghindari paparan sinar matahari yang menembus jendela kamarnya karena tirai yang dibiarkan semalaman terbuka.


Ya, pria berparas tampan itu adalah Rayn. Dengan cepat Rayn menutupi mata menggunakan lengannya untuk bisa melanjutkan tidur. Namun sialnya alarm itu kembali berbunyi membuatnya mendengus kesal. Rayn terpaksa bangun karena ia tidak akan bisa tidur kembali. Dengan malasnya Rayn bangun, ia lalu duduk ditepi ranjang. Ekor matanya menatap botol minuman alkohol yang ada pada nakas dan meraihnya.



Rayn hendak meminumnya, namun tidak ada air yang mengalir dari botol itu.. Ia lalu menatap lekat botol yang sudah kosong bahkan tidak menyisakan setetes pun. Rayn sendirilah orang yang sudah menghabiskan seluruh isi botol itu. Tapi Ia menjadi marah, dengan kesal Rayn melempar botol itu ke dinding kamarnya dan pecah.


Pyar.....!!


Suara pecahan itu mengejutkan Arka yang sedang berjaga di luar kamar Rayn. Arka sontak langsung menggedor-gedor kamar Rayn, dengan panik ia menanyakan apa yang terjadi di dalam dan meminta Rayn untuk membuka pintu.


Dengan gontai Rayn berdiri berjalan keluar sembari memegang kepalnya yang masih terasa sakit akibat mabuk, ia lalu membuka pintu kamarnya.


"Tuan Rayn, anda baik-baik saja?" sambut Arka yang sudah berdiri didepan pintu bertanya dengan wajah panik.


Arka mengintip ke dalam kamar dan dilihatnya pecahan botol minuman yang berserakan dilantai. Ia langsung memeriksa dari ujung rambut hingga ujung kaki memastikan jika Rayn tidak terluka. Tanpa memperdulikan pertanyaan Arka yang mengkhawatirkan dirinya, Rayn justru meminta Arka untuk menyingkir lalu ia pergi menuruni tangga ke lantai bawah.


Rayn pergi ke dapur dan membuka lemari es yang lagi dan lagi berisi botol-botol minuman beralkohol. Ia mengeluarkan satu botol minuman itu lalu meraih obat pereda sakit yang hendak ia minum bersamaan dengan alkohol yang sudah berada ditangannya.


Arka yang sedari tadi berjalan mengikuti Rayn di belakang sontak merampas obat yang akan di teguk Rayn.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rayn berteriak.


Tanpa rasa takut terhadap Tuannya, Arka tetap pada pendiriannya dengan terus memegang obat itu. Ia tidak menyerahkan kembali kepada Rayn yang terus memintanya.


Arka sudah tidak bisa berdiam diri saja, hampir satu bulan ia terus menyaksikan Tuannya menyiksa diri dengan minuman dan obat-obat itu.


"Anda bisa meminumnya dengan air ini Tuan Rayn" ucap Arka sembari menyodorkan botol air mineral.


Tanpa banyak kata, Rayn meraih obat dan air mineral itu dengan kasar dari tangan Arka lalu meminumnya. Usai meminumnya, Rayn kembali berjalan pergi meninggalkan dapur sembari meraih botol minuman yang ada di meja. Arka hanya bisa pasrah, ia mengingatkan Rayn untuk tidak meminumnya sekarang karena Rayn baru saja minum obat.



Tanpa mengindahkan peringatan Arka, Rayn terus berjalan untuk kembali ke kamarnya. Langkah kaki Rayn tiba-tiba terhenti saat ia baru menapaki 4 anak tangga, ia mendengar suara gemercik air hujan yang baru saja turun dengan derasnya.


Rayn terdiam, ia mantap ke arah luar dimana seluruh ruangan itu full dengan dinding kaca. Tatapan matanya kosong, ia terlihat begitu dalam hanyut dengan raut wajah penuh kesedihan. Rayn teringat kembali akan momen pertemuannya dengan Lusia, momen dimana pertama kali ia membawa Lusia ke Villa nya disaat malam turun hujan.


Malam itu Lusia sudah berhasil mencuri perhatiannya ketika Lusia jongkok menunduk dengan menutup kedua telinganya didepan pintu Villa Rayn. Lusia berteriak memanggil ibunya karena terkejut akan suara petir yang tiba-tiba menyambar.


Rayn teringat bagaimana saat itu dia mengulurkan tangannya meraih tubuh Lusia, ia mengizinkan Lusia masuk ke dalam villa pertahannya tanpa berpikir panjang jika wanita itu akan memberi ancaman baginya yang menderita phobia.


Rayn masih berdiri mengingat semua momen yang ia lewati bersama Lusia ketika turun hujan. Rayn berbalik menuruni anak tangga menuju living room, ia lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding masih dengan sebotol minuman ditangannya. Satu tangannya mengacak rambutnya ingin menyingkirkan semua kenangan yang harus ia lupakan.

__ADS_1



Perlahan tubuhnya terduduk dan menitihkan air matanya, ia berusaha menahan sesuatu yang menyelinap di hatinya dan meremasnya tanpa ampun. Rayn membuka tutup botol minuman di tangannya dan meneguknya dengan kasar. Hanya minuman itu yang ia anggap sebagai obat yang mempu membuatnya lupa dengan semua yang terjadi.


"Tuan Muda, apa anda baik-baik saja? Saya mohon berhenti meminumnya" minta Arka yang mengkhawatirkan kondisi Rayn.


Rayn tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Arka, senyum itu lalu berubah dan membuatnya kembali merasa terluka. Setiap kali orang bertanya kepadanya apakah dia baik-baik saja, hal ini semakin mengingatkan bahwa dirinya tidak baik-baik saja.


Rayn merasa dirinya seperti daun yang jatuh dengan terpaksa, karena terlepas dari ranting yang lama menjadi sandaran. Tanpa ranting itu ia kembali menjadi daun yang tidak ada artinya, yang akan kering lebur bersama tanah dan menghilang.


"Kini aku hanya bisa menatap sesuatu yang tidak bisa kau lihat bersamaku. Mendengar sesuatu yang tidak kau dengar. Merasakan sesuatu yang tidak kau rasakan. Hanya aku seorang diri, aku melewati semuanya seorang diri tanpamu. Aku pikir aku bertahan, tapi kenapa begitu sulit?"


Batin Rayn dalam hati menatap derasnya air hujan. Seperti langit mendung yang dibalut dengan turunnya air hujan, Rayn meneteskan air matanya, ia tidak mampu menahan kerinduannya terhadap Lusia, wanita yang kini tidak bersamanya lagi.


Tanpa adanya Lusia disisinya, Rayn kembali merusak hidupnya. Rayn kembali seperti dirinya sebelum bertemu dengan Lusia. Ia hanya menghabiskan waktunya dengan tidur dan minum-minum, ia bahkan berhenti melukis.


Mickey pun semakin mencemaskan kondisi Rayn. Semua seperti kembali ke awal lagi disaat Mickey dan Dr. Leona mulai memiliki harapan akan kesembuhan phobia Rayn. Kini mereka hanya bisa menunggu sampai bisa kembali membujuk Rayn untuk melakukan hipnoterapi lanjutan dan melakukan teknik Flooding untuk kesembuhannya.


.


.


.


Waktu terus berlalu, kondisi Lusia sudah semakin membaik sepulang dari Rumah Sakit. Lusia tinggal bersama Reisa di apartemen Reisa. Meskipun kondisinya mulai membaik, namun Lusia tetap harus berhati-hati dalam merawat luka tusukan pasca menjalani operasi. Lusia juga masih harus melakukan kontrol rutin sesuai dengan yang sudah dijadwalkan Dokter untuknya.


Sesampai di lobby, ia disambut oleh salah satu staf David bernama Bella yang juga mengenal Lusia. Bella menyapa Lusia dan menanyakan kabarnya. Bella tahu jika Lusia belum lama keluar dari Rumah Sakit akibat kejadian mengerikan yang ia alami.


Bella menunjukkan rasa prihatinnya atas kejadian yang dialami Lusia. "Apa Nona Lusia datang kemari untuk bertemu dengan Nona Reisa?" tanya Bella yang mengira jika kedatangan Lusia untuk menemui Reisa.


Bella memberitahu Lusia jika saat ini Reisa sedang tidak ada di Galery, ia pergi dengan pimpinan mereka yang tidak lain adalah David sekitar 1 jam yang lalu.


"Saya akan membantu anda untuk menghubungi Nona Reisa atau Pak David, memberitahu mereka jika anda datang untuk bertemu" ucap Bella.


"Aah, tidak perlu. Aku sebenarnya tidak datang untuk mereka. Hanya sudah lama aku tidak kemari, aku memang tidak memberitahu Reisa jika akan datang. Kau tidak perlu menghubungi mereka, aku hanya berkunjung" ucap Lusia.


"Baiklah jika begitu, apa anda perlu saya menemani anda?" tanya Bella dengan sopan.


"Tidak perlu, jangga khawatir. Aku hanya melihat-lihat sebentar sambil menunggu mereka kembali" jawab Lusia tersenyum.


Bella mempersilahkan Lusia untuk melihat-lihat, ia bahkan membantu Lusia menekan tombol pintu lift saat Lusia hendak pergi ke lantai 2 Psithurism Art, ia pergi untuk melihat sebuah koleksi lukisan karya Lotus yang dimiliki Psithurism Art.


Lusia kini berdiri tepat dimana saat itu ia bertemu dengan Rayn pertama kali. Masih tergambar jelas dalam ingatannya bagaimana situasi Rayn saat itu. Sebuah pertemuan yang tidak pernah ia sesali hingga saat ini meskipun Rayn meninggalkannya tanpa kabar. Lusia masih yakin jika suatu saat nanti Rayn pasti akan kembali kepadanya.


Usai puas mengenang momen itu, Lusia hendak pergi melihat lukisan di tempat lain. Ketika ia hendak berbalik, tidak sengaja seorang wanita menabrak dirinya sehingga Lusia menjatuhkan tasnya.


"Maafkan saya" ucap wanita itu sembari membatu Lusia meraih tasnya.


"Tidak apa, aku juga kurang berhati-hati" jawab Lusia.

__ADS_1


Lusia lalu berbalik menatap dinding kaca untuk merapikan coat nya usai memakai tas kembali. Sekilas ekor mata Lusia melihat bayangan seorang pria yang baru saja melewatinya dibelakang.


"Rayn...." ucap Lusia lirih.


Lusia segera berbalik memastikan apakah benar pria itu adalah Rayn. Sayangnya saat Lusia berbalik pria itu sudah memasuki lift untuk turun. Lusia segera mengejarnya menggunakan lift yang berada disebelah. Lusia berulang kali menekan tombol lift yang tidak segera terbuka. Ia menjadi tidak sabar meskipun tahu jika lift itu sudah berada dalam posisi turun dari lantai atas ke lantai 2.


Dengan wajah gelisah dan gugup Lusia menunggu didalam lift. Pintu lift terbuka, Lusia bergegas keluar mencari keberadaan pria tadi. Ia akhirnya kembali melihat pria itu yang berjalan keluar Galery. Lusia mengejarnya dan terus berteriak memanggil nama Rayn.


"Rayn..." panggi Lusia, namun panggilan itu tidak didengar.


Khawatir tidak terkejar, Lusia memutuskan untuk berlari meskipun ia sadar jika lukanya masih belum sepenuhnya pulih. Lusia terus mengejarnya hingga keluar Galery dan pria itu pun berhasil terkejar olehnya. Lusia mempercepat langkahnya ketika semakin dekat lalu menepuk bahu pria itu dan memanggil nama Rayn.


"Rayn..." panggil Lusia dengan nafas terengah-engah.


"Ya...?" sahut pria itu menoleh dan bingung. "Ada apa Nona?" lanjut tanya pria itu.


Lusia seketika terdiam mendapati jika pria itu ternyata bukan Rayn, hanya seorang pria yang memiliki postur tubuh seperti Rayn.


Tanpa mendapat jawaban dari Lusia, pria itu mengabaikan Lusia. Ia menatap Lusia dengan tatapan aneh lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Lusia begitu saja.


Kekecewaan terlihat dari raut wajah Lusia, kesedihan pun mulai menyelimutinya yang masih menatap pria itu pergi. Dengan nafas tidak beraturan, ia menelan harapannya. Lusia harus menerima kenyataan jika Rayn benar-benar tidak ada disisinya lagi. Lusia tidak bisa menepis kerinduan yang hampir membuatnya gila. Ia tidak bisa melepas perasaannya ataupun merelakan Rayn, ia tidak mampu hidup tanpa kehadiran Rayn.



"Aku melangkahkan kakiku bersama dengan sebuah harapan akan kehadiranmu. Aku masih menunggumu dalam sepi meskipun dihantui ketidakpastian. Namun, tidak peduli berapa kali hatiku memanggilmu, kurasa kamu tidak akan pernah mendengarnya. Aku masih tidak ingin menyerah tapi seiring waktu aku mulai menjadi gelisah. Aku semakin takut jika seiring dengan berjalannya waktu kau tidak lagi bisa merasakan hal yang sama denganku. Hatiku sakit, merindukanmu seperti ini sungguh menyiksaku dan perlahan seperti membunuhku."


.


.


.


*** To Be Continued ***


--- Sengaja Author kasih sentilan visualnya\, biar kena feelnya


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah...


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.


🔔Jangan Lupa FOLLOW akun Author ya biar update setiap ada novel terbaru 😍


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆

__ADS_1


__ADS_2