
Kelvin mengurungkan niatnya menghampiri Lusia. Ia menghubungi Lusia melalui telepon. “Kau baik-baik saja? Aku akan menunggumu dibawah” ucap Kelvin masih menatap Lusia dan Rayn dari kejauhan.
“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu menungguku. Dan bolehkah aku meminta izin terlambat kembali ke Cafe?” tanya Lusia dalam panggilan. Sementara dirinya masih terjebak dalam dekapan Rayn.
“Apa kau sendiri?” tanya Kelvin.
Lusia terdiam sejenak, ia ragu untuk menjawab jika saat ini dia bersama dengan Rayn. “Aku… aku saat ini bersama dengan Rayn” ucapnya menunduk memandang Rayn.
“Kondisinya sedang tidak baik, jadi aku harus mengantar dia pulang setelah itu akan kembali ke Cafe. Maafkan aku jika sudah membuatmu khawatir” lanjutnya. Lusia tidak ingin berbohong kepada orang yang sudah banyak membantunya. Kebaikan Kelvin kepadanya sangat tak ternilai bagi Lusia.
Kelvin meremas ponselnya lalu menutup telepon. Sesuatu yang sulit ia kendalikan saat ini adalah perasaan egoisnya. Kelvin mengharapkan kebohongan dari gadis polos itu untuk memungkiri rasa sakit hatinya saat ini. Kejujuran Lusia membuatnya merasa jika Lusia tidak memandangnya sebagai seorang pria. “Apa yang kuharapkan” ucapnya lalu pergi meninggalkan hotel.
Lusia perlahan melepas pelukan Rayn. Ia mendekap kedua bahu Rayn dan memandangnya. “Apa yang terjadi?” tanyanya setelah melihat Rayn mulai tenang.
“Bisakah kita kembali ke Villa sekarang?” tanya Ryan balik kepada Lusia. Saat ini ia tidak ingin membahas apapun. Lusia menjawab dengan anggukkan lalu membantunya berjalan.
Selama dalam perjalan yang dikemudikan Lusia, Rayn hanya memejamkan matanya duduk disebelah Lusia. Sesekali Lusia melirik memandang Rayn. Ia tahu jika saat ini Rayn tidak tidur. Rayn hanya berusaha menahan sesuatu yang sangat menyakitkan baginya, bahkan ia perlahan menitihkan air mata meskipun matanya terpejam.
Entah mengapa melihat air mata Rayn membuat ulu hati Lusia ikut terasa sakit. Ini pertama kalinya ia melihat Rayn menjatuhkan air mata di depannya. “Apa kau tidak bisa membagi rasa sakit itu denganku?”. Pertanyaan yang hanya bisa Lusia ucapkan dalam hati mengingat Ryan memilih untuk bungkam.
Lusia sampai di Villa, belum sampai ia turun dari mobil, bersamaan datang mobil Mickey. Lusia lekas membantu Rayn turun dari mobil. Terlihat Mickey dan Arka juga turun dari mobil langsung menghampiri keduanya. Namun mereka tidak bisa membantu karena phobia yang diderita Rayn tidak memungkinkan mereka menyentuhnya.
“Kau bersamanya?” tanya Lusia kepada Arka yang di lihatnya turun dari mobil Mickey. “Bagaimana bisa kalian tidak ada bersamanya disaat seperti ini” lanjut ucap Lusia sembari membawa Rayn masuk.
“Itulah sebabnya aku memintamu berhenti dari Cafe” gumam Mickey lirih lalu mengikuti Lusia.
Mickey membutuhkan Lusia setiap waktu ada untuk Rayn. Namun Lusia menolak meskipun diberikan tawaran dengan gaji tinggi. Lusia memilih tetap membagi waktunya bekerja di Cafe Kelvin.
Mickey dan Arka menunggu dilantai bawah. Mickey tampak kesal dan marah kepada Arka. “Kenapa kau tidak memberitahuku jika ia pergi untuk menemuinya?” tanya Mickey kepada Arka.
Arka menunduk dan meminta maaf. “Maafkan saya Tuan Mickey, Tuan Rayn melarang saya memberitahu anda dan Nona Lusia” jawabnya.
“Apa kau lupa kau berkerja untuk siapa? Kau yakin itu adalah perintahnya?” tanya Mickey dengan curiga.
Arka adalah pengawal pribadi khusus yang ditunjuk langsung oleh ayah Rayn, Tuan Charles
Dean Anderson. Namun, ayah Rayn menyerahkan sepenuhnya semua kendali pengamanan Rayn kepada Mickey.
Mickey sangat murka kepada Arka karena terlambat tahu jika Rayn pergi menemui ayahnya.
__ADS_1
Di kamar Rayn, Lusia membantu Rayn duduk bersandar ditempat tidurnya. Ia lalu mengambil air minum dan obat untuk Rayn serta membantunya meminum obatnya. Ia meraih tangan Rayn bertanya. “Kau yakin, kau baik-baik saja? Apa tidak apa jika aku pergi kembali ke Cafe?” tanya Lusia.
Rayn tidak menjawab hanya menatapnya sedu, ia memandang Lusia dengan mata yang mulai berkaca. Rayn membuang nafas perlahan lalu memalingkan wajahnya menunduk, seolah tidak ingin Lusia menatapnya dalam kesedihan. Melihat itu Lusia langsung mendekat dan memeluknya. “Katakan saja padaku jika itu sulit untukmu. Kau tidak perlu menahan rasa sakit itu seorang diri” ucap Lusia.
Rayn menyandarkan dagunya di bahu Luisa. Terdengar suara nafas Rayn yang menahan isakan dan terasa tetesan air matanya mulai membasahi bahu Lusia. Dalam pelukan Lusia, Rayn kembali mengingat masa lalunya dimana pertama kalinya ia kembali ke negara ini.
#flashback
Ia teringat seorang gadis dengan rambut yang dikuncir kuda, berpakaian seragam sekolah yang menolongnya dari sekumpulan genk anak sekolah di sebuah arena bermain skateboard jalanan. “Bersembunyilah dibelakang ku, Aku yang akan memberi pelajaran kepada mereka karena sudah berani mengganggumu” ucap gadis itu dengan mengepalkan kedua tangannya siap untuk beradu tinju dengan pria-pria didepannya. “Apa kau baru disini? Jangan khawatir, aku tahu siapa mereka. Jadi, aku akan melindungimu.” Kata-kata gadis itu membekas dalam pikiran Rayn hingga ia dewasa saat ini.
#back
“Terima kasih..." ucap Rayn perlahan membalas pelukan Lusia dengan melingkarkan kedua tangannya. " Terima kasih kau selalu datang untuk ku” lanjut ucap Rayn lirih memejamkan matanya kembali menitihkan air mata.
“Selalu ?" tanya Lusia.
"Itu sudah menjadi tugasku yang bekerja untukmu” lanjut jawab Lusia dengan perlahan menepuk bahu Rayn berulang.
.
.
***
[Maafkan aku, hari ini aku tidak bisa kembali ke Cafe. Aku akan menggantikannya di akhir pekan nanti ] -- pesan Lusia kepada Kelvin.
Di Cafe, Kelvin yang membaca pesan Lusia sudah menduganya. Orang seperti Lusia yang memiliki hati baik tidak akan mungkin tega meninggalkan Rayn dalam kondisi seperti itu.
[Aku mengerti. Jangan khawatirkan soal Cafe, karena hari ini aku memang berencana membantu Cafe. Kau juga jaga kesehatanmu] -- Balas pesan Kelvin.
Lusia duduk di bibir tempat tidur Ryan, ia kembali memegang tangan Rayn dan menatapnya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Rayn hari ini. Ia hanya ingat terakhir Rayn meninggalkannya di perpustakaan. Lusia merasa sangat menyesal dan bersalah karena langsung marah dan tidak menjawab panggilannya segera.
“Kau tahu, hari ini aku merasa sangat buruk kepada diriku sendiri. Aku seperti telah mengingkari janjiku kepadamu. Janjiku akan selalu ada untukmu mengandalkan ku, selalu mengulurkan tanganku dan menggenggam tanganmu seperti ini, menjagamu dan menjadi perisaimu” ucap Lusia lirih berbicara seorang diri.
“Apa kau lupa jika selama ini Mickey yang menjadi perisai ku” sahut Rayn membuka matanya. Lusia terkejut jika ternyata Rayn sudah terjaga dari tidurnya.
Lusia lalu tersenyum tipis. Ia mengakui perkataan Rayn dapat dibuktikan jika kontak Mickey, Rayn menyimpan di ponselnya dengan nama ‘Perisai Mickey’.
“Apa kau tidak ingin menggantikan status perisai itu menjadi milikku? ‘Perisai Manis Lusia’ kurasa itu cocok. Lagi pula bukankah saat ini aku yang menjadi perisaimu” ucap Lusia penuh percaya diri dengan tersenyum.
__ADS_1
“Apa kau yakin aku boleh menggunakan kata Manis untuk namamu? Baiklah, akan aku pikirkan kata lain setalah kata Manis. Perisai tidak cocok dengan kata Manis” jawab Rayn.
Lusia menaikkan alisnya curiga, Apa yang akan ia rencanakan. Ia penasaran Rayn akan menyimpan nomornya dengan nama apa.
“Ada apa dengan reaksimu. Jangan bilang kau ingin aku menambahkannya menjadi Manisku?" tanya Rayn.
"Untung saja aku tidak sedang memakan atau meminum sesuatu" sahut Lusia menggelengkan kepalanya.
"Apa pentingnya itu sekarang?" tanya Rayn.
"Karena aku pasti akan menyemburkannya kepadamu setelah mendengarnya. Tidak bisa kubayangkan jika wajah tampanmu itu akan dipenuhi hiasan taburan manik-manik dari mulutku" jawabnya dengan memutarkan jari telunjuknya di wajah Rayn.
Rayn tertawa mendengarnya. Sulit dipercaya kata-kata itu diucapkan dengan mudah oleh gadis ini tanpa merasa jijik.
"Apa aku harus menggunakan nama Perisai Manisku? Apa kau juga tidak merasa jika itu terlalu menggelikan? atau… celetuk Rayn.
"Lakukan saja jika kau berani” sahut Lusia memotong perkataan Rayn dengan memukul ringan perutnya.
“Aw….A… Aw... ” Rayn bereaksi seolah kesakitan akan pukulan Lusia sehingga membuatnya panik.
Lusia langsung bangkit dari duduknya. "Apa itu membuatmu sakit?" tanyanya dengan menyentuh perut Ryan yang sudah ia pukul. Rayn menahan tangannya, Lusia pun langsung diam.
“Kenapa?” tanya Lusia cemas.
“Tidak ada yang sakit” jawab Rayn tersenyum.
"Lalu kenapa kau sampai bereaksi Aw... A... Aw" tanya Lusia memperagakan kembali yang dilakukan Rayn.
"Aku hanya ingin melihat reaksimu, apa kau masih peduli padaku" jawab Rayn tersenyum.
"Jangan menjahiliku dengan senyuman bak malaikatmu itu. Kembalilah istirahat sebelum aku benar-benar akan mengeluarkan isi perutmu itu” ancam Lusia melepaskan tangannya lalu keluar kamar meninggalkan Rayn. Lusia merasa, jika Rayn sudah menjahilinya artinya Rayn sudah merasa baik.
Rayn hanya tersenyum memandang Lusia meninggalkannya dengan raut wajah kesal. Ia meraih sebuah bingkai foto ibunya yang ia letakkan di meja dibawa lampu tidur. Rayn membongkar bingkai itu, ia mengambil sebuah sobekan dari kertas sketchbook yang tersimpan dibalik foto mendiang ibunya. Dalam kertas sketchbook tergambar sketsa seorang gadis berkuncir kuda mengenakan seragam sekolah sedang menoleh. “Dia tidak pernah berubah” ucapnya memandang sketsa yang ia buat saat pertama kali datang dari Canada.
.
.
*** To Be Continued***
__ADS_1