
Rayn sudah memutuskan melakukan hipnoterapi untuk kembali bertemu dengan pria misterius yang sudah membunuh ibunya. Kali ini tidak hanya ada Lusia, namun Mickey juga ada di sana untuk menemukan jawabannya.
Dr. Leona mulai duduk di sebelah sofa yang sudah disiapkan khusus untuk Rayn. “Kau bisa ceritakan kepadaku apa yang kau ingat malam itu. Dan setelahnya, aku bisa membawamu kembali dan membuka gerbang selanjutnya” ucap Dr. Leona.
Dr. Leona meminta Rayn untuk berbaring setengah duduk dengan posisi senyaman mungkin, kemudian ia memintanya menutup mata. Dr. Leona mulai memutar alunan musik suara percikan air mengalir yang lembut dan menenangkan. Ia meminta Rayn mulai menarik nafas kemudian melepasnya pelan-pelan.
Lusia dengan cemas duduk disebelah Rayn, ia terus mendampingi Rayn sesuai dengan permintaan Rayn. Meskipun Rayn sangat tahu jika meminta Lusia berada di sisihnya akan menambah ke khawatiran Lusia, tapi bagi Rayn, Luisa adalah satu-satu orang yang selalu membuatnya merasa lebih baik.
Dr. Leona mulai memberi instruksi dan sugesti yang merupakan inti dari proses Hipnoterapi. Sebuah sugesti yang terdiri dari repetisi verbal dan gambaran mental untuk mempengaruhi persepsi, perasaan, pikiran, dan perilaku Rayn. Ia perlahan mulai menurunkan volume dan menggantinya dengan denting jarum jam saat Rayn mulai relax dan fokus dengan sugesti yang diberikan Dr. Leona.
Dengan teknik affect bright atau jembatan perasaan, Dr. Leona mulai mendapatkan akses yang lebih luas pada memori masa kecil Rayn. Rayn mulai mendapat bimbingan terapis dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadarnya. Ketegangan terlihat di wajah Mickey ketika Ryan mulai memasuki kondisi hipnosis yang lebih dalam.
.
.
#Flashback
Rayn kini kembali berada pada malam kejadian itu. Malam dimana ia harus menyaksikan kembali kematian ibunya yang tragis. Rayn memandang ibunya yang tidak berdaya menatap dirinya dengan berlinangkan air mata.
“Rayn, bertahanlah nak. Bertahanlah sebentar lagi, ibu akan meminta bantuan untukmu" ucap ibu Rayn.
"Ibu...." panggil Rayn dengan menangis.
“Tangan itu, tangan itu tidak boleh sampai terluka. Tangan istimewamu untuk melukis, kau tidak boleh melukainya. Kau bisa berjanji pada ibu sayang?" tanya Ny. Angelina kepada Rayn.
Rayn menatap kedua tangannya, tangan yang akan ia gunakan nantinya untuk melukis dan mewujutkan keinginan sang ibu. Rayn yang saat itu dalam situasi takut, tertekan, panik dan mental yang sedang kacau hanya bisa memikirkan apa yang diperintahkan oleh ibunya.
Rayn lalu kembali memandang sang ibu dan mengucapkan janjinya. Janji untuk sang ibu jika ia akan memenuhi permintaan Ny. Angelina dengan harapan jika Ny. Angelina tidak akan meninggalkannya.
"Ibu, ibu harus bertahan. Aku berjanji, aku berjanji selalu mendengarkan ibu, aku berjanji akan menjadi pelukis seperti ibu. Tapi ibu tidak boleh pergi."
"Tangan ini, lihatlah ibu, aku tidak akan melukainya lagi, aku tidak akan membiarkan orang lain untuk menyentuh atau melukainya."
"Tangan ini, aku berjanji akan menjaganya seperti yang ibu minta, karena itu ibu tidak boleh pergi. Aku mohon ibu, bertahanlah."
Rayn terus memohon dengan menangis disaat ibunya terlihat semakin lemah. Di tengah keputusasaan Rayn dan ibunya, pria itu datang. Seorang pria yang mulanya menjadi harapan mereka untuk tetap hidup tapi berubah menjadi malaikat maut yang menakutkan.
Benar, pria pembunuh yang datang bukan untuk menyelamatkan Rayn dan ibunya. Ia mengabaikan ibu Rayn yang memohon kepada pria itu untuk menyelamatkan putranya. Pria itu justru menjambak rambut sang ibu lalu dengan senyum penuh ambisi bak psikopat, ia membenturkan kepala ibu Rayn ke kemudi dengan brutalnya.
Usai membunuh ibu Rayn, pria itu berganti menghampiri Rayn untuk melenyapkan nyawa Rayn. Namun rencana itu gagal, Rayn terselamatkan oleh teriakan Mickey yang meminta pria itu untuk tidak melukai keduanya. Pembunuh itu mencari sumber suara dan ia menemukan ponsel milik Rayn yang masih berada dalam panggilan aktif dengan Mickey.
"Haisttt... !" gumam pria itu. Ia meraih ponsel Rayn dan langsung menghantamkannya ke body mobil berulang kali hingga ponsel itu mati.
“Tuan, ke... kenapa kau... lakukan itu pada ibuku, Tu... an?" tanyaRayn dengan suara terputus-putus dan air mata yang terus berlinang.
__ADS_1
Ryan berusaha mengulurkan tangannya untuk meraih pria itu. Namun tangannya bergetar, ia merasakan tubuhnya semakin lemas, jantungnya berdeguk semakin kencang dengan keringan yang bercucuran bercampur dengan percikan darah. Entah apa yang membuatnya sulit, tapi Rayn berusaha sekuat tenaga untuk mengetahui siapa pria dibalik masker itu.
Pembunuh yang masih sibuk memeriksa ponsel Rayn lengah hingga tidak sadar jika tangan Rayn berhasil menyentuh maskernya. Menyadari hal itu, pembunuh keji itu menghempaskan tangan Rayn, hempasan tangan sang pembunuh justru mendorong tangan Rayn yang sudah berhasil menggenggam masker itu sehingga terhempas dan terbuka.
Wajah dari pria keji itu terpampang jelas, sebuah wajah yang sangat tidak asing bagi Rayn. "Tu… tu… Tuan… kau....“ ucap Rayn dengan terbata-bata.
“Ini semua salahmu. Orang yang kau benci harusnya adalah dirimu sendiri. Semua ini terjadi karena salahmu.”
Pria itu mengucapkannya kepada Rayn dengan tertawa. Ia tampak puas dan sama sekali tidak merasa berdosa atas perbuatannya yang baru saja membunuh ibu Rayn.
"Aku akan membantumu bertemu dengan ibumu di neraka" lanjut ucap pria itu sudah dalam posisi bersiap memukul Rayn dengan ponsel Rayn ditangannya. Namun, ia kembali gagal karena orang-orang mulai berdatangan. Pembunuh itu segera kembali meraih maskernya lalu pergi dan menghilang diantara kerumunan.
.
.
#Back
Dr. Leona yang seperti menemukan jawaban segera memutuskan untuk melakukan terminasi terhadap Rayn. Sebuah tahapan membangunkan Rayn untuk mendapatkan kesadarannya kembali. Setelah mendapatkan sugesti, Rayn perlahan bangun dan membuka matanya, dengan nafas yang tersengal ia mulai menitihkan air mata yang membasahi pipinya.
Rayn tertunduk dengan keringat dingin yang bercucuran, ia semakin erat menggenggam tangan Lusia yang berada di sisihnya. Rayn masih mencoba untuk menenangkan diri dan mengendalikan pikirannya yang masih kacau.
"Rayn kau baik-baik saja?” tanya Lusia dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar suara Lusia membuat ketegangan Rayn mulai mereda, ia lalu memeluk Lusia masih dengan nafas yang tersengal. Rayn berusaha mengatur nafasnya kembali.
Rayn masih dalam pelukan Lusia memandang Mickey yang berdiri dibelakang Lusia. "Aku melihatnya dengan jelas wajah pembunuh itu, dia adalah ayahmu, Tuan Mike Rayden. Tapi, bagaimana mungkin?" tanya Ryan.
Mickey tampak berpikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Rayn. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan raut wajah penuh amarah. "Itu mungkin saja" sahut Mickey dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Rayn.
"Jika yang kau lihat pembunuh itu adalah ayahku yang sudah mati, maka hanya ada satu jawaban" lanjut ucap Mickey.
Rayn bangkit dari duduknya. Ia masih menggenggam tangan Lusia dengan erat. "Katakan padaku Mickey...!" perintah Rayn.
"Paman Louis" sahut Mickey.
"Apa maksudmu, siapa dia ? " tanya Dr. Leona yang baru mendengar nama itu.
.
.
***
__ADS_1
Diwaktu yang sama ditempat yang berbeda, Di sebuah lapas untuk terpidana narkoba, di Canada. Narapida bernomor 7007 itu pergi ke ruang pengunjung menemui seseorang yang datang untuk mengunjunginya. Seorang pria sudah duduk di ruangan khusus pengunjung yang berbatasan dengan dinding yang menghalangi keduanya.
Kedua ruangan itu di jaga ketat oleh petugas ruang kunjungan dan diawasi oleh beberapa titik cctv yang merekam semua yang terjadi dalam ruang terpisah itu. Mereka hanya bisa memandang melalui kaca berukuran 1mx1m untuk mereka bisa saling melihat satu sama lain.
Pria pengunjung itu dengan senyum menyeringai menatap pria berpakaian tahanan yang menyambutnya dengan memasang raut wajah datar lalu duduk didepannya. Sebuah wajah yang tidak pernah berubah sepanjang waktu.
“Sepertinya hanya aku satu-satunya orang yang mengunjungimu” ucap Baram, pria yang mengunjungi Narapidana bernomor 7007 itu. Ia berbicara melalui saluran telepon yang disediakan untuk bisa berkomunikasi dengan sang narapidana yang ia kunjungi.
“Kau sudah mengurusnya?” tanya Louis, seorang narapidana bernomor 7007 dengan tatapan datar.
“Aku sudah mengurus semua, saat kau bebas nanti, kau sudah bisa langsung meninggalkan negara ini” jawab Baram.
Baram sepertinya telah mengurus semua dokumen baik passpor, visa, tiket bahkan tempat tinggal untuk Louis meninggalkan negara itu setelah keluar dari penjara.
“Tapi, ada yang harus aku bereskan sebelum meninggalkan negara busuk ini” sahut Louis dengan tatapan penuh dendam.
“Hidupmu sudah cukup sial, jadi jangan terlalu banyak berulah lagi. Setelah kau dibodohi olehnya lalu menghasut Tiger Mafia untuk membunuhnya saat dipindah lapas, aku rasa itu semua kecerobohan mu. Lihatlah, kini kau tetap berakhir disini dengan kostum menggelikan itu” ujar Baram.
“Dia memang pantas mati karena sudah berani menipuku” sahut Louis.
“Hahaha menggelikan, seorang pembunuh sepertimu menyebut penipu” potong Baram dengan senyum menyeringai.
Baram dan Louis membahas kematian Mike Rayden, ayah Mickey yang mati dibunuh dengan cara ditembak saat dipindah lapas. Penembakan itu dilakukan oleh Tiger Mafia, sebuah kelompok Mafia yang terlibat dalan jaringan pengedaran narkoba. Louis berhasil menghasut dan mengelabui Tiger Mafia sehingga membunuh Mike Rayden, pria yang mereka kira target buronannya.
“Lupakan dendam konyolmu itu. Tinggalkan saja negara ini tanpa melakukan sesuatu sebelum Tiger Mafia menemukan keberadaanmu dan membunuhmu. Kau memang bukan orang yang mereka incar, tapi kelabuanmu justru akan berbalik menyerangmu jika mereka tahu jika sosok Louis Rayden masih hidup” ucap Baram.
“Bocah tengik itu, kau pikir aku akan melepaskannya begitu saja setelah membuat hidupku seperti ini, setelah membuatku terlibat dengan sampah Tiger Mafia itu?” tanya Louis penuh kebencian.
“Setelah kau melenyapkan nyawa wanita itu kau masih akan mengincar anaknya? Aku dengar anak itu sudah tidak ada di negara ini lagi setelah kau membunuh ibunya” ucap Baram.
“Itu urusanku” sahut Louis.
“Tidak ada gunanya kau membalas dendam pada bocah itu, Louis. Perlu kau ketahui, membantumu untuk bisa keluar dari negara ini adalah kebaikan terakhir yang aku lakukan untukmu. Setelah itu, aku tidak mengenalmu, jadi jangan membuat kebodohan untuk kedua kalinya” saran Baram kepada pria keras kepala yang sudah penuh dengan dendam dimatanya.
Baram menutup telepon, ia mengakhiri kunjungannya. Louis masih duduk tenang masih dengan memegang gagang telepon yang menempel di telinganya, ia menatap Baram yang berdiri hendak meninggalkan ruang kunjungan.
“Louis, sepertinya aku sudah sangat terbiasa dengan nama itu” ucap Baram dalam hati menatap Louis lalu melangkah pergi meninggalkan ruang kunjungan.
Percakapan antara Louis dan Baram itu menunjukkan jika Louis adalah orang yang membunuh ibu Ryan, bahkan ia juga dalang yang membuat kelompok Tiger Mafia melakukan penyerangan dan penembakan kepada Mike Rayden saat dipindahkan lapas.
Masih menjadi misteri mengapa Louis Rayden melakukannya. Apa motif dari kejahatan yang ia lakukan kepada Mike Rayden yang tidak lain adalah saudara kembarnya sendiri dan mengapa dia menghabisi nyawa ibu Rayn Ny. Angelina.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued***