
Lusia sudah pulang dari Cafe dan telah kembali ke Villa, ia mendengar suara ribut di dapur saat akan memasuki kamarnya. Ia meletakkan tasnya lalu pergi ke dapur untuk memeriksa. Ia melihat Rayn sedang sibuk mengaduk sesuatu yang ada di dalam panci. Pemandangan tak biasa bak seorang suami yang sedang memasak untuk istrinya.
"Apa yang kau lakukan?” tanya Lusia mendekat.
“Menyiapkan makan malam untukmu” jawabnya sembari mencicipi makanan di tangannya.
"Untukku?" tanya Lusia semakin mendekat dan mengintip masakan apa yang sedang Ryan siapkan untuknya.
“Wah…. Sup Kerang” ucap Lusia dengan senyum sumringah. “Apa urusanmu dengan Mickey hari ini lancar?" Lanjut tanyanya. Rayn hanya menjawab dengan anggukkan dan senyum.
“Tapi ada apa denganmu yang tiba-tiba memasak?” tanya Lusia lagi.
Rayn mematikan kompor. “Apa aku mengatakan jika aku sedang memasak? Menyiapkan bukan berarti aku yang membuatnya. Aku hanya sekedar memanaskannya saja agar hangat saat kau makan nanti” jawab Rayn dengan jujur sehingga merusak perasaan haru Lusia.
"Apa yang kau harapkan Lusia" gumam Lusia berbicara pada dirinya sendiri di dalam hati. Padahal ia sudah sangat tersanjung jika Sup Kerang itu dibuat Rayn untuknya.
Di depan Rayn Lusia hanya mengangguk mendengar jawaban Rayn. Dengan hati yang sedikit kecewa ia membantu Rayn menyiapkan yang lain. Menu yang di sajikan Rayn membuat Lusia teringat dan merindukan ibunya. Ia mengatakan kepada Rayn jika dirinya sangat menyukai Sup Kerang. Sup Kerang buatan ibunya yang selalu menjadi favoritnya.
“Aku masih tidak mengerti kenapa kau menyiapkan makan malam? Bahkan kau juga menyiapkan sarapan untukku tadi pagi” tanya Lusia.
“Kau hanya perlu menghabiskannya, jangan terlalu keras memikirkan hal yang tidak penting. Makanlah, sebelum aku meminta Arka untuk menghabiskannya” perintah Rayn usai menata semuanya di meja.
Rayn membersihkan tangannya lalu pamit naik. “Kau tidak ingin makan bersama?" Tanya Lusia.
“Ada lukisan yang harus segera aku selesaikan.” Selesaikan makanmu, setelah itu kau bisa menemuiku di ruang melukis usai makan”
“Apa itu artinya kau mengizinkanku memasuki ruangan itu? Wahhh… .” Terlihat wajah Lusia yang merasa sangat senang mendengarnya.
Rayn pergi naik ke atas. Lusia bersiap menyantap makanan yang ada di meja. Tidak lama terdengar adanya pesan masuk. Ibu Lusia mengirim pesan kepadanya.
[ Ibu sudah bertemu dengannya. Dia adalah pria yang baik dan ibu tidak tahu bagaiman harus membalasnya. Ibu hanya bisa berpesan untuk berkerja dengan baik dan tulus kepadanya. Saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan. Ibu Juga sudah menitipkan Sup Kerang kesukaanmu. Kau bisa berbagi dengannya. Ibu bisa melihat dia sangat lahap memakan sup kerang ibu waktu di kedai]
Lusia menatap sup kerang di depannya usai membaca pesan dari sang ibu. Ia menyadari jika ternyata Ryan adalah pria yang dimaksud ibunya dan orang yang sudah melunasi hutang itu. Sup Kerang yang Rayn siapkan adalah Sup Kerang dari ibunya.
Lusia bergegas naik ke lantai atas untuk menemui Rayn. Rayn baru keluar dari kamarnya dan hendak memasuki ruang melukis. Ryan terkejut melihat Lusia sudah berdiri di depan pintu kamarnya. “ Sejak kapan kau ada disitu?" tanya Rayn melihat ke sekeliling.
"Ada apa? Apa kau secepat kilat menghabiskan makananmu hanya karena tidak sabar untuk datang kemari?" lanjut tanya Rayn.
__ADS_1
“Jadi itu ternyata dirimu yang melakukannya?" tanya Lusia. "Bagiamana kau bisa tahu soal hutang ibuku?" lanjut tanyanya.
Rayn menghela nafas,” hanya… terjadi begitu saja” jawab Ryan.
Lusia semakin menatap tajam Rayn, sangat terlihat jelas jika ia tidak puas dengan jawaban Rayn. "Kau tidak ingin mengatakan kepadaku?" tanyanya lagi kepada Rayn.
"Aku mendengar dari Arka jika kau pernah bertanya kepadanya soal rentenir. Setelah itu, tidak lama kau memutuskan untuk mencari pekerjaan ekstra dengan gaji lebih di sebuah Bar. Aku yakin pasti ada sesuatu yang mendesakmu. Karena itu aku meminta Mickey untuk mencari tahu.
"Kau bahkan tahu aku pernah bekerja di Bar?" tanya Lusia.
“Eemm... aku tidak sengaja membaca pesanmu saat itu. Dan aku juga yang meminta Mickey datang ke Bar. Kau tahu, jika keterbatasanku tidak memungkinkan bagiku untuk pergi membantumu.
Lusia tersenyum sinis tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Waahh... kau sepertinya sangat tahu banyak tentangku" ucapnya.
"Kenapa? kau merasa terusik?" tanya Rayn.
“Dibandingkan dengan semua yang kau tahu dan kau lakukan untukku, alasan mengapa kau melakukannya dibelakangku yang lebih mengusikku saat ini. Kenapa? Kenapa kau melakukannya?” tanya Lusia.
“Jangan menanyakan hal yang aku sendiri pun tidak bisa menjawabnya. Hanya cukup biarkan aku melakukannya" jawab Rayn.
"Kau juga tidak mengatakan kepadaku jika urusanmu dengan Mickey hari ini adalah untuk menemui ibuku" ucap Lusia.
Lusia tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak mengerti mengapa rasanya ia ingin menangis. "Kenapa aku harus membencimu?" tanya Lusia kembali memandang Rayn.
Lusia membungkukkan badannya mengucapkan terima kasih kepada Rayn. "Aku dan keluargaku sangat berhutang budi kepadamu. Terima kasih" ucapnya.
Rayn ingin meletakkan tangannya di bahu Lusia, namun ia mengurungkan niatnya karena Lusia sudah bangkit kembali memandang dirinya.
"Kau tidak perlu seperti itu. Ini terlalu berlebihan" ucap Rayn.
"Aku hanya tidak percaya jika kau membantu meringankan beban itu. Dan saat aku tahu itu dirimu, entah mengapa aku sangat bahagia mengetahuinya. Maafkan aku, jika aku sempat berpikir jika itu orang yang justru memilki niat buruk dengan memanfaatkan kesulitan keluarga kami. Karena aku terlalu takut" ucap Lusia.
"Kau sudah melakukannya dengan baik Lusia. Perjuanganmu demi keluargamu, semua akan terbayar nantinya. Ketulusanmu itu, aku yakin akan membawamu menuju kebahagiaan. Kau boleh istirahat sejenak dan menikmati hidupmu sendiri tanpa harus memikirkan orang lain. Kau bisa melakukannya" ucap Rayn.
Lusia sudah tidak bisa menahan air matanya. Selama ini belum ada yang mengatakan kepadanya jika dirinya sudah melakukan yang terbaik. Suatu kata yang ingin ia dengar ketika ia merasa lelah, dan kata itu terucap dari bibir Rayn.
"Turunlah, selesaikan makan malammu. Setelah itu kau bisa naik ke ruang melukis" ucap Rayn.
__ADS_1
Lusia mengangguk . "Aku akan membalas semuanya. Aku akan bekerja dan mengabdikan hidupku untuk membantumu" jawab Lusia.
Rayn mendekati Lusia dan memeluknya. Mata lusia membelalak, ia terkejut dengan apa yang dilakukan Rayn tiba-tiba. "Ada cara yang lebih mudah dari itu kenapa harus memilih jalan yang lebih rumit untuk membayarku?" tanya Rayn lirih.
Lusia mengerutkan kening dalam pelukan Ryan. "Apa katamu? Cara yang lebih mudah? Apa maksudmu kau memintaku menjadi model lukisan dewasamu itu?" tanya Lusia.
Rayn melepaskan pelukannya dan langsung menjentikkan jarinya mendarat di kening Lusia. "Aku tidak mengerti apa yang membuat isi kepalamu selalu mesum seperti itu" ucap Rayn heran.
"Aw..." Lusia tampak kesakitan dan mengelus keningnya. Ia lalu turun ke lantai satu usai pamit dengan membungkukkan badannya sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Rayn.
Rayn memandang punggung Lusia yang meninggalkannya. "Rayn, begitu kau mengharapkan dia untuk mengingatmu yang mungkin hanya angin lalu untuknya saat itu" gumamnya berbicara sendiri.
#flashback
Epilog BAB 2.
.
Pertemuan kedua Rayn dengan Lusia sebenarnya adalah sebelum malam kejadian dimana Lusia menolongnya di Galery.
Di hari itu, Ryan sudah akan meninggalkan Galery saat tahu jika Mickey tidak menuruti perintahnya untuk mengosongkan Galery. Ia sudah memutuskan meninggalkan Galery, namun Rayn tidak sengaja melihat sosok wanita yang tidak asing baginya.
Wanita itu adalah Lusia, seorang gadis yang sedang berdiri memandang lukisan Lotus bersama David. Rayn yang tadinya akan kembali pulang mengurungkan niatnya setelah melihat seseorang yang ia juluki dengan sebutan Gadis Berkuncir Satu.
Saat itu Rayn adalah pria yang dicurigai Lusia saat akan naik lift. Pria yang terus memperhatikannya hingga masuk ke dalam lift.
Rayn ingin memastikan jika ia benar, ia lalu memutuskan mengikuti Lusia hingga lantai 2. Namun tidak bisa di duga, jika keputusannya untuk mengikuti Lusia membawa hal buruk dimana phobianya Rayn kambuh.
Seperti takdir, ia pun tidak menduga jika gadis yang menolongnya adalah Lusia. Hingga saat ini Rayn masih belum menemukan alasan kenapa Lusia bisa menyentuhnya malam itu. Sementara di pertemuan pertama mereka 10 tahun silam, Lusia juga tidak bisa menyentuhnya seperti yang lain.
Saat keputusan Mickey membuatnya terlibat lebih jauh dengan Lusia. Ryan merasa itu tidak benar. Ia tidak ingin mengikat Lusia dengan melibatkannya menjadi perisai seumur hidupnya.
Meskipun ia sangat penasaran dan ingin mengenal lebih jauh gadis yang sudah mencuri perhatiannya, tapi Rayn tidak ingin menyia-nyiakan masa muda gadis itu hanya demi keegoisannya. Itulah kenapa Rayn menolak kesepakatan yang dibuat Mickey dengan Lusia.Namun padangan itu berbeda dengan Lusia yang justru memilih mengulurkan tangan untuk Rayn.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued***