Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 131 - Melindungi Adikku, Ryan


__ADS_3

Kasur masih menjadi tempat yang nyaman untuk keduanya merebahkan diri setelah menyudahi pergulatan panas di pagi hari. Rayn menatap wajah istrinya yang masih terbaring dengan keringat yang masih membasahi kening dan jenjang leher Lusia.


Rayn menjulurkan tangannya, ia menyeka keringat itu dengan punggung tangannya. Lusia tersenyum akan perhatian sang suami, ia lalu meraih tangan Rayn dan menggenggamnya. "Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya Lusia dengan raut wajah manja.


Rayn menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang ingin kulakukan hari ini selain hanya selalu berada di sisimu, bersamamu" jawab Rayn tanpa melepaskan tatapan matanya.


Perkataan Rayn membuat Lusia tertawa kecil, sulit dipercaya jika seorang Rayn akan benar-benar begitu sangat memuja dirinya. Sorot mata Rayn semakin membuat Lusia tersipu malu, ia meminta Rayn untuk berhenti memandangnya karena itu hanya akan membuatnya ingin tetap berada pada momen seperti saat ini, sementara dirinya harus bangun dan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.


Rayn menahan Lusia yang hendak bangun dan memintanya untuk tetap berbaring sebentar lagi. "Sebentar lagi, tetaplah seperti ini sebentar lagi" ucap Rayn dengan tatapan teduhnya.


Rayn kembali meraih tangan Lusia dan menjadikannya sebagai tungkuhan pipinya, ia lalu memejamkan matanya sesaat. Lusia hanya bisa menghela nafas dan membiarkan suaminya bersikap manja. Tidak lama Lusia merasakan air mata Rayn yang membasahi telapak tangannya.


"Rayn.... " panggil Lusia.


Ryan membuka matanya dan benar ia sedang menangis, bahkan air mata Rayn masih berlinang dan terbendung di pelupuk matanya.


"Kau menangis?" tanya Lusia sembari mengusap air mata Rayn yang kembali menetes.


"'Aku hanya sedang bahagia, saaaaaangatt bahagiaaa" ucapnya perlahan.


Tentu saja ini saat ini adalah momen yang sangat membahagiakan bagi Rayn. Melihat seorang wanita yang sangat ia cintai bersamanya saat membuka mata, seorang wanita yang saat ini telah menjadi istri dan pendamping hidupnya. Kebahagian itu adalah anugerah yang selama ini hanya mimpi baginya, tidak pernah sekalipun dalam hidupnya Rayn berani mengidamkan adanya seseorang yang akan selalu bersamanya, bahkan menyambutnya disaat dirinya membuka mata di pagi hari.


"Aku pikir aku akan selalu sendirian dan kesepian setiap waktu, setiap hari dan seterusnya hingga tutup usiaku karena phobia yang kumiliki. Tidak ada satupun orang yang bisa aku sentuh maka sudah seharusnya aku hidup sendiri, itu yang selama ini aku pikirkan" ucap Rayn lirih.


Rayn semakin mendekapkan tangan Lusia pada pipinya. "Apa kau percaya, bahkan saat ini pun aku masih merasa jika semua ini mimpi. Aku bahkan berdoa dan memohon jika ini hanya mimpi, aku ingin Tuhan membiarkanku berada dalam mimpi ini lebih lama lagi. Memberiku sedikit waktu lagi untuk bisa menatap wajahmu seperti ini." lanjut ucap Rayn.


Lusia mendekat dan mengecup dagu Rayn. "Ini bukan mimpi Rayn karena aku akan selalu ada di sisimu, di setiap kau membuka mata, di setiap waktumu dan juga di semua hari-harimu. Tidak hanya hari ini ataupun esok hari, tapi sampai kita menua dan tutup usia, kita akan selalu bersama. Kau bebas memandang wajahku sepanjang kau mau, karena aku milikmu" ucapnya.



Rayn membalas dengan mengecup kening Lusia lalu memeluknya erat. Ditengah keromantisan diantara keduanya, tiba-tiba terdengar suara mengejutkan yang membuyarkan momen romantis mereka.


Krukkkkkk...!!


Suara perut Lusia yang berteriak dan meronta karena merasa sangat lapar. Rayn pun tertawa diikuti Lusia yang juga tertawa karena malu.


"Aku akan memasak untukmu" ucap Rayn melepas pelukannya lalu beranjak dari tempat tidur.


Lusia hanya tertunduk malu dan memukul kecil perutnya karena tidak bisa diajak kompromi, ia lalu berganti memukul kepalnya karena tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang tidak paham situasi.


Rayn pun turun dari ranjang dan berjalan menuruni tangga pergi ke dapur. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan oleh keberadaan seorang pria entah sejak kapan sudah duduk di sana. Rayn berjalan menghampiri pria yang duduk di sofa membelakanginya.


"Apa kali ini kalian benar-benar menyudahinya?" tanya pria itu mengejutkan Rayn.


Rayn bahkan mengumpat ketika dirinya dibuat terkejut oleh kehadiran Mickey yang tiba-tiba bertanya dengan tatapannya yang tajam. Rayn membulatkan matanya antara percaya dan tidak percaya apakah pria yang berdiri didepannya saat ini nyata.


"Kenapa kau menatapku seperti sedang melihat hantu?" tanya Mickey.


Rayn menghela nafas kasar. "Aku justru semakin berharap jika yang kulihat benar-benar sosok hantu bukan manusia" sahut Rayn tanpa dosa sembari berjalan menuju lemari es.


"Apa?" tanya Mickey yang dibuat bingung akan perkataan Rayn yang justru mengharapkan dirinya adalah hantu.

__ADS_1


Ditengah kebingungan Mickey pun Ryan terdiam dan tampak berpikir keras lalu ia berbalik dan melontarkan serangan pertanyaan kepada Mickey.


"Kenapa kau ada disini?"


"Sejak kapan ?"


"Apa... kau melihatnya atau... kau.... mendengar sesuatu?"


Pertanyaan-pertanyaan ini dilayangkan Rayn dengan wajah panik, tanpa memberi kesempatan Mickey untuk mencerna apalagi menjawabnya.


Mickey memutar bola matanya lalu menjawab dengan santai. "Eeemmm, sejak kau memintanya lagi, lalu kalian memulainya lagi dan...." jawab Mickey lalu menahan ucapannya.


"Dan......??" tanya Ryan membulatkan matanya penasaran.


"Dan aku mendengar semua, semuanyyaaaa termasuk saat kau menyebut namanya dengan *******, Lusia...." sahut Mickey dengan suara yang sengaja dibuatnya terdengar sangat sensual.


"Hyaaaa....!!! teriak Rayn sembari menendang kaki Mickey. "Apa kau sudah gila? lagipula apa yang membuatmu tiba-tiba kemari bukan ke Villa utama?" tanya Rayn sembari meraih air mineral dan meneguknya dengan kasar.


"Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau harus melakukannya disini dan bukan di Villa utama? Apa kau ingin memamerkannya kepada ibumu?" sahut Mickey.


Mickey lalu melangkah mendekati sebuah lukisan ibu Rayn yang duduk dengan bayi laki-laki kecil di pangkuannya. Mickey menggabungkan kedua tangannya dan memberi penghormatan. "Ny.Angelina, anda tidak perlu mengkhawatirkannya lagi karena kini putra anda sudah dewasa, sungguh sangat dewasa, bahkan dia kini tidak sendirian lagi karena dia memiliki seseorang yang bisa setiap waktu menghangatkannya" ucapnya lalu membungkuk dengan penuh rasa hormat.


Rayn hanya bisa meremas botol air mineral ditangannya untuk menahan amarahnya kepada Mickey yang sengaja melakukan itu untuk membully dirinya.


Mickey lalu menjelaskan alasan kenapa dirinya bisa berada di Dervilia. Saat dirinya hendak pergi menemui Rayn di Villa utama, ia melihat mobil Rayn yang justru sedang terparkir di depan jalan masuk Dervilia. Ia lalu pergi ke Dervilia karena yakin jika Ryan pasti ada di sana.


Mickey sudah mengetuk pintu berulang kali namun tidak mendapat jawaban dari dalam Dervilia. Bahkan ia menghubungi Ryan dan hanya mendengar suara nada dering ponsel Rayn dari luar. Mickey mengintip ke dalam dan hanya melihat ponsel Rayn yang terus berdering di atas meja tanpa melihat sosok Rayn meskipun ponselnya berdering berulang kali. Hal itu membuat Mickey menjadi khawatir jika saja terjadi sesuatu terhadap Rayn didalam Dervilia.


"Yupss, tantu saja aku sangat khawatir jika saja kau mabuk dan pingsan, karena itu aku menerobos masuk. Bagaimana bisa kau tidak mendengar aku menekan sandi? Tapi aaa.. lupakan soal sandi, kau saja tidak mendengar seberapa keras aku mengetuk pintu dan sekian kalinya aku menghubungimu tapi kau pun tidak mendengar ketika benda kotak ini" ucap Mickey menunjuk ponsel Rayn. "Benda kotak ini terus menari dan bernyanyi diatas meja tapi kau tetap tidak mendengarnya" lanjutnya.


"Ok, ok" potong Rayn. "Aku menerima alasanmu menerobos masuk tapi kenapa setelah itu kau tidak pergi dan justru duduk disini setelah dengan penuh kesadaran tahu jika aku baik-baik saja?" lanjut tanya Rayn dengan wajah geram.


Ditengah perdebatan kata antara Rayn dan Mickey, tiba-tiba Lusia menuruni tangga dan menghampiri keduanya. "Sepertinya dia sengaja memasang nada dering lembut yang menghanyutkan, jadi ketika ada panggilan masuk seperti sedang ada musik latar yang mengiringi kegiatan kita bak alunan pendukung seperti didalam sebuah drama" ucap Lusia tersenyum lalu menggandeng tangan Rayn dan menyandarkan kepalanya pada lengan Rayn.


Mickey menggelengkan kepalanya berulang kali lalu menghela nafas pendek. "Wah... tidak hanya ada 2, tapi kini ada 3 orang konyol disini sekarang yang membahas hal tidak penting dan menggelikan" ucap Mickey membuat Lusia tertawa keras.


Rayn mengakhiri pembicaraan aneh mereka lalu menanyakan alasan apa yang membuat Mickey mencari dirinya. Mickey hanya menjawab jika ada hal mendesak yang harus ia katakan kepada Rayn. Mickey menatap Lusia dengan raut wajah yang menunjukkan jika dirinya hanya ingin membahas hal itu hanya dengan Rayn.


Lusia tiba-tiba mengelus perutnya. "Aaa... perutku sungguh sangat lapar. Jika begitu Rayn, aku saja yang memasak pagi ini. Aku akan pergi ke Villa utama memasak untuk kalian" ucap Lusia meraih kunci mobil Rayn dan mengatakan jika Rayn nanti bisa kembali bersama Mickey. Ia pun lalu pamit pergi setelah Rayn memberinya kecupan di kening.


"Apa yang ingin kau bahas?" tanya Rayn sembari kembali membuka pintu lemari es dan meraih beberapa buah apel.


Dengan nada suara berat Mickey mengatakan sebuah fakta yang sudah seharusnya Rayn ketahui. Ia mengatakan jika pamannya yang seharusnya ia temui di Kanada sudah meninggal dunia. Bahkan pamannya meninggal dihari yang sama dengan hari dimana dia menerima berita kematian ayahnya yang tertembak dan meninggal saat dalam perjalanan pindah lapas.


Slettttt...!!!!


Rayn menghentikan pergerakan tangannya yang sedang memotong buah apel ditangannya, tanpa sengaja ia melukai jarinya sendiri saat mendengar ucapan Mickey yang membuat hatinya gelisah sesaat. Rayn menoleh dan bertanya kepada Mickey. "Bukankah pamanmu dan ayahmu adalah saudara kembar?" tanya Rayn dengan wajah serius. Ia bahkan tidak merasakan rasa sakit akan luka di jarinya, bahkan luka itu mengeluarkan darah yang Rayn biarkan begitu saja.


"Lalu dia...?" lanjut ucap Rayn yang terdengar seperti sudah mengetahui inti dari cerita Mickey.


"Kau benar, ayahku masih hidup dan orang yang aku kira paman Louis, dia adalah ayahku" ucap Mickey dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Apa katamu? Mustahil ...." Tubuh Rayn menjadi lemas, ia pun gontai dan hampir terjatuh namun berhasil bersandar pada meja dapur, hal itu membuat papan pemotong buah yang tersenggol tubuhnya jatuh berantakan ke lantai bersama dengan sebagian potongan Apel yang sudah ia potong. Perlahan ia menjatuhkan tubuhnya dan terduduk dilantai dengan tubuh bersandar pada lemari dapur.


Sesaat Rayn kembali teringat akan kejadian tragis yang ia alami pada malam itu. Ia kembali teringat akan ucapan si pembunuh yang kini sudah jelas jika pembunuh yang mengucapkan kata-kata itu adalah ayah Mickey.


"Ini semua salahmu. Orang yang kau benci harusnya adalah dirimu sendiri. Semua ini terjadi karena salahmu!"


"Rayn..." panggil Mickey dengan wajah khawatir saat melihat tubuh Rayn yang seketika tak berdaya.


Dibalik pintu, Lusia masih berdiri di sana sedari tadi. Ia mendengar semua percakapan Rayn dan Mickey. Hal itu membuatnya khawatir dan menangis, ia menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan suara tangisannya agar tidak terdengar. Lusia pun sulit percaya dengan apa yang sudah ia dengar, ia menjadi sangat khawatir dengan perasaan Rayn.


Kenyataan itu adalah pukulan terbesar Rayn saat ini disaat ia mulai mencapai kedamaian dalam hidupnya. Mickey yang hendak ke mobilnya untuk mengambil kotak P3K, terkejut melihat Lusia yang masih berdiri didepan pintu. Lusia pun melangkah masuk dan berjalan perlahan menghampiri Rayn.


"Rayn..." panggilnya sembari menangis, ia lalu melihat jari Rayn yang mengeluarkan darah.


Lusia segera meraih dan merobek tirai dapur lalu membalut luka dijari Rayn. Rayn hanya terdiam tidak merespon apapun, ia hanya menatap Lusia yang membalut lukanya. "Apa kau sudah bodoh? lihatlah luka di jarimu!" ucap Lusia masih sambil membalut luka Rayn dengan menangis.


Lusia menyelesaikan ikatan terakhirnya, ia lalu menatap Rayn yang masih saja terdiam. "Rayn.." ucapnya lalu perlahan memeluk tubuh suaminya.


"Aku kini akhirnya mengerti kenapa ia melakukan itu, kenapa ia harus membunuh ibuku. Ini semua salahku, ini semua karena salahku. Akulah orang yang membuatnya bertindak keji membunuh ibuku. Tapi kenapa harus ibuku, kenapa ia harus melakukannya kepada ibuku. Jika dia membenciku seharusnya dia cukup membunuhku, kenapa harus ibuku, kenapa harus ibuku? Apa yang harus aku lakukan Lusia?" ucap Rayn menangis dalam pelukan Lusia.


"Tidak Rayn, ini semua bukan salahmu" ucap Lusia semakin erat memeluk tubuh Rayn dengan menangis.


Mickey yang baru saja kembali dari mobilnya terdiam berdiri didepan pintu dengan kotak P3K di tangannya. Ia melihat bagaimana Rayn menyalahkan dirinya akan kematian tragis yang dialami ibunya.


"Kenapa ini harus menjadi salahmu Rayn, disaat kau melakukannya saat itu untuk melindungiku dan ibuku. Ini semua salahku yang terlalu lemah saat itu." ucap Mickey dalam hati.


Sungguh kisah yang ironis untuk keduanya, tidak seharusnya Rayn dan Mickey yang menanggung penderitaan akan kesalahan para orang dewasa. Kenangan kelam itu telah menjadi luka yang tidak akan pernah mereka lupakan, sebuah luka dimana keduanya harus kehilangan ibu mereka ditangan orang yang sama yaitu Tuan Mike Rayden, ayah kandung Mickey.


Ayah Mickey, Tuan Mike Rayden adalah orang yang harus mempertanggung jawabkan semua kejahatan yang sudah ia lakukan. Mickey pun tidak akan tinggal diam, ia tidak ingin lagi menjadi dirinya seperti dahulu yang hanya bisa menerima perlakuan keji dari ayahnya. Mickey tidak peduli meskipun dirinya harus mempertaruhkan nyawa nya sendiri, ia akan menjadi orang yang akan membuat ayahnya mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatannya.


Sesaat, Mickey kembali teringat akan apa yang dikatakan Ny. Angelina kepadanya sewaktu dirinya kecil. "Mickey, aku akan selalu menunggu sampai Mickey mau memanggilku dengan panggilan ibu. Dan yang harus Mickey tahu, jika sejak Mickey datang ke rumah ini, sampai saat ini hingga tiba waktunya nanti Mickey mau memanggilku ibu dan seterusnya, Mickey sudah menjadi putraku dan juga Rayn adalah adikmu. Kita akan saling menjaga bersama dan menjadi keluarga yang bahagia."


Mickey masih menatap ke arah Rayn dan Lusia, terlihat buliran air mata mulai terbendung di pelupuk matanya saat teringat perlakukan penuh cinta dan kasih ibu Rayn terhadapnya.



"Aku akan melindunginya. Ibu tidak perlu khawatir, aku akan menjaga dan melindungi adikku, Rayn.


Ya, itulah janji yang Mickey ucapkan saat ini di Dervilia kepada Ny. Angelina. Andai Ny. Angelina bisa mendengarnya, ia pasti akan sangat bahagia. Namun, tanpa janji itu pun selama ini tanpa disadari Mickey sudah menjalankan perannya sebagai seorang kakak bagi Rayn.


Dibalik sikapnya yang terkadang suka menyebalkan, mengganggu dan hanya memberikan omelan kepada Rayn, Mickey adalah orang yang selalu ada dan menjaga Rayn hingga saat ini. Ia bahkan mengabaikan semua kehidupan dan kebahagiaanya sendiri demi Rayn. Semua yang ia lakukan dan perjuangkan selalu hanya untuk melindungi Rayn.


"Aku tidak hanya menjadi seorang kakak, tapi aku juga akan menjadi sosok ayah, ibu dan teman untuknya. Aku akan menjadi semua peran yang Rayn butuhkan. Ibu, ini bukan hanya sebatas janjiku, tapi sudah menjadi tujuan hidupku semenjak dia menyelamatkan hidupku."


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2