
Mendengar suara seorang pria yang tampak nyata, Lusia perlahan menurunkan ponselnya menengok keatas. Dilihatnya pria itu berdiri menatapnya dibalik jendela yang sudah dibuka. Lusia yang terkejut sontak mematikan panggilannya.
“Apa yang kau lakukan disitu?” tanya Mickey.
Menyadari dirinya tertangkap basah sedang menguping. “Aaa.. ehh... itu…” jawab Lusia gugup berdiri perlahan.
“Kau… ?” tanya Mickey melihat wajah yang tidak asing baginya. Ia berusaha mengingat kapan pernah bertemu dengan gadis didepannya itu.
“Yah…?” tanya Lusia balik karena bingung.
“Aaaa... benar, kau gadis itu …!” tunjuk Mickey kearah Lusia dari balik jendela.
Melihat reaksi Mickey, Lusia langsung berbalik badan membelakangi Mickey agar tidak terlalu dalam Mickey mengenali wajahnya.
“Pelakor, mati aku. Karena dia ada disana malam itu, pasti dia mengenaliku dan berfikir aku adalah pelakor. Apa yang harus kulakukan sekarang” gumam Lusia.
“Kemari kau… !” perintah Mickey meminta Lusia masuk.
“Sepertinya pria itu sedang cemburu, habis aku dimakannya.” Lusia berniat untuk kabur dan tidak ingin ikut campur urusan percintaan mereka. Lusia bertekad mengakhiri kesalapahaman, ia membalik badannya mejelaskan kejadian malam itu pada pria yang berdiri didepannya.
“Sepertinya kau salah paham, aku tidak ada hubungan apapun dengannya bahkan aku tidak mengenalnya. Malam kemarin aku hanya tidak sengaja membantunya dan saat ini aku hanya mengantar kembali mobilnya dan mengambil mobilku. Kau lihat, itu yang ada disana mobilku” ucap Lusia menunjuk Momo. Ia menjelaskan dengan perlahan mengambil langkah mundur berniat kabur.
“Apa yang kau bicarakan ?" tanya Mickey tidak paham dengan ocehan panjang Lusia.
"Maaf, kita tidak ada urusan tapi apa bisa kutitipkan kunci mobilnya padamu ?" tanya Lusia mengacungkan kunci mobil Rayn.
"Tunggu...! Kau mau kemana, tunggu disana !” ancam Mickey menunjuk Lusia memintanya untuk tetap diam ditempat. Ia pun bergegas lari keluar Villa menghampirinya.
“Apa yang akan dilakukannya ?” Lusia pun dengan relfek melangkah manjauh melihat Mickey beranjak akan keluar Villa.
“Ada apa denganmu, kenapa kau menjauh ? kemarilah aku ingin bicara !” Perintah Mickey berusaha mendekati Lusia. Mickey terus mendekat namun lusia terus saja menghindarinya.
“Haissst... ini akan lebih merepotkan daripada bertikai dengan para haters atau fans fanatik Sung Kyu Oppaku. Jika itu kecemburuan seorang fangirl, aku masih bisa menang seperti melawan para macan betina penggemar kpop diluar sana. Tapi dia, dia bertubuh pria. Aku bahkan tidak tahu sekuat apa tenaganya” keluh Lusia dalam hati yang sudah terbiasa berurusan dengan sesama penggemar KPOP.
“Yah… sudah kukatakan berhenti” perintah Mickey heran melihat Lusia terus menghidarinya.
“Kau sendiri apa yang ingin kau lakukakan ?” kau ingin menjambak rambutku ? jangan pikir karena kau memiliki tubuh lebih tinggi aku tidak bisa menyerangmu. Bahkan aku bisa merontokkan rambut pendekmu itu” ancam Lusia.
Mickey terdiam mengelus rambutnya. Ia tampak bingung dan tidak mengerti dengan kicauan Lusia.
“Apa yang akan dilakukan pria bromance jika sedang cemburu, apa dia akan membantingku ?” tanya Lusia dalam hati.
Rayn tanpa dosa keluar Villa dan hanya menonton mereka berdua dengan menyandarkan tubuhnya dipintu. "Seperti bocah" ucapnya dengan menyilangkan kedua tangannya. Rayn seolah tidak peduli dan tidak ingin ikut campur dengan kekonyolan keduanya.
“Ada apa dengan wanita ini ?” tanya Mickey kepada Rayn.
Melihat kemunculan Rayn, Lusia sontak melemparkan kunci mobil Rayn kepada Rayn. Rayn dengan sigap manangkapnya dengan wajah datar.
__ADS_1
“Maaf jika aku tidak sopan mengembalikannya, kecuali kau singkirkan pria bar bar ini. Urusan kita sudah selesai jadi aku akan kembali” ucap Lusia membungkukkan badannya dan langsung pergi mengambil langkah dengan cepat.
“Kau mau kemana... ?” Teriak Mickey menarik baju Lusia dari belakang.
Dukkkkk….!!!
Lusia dengan sigap merespon dengan melayangkan tinjuan maut ke wajah Mickey. Mickey tidak menyangka jika Lusia akan melakukannya sehingga dia tidak sempat menghindar.
“Aw…. Hya... !!! apa kau sudah gila“ teriak Mickey menahan sakit dipipinya.
“Kusarankan, hentikan pikiran anehmu itu. Atau terserah lanjutkan apapun yang kalian mau” ucap Rayn kepada Lusia menyadari alasan kenapa Lusia melakukannya. Rayn meninggalkan mereka berdua memasuki Villa.
“Baiklah, baiklah. Apa yang harus kulakukan agar kau bisa tenang ? Aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Aku tidak berniat menyerang, menggigit atau memakanmu" ucap Mickey berusaha menengankan Lusia.
Mickey sendiri masih tidak mengerti dengan reaksi Lusia. Apa yang sedang dipikirkan gadis itu hingga dengan kegilaannya harus memukul wajah manisnya.
“Cafe itu, apa kau pemilik Cafe itu ?” tanya Mickey menunjuk Momo. Mobil Cafe tempat Lusia bekerja yang bertulisan 'Friends Cafe' .
“Apa pedulimu dengan itu…” jawab singkat Lusia dengan tetap waspada.
“Ok, kita bisa pergi kesana atau mencari tempat tenang untuk berbicara” ajak Mickey.
“Kenapa aku harus berbicara padamu, kita tidak memiliki urusan apapun” sahut Lusia.
“Hei, anggap ini adalah hidup dan matiku. Aku bahkan rela jika harus memohon padamu sekarang. Jadi tidak bisakah kita langsung pergi saja. Kita tidak bisa bicara seperti ini” ucap Mickey tidak ingin basa basi lagi.
Mickey berjalan kearah mobilnya, ia membuka pintu mempersilahkan Lusia untuk masuk tapi Lusia menolak.
“Jika kau mau, ikut dengan mobilku” ucap Lusia dengan berjalan meninggalkan Mickey menuju Momo.
“OK, tidak masalah buatku. Aku akan ikut denganmu” jawab Mickey dengan menaikan kedua bahu, menutup kembali pintu mobilnya mengikuti Lusia.
Mickey akhirnya ikut pergi bersama dengan Lusia. Dirinya yang sudah berada dalam satu mobil dengan Lusia terus menatap Lusia. Lusia yakin jika saat ini Mickey pasti sedang terbakar api cemburu dan sudah mengecap dirinya adalah orang ketiga penyebab pertengkaran Mickey dengan Rayn tadi.
“Bagaimana jika kita mulai dengan membahas tentang dirimu dahulu” ucap Mickey. Lusia tidak memberi respon hanya fokus mengemudi.
"Kau pemilik Cafe atau hanya bekerja disana ?” tanya Mickey melihat sekeliling isi mobil Cafe.
“Hanya seorang pegawai” jawab singkat Lusia.
“Apa sebelumnya kau mengenal Rayn ?” tanya Mickey.
“Rayn.. ? Siapa Rayn ?“ tanya balik Lusia yang tampak asing dengan nama yang disebutkan Mickey.
“Kau sungguh tidak tahu namanya? Pria yang sudah kau dekap semalam, kau sungguh masih belum tahu namanya ?" ucap Mickey menggelengkan kepalanya.
“Apa itu penting untuk tahu” jawab Lusia.
__ADS_1
"Wah... Rayn, menyedihkan sekali hidupmu” guman Mickey heran.
“Baiklah, aku tidak akan bertanya bagaimana bisa kau tidak tahu namanya, intinya kau tidak mengenalnya. Lalu seberapa jauh kau tahu tentang kondisinya ?” tanya Mickey kembali.
“Hei, berhentilah menanyakan hal-hal yang membingungkanku, langsung saja pada intinya apa maumu ? tapi sebelumnya, kutekankan padamu, aku tidak ada hubungan apapun dengannya, seperti yang kau tahu bahkan namanya saja aku tahu darimu baru saja" jawab Lusia.
"Akan lebih bagus jika kau memiliki hubungan dengannya" celetuk Mickey.
"Hyaaa... Kau salah orang jika cemburu kepadaku. Ok” sahut Lusia.
“Hentikan mobilnya, hentikan mobilnya.. !!!” teriak Mickey.
Lusia sontak menginjak rem mendengar teriakan Mickey. Ia melirik keluar mengira jika ada sesuatu yang membuat Mickey tiba-tiba meminta menghentikan mobil. Melihat tidak ada apapun, Lusia menatap tajam Mickey yang sedang menghela nafas kasar.
“Cemburu…?” tanya Mickey.
“Benar cemburu, kau ingin apa sekarang ?” tanya Lusia memberanikan diri dan siap jika harus bertikai dengan pria yang duduk disampingnya itu.
“Kenapa aku harus cemburu, dengan siapa ? dirimu … ? untuk siapa aku cemburu ?” tanya Mickey memasang wajah serius.
“Bukankan kau ada sesuatu dengannya? Seperti... bro..man...ce” ucap Luisa dengan ragu.
“Bromance? Siapa yang kau maksud?. Tunggu.. ! Apa maksudmu aku dan Rayn ?" tanya Mickey mulai terlihat kesal mendengar kegilaan lain dari Lusia. Lusia hanya mengangguk.
"Hya.... !!!!. Teriak Mickey mengejutkan Lusia.
"Apa kau sudah gila... ? Wah, seharusnya aku sudah bisa menebak kelakuanmu yang aneh dari tadi karena hal liar yang ada dikepalamu. Aku masih normal camkan itu.. !!!” ucap Mickey.
“Sungguh…?” tanya Lusia ragu dengan peryataan Mickey.
“Kau ingin aku membuktikannya ?” jawab Mickey melepas sabuk pengaman dan mendekatkan wajahnya hingga hanya menyisahkan 5cm dari wajah Lusia.
*** To Be Continued***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆
__ADS_1