
Lusia menyapa Vhia sekaligus memesan minuman. “Hai Vhia, 2 Ice Americano dan 1 Orange Juice” ucap Lusia.
“Aku tidak ingin Ice Americano. Aku... ingin sesuatu yang lebih manis hari ini” sahut Rayn dengan memandang menu.
"Bukannya kau hanya akan meminum Ice Americano?” tanya Lusia. Lusia sangat tahu, jika soal kopi Ryan hanya akan minum Ice Americano dan jika soal Jus ia hanya akan minum tanpa gula.
“Aku memang suka Ice Americano tapi bukan berarti tidak menyukai yang lain. Aku hanya ingin menikmati sesuatu yang sedang menggambarkan perasaan hatiku saat ini, jadi bisakah kau pilihkan sesuatu yang manis untukku?” Tanya Rayn dengan tersenyum manis kepada Lusia.
“Hah, Ada apa dengan senyumannya itu” gumam Lusia dalam hati dengan senyum nyinyir.
“Dan apa? Sesuatu yang manis? Apa yang sedang ia rencanakan?" lanjut gerutunya dalam hati.
Tampak jelas jika itu adalah senyuman Rayn yang sengaja dipaksakannya. Lusia sangat tahu jika Rayn tidak menyukai sesuatu yang sangat manis.
Lusia akhirnya memesan 1 Caramel Macchiato untuk Ryan dan 1 Ice Americano untuk Arka. la lalu membuka tas hendak membayar. Namun, Rayn menahan tangan Lusia dan langsung memberikan dompet miliknya kepada Lusia. Lusia mengerutkan kening seolah bertanya untuk apa.
"Kenapa kau yang membayarnya sementara hari ini aku yang memintamu secara spesial pergi untukku" ucap Ryan lagi-lagi dengan senyum manis yang bisa menggetarkan hati.
Lusia semakin membulatkan matanya akan ocehan Rayn. Ia tahu yang dikatakan Ryan benar, tapi itu berlebihan dan potongan kata Rayn mudah disalahpahami.
"Kartu yang mana??" tanya Lusia.
"Kau bebas memilihnya" jawab Rayn singkat masih dengan senyum seolah penuh kasih.
Lusia tidak ingin bertanya lagi karena tidak ingin membuat Rayn semakin bertingkah. Ia dengan cepat mengambil salah satu kartu secara random dan memberikannya kepada Vhia.
Rayn langsung mendekatkan wajahnya dan membisikan pin kartunya kepada Lusia. Sikap ini sontak semakin membuat gaduh pengunjung karena merasa iri. Lusia dengan cepat menekan pin.
"Luar biasa, kau bahkan sudah menguasai dompetnya” celetuk Vhia kepada Lusia di depan Rayn.
Mendengar sindiran Vhia yang seolah mengatakan jika Lusia terlihat seperti gadis matrealistis, Ryan semakin bertingkah. Ia kembali mendekat dan berbisik di telinga Lusia. "Tidak perlu tegang, relax... ." bisiknya.
Rayn kembali memandang Lusia, ia menaikkan tepi ujung jaketnya hingga menutupi pangkal tangan kirinya. Dengan sentuhan lembut, ia perlahan mulai mengusap keringat di kening Lusia. "Apa yang membuatmu gugup sampai berkeringat seperti ini" ucapnya dengan tersenyum penuh perhatian.
"Oh... lihat, lihat, lihat, romantisnya dia" gaduh para pengunjung yang melihat satu tangan Ryan menggandeng Lusia dan satu tangannya lagi mengusap kening Lusia.
Lusia hanya bisa terdiam seperti patung. Usai pesanan siap, Lusia dengan cepat mengambil pesanannya lalu pergi duduk.
“Kenapa mereka menatap seolah kita sepasang selebriti” tanya Ryan melepaskan tangan Lusia dan duduk berhadapan dengan Lusia.
“Sesuatu yang tidak ingin aku ucapkan tapi itu fakta yang harus aku jawab. Itu karena wajahmu yang terlalu tampan dan postur tinggi badanmu yang terlalu menawan… dan" Lusia menghentikan ucapan lalu meraih minumannya dan menyeruputnya dengan cepat.
“Apa wajah ini termasuk istimewa dimata mereka?” tanya Rayn lagi.
“Tentu saja, siapa yang tidak akan meleleh melihat wajah tampanmu itu. Mulai dari alis, mata, hidung bahkan bibir, semua tampak sempurna" ucap Lusia. Rayn hanya tersenyum menatap Lusia yang menyebutkan setiap bagian wajahnya.
"Apa kau tidak sadar akan hal itu?" lanjut tanya Lusia.
“Tentu saja aku tahu" jawab Ryan.
"Haha, kau tahu" sahut Lusia dengan tawa mengolok. "Lalu kenapa kau masih bertanya dengan sok polosnya?” lanjutnya dengan ekspresi wajah kesal.
__ADS_1
“Agar kau mengatakannya. Aku hanya ingin mendengar tentang alis, mata, hidung, bahkan bibir yang semua tampak sempurna itu terucap dari bibirmu” jawab Rayn tersenyum. Lusia mendengus pendek tidak percaya, dengan tatapan tajam ia mematahkan balok batu es di mulutnya dengan kasar.
"Kenapa lebih banyak wanita yang berkunjung?" tanya Rayn melihat ke sekeliling.
"Mereka sesungguhnya datang kemari alih-alih minum kopi tapi karena Artefak bernilai tinggi yang kami miliki" jawab Lusia menatap Kelvin.
"Melihat mereka beralih memandangku, apa artinya aku lebih menarik dari pria itu sekarang?" tanya Ryan dengan senyum mencurigakan.
“Apa lagi yang ingin kau dengar dari bibirku kali ini? Kau sudah tahu jawabannya tapi masih bertanya" jawab Lusia.
“Jadi menurutmu juga seperti itu? Artinya kau juga mengakui jika aku lebih menarik darinya?” tanya Ryan. Ia tampak puas menggoda Lusia dengan candaannya.
“Tentu saja tidak...! Aku memiliki mata dengan selera yang berbeda, tentu saja Kelvin lebih baik darimu untuk di idolakan. Aku selalu menjadi penggemar no 1 nya. Apa kau tidak lihat kesempurnaannya dan lihat bagaimana dia meracik kopi.. Oh.. sangat menawan" gumam Lusia memandang Kelvin dengan tatapan dan senyum yang sengaja ia buat untuk membalas Ryan. Rayn mulai terlihat kesal sesuai dengan reaksi yang diharapkan Lusia.
"Kenapa kau tidak meminumnya?” tanya Lusia melihat Ryan mengabaikan minumannya. Sudah jelas Ryan tidak akan meminumnya. "Membuang-buang uang saja" lanjut gerutu Lusia.
"Siapa yang membuang uang? Arka duduk dan ambilah. Aku juga memesannya untukmu” perintah Rayn menyilangkan tangannya dengan tetap memandang Lusia.
Arka hanya menghela nafas, Ia tahu jika pada akhirnya ia yang harus menjadi korban. Bagaimana mungkin ia meminum 2 gelas sekaligus. Sedangkan Ice Americano yang Lusia pesan untuknya masih belum tersentuh.
.
.
***
Waktu sudah akan memasuki jam kerja Lusia. "Aku akan menjemputmu nanti" ucap Rayn sembari berdiri dari duduknya.
“Jangan khawatir, aku yang akan mengantarnya pulang" Sahut Kelvin dari belakang menghampiri Rayn dan Lusia.
Rayn sontak mengambil langkah lebih dekat dengan Lusia dan langsung menggenggam tangannya. Melihat reaksi Kelvin semakin tajam menatap pergerakan tangannya yang menggandeng Lusia, Ryan justru semakin erat menggenggam.
“Kenapa kau harus mengantarnya? Apa kau seorang bos yang selalu sebaik ini dengan karyawanmu? Apa kau juga selalu mengantar semua karyawanmu yang lain pulang satu-persatu ?” tanya Rayn secara tidak langsung menyindir Kelvin yang terlihat memiliki niat lain.
Dengan senyum sinis Kelvin menjawab. “Tentu saja tidak, Lusia bukan hanya sebatas karyawanku, tatapi ada kedekatan lain diantara aku dan dia yang membuat dia lebih istimewa" jawabnya.
Kelvin lanjut bertanya kepada Ryan. "Lalu kau sendiri, kenapa harus menjemputnya? Apa kau seorang bos yang selalu memanjakan stafmu? Apa kau yakin tidak memiliki niatan lain.” Tembak Kelvin tanpa basi basi kepada Ryan.
Rayn tersenyum sinis. “Tentu saja tidak, Apa menurutmu dia hanya staf biasa yang aku perlakukan sama dengan yang lainnya?" tanya Rayn membalas perkataan Kelvin.
"Tentu saja sesuatu yang spesial telah mengikat kami" lanjut Ryan dengan mengangkat tangannya dan menunjukan kedekatan itu dari genggaman tangan mereka.
"Benarkan Lusia?” tanya Rayn kepada Lusia dengan senyum mautnya yang begitu manis.
“Haisttt,,, pria ini, rasanya aku ingin menyumpal mulutnya. Apa dia pernah sekolah akting? Pandai sekali membuat drama” gumam Lusia dalam hati.
Lusia memejamkan matanya sejenak melepaskan penat akan sikap keduanya. Ia tidak bisa menyalahkan perkataan Kelvin dimana kedekatan yang dikatakan Kelvin adalah pertemanan mereka.
Lusia juga tidak bisa mengelak pertanyaan Rayn. Karena ini juga seperti jebakan untuknya dimana sudah jelas Rayn tahu jika dirinya tidak akan melepaskan genggaman tangannya.
Lusia membuka matanya setelah menarik nafas panjang. “Ya, sesuatu yang spesial diantara kita seperti... menjadi baby sister seorang bayi raksasa” jawab Lusia dengan senyum lebar kepada Ryan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan pamit sebentar untuk mengantarnya ke mobil. Arka ayo…” ajak Lusia menunduk kepada Kelvin lalu mengajak Rayn keluar.
“Bayi…?” tanya Rayn dengan raut wajah kesal. Arka mengikuti keduanya dengan 2 gelas kopi ditangannya. Ia tersenyum geli mendengar jawaban Lusia.
Setelah keluar Cafe, Ryan menghentikan langkah Lusia dan ingin memastikan apa yang ia dengar. "Kau serius dengan ucapanmu tadi?" tanya Rayn.
"Ha..haha" lalu bagaimana aku harus menyebutnya" jawab Lusia dengan tawa canggung.
Lusia berusaha mengalihkan pertanyaan Rayn. "Kau perlu kopi?" lanjut tanya Lusia dengan merampas Ice Americano dari tangan Arka lalu ia berikan kepada Ryan. "Itu karena dari tadi kau terus membully, kau sengaja melakukannya kan? Jika tidak, kenapa kau terus bertingkah aneh" lanjut Lusia.
Ryan menoleh memandang ke dalam Cafe, dilihatnya Kelvin masih menatap dirinya dan Lusia. Rayn tersenyum lalu berbisik kepada Lusia. "Karena aku menyukainya" bisik Rayn lalu mengelus kepala Lusia dan pamit pergi.
"Rayn....." teriak Lusia menanggapi sikap Ryan yang semakin membuat orang akan salah mengira. Ryan mengabaikannya, ia terus berjalan dengan senyum puas menuju mobil.
Sampai di dalam mobil ia berbalik menatap Lusia yang masih menatap mobilnya. "Apa saya bisa menjalankan mobilnya Tuan Muda Rayn?" tanya Arka.
" Jalankan mobilnya, kita kembali ke Villa. Pastikan kau menjemputnya tepat waktu nanti, jangan sampai membuatnya menunggu" perintah Rayn.
"Apa anda tidak ikut menjemputnya nanti Tuan Muda Ryan?" tanya Arka.
"Tidak, dia terlihat sangat tidak nyaman. Dan aku tidak ingin membuat buruk suasana hatinya" jawab Rayn.
Arka menjalankan mobilnya, Rayn menatap gelas Ice Americano di tangannya. "Apa yang aku lakukan? Kenapa aku seperti sedang cemburu" ucapnya dengan tersenyum tipis lalu menyeruput kopinya.
Di Cafe,
"Sepertinya ada yang kalah langkah” ucap Dave dengan membersihkan meja di sebelah Kelvin yang masih berdiri menatap Lusia dan Ryan keluar.
“Apa yang kau lakukan? Tugasmu menjadi barista bukan membersihkan meja” perintah Kelvin dengan nada tinggi dan raut wajah yang kesal. Ia lalu pergi ke dapur dan naik ke lantai 2 tempat ruangan pribadinya.
"Bukannya disni boleh siapa saja membersihkan meja” jawab Dave.
Tidak lama Lusia masuk dan Dave langsung menghampirinya. "Kak Lusia" panggil Dave.
"Jangan bertanya apapun... a..pa...pun OK" jawab Lusia dengan menutup telinganya dan langsung berjalan lurus masuk ruang ganti.
"Dave..." panggil Grace dan staf lain yang ingin menanyakan hal yang sama dengan apa yang ingin Dave tanyakan kepada Lusia.
"Jangan bertanya apapun... a..pa...pun OK" sahut Dave menirukan gaya Lusia, ia terus berjalan ke dapur dengan nampan berisi gelas kotor ditangannya.
"Kalian terlalu berlebihan hebohnya" celetuk Vhia dengan sinisnya menatap staf lain yang masih saling berbisik.
Tidak ada jawaban dari drama yang baru saja terjadi didepan mata mereka. Siapa pria yang datang dengan Lusia dan apa hubungan keduanya. Ya, itu masih saja menjadi pertanyaan yang belum terjawab bagi para staf Cafe.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued***