Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 132 - Cucu Team Kesebelasan


__ADS_3

Di Villa utama, Lusia membantu Rayn mengobati lukanya. Rayn terlihat tampak lebih tenang saat ini bersama dengan Lusia. Usai mengobati luka Rayn, Lusia beranjak dari duduknya untuk pergi membuatkan Rayn sarapan pagi. Saat Lusia hendak ke dapur, ia melihat Mickey yang berdiri di ruang tamu menatap ke arah halaman luar dari balik jendela, Lusia pun menghampirinya.


"Tinggalah sejenak untuk sarapan pagi bersama" pinta Lusia kepada Mickey.


Mickey menggelengkan kepalanya. "Tidak Lusia, aku akan segera kembali ke Kanada. Banyak hal yang harus aku selesaikan di sana. Selain itu, mungkin saat ini sedikit sulit bagiku untuk menghadapinya" ucap Mickey sembari menatap ke arah lantai atas, tepat dimana kamar Rayn berada.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apa kau punya rencana? " tanya Lusia.


"Eeem, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Jangan khawatir dan jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Jalani kehidupan bahagia kalian seperti seharusnya, percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja. Mungkin Leona akan segera menghubungimu soal kelanjutan penyembuhan phobia Rayn" ucap Mickey dengan raut wajah yang tenang. "Lusia, untuk hal ini aku akan mengandalkanmu dan Leona" lanjut ucapnya.


"Apa kau yakin semua akan baik-baik saja? Aku juga mengkhawatirkanmu, Mickey. Tidak hanya diriku, tapi aku yakin Rayn pun juga sangat mengkhawatirkanmu melebihi siapapun" sahut Lusia yang juga khawatir akan Mickey.


Luka masalalu itu tidak hanya menjadi pil pahit yang dimiliki Rayn, tapi juga telah menjadi kenangan pahit dalam hidup Mickey. Fakta jika ayah Mickey masih hidup seolah membuat mereka kembali menelan pilunya kehilangan ibu mereka ditangan orang yang sama. Menyiksa batin dengan saling menyalahkan diri sendiri, yah... itulah yang saat ini Rayn dan Mickey lakukan.


Mickey kembali meminta Lusia untuk tidak khawatir. "Jangan khawatir, ayahku masih mendekam di penjara karena kejahatanya yang lain. Selama dia masih menjalani hukumannya, aku masih memiliki waktu untuk membuktikan kejahatan yang sudah ia lakukan kepada ibu Rayn" jawab Mickey.


Lusia bisa melihat dan merasakan beban berat yang sedang ada dipundak Mickey. Mickey menahan dan menanggungnya seorang diri tanpa ada seorang pun disisinya. Tidak ada seorang pun yang melihat jika ia pun juga memiliki hati yang rapuh.


Perlahan Lusia mendekat dan ia pun merangkul Mickey. Mickey hanya bisa terdiam menerima pelukan Lusia dengan raut wajah bingung. Perlahan Lusia menepuk bahu Mickey dalam pelukannya berulang kali.


"Terima kasih Mickey karena kau sudah berjuang untuk menjaga Rayn. Aku tahu saat ini juga sangat sulit untukmu, tapi percayalah Mickey, kau tidak sendiri karena Rayn dan aku akan selalu ada dan berada dipihakmu. Kau sudah melakukan yang terbaik, jadi berhentilah menanggung semua beban ini seorang diri." ucap Lusia melepas pelukannya lalu tersenyum kepada Mickey.


Dengat raut wajah terharu, Mickey tersenyum membalas senyum Lusia. "Terima kasih Lusia, kali ini aku menyerahkan Rayn padamu. Aku tahu kau satu-satunya orang yang bisa membuatnya bahagia." ucap Mickey lalu pamit meninggalkan Villa.


..


..


Lusia telah menyelesaikan kesibukannya didapur, mereka lalu menikmati hidangan sarapan pagi mereka tanpa Mickey. "Rayn..." panggil Lusia tiba-tiba di tengah waktu makan mereka.


"Aku masih memiliki masa cuti beberapa hari lagi, bagaimana jika kita pergi mengunjungi ibuku dan menginap disana?" tanya Lusia berharap Rayn menyetujuinya.


Rayn tersenyum menatap wajah Lusia yang penuh harap, tanpa berpikir ia pun langsung mengangguk sembari mengatakan sesuatu yang membuat Lusia tersenyum malu. "Tidak ada yang bisa aku tolak jika itu permintaan istriku tercinta." ucap Rayn dengan senyum manis dibibirnya.


Lusia sangat bahagia sekaligus tersipu malu mendengar ucapan Rayn yang menyebut dirinya "Istri tercinta". Tidak pernah terbayangkan oleh dirinya dimasa lalu jika ia akan memiliki sosok suami yang begitu perhatian, sweet dan pengertian seperti Rayn.


Rayn dan Lusia pun akhirnya memutuskan untuk pergi mengunjungi ibu Lusia di perkampungan nelayan. Keduanya mulai berkemas menyiapkan beberapa pakain dan keperluan yang akan mereka butuhkan disana usai menyelesaikan sarapan pagi. Semua barang bawaan telah tersusun rapi didalam koper dan mereka sudah siap untuk melakukan perjalanan yang akan memakan waktu berjam-jam.


Saat Rayn dan Lusia hendak memasukkan koper mereka ke dalam mobil, disana sudah ada Arka yang lebih dulu sibuk memasukan koper miliknya ke bagasi belakang. "Tuan muda Rayn tidak mungkin meninggalkan saya seorang diri di Villa dan berpergian tanpa saya kan?" tanya Arka dengan tersenyum.


Rayn sontak menatap ke arah Lusia dengan sorot mata penuh tanya dibalut rasa sedikit kecewa. Ia sungguh berharap jika perjalanan ini hanya akan ada mereka berdua. "Kau yang memberitahunya ?" tanya Rayn kepada Lusia.


Lusia pun tertawa kecil melihat raut wajah Rayn seolah sedang mengeluh manja. "Tentu saja kita harus mengajaknya. Arka tidak hanya akan bertugas melindungimu sebagai pengawal pribadi, tapi aku rasa dia juga perlu refreshing liburan keluarga" jawab Lusia lalu berjalan ke mobil.


"Ny. Lusia memang yang paling selalu mengerti" sahut Arka sembari meraih koper di tangan Lusia untuk dimasukkan kedalam mobill.

__ADS_1


Sementara Rayn hanya bisa pasrah, ia tidak bisa menarik ucapan yang sudah ia katakan jika dirinya tidak akan menolak permintaan istri tercintanya.


Dalam perjalanan, Rayn dan Lusia singgah ke toko buah membeli beberapa buah segar untuk sang ibunda tercinta, nenek dan juga adiknya. Tidak hanya itu, belum jauh mereka lanjut berkendara, Rayn tiba-tiba meminta Arka berhenti disebuah toko tanaman bunga. Rayn ingin memberi kenangan untuk ibu Lusia, ia membelikan tanaman bunga cantik yang nantinya bisa dirawat oleh ibu mertuanya.


Arka menghentikan kendaraan didepan sebuah toko tanaman bunga hias. Rayn langsung sibuk memilih tanaman hias yang tertata rapi diluar dan didalam toko. "Kau bilang ibu sangat menyukai tanaman, lalu tanaman apa yang harus aku pilih?" tanya Rayn sembari berjalan kesana kemari menatap barisan tanaman bungan nan cantik didepannya.


Lusia tersenyum, ia sangat bahagia melihat Rayn yang tampak antusias dan semangat. Ya, inilah yang Lusia harapkan dan juga yang menjadi alasan kenapa ia ingin mengajak Rayn berpergian. Satu-satunya tempat yang akan membuat Rayn merasa nyaman dan merasakan arti kebersaamaan keluarga adalah mengunjungi ibu Lusia.


Sepanjang perjalanan Rayn dan Lusia sangat menikmati pemandangan indah yang mampu membuat siapapun jatuh cintah dan terpososna, jalanan disisi tebing bebatuan dan disisi kanan terhampar luas indahnya lautan pantai dibawah pesona sunset di langit senja. Keindahan matahari ketika hendak terbenam yang begitu memikat mata siapapun yang memandangnya.


Rayn kembali meminta Arka untuk menepikan kendaraannya, ia pun meminta Lusia turun sejenak untuk menikmati keindahan sunset yang menciptakan nuansa romantis bersama hembusan angin laut yang menyegarkan. Rayn perlahan menggandeng tangan Lusia. "Sungguh indah" ucapnya.


Lusia menyandarkan kepalanya dibahu Rayn, keduanya menikamati momen manis berdua dibawah rona merah matahari yang terlihat di sela-sela awan. Keindahan yang membawa rasa nyaman,hangat,tenang, dan hati menjadi damai. Arka pun ikut bahagia melihat keromantisan Rayn dan Lusia.


..


..


Akhirnya mereka telah sampai disaat hari sudah menjadi gelap. Ibu Lusia dan Lucas sudah berdiri menyambut kedatangan mereka di persimpangan jalan. Hal itu karena Rayn dan Lusia harus memarkirkan kendaraan mereka di jalan utama dan melajutkan berjalan kaki menanjak untuk bisa sampai dirumah ibu Lusia.


Lusia langsung memeluk ibunya sementara Rayn membungkukan badannya memberi salam hormatnya, sebatas ini yang bisa Rayn lakukan karena dirinya tidak bisa memeluk sang ibu mertua. Ibu Lusia yang mengetahui kondisi Rayn sangat mengerti, ia melempar senyum dan mengangguk menerima salam dari Rayn.


Rayn membatu Arka menurunkan beberapa barang yang tersisa dimobil termasuk tanaman yang khusus ia beli untuk ibu mertua. Ibu Lusia sangat bahagia dan terharu menerima hadiah dari menantunya, ia sangat menyukai tanaman yang dibawa Rayn. Lucas membantu Rayn membawa sebagaian buah yang begitu banyak ditangan Rayn.


"Berikan pada Lucas sebagian kak, akan sangat sulit dan berat jika membawa semuanya sekaligus" ucap Lucas.


Rayn menggelengkan kepalanya, ia masih sibuk menyusun semua ditangannya hingga ia tampak kesulitan menutup bagasi mobil yang akhirnya dibantu Lucas. Rayn sungguh terlihat kesusahan tapi ia masih saja menunjukan raut wajah seolah ia bisa melakukan semuanya sendiri.


"Ryan berikan padaku sebagian, itu terlau berat. Atau kau bisa meninggalkannya dimobil, biarkan Arka nanti kembali untuk mengambilnya." ucap Lusia


Rayn menggelengkan kepalanya menolak, bersamaan beberapa buah langsung jatuh menggelundung ke bawah. "Yah, yah, yah...!!" Teriak Rayn melihat buah-buah jatuhan dari tangannya.


Dengan sangat kesusahan Rayn berusaha mengejar buah yang semakin jauh karena jalanan yang menurun. Beruntung Lucas yang masih berada dibawa sempat meraih beberapa dan membatu Rayn mengaisnya satu persatu.


"Sudah Lucas katakan tadi, jika ini terlalu sulit" sindir Lucas. Rayn hanya tertawa canggung menahan malu.


"Setiap orang memang ingin terlihat sempurna menjadi pria dan menantu idaman. Kaya, tampan, pandai, kuat dan berhati baik. Tapi ada saatnya kita juga harus realistis dan tidak memaksakan diri" ucap Lucas masih sembari mengais buah yang jatuh.


"Apa?" sahut Rayn lemas dan kembali menjatuhkan semua bawaan yang ada ditangannya. Ia tidak percaya jika baru saja mendapat serangan telak dari anak kecila seusiaLucas yang langsung merontokkan harga dirinua dan semakin membuatnya malu.


"Tapi tenang saja kak, ibu termasuk golongan ibu-ibu yang kuno. Ibu tidak peduli dengan semua status dan kriteria idaman tadi. Kak Rayn akan langsung lolos seleksi menjadi menantu idaman hanya cukup dengan memberi ibu cucu, semangat" ucap Lucas lalu bangkit.


"Woahh... " sahut Rayn lalu terdiam. Sungguh membuat merinding mendengar anak seusia Lucas menggurui dirinya.


"Rayn, kau baik-baik saja?" tanya Lusia melihat Rayn yang terdiam. "Lucas kau melakukan sesuatu kepadanya?" lanjut tanya Lusia kepada Lucas.

__ADS_1


"Lucas tidak melakukan apa-apa ataupun menyentuh kak Rayn. Lucas hanya memberi kak Rayn saran dan petunjuk, yah petunjuk" sahut Lucas lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.


Lusia tampak bingung, ia bertanya kepada Rayn petunjuk apa yang dimaksud Lucas. Rayn hanya tersenyum kecil dan mengatakan jika itu bukan apa-apa.


..


..


Malam semakin larut, Ibu Lusia telah menyediakan makan malam untuk mereka semua termasuk Arka. Mereka semua duduk diruang tamu dan saling bercengkrama bersama. Ibu Lusia juga sangat senang melihat Arka ikut bersama mereka. Ibu Lusia tadinya berharap jika Mickey juga hadir dan semakin meramaikan keluarga kecilnya.


Canda dan tawa mewarnai malam kebersamaan mereka. Sementaa ibu Lusia tampak sibuk merapikan kamar Lusia. "Ibu, biarkan Lusia yang merapikannya bu" ucap Lusia meraih selimut dari tangan ibunya.


"Tidak nak, ibu hanya terlalu senang karena kau datang. Apalagi kau datang dengan suamimu. Rumah ini menjadi semakin ramai dan juga kamar ini. Ibu sangat menantikan jika nanti kau tidak hanya datang dengan suamimu, tapi datang dengan seorang cucu, pasti akan lebih ramai " ucap Ibu Lusia kembali meraih selimut yang sudah ditangan Lusia.


"Ibu....." sahut Lusia tersipu malu.


Rayn yang hendak masuk kedalam kamar sontak menghentikan langkah kakinya. Ia terkejut mendengar kata cucu dari ibu mertuanya. Ia kembali teringat akan petunjuk yang dikatakan Lucas terhadapnya.


"kakak akan langsung lolos seleksi menjadi menantu idaman hanya cukup dengan memberi ibu cucu."


Lamunan Rayn tiba-tiba buyar karena kedatangan Arka. "Semangat Tuan Muda, semoga bisa segera memberikan cucu yang banyak, kalau boleh sampai bisa membentuk tim kesebelasan" bisik Arka.


"Apa yang kau bicarakan? Team kesebalasan? berhenti mengada-mengada" gertak Rayn menyembunyikan dirinya yang juga sama tersipu malunya dengan Lusia.


"Tapi malam itu Tuan muda terdengar sangat luar biasa. Ups... tapi jangan lakukan disini atau semua yang ada dirumah ini akan mendengar semuanya. Apa saya perlu siapkan kamar hotel untuk anda? " Arka kembali membisikkan candaanya.


"Arka....!" teriak Rayn spontan sehingga terdengar Lusia dan ibu mertuanya yang ada didalam kamar.


"Rayn...?" Panggil Lusia yang mendengar suara Rayn dibalik pintu yang setengah terbuka.


Rayn akhirnya bersuara dan masuk kedalam kamar menyapa Lusia dan ibu mertuanya. Sementara Arka masih berdiri didepan pintu tak kuasa menahan tawanya melihat sikap Rayn yang tak biasa.


"Ada apa dengan Arka, Rayn? " tanya Lusia menyambut Rayn yang berjalan ke arahnya.


Rayn menggelengkan kepalanya, ia lalu merangkul bahu Lusia yang sedang duduk dibibir kasur. Lusia pun merangkulkan lengannya pada pinggang Rayn yang berdiri disampingnya. Ibu Lusia sangat bahagia melihat keromantisan keduanya. Kebahagiaan itu juga terlihat di raut wajah Rayn, dan mereka pun lanjut berbincang.


Arka yang melihatnya merasa sangat bahagia melihat Tuannya selangkah demi langkah mulai menjalani kehidupan layaknya orang lain. Rayn tidak harus kesepian dan sendiri lagi sepanjang hidupnya.


Tidak hanya Mickey, Arka yang sudah bertahun-tahun bersama Rayn pun mengharapkan kebahagiaan Rayn. Ia berharap Rayn bisa memiliki hidup normal seperti dirinya dan orang-orang diluar sana. Dan kini, selangkah lagi Lusia akan membuat harapan itu menjadi kebahagian yang nyata.


.


.


** To Be Continued **

__ADS_1


__ADS_2