
Lusia sudah mulai kembali bekerja di Cafe, hal ini membuatnya kembali menjalani rutinitasnya membagi waktu paginya bekerja di Villa Rayn dan sore hari bekerja di Cafe, tentu saja ia baru pulang pada malam hari. Hal ini juga membuat Lusia memiliki kebiasaan mandi malam sepulangnya sampai di Villa.
Malam ini, sepertinya menjadi malam yang cukup sial baginya. Bagaimana tidak, disaat dirinya sedang asyik membersihkan diri tiba-tiba listrik padam. Lusia masih tetap tenang, ia mulai merayap-rayap mencari jubah handuk miliknya. Sebagai manusia biasa yang tidak memiliki mata dewa atau mata kucing, tentu saja hal itu akan sulit dilakukannya dalam keadaan gelap gulita.
Lusia masih berjuang mencari, tapi ini sudah terlalu lama. Ia mencoba memanggil Arka untuk menanyakan apa yang terjadi dan meminta bantuan membawakan penerangan untuknya. Mustahil jika terjadi mati lampu dalam waktu cukup lama untuk Villa sebesar itu.
Seperti pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Sesuatu yang sudah diluar kendalinya terjadi, Lusia terpeleset karena lantai yang masih licin dan ia pun terjatuh. Lusia mengalami cedera pada kakinya saat berusaha menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Tapi ia gagal, hingga akhirnya mendaratkan tubuhnya dengan pasrah dilantai.
Lusia berusaha menggeser tubuhnya perlahan menepi hingga bersandar di pintu. Kakinya terasa sangat sakit sehingga ia tidak bisa berdiri lagi untuk lanjut mencari handuknya. Sudah bisa dibayangkan posisinya yang tanpa sehelai benang saat ini sungguh melengkapi pepatah tadi, ini bahkan lebih buruk daripada benar-benar tertimpa tangga.
Lusia tidak berani lagi berteriak, namun Arka yang sempat mendengar Lusia memanggil dirinya sontak menghampiri kamar mandi. Arka mengetuk pintu memanggil nama Lusia dengan lampu listrik ditangannya.
“Apa Nona ada di dalam? Apa Nona baik-baik saja? Sepertinya ada masalah dengan suplay listrik di Villa, sehingga akan sedikit membutuhkan waktu untuk bisa segera kembali menyala. Tapi anda tidak perlu khawatir karena sudah ada team yang sedang menangani. Saya membawakan lampu penerangan untuk anda" ucap Arka panjang lebar namun tidak mendapat sahutan apapun dari Lusia.
Arka ragu, apakah Lusia masih ada di dalam atau mungkin sudah keluar. Arka mencoba membuka pintu namun pintu masih terkunci dari dalam. Lusia merasa ini sangat buruk, ia malu dan bingung harus mengatakan apa untuk menggambarkan situasi yang dihadapinya saat ini.
Lusia hanya menghantukkan kepalanya di pintu berulang kali. “Tamatlah riwayatmu Lusia” ucapnya dalam hati dengan terus menghantukkan kepalanya meratapi nasibnya saat ini.
“Duk… Duk.. Duk…”
Suara itu membuat Arka panik, ia seketika menjadi merinding. Ia mendengar Lusia memanggil namanya, namun Lusia tidak menjawab pertanyaannya seolah tidak ada orang di dalam tapi pintu terkunci. Arka mencoba menempelkan telinganya di pintu dan berusaha mendengar lagi suara aneh itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rayn yang baru saja menuruni anak tangga hanya dengan penerangan dari fitur senter di ponselnya.
"Saya tadi mendengar Nona Lusia memanggil saya dari dalam Tuan Muda" sahut Arka.
Mendengar jawaban Arka, Rayn langsung mempercepat jalannya mendekat dan berteriak. "Hya... apa kau sudah gila?" tanyanya dengan berdiri di depan pintu menghadang Arka. Arka dengan sigap melangkah menjauh.
"Apa anda juga berpikir jika saja itu suara aneh adanya sosok...?" tanya Arka. Ia berpikir jika respon Rayn karena parno.
"Apa yang kau bicarakan? Aku membahas sikap kurang ajarmu. Jika kau tahu Lusia ada didalam, apa yang kau lakukan dengan mengendap menempelkan kepalamu di pintu?" tanya Rayn.
Arka langsung menunduk meminta maaf, ia tidak menyangkan jika Rayn akan salah paham dengan sikapnya. Arka menjelaskan jika ia melakukan itu karena tidak mendapat jawab dari Lusia justru mendengar suara aneh.
Mendengar penjelasan Arka, Rayn menjadi panik. Ia mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Lusia. “Lusia…, Lusia, apa kau masih ada didalam?” tanya Rayn dengan terus mengetuk pintu.
“Kau yakin dia masih ada di dalam?” tanya Rayn kepada Arka.
“Saya ragu tapi saya mendengar duk, duk, duk di pintu seperti ini” jawab Arka dengan memukul pintu kamar mandi menunjukkan bunyi yang ia dengar tadi.
“Duk, duk, duk?” tanya Rayn berusaha memahami maksud Arka.
__ADS_1
“Bagaimana dia bisa ada disini?” tanya Lusia dalam hati mendengar suara Rayn dan Arka yang menyibukkan suara benturan kepala dari keputusasaannya.
Rayn semakin panik, ia semakin keras menggedor pintu kamar mandi dengan terus memanggil Lusia. Ia terus mencoba memutar gagang pintu yang sudah nyata tidak akan terbuka karena di kunci dari dalam.
Tidak lama Lusia akhirnya mulai membuka suara sebelum Rayn benar-benar akan mendobrak menghancurkan pintu itu dan melihat permata dalam gelap.
“Aku…" ucap Lusia lalu diam sebentar.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Bisakah kalian mempercepat perbaikannya?” lanjut tanya Lusia dari dalam kamar mandi.
Rayn langsung merampas lampu listrik dari tangan Arka. "Lusia, tunggulah sebentar" ucapnya lalu pergi naik ke lantai 2. Bahkan tanpa kata ia tidak peduli telah meninggalkan Arka dalam gelap begitu saja.
Tidak lama Rayn kembali dan bertanya kepada Lusia. “Apa kau bisa membuka pintu sedikit?” tanya Rayn.
"Membukanya?” tanya balik Lusia.
“Jika kau tidak bisa membukanya, maafkan aku, aku yang akan membuka paksa” lanjut ucap Rayn.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Lusia panik.
“Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin memberikan apa yang mungkin kau butuhkan di dalam” jawab Rayn.
“Yang aku butuhkan?” tanya Lusia.
Lusia akhirnya menggeser tubuhnya agar bisa membuka pintu. Ia berpikir jika Rayn mungkin akan memberikan penerangan. Jika benar, maka itu akan percuma karena bukan hanya penerangan yang jadi permasalahan, tapi ia benar-benar tidak bisa berdiri saat ini. Sulit baginya untuk meraih jubah handuk miliknya. Lusia sangat malu untuk mengatakan jika dirinya saat ini sedang tidak mengenakan apapun.
“Aku akan membukanya ta…ta pi, tapi, kau jangan langsung masuk, hanya ulurkan tanganmu. Kau dengar? Hanya ulurkan tanganmu” ucap Lusia gugup.
Lusia perlahan membuka sedikit pintunya, ia hanya memberi cela untuk tangan masuk. Apapun yang akan Rayn berikan ia harus menurutinya, setidaknya itu tidak akan membuat Rayn mendobrak paksa pintu jika tidak dituruti.
Pintu terbuka, Rayn mengulurkan tangan dengan jubah handuk yang baru saja ia ambil, ia juga memberi lampu penerangan untuk Lusia. “Pakailah dan katakan padaku jika kau sudah selesai memakainya” ucap Rayn lalu membantu Lusia menutup pintu kembali.
“Ada apa ini? Bagaimana dia tahu jika aku membutuhkannya? Mengerikan, apa jangan-jangan ia memasang cctv disini?” ucap Lusia panik.
Meski tubuhnya tak bisa bangun tapi matanya bergerilya clingak-clinguk mengintip setiap sudut dengan lampu penerangan apakah mungkin benar adanya cctv yang tidak pernah ia sadari selama ini. Ia mencurigai mungkinkah Rayn telah memasang cctv di dalam kamar mandi.
"Apa kau sudah selesai?” tanya Rayn.
“Kau bisa tinggalkan aku, aku akan menunggu hingga lampu benar-benar menyala” jawab Lusia.
“Aku tanya, apa kau sudah selesai?” tanya Rayn mengulang pertanyaan yang tidak dijawab Lusia.
__ADS_1
“Aku sudah selesai memakainya, tapi…” sahut Lusia. Belum sampai ia selesai mengucapkan kalimatnya sudah dipotong Rayn.
“Baiklah, aku akan masuk” ucap Rayn langsung membuka pintu. Dilihatnya Lusia duduk dengan pose bak putri duyung yang terkapar menyandarkan tubuhnya pada pintu yang sudah setengah kebuka oleh Rayn.
Rayn langsung meraih lampu penerangan dari tangan Lusia, ia menyorotkan pada kaki Lusia. Lusia sontak mendekap tubuhnya. “Hyaa…! Apa yang kau lakukan?” tanya Lusia.
“Sudah aku duga” ucapnya dengan menyentuh pergelangan kaki Lusia yang terluka.
Rayn meletakkan lampu dan langsung menggendong Lusia dengan tangannya. “Hya… apa yang kau lakukan” teriak Lusia.
Sebelumnya Rayn sudah menduga jika pasti terjadi sesuatu dengan Lusia di dalam kamar mandi. Hal itu terlihat dari sikap Lusia yang tidak ingin keluar meskipun Arka sudah menunggunya di luar dengan lampu penerangan. Rayn tahu jika itu artinya Lusia bukan tidak ingin keluar kamar mandi, tapi ia tidak bisa keluar karena sedang terluka.
Rayn juga sudah bisa menebak jika Lusia tidak hanya terluka tapi juga tidak memakai apapun. Karena seharusnya saat Lusia tahu Rayn ada di sana, ia hanya perlu meminta tolong kepada dirinya. Artinya ada hal lain yang sangat dibutuhkan Lusia. Itu sebabnya Rayn langsung pergi untuk mengambil jubah handuk miliknya.
Rayn membawa Lusia keluar dari kamar mandi dengan menggendongnya dengan kedua tangannya. Arka yang sudah dari tadi menunggu di luar segera memberikan penerangan di tangannya kepada mereka.
Tepat saat Arka akan mendekat, lampu sudah nyala kembali. Villa yang sebelumnya gelap gulita kini kembali terang. Arka yang baru saja akan melangkahkan kakinya langsung berhenti dan membalik badan seketika lampu menyala.
"Ada apa ?” tanya Rayn kepada Arka.
Rayn menunduk memastikan apa yang salah dengan dirinya menggendong Lusia.
“Hya….!!!”
Teriak Rayn, ia langsung reflek kembali memandang lurus ke depan dengan menutup matanya usai menunduk melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
“Ada apa ?” Kini Lusia yang ganti bertanya kepada Ryan.
Lusia pun ikut penasaran, apa yang salah dengan mereka. Ia pun perlahan menatap dirinya tepat pada bagian yang membuat Rayn tiba-tiba berteriak dan berpaling.
“Aaaa…….!!!!” Teriak Lusia sekeras-kerasnya dalam gendongan Rayn.
Apa yang terjadi dengan Lusia kini sudah tidak bisa lagi menggunakan pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Entah takdir aneh apa yang selalu mengikat dirinya dengan tragedi yang selalu saja terjadi setiap mati lampu dan tentunya selalu ada Rayn di sana.
.
.
*** To Be Continued***
Kira-kira apa yang membuat Rayn dan Arka tidak berani memandang Lusia?
__ADS_1
Nantikan BAB selanjutnya yah.... ^^