
Di dalam hotel, Lusia duduk bersanding bersama dengan sang ibu menatap keindahan gemerlap kota Quebec dimalam hari. Lusia menggenggam tangan sembari menyandarkan kepalanya pada bahu ibunya. Lusia sudah tidak bisa menahan air matanya yang terbendung bahkan ketika ia baru mulai membuka suara mengungkapkan perasaannya di depan sang ibunda.
Di depan wanita yang sudah mengandung dan membesarkannya dengan penuh cinta, Lusia menangis. "Ibu, apa aku layak mendapatkan kebahagiaan ini?" tanyanya kepada sang ibunda dengan nada suara lirih.
Semua orang yang mengenal Lusia pun tahu, jika pernikahan sudah ia hapus dari rencana hidupnya. Selama ini, tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benak Lusia jika ia akan menikah. Jangankan untuk sebuah pernikahan yang menjadi simbol akhir dari sebuah pencarian pendamping hidup, memikirkan untuk berkencan dengan seorang pria saja ia tidak berani. Lusia berusaha menepis semua perasaan iri yang sering menghampiri setiap kali dirinya melihat kemesraan pasangan lain.
Ya, pernikahan itu adalah sebuah angan yang semakin jauh dari hidupnya. Terlahir sebagai wanita biasa dengan serba kekurangan juga menjadi alasan yang membuatnya menyerah. Namun, alasan terbesarnya adalah tekat yang sudah ia jadikan tujuan hidupnya, yaitu janji dimana ia tidak akan meninggalkan keluarga kecilnya.
Lusia hanya memiliki satu tujuan hidup, yaitu membahagiakan keluarga kecilnya tanpa memikirkan hutang. Kebahagian nenek, ibu dan Lucas adiknya adalah kebahagiaanya. Dengan begitu, maka ia tidak perlu lagi mencari kebahagiaan yang lain. Itulah yang ia pikirkan selama ini, namun sepertinya takdir memberinya jalan dengan garis yang berbeda.
"Ibu, aku pikir aku tidak perlu mencari cinta ataupun jatuh cinta disisa hidupku. Aku tidak akan pernah memiliki perasaan itu. Aku hanya perlu bertahan untuk hidup dan mengejar impianku membahagiakan kalian semua. Terkadang aku merasa hidupku sama sekali tidak memiliki warna. Hari-hari yang aku lalui hari demi hari semuanya terasa selalu sama. Kemarin, hari ini dan hari esok, semuanya selalu berakhir sama. Tapi meskipun begitu, aku terus berusaha untuk bisa bertahan dan akan bertahan dengan tujuan hidupku itu" ucap Lusia.
Lusia tertunduk sejenak, ia lalu kembali menatap sang ibu. "Tapi Ibu..." lanjut ucap Lusia lalu tertahan kembali.
"Semua mulai berbeda saat aku mengenalnya. Aku mulai memiliki senyum untuk alasan yang berbeda, aku pun menangis bukan karena hal biasanya aku tangisi. Aku memiliki kekhawatiran untuk orang yang berbeda dan aku.... mulai memiliki kebahagian meskipun hanya hal sederhana yang ia berikan dan perlahan, aku mulai memiliki warna lain di hidupku."
"Setiap warna baru yang ia ciptakan telah membuatku terlena. Semakin aku menghabiskan waktu bersamanya, aku mulai menjadi semakin egois. Aku mulai memikirkan diriku dan sesaat melupakan kalian. Aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku menjadi semakin serakah dan mengingkari janjiku. Bahkan aku mulai memikirkan sesuatu yang bertentangan dengan tujuan hidupku, pikiran dimana aku juga berhak mengajar dan mendapatkan kebahagiaanku sendiri."
Mendengar perkataan putrinya, membuat hati ibu Lusia merasa bersalah dan ia pun tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk Lusia dengan air mata yang berderai. "Maafkan ibu nak, telah menjadi beban hidupmu, ibu hanya bisa menyusahkan." ucapnya.
Ibu Lusia semakin erat memeluk putrinya. "Sampai detik ini pun ibu tidak bisa memberikan apapun. Disaat gadis-gadis seusiamu pergi berkencan kau memilih menutup diri dan menahan diri agar bisa terus bekerja untuk keluarga kita. Ini semua salah ibu, ini semua salah ibumu ini nak, maafkan ibu" lanjut ucap Ibu Lusia dengan menangis.
Lusia membalas pelukan sang ibu dengan pelukan yang lebih erat, tangisnya pun ikut pecah. Dibalik ruangan itu, Rayn berdiri menatap keduanya. Hati Rayn pun ikut teriris mendengar dan melihatnya, sejenak ia merasa iri kepada Lusia yang masih memiliki kesempatan untuk mencurahkan isi hati kepada ibunya, berbeda dengan dirinya.
Cukup lama Rayn berdiri di sana memperhatikan mereka sampai akhirnya Lusia tidak sengaja melihat kehadiran Rayn. Ibu Rayn yang juga melihat kehadiran Rayn langsung meminta Lusia untuk menemui Rayn. Lusia pun bangkit dari duduknya dan pergi menghampiri Rayn usai menghapus air matanya.
Rayn melempar senyum hangat ke arah Lusia yang berjalan ke arahnya. Melihat wanita yang ia cintai kini berdiri didepannya dengan mata sembab membuat Rayn ikut merasakan kesedihan itu. Ia lalu mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi Lusia.
"Apa kini kau sudah merasa lebih baik?" tanyanya kepada Lusia.
Lusia mengangguk perlahan lalu tersenyum. "Ada apa kau kemari? Maafkan aku, kau harus pindah kamar karena ibu dan adikku" ucap Lusia.
"Kenapa kau meminta maaf, aku memang sudah menyiapkannya untuk mereka. Dan... soal alasan kenapa aku datang kemari, hanya karena ada yang tertinggal" jawab Rayn.
__ADS_1
"Tertinggal? Apa ada barangmu yang tertinggal? Apa itu, aku bantu kau mengambilnya" sahut Lusia hendak melangkah pergi ke arah kamar yang sebelumnya ditempati Rayn.
"Energiku..." jawab Rayn singkat sembari menahan lengan Lusia.
"En...ner...gi...mu?" Lusia tampak bingung dengan jawaban Rayn.
Di tengah kebingungan Lusia, ibu Lusia keluar dan menghampiri mereka. "Kau ingin membawanya untuk jalan-jalan?" tanya Ibu Lusia yang lebih mengerti maksud dari ucapan Rayn.
Keduanya secara bersamaan menjawab dengan jawaban yang berbeda. Rayn mengangguk mengatakan iya, sementara Lusia menggelengkan kepalanya menjawab tidak. Ibu Lusia tertawa kecil melihat reaksi lucu keduanya. "Pergilah.." lanjut ucap ibu Lusia.
Mendengar hal itu, Rayn langsung mengurai senyum lebar dan menggandeng tangan Lusia. Ia membungkukkan badannya kepada ibu Lusia untuk pamit membawa Lusia pergi jalan-jalan keluar hotel.
"Pakai coat mu, kita akan pergi menghirup udara segar sejenak" perintah Rayn menatap Lusia.
Lusia hanya bisa mengikuti perintah Rayn meskipun ia masih tampak bingung. Ia pun mengambil coat lalu pergi keluar bersama Rayn.
Lusia dan Rayn berjalan di sekitar hotel lalu mulai memiliki obrolan kecil. Lusia bertanya kepada Rayn, kapan dan bagaimana dia bisa mendapatkan restu dari ibunya tanpa sepengetahuannya.
Dengan senang hati Rayn menceritakan semuanya, tidak ada yang ingin dan akan ia sembunyikan dari wanita yang akan bersanding sebagai istrinya itu.
Dengan tersenyum, Rayn membayangkan kembali bagaimana ibu Lusia menyambut hangat dirinya, bahkan ibu Lusia langsung segera menutup restorannya setelah mengetahui kedatangannya.
"Saat itu, aku sedikit merasa bersalah kepada ibumu karena dia langsung menutup restorannya. Tentu saja hal itu ia lakukan karena tahu akan phobia ku. Ibumu memperlakukan diriku sangat baik, seolah seperti sedang bersama anaknya sendiri. Ibumu membuatku kembali merasakan kasih sayang hangat seorang ibu."
"Kau tahu, di sana... aku melakukan banyak hal, dari yang sederhana hingga yang paling tersulit. Tapi aku tetap melakukannya agar bisa mendapat pengakuan ibu dan juga nenekmu. Ah... dan juga Lucas, aku tidak akan melupakan jasanya yang memberitahuku semua apa yang disuka ibu dan nenekmu. Aku akan membalasnya segara, aku sungguh berhutang kepada adikmu" ucap Rayn dengan tersenyum.
Lusia menyipitkan matanya setelah mendengar pengkhianatan Rayn karena melakukannya sendiri. "Apa kau ingin memamerkannya kepadaku? Apa kau senang sekarang? Aisttt... aku merasa terkhianati" ucapnya.
Rayn pun tertawa menanggapi reaksi Lusia. "Tentu saja aku sangat senang, bahkan aku sangat sangat bahagia saat ini" sahut Rayn.
Masih banyak yang ingin Lusia dengar dari Ryan, namun tiba-tiba Rayn menghentikan langkahnya. Rayn bertanya apakah Lusia lelah karena tanpa sadar mereka sudah berjalan cukup jauh. Rayn melihat sekitar, ia lalu meminta Lusia duduk di pagar pembatas beton sebuah taman yang tidak terlalu tinggi.
Rayn meraih pinggul Lusia dan mengangkat tubuh calon istrinya untuk bisa duduk di atas sana. Ia lalu berbicara dengan tetap berdiri didepan Lusia.
__ADS_1
"Kau tidak ingin duduk juga?" tanya Lusia sembari menepuk beton memberi kode kepada Rayn untuk duduk disebelahnya.
Rayn menggelengkan kepalanya, ia lalu melingkarkan tangannya pada pinggul Lusia dengan nyaman. "Aku lebih suka menatap wajahmu seperti ini daripada duduk di sana" ucap Rayn sembari mengurai senyum membuat jantung Lusia berdebar.
"Tunggu, bukankah kau mengatakan jika kita masih belum mendapatkan restu dari 2 orang, jika salah satunya adalah ibuku, maka satunya....?" tanya Lusia ragu.
Rayn terdiam, ia menunduk sejenak lalu menghela nafas. "Dia adalah ayahku" jawabnya.
"Kita akan menemui ayahku besok, aku sudah meminta Mickey untuk mengaturnya. Mungkin ini akan lebih sulit untukmu mendapat restunya. Apa kau siap menemuinya?" tanya Rayn.
"Kenapa kau menanyakan pertanyaan yang seharusnya aku tanyakan kepadamu Rayn?" tanya Lusia.
Rayn hanya tertunduk, Lusia sudah sangat tahu jika orang yang akan memiliki kesulitan menghadapi Tuan Charles adalah Ryan sendiri. Jarak antara Rayn dan ayahnya, hanyalah mereka sendiri yang bisa menyatukan kembali. Lusia berharap jika hubungan Rayn dengan ayahnya menjadi lebih baik.
Lusia pun berjanji, apapun keputusan ayah Rayn, perasaannya tidak akan pernah kalah dan ia tidak akan pernah menyerah atupun meninggalkan Rayn.
Lusia meminta Rayn untuk menatap kedua matanya, ia lalu meraih tangan Rayn dan menggenggamnya. Dengan teduhnya, Ryan menatap dua manik mata Lusia yang begitu meneduhkan hatinya.
"Mulai sekarang aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Selama ini pasti berat untukmu tidak memiliki seseorang untuk bersandar. Lihatlah aku, aku akan selalu berada disisimu Rayn. Aku akan menjadi orang pertama yang akan selalu ada untukmu. Jika ada hal yang membuatmu sedih maka bersedihlah dihadapanku saja. Jika kau memiliki kesulitan, mengeluhkan kepadaku. Jangan pernah lagi menanggung beban itu sendirian. Ayo kita lakukan bersama, semuanya... ayo kita lakukan bersama Ryan" ucap Lusia meminta Rayn menyetujuinya.
Rayn hanya terdiam memandang Lusia yang menatapnya lekat. Tatapan Lusia yang teduh seolah menyiratkan kedamaian untuk Rayn. Rayn berusaha menahan air matanya dan tidak bisa berkata apa-apa untuk menjawab Lusia. Ia menghela nafas seola tak percaya jika dirinya hanya bisa terlihat lemah didepan gadis yang dicintainya.
Dengan air mata yang sudah terbendung, Rayn meraih pinggang Lusia lalu memeluknya tiba-tiba dengan erat. Ia menyembunyikan wajah sedihnya di bahu Lusia dengan manja. Rayn tidak ingin Lusia melihatnya menangis dan air mata yang tertahan itu pun jatuh menetes membasahi pipi Rayn dalam pelukan Lusia.
Lusia membalas pelukan Rayn dengan memeluknya, perlahan ia menepuk bahu Rayn untuk menenangkannya. "Tidak apa Rayn, semuanya akan baik-baik saja" ucap Lusia lirih.
"Pelukanmu selalu terasa hangat, pelukanmu menjadi satu-satunya tempat untukku bersandar di hariku yang melelahkan. Aku tahu ini egois, tapi bagiku aku hanya cukup dengan memilikimu, seperti sekarang hanya cukup ada dirimu" ucap Rayn memejamkan matanya.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***