
"Apa kau akan pergi menemuinya?"
Pertanyaan yang terucap dari bibir Rayn seketika membuat hening tanpa suara, hanya terdengar tetesan air keran yang menetes. Tatapan mata Rayn yang sayu dengan sikap yang tenang seolah menyiratkan arti yang tidak biasa.
"Eeem" gumam Lusia yang mengartikan jika ya, dia akan pergi menemui Kelvin yang baru saja memintanya untuk bertemu dalam panggilan telepon.
"Tentu aku akan menemuinya, aku rasa aku harus menemuinya" lanjut ucap Lusia.
Rayn mengangguk perlahan seolah ia baik-baik saja mendengar jawaban itu, ia lalu memalingkan wajahnya sembari membuang senyum tipis di sudut bibir nya seolah ingin menertawakan dirinya sendiri, betapa bodohnya dirinya yang sudah bersikap baik-baik saja.
Sejenak Rayn berpikir, respon apa yang harus ia berikan, sikap seperti apa yang harus ia tunjukkan. Ia terdiam menatap Lusia dengan raut wajah yang membuat Lusia pun tidak bisa menebaknya.
Haruskah aku membiarkannya pergi atau aku memintanya untuk tetap tinggal, tetaplah disisiku dan jangan pergi, itulah yang dipikirkannya. Rayn tampak ragu dan ia pun tidak tahu, jawaban yang bertolak belakang itu akan membawa hubungan mereka pada akhir yang seperti apa.
Haruskah dirinya melarang Lusia menemui pria lain yang sempat memiliki perasaan terhadap istrinya itu atau dia harus bersikap bijaksana memberikan kepercayaan penuh kepada sang istri.
Rayn menghela nafas sejenak membuang segala kegelisahan yang hanya akan membuat buruk suasana hatinya. Dan pada akhirnya, Rayn memberikan izinnya. "Baiklah..." ucapnya singkat setelah hanya diam begitu lama.
Seakan mengerti isi hari Rayn yang memberikan jawaban berbeda dengan isi hatinya, Lusia mengambil langkah untuk lebih dekat. Ia meraih kedua tangan Rayn dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. "Aku tidak tahu apa yang ingin Kelvin bicarakan denganku, tapi aku rasa ini kesempatanku untuk menyelesaikan dan aku harus melakukannya. Aku akan menemuinya, tapi aku juga akan meminta sesuatu yang egois kepadamu Rayn" ucap Lusia menatap lekat kedua manik mata Rayn.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Rayn.
"Aku ingin kau pergi denganku" jawab Lusia.
"Why ??" tanya Rayn singkat dengan nada datar dan raut wajah yang tenang.
"Aku tahu, aku sangat tahu jika itu akan membuatmu sangat tidak nyaman. Tapi aku ingin kau di sana bersamaku. Maafkan aku Ryan, tapi aku ingin kau..." jelas Lusia.
"Baiklah.." sahut Rayn memotong ucapannya Lusia yang belum diselesaikannya.
Dengan cepat Rayn menyanggupi permintaan Lusia tanpa perlu mendengar alasan yang hendak dijelaskan Lusia, seolah ia tak peduli dan tidak ingin tahu kenapa Lusia menginginkan dirinya untuk pergi bersamanya. Rayn pun langsung pamit untuk berganti pakaian.
.
.
.
Rayn pada akhirnya menemani Lusia bertemu dengan Kelvin dan mereka telah sampai di sebuah restoran yang menjadi tempat janji temu Lusia dan Kelvin. Di lantai dua restauran, Kelvin sudah menunggu kedatangan Lusia. Lusia tidak memberitahu Kelvin jika dirinya akan datang bersama dengan Rayn.
Sesampai di dalam restauran, Rayn melepas genggaman tangannya yang sedari tadi terus menggandeng tangan Lusia. Lusia menatap ke arah Rayn, kenapa dia melepasnya? Itulah pertanyaan yang tersirat jelas dibalik tatapan Lusia terhadap Rayn saat ini. Rayn mengurai senyum, ia meminta Lusia untuk masuk tanpa dirinya sementara dia akan menunggu di meja lain.
"Rayn..."
Rayn meraih kedua pundak Lusia dan berkata "Aku tahu kau ingin aku ada disisimu untuk menguatkan perasaanmu agar kau tidak goyah dan perlu kau tahu saat itu aku akan sangat dengan senang hati bahkan akan menggenggam tanganmu untuk menguatkan hatimu. Sebagai suamimu, itu yang sangat ingin aku lakukan. Tapi sekarang, menurutku kau harus menghadapinya sendiri tanpa ada bayang-bayang diriku. Dengan begitu, maka aku pikir kalian berdua akan benar-benar bisa menyelesaikannya tanpa menyisakan perasaan apapun." jelas Rayn.
Lusia sangat memahami apa yang dikatakan Rayn dan ia menghargai keputusannya itu. Apa yang dikatakan Rayn benar, Lusia menginginkan Rayn untuk menguatkan hatinya dan ternyata itu bukanlah keputusan yang benar. Lusia akhirnya pergi menemui Kelvin yang sudah menunggunya di meja lantai 2 tanpa Rayn.
Di sana Kelvin melambaikan tangannya saat melihat kedatangan Lusia yang baru saja menapaki anak tangga terakhir. Kelvin terlihat duduk dengan sebotol wine dan dua gelas yang sudah tersaji di atas meja.
Keduanya saling menyapa dan menanyakan kabar masing-masing seolah sudah lama tidak bertemu. Kelvin meminta maaf kepada Lusia karena harus mengundangnya bertemu diluar, bukan di Cafe miliknya yang membuat seolah pertemuan itu adalah pertemuan yang serius. Kelvin hanya tidak ingin membuat Lusia tidak nyaman jika mereka bertemu di Cafe saat Lusia masih dalam masa cuti. Ia sangat tahu jika itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman yang akan membebani Lusia.
"Kau memintaku bertemu, apa ada sesuatu?" tanya Lusia duduk di kursi tepat berhadapan dengan kursi Kelvin.
Kelvin menuangkan wine ke dalam gelas. "Kita pesan makan dulu" jawabnya.
Kelvin memesan hidangan yang sudah dipilih Lusia. Lusia tampak duduk canggung didepan Kelvin. Situasi tidak seperti diri mereka biasanya. Seperti yang kita tahu, hubungan Kelvin dan Lusia memang bukan hanya sebatas hubungan antara bos dan staf nya. Keduanya sudah memiliki kedekatan semenjak mereka saling mengenal semenjak usia Lusia duduk di bangku sekolah menengah atas. Namun, kedekatan itu mulai berubah semenjak Kelvin memiliki perasaan terhadap Lusia, sebuah perasaan yang tidak bisa Lusia balas.
Kelvin mengangkat gelas miliknya yang sudah terisi wine. "Sebelumnya, aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu" ucap Kelvin dengan tersenyum.
Lusia mengangkat gelas miliknya lalu membalas senyum Kelvin dengan tersenyum. "Terima kasih Kelvin."
__ADS_1
Kelvin merasakan sesuatu yang begitu menyiksa ketika melihat Lusia membalas ucapan selamat itu dengan senyum yang begitu tampak bahagia. Di depan wanita yang sangat ia cintai, Kelvin pun kembali mengurai senyum dibalik rasa sakit karena harus melepas setiap kenangan yang ia miliki bersama Lusia. Bahkan melepaskan perasaan yang belum pernah ia ucapkan dengan benar.
"Lusia, aku mencintaimu" ucap Kelvin tiba-tiba.
"Kelvin... aku..." sahut Lusia dengan gugup.
Usai mengatakan kata yang mengejutkan, Kelvin meneguk wine ditangannya hanya dengan sekali teguk. Ia lalu meletakan gelas yang sudah kosong di meja sembari melepaskan nafas yang selama ini seperti mencekiknya. "Beri aku waktu untuk bicara dan dengarkanlah saja aku" pinta Kelvin kepada Lusia.
Ketika kesetiaan Lusia seolah sedang di uji dengan ungkapan perasaan dari pria yang selalu menjaga dan memperlakukan dirinya dengan baik. Di sana, Rayn menunggunya sebagai seorang suami yang percaya dengan sepenuh hati terhadap istrinya, Lusia.
Kelvin kembali tersenyum kecil, namun senyum itu terlihat seperti sebuah senyum yang ia tunjukan kepada dirinya sendiri. Seolah ia mengatakan kepada dirinya 'betapa menyedihkannya diriku'. Ya, itulah yang Lusia lihat dibalik senyum Kelvin saat ini.
"Lusia, seperti saat aku memandangmu seperti ini, itu selalu menjadi hari dimana aku dipenuhi dengan kebahagiaan yang luar biasa. Aku selalu merasa meskipun hanya salam mata saja atau bahkan jika itu hanya percakapan yang tidak berarti diantara kita aku selalu merasa jika itu cukup untukku."
"Aku baru menyadari jika ternyata semua itu hanyalah sebuah kebodohanku yang selalu merasa cukup sehingga tidak berani mengambil langkah lebih."
"Dan aku menyadarinya saat seseorang berbicara kepadaku. Kau tahu apa yang dia katakan kepadaku? Seperti orang kejam yang tidak ingin mendukung atau menghiburku, ia justru menyayat hatiku dengan ucapannya yang begitu tajam. Dia mengatakan kenapa aku kalah bahkan disaat aku tidak merasa sedang berperang."
Kelvin kembali mengingat ke masa itu dan orang yang sedangn bicarakan adalah Dave. Ya, orang yang berkata kejam kepadanya saat itu adalah Dave. Saat itu, di depan sebuah Bar, Dave membopoh Kelvin yang setengah mabuk.
#Flashback
Kelvin melepas rangkulan Dave dan berjalan menjauh, ia lalu berteriak sekencang mungkin kepada Dave.
"Aku mencintaimu... !!!!" teriak Kelvin mengejutkan Dave.
"Dave, kenapa sulit bagiku mengatakan itu kepadanya? Why... ??? " lanjut teriaknya.
Seolah memberi tamparan keras dengan kata-katanya, Dave bukannya menghibur Kelvin tetapi malah mematahkan semangat ditengah kebingungan Kelvin.
Dave melangkahkan kakinya satu langkah lebih dekat ke arah Kelvin. "Jika semua tetap sama, maka sudah seharusnya anda mengambil satu langkah lebih dekat seperti ini, satu langkah lagi lebih dekat dan semakin dekat hingga membuat jantungnya berdebar." ucap Dave yang semakin dekat berdiri didepan Kelvin.
"Jika jarak diantara kita dan wanita yang kita cintai tidak berubah, maka sudah seharusnya kita yang lebih dulu maju mengambil satu langkah untuk lebih dekat. Tidak akan cukup hanya dengan membuatnya merasa nyaman seperti yang anda lakukan selama ini, tapi anda harus membuatnya berdebar saat bersama anda dan dari sanalah cinta itu akan tumbuh."
.
.
.
#BACK
"Apa yang dikatakannya saat itu benar, jika yang aku lakukan selama ini hanya berdiri ditempat dan dengan bodohnya aku merasa itu sudah cukup"
"Setiap menatapmu, aku selalu berkata dalam hatiku. Kau adalah orang pertama yang sangat aku inginkan dan aku cintai melebihi segalanya, tetapi mengapa kau tidak tahu? Pertanyaan bodoh itu yang selalu kusesali seorang diri hingga saat ini. Kenapa aku hanya bertanya, pergilah kepadanya, katakan apa yang ada di hatimu. Aku selalu mendorong diriku seperti itu, tapi aku takut. Aku takut jika kau menolakku dan merasa tidak nyaman lalu pergi menjauh."
Kelvin kembali menghela nafas lalu tersenyum menyungging di sudut bibirnya seolah menertawakan dirinya sendiri. "Aku seperti sedang menghukum setiap kesempatan dengan penantian dan pada akhirnya kau hanya tersenyum untukku. Lalu aku kembali tidak peduli jika aku harus menyimpan perasaan itu lagi sendirian."
Lusia menatap lekat kedua manik mata Kelvin yang saat ini menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan. Terlihat jelas bagaimana Kelvin menahan semua rasa sakit itu saat mengatakan semuanya. Seolah ia sedang berjuang sekuat tenaga menyembunyikan luka dihatinya dibalik ketenangan dan senyum yang ia tunjukkan saat ini.
"Kelvin, terima kasih. Terima kasih atas semua kebaikan dan perasaan yang kau miliki untukku. Kau adalah pria baik dan selama ini aku selalu berdoa untukmu, berharap kau akan bertemu dengan wanita yang bisa selalu memahamimu dan membuatmu bahagia. Aku minta maaf jika..." ucap Lusia tertahan oleh ucapan Kelvin.
"Selamat tinggal....." ucap Kelvin.
"Aku mengungkapkan perasaanku tidak bermaksud menggoyahkan hatimu, tentu saja aku tahu jawaban apa yang akan kau berikan. Karena itu, selamat tinggal...." lanjut jelasnya.
Mengungkapkan kata cinta dan mengucapkan selamat tinggal di waktu yang sama membuat Kelvin merasa jika dirinya benar-benar pria payah yang menyedihkan. Namun, ia tidak akan pernah bisa benar-benar melepaskan semua perasaannya sebelum mengungkapnya, itulah alasan kenapa ia menemui Lusia. Setelah mengungkapkan perasaannya langsung, dengan begitu maka dirinya benar-benar bisa merelakan Lusia dengan sepenuh hati tanpa perasaan yang tertinggal.
Merelakan bukan berarti menyerah, tapi menyadari bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan. Perasaannya terhadap Lusia bukanlah kesalahan, melainkan kenangan yang membuatnya merasa jika dirinya adalah pria yang pernah memilki hati yang tulus.
__ADS_1
Kelvin kembali menuangkan wine ke dalam gelas dan mengangkatnya untuk kembali bersulang. "Kini aku ucapkan kepadamu 'Selamat Tinggal' untuk perasaanku."
Lusia pun mengangkat gelasnya dan tersenyum. Senyum itu saat ini tidak lagi terasa seperti luka bagi Kelvin. "Kini aku bisa menyambut senyum itu lagi dengan hati yang senang" ucap Kelvin dalam hati.
Lusia mengucapkan terima kasih kepada Kelvin atas semua yang sudah ia lakukan dan berikan. Ia berharap jika dirinya dan Kelvin bisa kembali membangun hubungan baik seperti dulu lagi setelah mereka menyelesaikan semua perasaan yang tertahan selama ini.
Kelvin mengatakan jika dirinya akan pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama karena adanya proyek pekerjaan yang harus ia urus sendiri langsung. Dengan begitu ia berharap Lusia dapat tetap bekerja dengan nyaman di Cafe setelah ini.
Ditengah perbincangan ponsel Kelvin terus berbunyi. Ia hanya mengintip singkat adanya pesan yang masuk, bahkan ia mengabaikan adanya panggilan masuk seolah sama sekali tidak ingin menjawab dan tidak peduli siapapun itu yang sedang memanggilnya di momen saat ini.
Lusia meminta Kelvin menjawab panggilan karena tidak ingin hanya karena dirinya Kelvin melakukan itu. Meskipun Kelvin akan pergi ke luar negeri, bukan berarti mereka tidak akan bertemu lagi
"Saya akan pergi ke sana sekarang karena saya ingin bertemu, mohon memintanya untuk menunggu." jawab Kelvin dalam panggilan lalu mematikannya.
Kelvin dengan terpaksa harus mengakhiri pertemuannya dengan Lusia usai menerima panggilan.
Kelvin meminta maaf karena dirinya tidak bisa mengantar Lusia pulang. Lusia tidak keberatan dengan itu. Lusia mengatakan karena saat ini Rayn menunggunya di lantai bawah.
"Jadi kau datang bersamanya, jika begitu pergilah dulu, aku akan menyelesaikan pembayarannya. Tidak perlu menungguku karena dia pasti sudah sangat menunggumu" ucap Kelvin.
Lusia pun pamit pergi dan meninggalkan Kelvin. Ia menghampiri Rayn yang terlihat duduk tertunduk seorang diri menunggunya.
Melihat kedatangan Lusia yang berjalan ke arahnya membuat raut wajah Rayn berubah. Rayn segera meraih tubuh Lusia yang baru saja berdiri tepat didepannya.
Rayn langsung memeluknya, posisi Lusia yang berdiri sementara Rayn yang masih duduk membuat Lusia tidak bisa bergerak saat Rayn melingkarkan kedua tangannya pada pinggul dan menyandarkan kepalnya pada perut Lusia dengan manja.
"Rayn...." panggil Lusia lirih yang heran akan sikap Rayn tiba-tiba.
"Lusia... " panggil Rayn lirih. "Apa kau tahu? Jika bukan keserakahan yang menggerakkan dunia, tapi kecemburuan. Dan aku tidak ingin duniaku bersamamu hancur karena kecemburuan yang bodoh itu" lanjut ucap Rayn lirih lalu semakin erat memeluk Lusia.
"Rayn... apa terjadi sesuatu ?" tanya Lusia yang tidak mengerti.
"Maafkan aku Lusia. Aku mempercayaimu tapi aku menunggu disini dengan perasaan cemas, aku sangat gelisah. Maafkan aku" lanjut ucapnya
Lusia tersenyum "Aku menyukainya, aku sangat menyukainya Rayn" sahut Lusia.
Rayn melepaskan pelukannya, perlahan ia berdiri dari duduknya. Rayn menatap nanar kedua manik mata Lusia yang terpancar seperti berlian disertai senyum yang begitu indah. Namun berbeda dengan tatapan Rayn yang begitu sendu mendengar kata yang diucapkan Lusia.
"Kau menyukai.... " tanya Rayn ragu.
"Kecemburuan yang kau anggap bodoh itu, aku menyukainya. Karena itu artinya kau sangat mencintaiku, kau mencintaiku melebihi rasa cintaku kepadamu" jelas Lusia.
Rayn menghala nafas lega, ia hampir salah mengira ucapan Lusia. "Eemmm" gumam Rayn tersenyum dengan raut wajah penuh haru. "Kau benar, aku sangat mencintaimu, Lusia" ucapnya lalu mendekap kedua pipi Lusia dan mengecup lembut bibir ranum Lusia.
Kelvin yang hendak meninggalkan lantai dua menghentikan langkah kakinya. Ia memandang ke arah Rayn dan Lusia dari lantai atas dibalik kaca yang memperlihatkan apa yang terjadi dibawah sana.
Kelvin kembali teringat akan perkataan Dave yang terakhir diucapkan kepadanya. "Ada saat seseorang akan merasa jika dirinya berharga ketika ia dibutuhkan dan menjadi berharga bagi orang lain. Itulah yang Kak Lusia rasakan bersamanya dan tidak pernah anda lakukan, membuatnya merasa berharga karena dibutuhkan."
"Karena itu, saya rasa anda tidak akan bisa menggoyahkannya, baik pria itu ataupun kak Lusia. Merelakan, itu adalah jalan yang terbaik. Jangan sampai anda menyesalinya karena telah menghalangi kebahagian orang yang anda cintai."
Tanpa sadar Kelvin mengurai senyum usai mengingat semua kata-kata yang diucapkan Dave kepadanya "Bocah itu. Bagaimana aku bisa membiarkan diriku diceramahi olehnya" ucapnya berbicara sendiri.
"Melepaskan lebih baik daripada bertahan dengan paksaan namun penuh kesengsaraan bagi keduanya" pesan Dave untuk Kelvin saat itu.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1