Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 166 - Keputusan Leona


__ADS_3

Di Kanada...


Mickey berdiri disudut lorong rumah sakit dengan menyilangkan tangannya serta menyandarkan tubuhnya pada dinding. Sesekali ia memeriksa ponselnya, menatap jam ditangannya dan menoleh menatap pintu ruangan yang tertutup didepannya.


Setalah lama menunggu, pintu ruangan itu terbuka. Sosok wanita yang ditunggunya sedari tadi pun akhirnya keluar dengan raut wajah yang membuat Mickey sontak menjadi gelisah. "Bagaimana hasilnya?" tanyanya kepada Leona dengan sikap memburu tak sabar mendengar jawaban.


"Jika ini ruangan itu adalah ruang dokter kandungan, orang akan mengira jika kau adalah seorang suami yang sedang menunggu kabar positif dari istrinya" sahut Leona dengan senyum menggoda lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Mickey yang mengikutinya dibelakang.


Mickey mempercepat langkahnya untuk bisa kembali berjalan disamping Leona. Mickey mengatakan jika dirinya tidak sedang ingin bercanda sekarang. Ia menekan Leona untuk mejelaskan hasil dari meeting yang dilakukan Leona tentang kondisi Rayn tadi.


Melihat Mickey yang tidak sabaran dengan raut wajah gelisah membuat Leona menghela nafas dan menggeleng kepala. "Aku tidak percaya kalau aku akan lebih sering cemburu dengan Rayn mulai sekarang. Jika sudah tentang Rayn, benar-benar tidak ada tempat untuk ku dipiikiranmu. Sosok Rayn langsung menendangku keluar dari kepalamu hanya dengan sekali jentikan saja" ucap Leona dengan memperagakan bagaimana Rayn akan menendangnya.


Mickey mengambil satu langkah lebih depan menghentikan Leona dengan berdiri tepat didepannya. "Leona, aku sungguh tidak ingin..." ucap tegas Mickey. Belum sampai ia menyelesaikan ucapannya sudah dipotong Leona.


"Baiklah, baiklah...aku tahu kau tidak ingin bercanda" sahut Leona. Ia meraih kedua bahu Mickey lalu membimbingnya untuk kembali berjalan. "Kita bisa membahasnya pelan-pelan" lanjut ucapnya.


Dalam perjalanan, Leona membacakan beberapa hasil meeting yang penuh dengan bahasa kedokteran. Namun pada intinya mereka sudah menentukan metode yang akan diambil untuk pengobatan Rayn. Tentang apa yang terjadi dengan pemukulan yang dilakukan Rayn, Leona yakin jika mereka akan berhasil dengan metode Flooding. Meskipun terapi ini harus dilakukan dengan hati-hati karena bisa saja terjadi reaksi emosi yang tinggi, tapi kali ini mereka memiliki kunci yang tepat. Melibatkan pemunculan rasa takut di taraf sepenuhnya, atau mendekati penuh dengan menghadapkannya langsung pada pemicunya.


"Kunci? Apa itu artinya kalian akan melibatkan Lusia dalam metode itu? Dan juga, apa kalian akan mengulang kejadian itu?" tanya Mickey dengan wajah serius.


Pemukulan yang dilakukan Rayn adalah pengembangan emosi yang terjadi dalam kendalinya. Itu artinya ada titik dimana dia bisa menyingkirkan phobia itu dibawah emosinya. Jika kita menghadapkan langsung pada pemicu yang juga akan menjadi kunci penurunan rasa takut, maka kita bisa melakukannya dengan mengulang kembali peristiawa itu.

__ADS_1


Ibu Rayn, Nyonya Angelina adalah orang yang memberinya sugesti secara tidak langsung pada saat itu. Dan Lusia, dia adalah orang yang membuatnya merasa nyaman karena Rayn merasakan perlindungan yang sama seperti yang dia rasakan saat bersama ibunya. Karena kita tidak mungkin menghadirkan Nyonya Angelina, maka Lusia adalah satu-satu orang yang bisa menggantikannya.


Perasaan marah, rasa ingin melindungi orang yang paling berharga dalam hidupnya akan memberikan reasi emosi yang tinggi sehingga dapat mengendalikan phobia nya meskipun sesaat. Dulu, karena usia Rayn yang masih sangat kecil, Dr. Daniel pernah mengkhawatirkan jika hal itu terjadi akan menimbulkan akibat yang lebih buruk dengan phobianya .Tapi sekarang berbeda, seperti yang mereka ketahui, sekarang Rayn bisa mengatasinya.


Mickey segera menepikan kendaraannya setelah mendengar penjelasan Leona. Dia sangat paham dan tahu apa yang akan mereka lakukan dengan metode itu. "Jika itu pilihan yang akan kalian lakukan, lebih baik hentikan. Carilah metode lain meskipun butuh waktu lama lagi atau apapun itu, aku tidak peduli. Asalkan jangan langkah ini" tegas Mickey.


Leona menghela nafas lalu berbalik ke arah Mickey yang duduk dikursi kemudi. "Mickey, aku tahu yang kau khawatirkan, tapi ini adalah kesempatan yang tepat" jelas Leona meyakinkan Mickey.


Dengan nada suara tinggi Mickey tetap pada pendiriannya dan ia percaya jika Rayn akan memutuskan hal yang sama dengannya. "Apa kau pikir Rayn akan menyetujuinya? Apa kau pikir Rayn akan membiarkan kalian menempatkan Lusia dalam bahaya? Dia akan memilih lebih baik menderita phobia seumur hidupnya daripada harus melibatkan Lusia. Leona, itu sudah menjadi keputusanku, katakan kepada Dr. Daniel" perintah Mickey.


"Aku sudah memikirkannya, kita akan melakukannya dengan aman. Dan juga aku akan membicarakan hal ini dengan Lusia, bukan dengan Rayn" sahut Leona.


"Leona.....!!!" teriak Mickey dengan penuh emosi.


Jika mereka gagal, maka tidak hanya akan menempatkan Lusia dalam bahaya tapi juga akan memperburuk kondisi Rayn. Rayn bukan hanya kembali merasakan siksaan saat kembali mengulang peristiwa itu, tapi ia juga kembali kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya.


"Dengan aman? Seberapa yakin kalian akan melakukannya dengan aman? Apa kalian sudah mempersiapkan penanganan untuk kemungkinan terburuk yang terjadi? Apa kalian pikir Rayn bisa menanggung beban itu untuk kedua kalinya? Bagaimana jika justru akan memicu penyakit mental yang lain. Dissociative disorders (DID), itu adalah yang paling terburuk! Bukankah itu alasan sebenarnya kenapa dulu Dr. Danial mundur. Aku yakin, kalian yang berada dalam bidang ini, yang akan paling sangat mengerti." tegas Mickey.


Leona mendekati Mickey dan berdiri tepat di depannya. Menurutnya, tidak ada gunanya mereka berdua berdebat di pinggir jalan seperti saat ini. Leona memberitahu Mickey sesuatu untuk meyakinkannya.


"Dia menghubungiku beberapa waktu lalu, dengan suara putus asa dia memintaku. Rayn, dia mengatakan jika dirinya sangat ingin sembuh. Dia ingin menjadi pria dan suami yang sempurna untuk Lusia. Kau tahu kenapa? Karena dia ingin menjadi seorang ayah. Dia ingin menjadi seorang ayah dan dipanggil ayah. Tapi, tidak ada satu pun seorang ayah didunia ini yang tidak ingin menyentuh anaknya. Apa yang akan kau pikirkan jika mendengar permintaan itu langsung darinya? Apa kau akan tetap mengabaikannya?" tanya Leona kepada Mickey.

__ADS_1


"Aarrgggg....!!!!!"


Mickey berjalan menjauh berteriak sekuatnya melepaskan semua perasaan yang hampir membuatnya gila sekarang. Dia berada pada posisi yang sulit untuk memutuskan.


“Mickey, dengarkan aku. Selain memiliki alasan, Rayn juga memiliki tekat. Jika keinginan dan keyakinan itu datang dari pasien itu sendiri untuk sembuh. Maka harapan itu ada dan bisa diwujudkan. Kita akan tahu dan aku berjanji akan melakukannya dengan berhati-hati. Percayalah padaku, aku mohon" lanjut pinta Leona.


Mickey mengacak rambutnya lalu menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Kembali membuang amarahnya dengan berteriak sekuatkan. Leona hanya bisa terdiam, ia mengerti posisi Mickey saat ini.


Mikcey kembali mencoba untuk tenang. "Rayn tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku. Apa mungkin dia tahu jika aku akan menentangnya? Apa dia sudah tahu jika metode yang akan kalian pilih melibatkan Lusia?" tanyanya kepada Leona.


Leona menggelengkan kepala, Rayn belum tahu apapun karena saat itu mereka belum memutukan apapun. Karena sekarang mereka sudah memutuskan akan melibatkan Lusia, Leona akan membicarakan hal ini dengan Lusia, bukan lagi dengan Rayn.


"Lusia? Beri aku waktu untuk memikirkannya. Aku akan memutuskan setalah kembali pulang dan bertemu dengan Rayn dan Lusia" sahut Mickey lalu kembali ke mobilnya.


Kesembuhan Rayn tentu saja adalah hal yang mereka semua inginkan termasuk Mickey. Tapi, jika itu harus dilakukan dengan sebuah pengorbanan itu adalah hal yang paling sulit.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2