
Pertanyaan mengejutkan yang dilayangkan Rayn membuat semua yang ada di ruangan itu menjadi bungkam. Suasana pun menjadi hening sekita, hanya terdengar langkah Rayn yang berjalan mendekati Mickey.
“Apa kau juga berada di tempat kejadian saat itu?” tanya Rayn kembali.
Mickey masih tidak menjawab pertanyaan Ryan, ia hanya menelan salivanya meskipun sudah tahu jika suatu waktu Rayn pasti akan menanyakan hal itu kepadanya. Nada suara Rayn terdengar seperti sedang mengintrogasinya. Terlihat wajah Rayn mulai menaruh curiga kepadanya. Sebuah tatapan yang tidak pernah ia lihat dari Rayn selama ini dan tatapan itu kini mengarah kepadanya.
“Apa sudah bisa kau katakan kepadaku bagaimana ponsel itu ada di tanganmu?” tanya Rayn.
Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya bisa menjadi perintah Rayn kepada Mickey untuk menjelaskan. Namun, entah seberapa besar Rayn menghormati dan menghargai Mickey, sehingga membuatnya masih melayangkannya sebagai pertanyaan bukan perintah.
Mickey menghela nafasnya perlahan. Yah, tentu saja itu hal yang wajar untuk Rayn tanyakan kepadanya. Pertanyaan yang memang seharusnya sudah Rayn tanyakan sejak dulu, tepatnya sejak ia mengetahui Mickey menyimpan ponsel yang Rayn kira sudah hilang pada kecelakaan itu. Bahkan, setelah Rayn mendapatkan ingatan jika sang pembunuhlah yang memiliki ponselnya, Rayn masih memilih untuk diam menyimpan rasa penasarannya kenapa Mickey menjadi orang yang menyimpannya.
Jika bukan karena pertanyaan Dr. Leona, Mickey sungguh tidak tahu jika Rayn telah mengingat bagaimana ia kehilangan ponselnya. Dengan wajah yang masih terlihat tenang Mickey mulai kembali buka suara menjawab pertanyaan itu.
“Kau benar, aku ada di sana. Aku ada ditempat kejadian dimana kau mengalami kecelakaan itu dengan ibumu, Ny. Angelina” jawabnya.
“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya kepadaku?” tanya Rayn masih dengan tatapan tajam.
“Apa itu penting? Setelah kau kau sadar dari koma, apa menurutmu aku punya alasan dengan tiba-tiba memberitahumu jika aku di sana? Apa menurutmu aku akan membahas hal yang justru akan membuatmu mengingat kembali kejadian tragis itu? Kau bahkan tidak mengingatnya Rayn” jawab Mickey.
Raut wajah Mickey sangat berbeda dengan Rayn, ia tampak sangat tenang. Seolah apa yang ia katakan memang benar adanya. Rayn menunduk membuang senyum tipis, ia tidak bisa mengelak jika fakta dirinya yang tidak mengingat kejadian itu telah menjadi kelemahan terbesarnya.
“Lalu apa yang kau lakukan di sana?” tanya Rayn kembali memandang Mickey.
“Aku…” jawab Mickey.
“Katakan bagaimana ponsel itu ada di tanganmu!” potong Rayn. Kini ia benar-benar memberi perintah itu kepada Mickey.
“Aku…” jawab Mickey masih dengan sepotong kata ‘Aku’, Rayn sudah kembali memotong ucapan yang belum diselesaikannya.
“Dan apa kau bertemu dengannya? Atau mungkin kau mengenal siapa pria keji itu?” lanjut Rayn terus melayangkan pertanyaan dengan tatapan yang semakin menekan.
__ADS_1
Rayn bahkan tidak memberi kesempatan untuk Mickey menjawab, ia sengaja terus memberondong pertanyaan untuk melampiaskan amarahnya. Ia seperti tidak siap dengan apa yang akan dikatakan pria yang berdiri mematung di depannya itu.
“Kenapa harus dirimu? Kenapa harus dirimu orang yang terlibat dalam masalah ini” gumam Rayn dalam hati.
Pikiran itu menunjukkan seberapa besar kepercayaan Rayn kepada Mickey dan kepercayaan itu masih tetap ia pertahankan hingga saat ini. Rayn masih berharap jika apa yang akan dikatakan Mickey bukanlah suatu fakta yang mengecewakan, sesuatu yang akan menghancurkan ikatan yang sudah mereka jaga selama ini.
“Aku tahu adanya sebuah kecelakaan tapi aku tidak sampai melihat siapa yang mengalaminya. Dan aku tidak tahu, siapa pria yang kau maksud” jawab Mickey.
“Rayn, tenangkan dirimu, kita bisa membahasnya perlahan nanti. Saat ini kau tidak dalam kondisi yang baik” ucap Dr. Leona yang mulai cemas melihat Rayn hampir mencapai puncak amarahnya. Ia lalu meminta Mickey untuk sementara waktu bisa menunda penjelasannya sampai Rayn bisa lebih tenang.
Mickey mengabaikan apa yang sudah diminta Dr. Leona, baginya tidak alasan untuknya menunda mengatakan fakta yang sudah seharusnya Rayn ketahui. Bagaimanapun, Mickey juga tidak akan bisa menolak apapun yang sudah Rayn perintahkan kepadanya.
"Tentang kenapa aku pergi ke sana dan bagaimana aku bisa memiliki ponsel itu hanya sebuah kebetulan” jawab Mickey.
"Lalu untuk apa kau menyimpannya?' tanya Rayn lagi.
.
.
Kembali pada malam itu, di sebuah kamar mewah, tempat dimana Mickey yang sedang sakit dirawat. Bibi Adelin, yang merupakan pengasuh keluarga Anderson pergi ke kamar Mickey untuk membawakannya makan malam. Dengan nampan berisi sup ditangannya ia membuka pintu kamar. Namun, ia terkejut saat mendapati kamar itu kosong. Ia tidak melihat Mickey di ranjangnya, bahkan jarum infus tergantung begitu saja.
“Tuan muda Mickey, Tuan muda…” panggilnya. Ia meletakkan nampan itu di nakas lalu menulusuri setiap sudut ruangan mencari dengan memanggil nama Mickey.
"Bibi...”
Dengan suara yang begitu lirih karena tubuhnya yang masih lemas, Mickey keluar dari kamar mandi sembari mengancingkan baju. Dengan wajah yang masih pucat, Mickey tampak kesusahan mengaitkan satu persatu kancing bajunya.
“Tuan muda Mickey…” panggil bibi Adelin.
Bibi Adelin segera berlari menghampiri Mickey, dengan wajah penuh kecemasan disertai mata yang sudah berkaca-kaca ia meraih kedua bahu Mickey dan menuntunnya duduk ditepi ranjang.
__ADS_1
“Tuan muda kenapa melepas infusnya, dan kenapa berganti baju? Tuan muda mau kemana?” tanyanya.
Pertanyaan itu ia lontarkan sembari mengaitkan setiap kancing baju Mickey. Ia takut jika tidak segera akan membuat Mickey masuk angin. Mickey meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
“Mari susul Rayn bi…” ucap Mickey menatap bibi Adelin dengan tatapan meminta.
Bibi Adelin terkejut akan permintaan Mickey. Mickey meminta sesuatu hal yang bukan menjadi kuasa bibi Adelin untuk mengabulkannya. Ny. Angelina dan Rayn baru saja pergi tidak sampai 30 menit lalu tapi Mickey tiba-tiba meminta untuk menyusul mereka.
Bibi Adelin terdiam, ia tidak tega kepada Mickey. Bibi Adelin merasa sudah sewajarnya sebagai seorang anak kecil yang juga ingin pergi ke sebuah perayaan. Tapi seperti yang ia tahu, alasan kenapa mereka pergi tanpa Mickey karena Mickey sedang sakit. Bibi Adelin tidak berani menuruti permintaan itu, ditambah lagi Ny. Angelina memberinya amanah untuk menjaga dan merawat Mickey selama ia pergi dengan Rayn.
“Tuan muda Mickey kan sedang sakit, dan Ny. Angelina meminta Mickey untuk istirahat agar cepat sembuh, jadi… “ jelas Bibi Adelin masih membujuk Mickey.
“Bi… aku mohon” potong Mickey seolah menutup telinga akan apa yang bibi Adelin katakan.
Bibi Adelin menatap lekat wajah Mickey yang mengiba. Ia menghela nafas lalu berdiri pergi menuju lemari baju berukuran besar yang ada dikamar itu. Ia menyibak beberapa pakaian yang tergantung lalu meraih jaket yang paling tebal untuk dikenakan kepada Mickey.
“Pakai jaketnya, diluar sangat dingin. Kita akan pergi ke perayaan tapi tidak untuk mencari Ny.Angelina dan Tuan muda Rayn. Karena Ny. Angelina pasti akan marah kepada bibi jika tahu membawa Tuan muda Mickey keluar."
"Bibi Adelin, saya sudah menyiapkan mobil diluar" ucap seorang supir.
"Tuan Muda Mickey, kita harus sudah kembali sebelum perayaan itu berakhir agar Ny.Angelina tidak tahu dan tidak marah" pesan Bibi Adelin sebelum akhirnya menuntun Mickey keluar memasuki mobil yang sudah supir siapkan.
Tanpa banyak bicara Mickey hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Bibi Adelin masih berpikir Mickey hanya ingin melihat perayaan. Ia tidak tahu jika Mickey memiliki alasan lain dibalik itu, sebuah alasan yang mengharuskannya untuk pergi mencari Rayn dan Ibunya dengan segara.
.
.
.
*** To Be Continued***
__ADS_1
Apa alasan yang dimiliki Mickey sesungguhnya? Dan apa yang terjadi setibanya mereka di sana?