
Eric mulai terlihat gelisah setelah mendengar perkataan David. Dia sangat tahu pria seperti apa David. Semasa sekolah, David terkenal dikalangan teman-temannya jika dia adalah orang yang paling benci berbicara omong kosong dan juga benci ikut campur urusan yang dianggapnya tidak penting.
Eric merasa jika David sudah memperingatkan dirinya, itu artinya masalah serius. Eric kembali meyakinkan dirinya sekali lagi dengan bertanya kepada David. "Apa dia orang yang memiliki pengaruh besar?" tanyanya.
David tersenyum menyungging. "Kenapa aku harus memberitahumu? Yang kau lakukan hanya menjadi anak yang berbakti dengan cukup menjaga sikap" sahut David.
Eric menjadi sangat panik, ia bertanya kepada semua teman-temannya yang sedang menatap ke arahnya. Ia menanyai semua yang duduk di sana, apakah mereka ada yang mengenal sosok Rayn atau tahu tentang bisnis yang sedang dijalankan pria itu. Tidak ada satupun yang bisa menjawab karena mereka juga tidak mengenal siapa sosok suami Lusia.
Di lobi, Lusia dan Rayn hendak kembali ke mobil. Rayn menghentikan langkahnya mengatakan jika dirinya harus kembali karena ada barangnya yang tertinggal di meja. Lusia menawarkan diri mengambil barang itu untuk Rayn, namun Rayn menolak. Akan sulit bagi Rayn pergi kembali ke sana seorang diri, karena itu dia tidak akan membiarkan Rayn pergi sendiri.
"Aku akan menghubungi Arka dan meminta dia untuk membawanya keluar. Kau tunggu disini sebentar, aku segera kembali" ucap Rayn lalu pergi meninggalkan Lusia.
Lusia akhirnya bersedia menunggu Rayn. Hari ini Lusia merasa jika suaminya sangat luar biasa. Meskipun sikap Rayn sangat tegas tetapi Lusia sangat yakin jika Rayn juga berusaha menahan amarahnya. Lusia tadinya berpikir jika Rayn mungkin akan membuat keributan di sana, tapi ternyata dia lebih tenang dibandingkan dengan dirinya yang sudah sangat geram. Rayn terlihat sudah kembali, ia mengurai senyum melihat Lusia yang berdiri menunggunya.
"Lusia...."
Terdengar suara seorang pria memanggil namanya dengan lantang. Lusia menoleh ke arah sumber suara itu berasal. Lusia tampak terkejut melihat sosok pria yang tidak asing berjalan ke arahnya. Rayn yang melihat itu langsung menurunkan ritme langkah kakinya dengan raut wajah penasaran.
"Mario?" tanya Lusia menyapanya lebih dulu.
Mario adalah teman sekolah Lusia yang juga akan menghadiri acara reuni mereka. Mario datang terlambat karena ada urusan yang tidak bisa ia tinggalkan. Mario sudah bisa menduga jika wanita yang berdiri seorang diri tadi adalah Lusia. Dia tidak akan pernah melupakan wajah wanita yang pernah ia sukai itu.
"Sekali melihat saja aku sudah tahu itu dirimu, apa itu artinya aku memiliki mata yang jeli?" tanya Mario tersenyum.
__ADS_1
Lusia pun menyapanya, ia meminta maaf karena hampir tidak mengenalinya. Lusia pikir jika Mario tidak akan hadir karena semasa sekolah Mario tidak pernah dekat atau menyukai mereka yang ada didalam sana.
"Kau semakin cantik, sangat cantik" ucap Mario memuji kecantikan Lusia dengan senyum yang manis.
Lusia tidak terkejut dengan pujian itu karena memang seperti itulah Mario yang ia kenal. Semasa sekolah, selain David dan Reisa, Mario juga menjadi teman sekelas Lusia yang selalu berbuat baik terhadapnya. Mario adalah pria yang selalu berkata jujur, jika dia suka dia akan mengatakan langsung. Namun jika tidak suka dia bahkan akan mengumpat jika ada yang mengusik dirinya. Dia juga terkenal netral dalam segala hal sehingga membuatnya banyak di sukai teman-temannya dan juga dihormati.
"Apa mereka masih mengganggumu?" tanya nya kepada Lusia.
"Jika mereka mengusiknya, maka sudah menjadi tanggung jawabku untuk melindunginya" sahut Rayn yang tiba-tiba muncul dari belakang. "Sayang...." lanjut ucap Rayn menatap ke arah Lusia dengan tatapan bertanya lalu menatap ke arah pria itu.
"Apa dia kekasihmu?" tanya Mario.
Lusia tersenyum, ia segera memperkenalkan Rayn kepada Mario jika pria yang berdiri disampingnya saat ini adalah suaminya. Mario tampak terkejut dengan peryataan Lusia. "Suami?" tanyanya.
Mario pun menarik kembali tangannya dengan tersenyum, ia sama sekali tidak tersinggung akan sikap Rayn yang terlihat arogan karena tidak mau menjabat tangan Mario. Tentu saja Mario tidak tahu jika Rayn punya alasan sendiri yaitu phobia nya. Mario pun lalu pamit kepada Lusia dan Rayn karena teman-temannya sudah menunggu.
Rayn lalu menggandeng tangan Lusia dan mengajaknya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Rayn bertanya kepada Lusia, apakah pria tadi pernah menyukai Lusia semasa sekolah. Rayn bisa melihat jika sepertinya dia adalah pria baik, bahkan raut wajah Lusia terlhat berbeda ketika berbicara dengannya. Lusia tidak menjawab ia hanya tersenyum.
"Dia..., dia memang pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku tapi..." ucap Lusia tertahan.
"Tapi kau menolaknya!" potong Rayn lalu berjalan lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Lusia.
Lusia tertawa kecil, ia tidak menduga bagaimana bisa Rayn tahu segalanya, tahu semua tentang dirinya dan bisa menebak meskipun hanya dengan sekali melihat. Lusia menggoda Rayn mengatakan jika itu membuatnya merinding.
__ADS_1
Lusia memang menolaknya karena saat itu ia sungguh tidak ingin terlibat urusan cinta. Rayn pun menghela nafasnya perlahan, selain David dan Kelvin, kini muncul lagi pria bernama Mario yang menambah daftar barisan pria yang pernah jatuh hati terhadap istrinya.
"Aku pikir kau akan cemburu, tetapi tidak menyangka kau tetap tenang. Entah mengapa itu membuatku sedih" ucap Lusia.
Rayn meraih seat belt lalu memasangkan sabuk pengaman itu untuk Lusia. "Kenapa aku harus cemburu?" tanya Rayn menghentikan pergerakan nya usai memasangkannya. Dia masih tertahan menatap wajah Lusia dengan begitu dekat.
Rayn semakin lekat menatap kedua manik mata Lusia. Tatapan Rayn yang begitu dekat selalu membuat jantung Lusia berdeguk kencang. Rayn mendekap pipi Lusia dengan satu tangannya. "Akulah pemenangnya, satu-satunya pria yang berhasil menyentuh hati wanita cantik ini" ucapnya lalu mengecup singkat bibir Lusia.
Tanpa dosa, Rayn kembali menegakkan duduknya untuk siap mengemudi. Tapi Lusia tiba-tiba menarik kerah coat yang dikenakan Rayn. "Jika kau pemenangnya, kenapa hanya memberiku sebatas itu" ucap Lusia lalu mencium bibir Rayn.
Rayn melepas tangan Lusia yang masih menggenggam erat kerah coat yang ia kenakan. Rayn menggenggamnya, melingkarkan kedua tangan Lusia pada jenjang lehernya lalu membalas ciuman itu dengan lumatn yang panjang.
Yang baru saja terjadi mungkin adalah reuni terburuk yang dialami Lusia. Tapi kini, Lusia tidak sendiri. Lusia memiliki suami yang telah menjadi perisai yang akan selalu melindungi dirinya.
"Rayn benar, tidak peduli apa yang mereka pikirkan. Kita juga tidak butuh pengakuan apapun dari mereka karena hidupku dan Rayn adalah milik kita."
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1