Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 93 - Hatiku Selalu Miliknya


__ADS_3

Selama dirinya di berada di Canada, Mickey mempercayakan pengobatan Rayn kepada Dr. Leona. Ia sangat menaruh harapan akan kesembuhan Rayn. Meskipun Dr. Leona tidak bisa menjanjikan apa yang Mickey inginkan, namun ia akan berusaha semaksimal mungkin dan tidak akan mengecewakannya.


"Lalu bagaimana dengan pamanmu?" tanya Dr. Leona membahas pria yang menjadi alasan kenapa Mickey kembali ke Canada.


"Besok, aku dan Arka akan pergi ke panti asuhan di kota A. Panti Asuhan yang menjadi tempat dimana ayahku di besarkan sebelum akhirnya diadopsi. Aku tidak memilki petunjuk apapun selain panti asuhan itu." jawab Mickey.


Jujur, Mickey tidak tahu banyak tentang kehidupan pamannya. Mendiang ibu Mickey tidak pernah banyak cerita soal saudara kembar ayahnya itu. Bahkan Mickey hanya pernah sekali bertemu dan dari pertemuan itu ia baru tahu jika ayahnya memiliki saudara kembar identik.


"Apa kau tidak ingin meminta bantuan Tuan Charles? Ini adalah pekerjaan yang sangat muda untuknya" saran Dr. Leona.


"Menurutmu apa yang akan terjadi jika Tuan Charles mengetahuinya? Tanpa penyelidikan lebih dalam, aku yakin Tuan Charles akan langsung melenyapkan nyawanya. Tapi diluar dari alasan itu, aku sendiri yang akan menyelesaikan kasus ini. Tidak peduli siapa dia, aku yang akan membuatnya mendapatkan balasan atas semua perbuatannya. Apapun caranya, aku akan membuat dia menyesalinya seumur hidup" ujar Mickey dengan tatapan penuh amarah.


"Wahh... tatapan matamu membuatku merinding. Jangan berkata seperti itu karena sangat tidak cocok untukmu. Kau memang selalu bersikap dingin dengan wanita, tapi kau bukan gangster atau anggota mafia" sahut Dr.Leona mengusap lengannya karena merinding.


Mickey hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Dr. Leona. Mereka mengakhiri perbincangan dan melanjutkan menikmati hidangan yang sudah sedari tadi mereka abaikan.


.


.


Di Friends Cafe.


Lusia baru saja tiba di Cafe untuk bekerja. Selama tidak ada Arka, Rayn tidak membiarkan Lusia membawa mobil sendiri. Rayn yang akan mengantar jemput Lusia ke Cafe.


Lusia turun dari mobil setelah mengucapkan pamit singkat dengan Rayn. Bersamaan dengannya yang keluar mobil, Kelvin juga turun dari mobilnya yang sudah sedari tadi terparkir disebelah mobil Rayn.


Melihat keberadaan Kelvin, Lusia segera melangkah cepat menghampirinya untuk masuk kedalam Cafe bersama.


"Lusia" panggil Rayn menghentikan langkah Lusia yang hendak melambaikan tangan untuk menyapa Kelvin.


Lusia menoleh dan kembali menghampiri mobil Rayn, ia berdiri tepat didepan pintu sisi Rayn yang sudah membuka jendela kacanya.


"Ada apa?" tanya Lusia.


"Mendekatlah!" perintah Rayn seolah dia akan membisikkan sesuatu.


Lusia mendekatkan wajahnya, ia sudah siap mendengar apa yang ingin dikatakan Rayn kepadanya. Pergerakan Lusia yang lambat karena ragu membuat Rayn mengulurkan satu tangannya mendekap wajah Lusia. Dengan singkat ia mengecup bibi ranum wanita yang dicintainya itu.


Lusia membulatkan matanya akan sikap Rayn. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya menyadari jika dirinya berada di parkiran tepat depan Cafe.


"Aku butuh kekuatan selama tanpa dirimu untuk beberapa waktu kedepan" ucapnya dengan tersenyum.


Lusia mengedipkan matanya berulang kali, ia segera meninggalkan Rayn untuk masuk Cafe dengan wajaah bingung. Tapi, dilangkah pertamanya ia begitu terkejut ketika melihat Kelvin masih berada di sana memperhatikan keduanya, dan itu artinya dia melihat apa yang baru saja dilakukan Rayn.


"Ke...Kelvin..." panggil Lusia panik.


Raut wajah datar dengan tatapan teduh Kelvin seketika berubah, ia tersenyum kepada Lusia. "Aku akan sedikit sibuk, kau bisa naik menemuiku jika toko sudah akan tutup" ucapnya lalu meninggalkan Lusia lebih dahulu masuk.


Lusia hanya mengangguk dan membiarkan Kelvin pergi. Ia lalu kembali menoleh menatap mobil Rayn. "Apa dia sengaja melakukan karena ada Kelvin atau memang dia sudah menjadi bucin." gerutu Lusia menciutkan matanya menatap mobil Rayn yang bergerak keluar meninggalkan Cafe.

__ADS_1


"Hi Kak Lusia" sapa Dave. "Apa kak Lusia tadi bertemu dengan Pak Kelvin di depan? Ada apa dengan wajahnya, menyeramkan. Tidak seperti biasanya yang selalu menyapa kita, kali ini Pak Kelvin langsung naik ke ruangannya dengan raut wajah yang aneh" keluh Dave.


"Haha, benarkah?" tanya Lusia tertawa. "Tapi aku juga tidak tahu Dave" lanjut ucap Lusia menatap tangga untuk naik ke ruangan pribadi Kelvin di lantai 4.


.


.


.


Malam mulai larut, Cafe sudah akan tutup. Semenjak datang, Kelvin sama sekali tidak ada turun dari ruangannya di lantai 4. Mengingat pesan Kelvin yang memintanya untuk menemuinya, Lusia segera membereskan pekerjaannya lalu naik ke lantai 4.


Lusia tampa celingak-celinguk mengintip sebuah ruangan yang berdindingkan kaca di rooftop lantai 4. Ia mencari Kelvin yang tidak terlihat di kursi meja kerjanya.


"Apa tidak bisa hanya dengan mengetuk pintunya?" tanya Kelvin yang tiba-tiba muncul dibelakangnya menatap sikap Lusia yang bersikap seperti seorang pencuri.


"Oh, aku kira kau ada didalam" sahut Lusia terkejut dengan tawa canggung yang dipaksakan.


"Masuklah, akan aku buatkan kopi" ucap Kelvin sembari membuka pintu dan masuk.


"Aku akan menunggumu di luar" sahut Lusia sembari menunjuk bangku yang ada diluar.


Sudah cukup lama Lusia tidak menikmati hawa segar di balkon friends cafe. Ya, tentu saja karena tempat itu bukan tempat yang bebas untuk didatangi siapapun tanpa izin dari Kelvin. Balkon yang dipenuhi begitu banyak jenis tanaman dan bunga yang indah sehingga menjadikannya tempat yang sangat nyaman untuk bersantai. Apalagi dimalam hari, duduk dengan menatap gemerlap bintang di langit ketika cuaca cerah.


"Kenapa tidak didalam saja, diluar dingin kau bisa masuk angin" ucap Kelvin menghampiri Lusia dengan 2 cangkir kopi di tangannya.


"Tapi aku suka udaranya dan begitu nyaman" sahut Lusia tersenyum kaku.


"Kau memintaku menemuimu, ada apa?" tanya Lusia tidak ingin basa-basi lagi.


Semenjak Lusia tahu perasaan Kelvin terhadapnya, membuat dirinya merasa canggung setiap kali bersama Kelvin. Entah mengapa ia sulit untuk bersikap santai sebagai seorang teman seperti biasanya. Lusia sekarang lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak didepan Kelvin. Ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman atau sesuatu yang bisa melukai perasaan Kelvin.


"Aku akan membuka cabang baru di Kota A, jadi aku akan lebih sibuk di sana dan aku berencana memintamu untuk membantu mengurus semuanya bersamaku" ujar Kelvin lalu menyeduh kopinya.


"Cabang baru?" tanya Lusia yang baru pertama kali mendengar rencana itu. "Kenapa harus diriku? dan Jika begitu maka artinya aku harus..." ucap Lusia. Ia menghentikan ucapan karena ragu untuk melanjutkan.


"Eemm... kau harus pindah, tapi jangan khawatir aku akan menyediakan tempat tinggal dan transportasi yang layak khusus untukmu."


"Menyediakan semuanya secara khusus justru semakin membuatku khawatir" batin lusia.


Untuk seorang karyawan biasa sepertinya, mendapat jaminan dan fasilitas khusus justru membuatnya khawatir karena itu akan menjadi seperti beban baginya. Perlakuan khusus itu akan membuatnya tidak nyaman.


"Maaf, aku sangat berterima kasih atas kesempatan dan tawaran itu. Tapi, aku tidak yakin apakah aku layak mendapatkannya. Mungkin kau bisa meminta Vhia sebagai staf yang jauh lebih berpengalaman dariku. Dia akan lebih banyak membantumu. Aku bisa membantumu untuk menghandle Cafe yang ada disini" ujar Lusia.


Kelvin terdiam, ia lalu menatap gemerlap langit. Kelvin menyandarkan kedua tangannya pada teralis pagar minimalis yang di buat dari stainless steel dan kaca. "Kenapa? Apa ada yang membuatmu sulit?" tanyanya.


"Itu..." sahut Lusia menatap Kelvin.


"Apa karena pria itu? Atau, apa kau perlu mendapatkan izin darinya?" tanya Kelvin.

__ADS_1


"Meskipun dia mengizinkanku tapi aku tetap tidak bisa meninggalkannya" sahut Lusia.


Kelvin menatap Lusia dengan netra teduh miliknya, tatapan yang menghanyutkan yang mampu menggoyahkan pertahanan wanita. Tatapan yang menggambarkan perasaannya, siapa yang tidak akan luluh dengan tatapan itu.


"Apa kau yakin dengan perasaanmu terhadapnya? Apa bukan hanya karena kau sudah terbiasa dengannya?" tanya Kelvin dengan tegas.


"Bukankah kau memanggilku untuk membahas Cafe?" potong Lusia mengalihkan pembicaraannya. Ia mulai merasa jika Kelvin telah terhanyut dalam perasaan pribadinya.


"Kau sepertinya hanya peduli terhadapnya. Aku bisa mengabaikan banyak wanita untukmu, tapi kenapa kau tak bisa mengabaikan satu pria untukku." gumam Kelvin menatap Lusia.


"Maafkan aku Kelvin" sahut Lusia.


"Alasan penolakan yang menyakitkan hatiku" ucap Kelvin lirih


"Kelvin" panggil Lusia.


Kelvin mengubah wajah seriusnya dengan senyum tipis. "Jangan khawatir, aku akan mengatur hatiku sendiri tapi kau perlu tahu jika aku tidak bisa melepaskan perasaan itu. Aku memang tidak punya hak untuk memaksamu membalas perasaanku. Tapi, kau juga tidak punya hak untuk melarangku jatuh hati kepada siapapun, meskipun itu adalah dirimu" ucapnya.


"Aku tidak ingin ada kesalahpahaman dan tidak ingin membuat hubungan kita berubah menjadi abu-abu. Apa kau ingin menggoyahkanku?" tanya Lusia.


"Mungkin menggoyahkanmu atau..." sahut Kelvin lalu menghentikan ucapannya.


Kelvin menatap mobil Rayn yang baru saja datang dan parkir dibawah sana. "Atau mungkin menggoyahkannya" lanjut ucapnya dalam hati.


"Kelvin..." sebut Lusia, ia hanya bisa menyebut nama itu tanpa tahu harus berkata apa lagi.


"Apa aku sungguh tidak memiliki tempat sedikitpun dihatimu?" tanya Kelvin.


"Bagaimana bisa kau menanyakan hal itu sementara kau pun tahu jika hatiku sepenuhnya sudah menjadi milik orang lain" sahut Lusia.


Kelvin mengulurkan tangannya seolah akan menyentuh wajah Lusia. Perlahan tangan itu semakin dekat dan membuat Lusia tertegun. Lusia tidak ingin hubungannya dengan Kelvin rusak hanya karena urusan perasaan. Lusia sangat menghormati dan menghargai Kelvin sebagai teman dan orang yang banyak berjasa dalam hidupnya.


Kelvin mengurai senyum usai meraih daun kecil di rambut Lusia. Senyum itu membuat Lusia ikut tersenyum lega karena Kelvin ternyata tidak mencoba melakukan sesuatu kepadanya. Keduanya saling menatap dan saling mengurai senyum satu sama lain, namun tidak dengan Rayn dibawah sana yang tengah menatap keduanya di atas sana sedari tadi.


Kelvin melirik Rayn dibawah sana, sementara Lusia yang berdiri membelakangi teralis balkon tidak melihat kehadiran Rayn. Tatapan Kelvin menunjukkan jika dia dengan sengaja melakukannya agar dilihat Ryan.


"Aku rasa ini cukup untuk membuatmu gelisah setelah apa yang kau lakukan tadi pagi" ucap Kelvin dalam hati sembari menatap Rayn, ia lalu kembali tersenyum memandang Lusia.


Posisi Lusia dan Kelvin tampak seperti sepasang kekasih yang tengah memadu kasih. Bahkan uluran tangan Kelvin saat meraih daun terlihat seolah dia sedang mengelus lembut kepala Lusia.


Sorotan mata tajam Rayn menunjukkan jika apa yang saat ini ia lihat telah merusak suasana hatinya. Sesuatu telah menyelinap dihatinya dan meremasnya tanpa ampun. Perasaan itu mulai menciptakan keluhan-keluhan dan kebodohan di pikirannya. Mungkin Rayn cemburu, tapi dia tidak menyadari jika sesungguhnya semua yang Lusia butuhkan ada pada dirinya.


"Kau tahu aku mencintaimu, aku juga tahu kau mencintaiku. Tapi kenapa sakit sekali rasanya ketika aku sudah melakukan yang terbaik untuk menjaga perasaan itu, tapi ternyata masih tidak cukup sehinga melemahkan dan menggoyahkanku" batin Rayn lalu menutup matanya.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued***


__ADS_2