Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 72 - Cahaya dan Luka Mickey


__ADS_3

Penderitaan yang Mickey lalui selama ini bagaikan melangkah secara acak diantara serpihan kaca yang pecah dalam ruangan yang gelap. Sulit untuk menemukan jalan keluar tanpa mendapat goresan. Demi ibunya, ia bertahan dan tidak ingin lari. Ia menunggu dengan penuh harapan dan terus berdo'a akan datangnya cahaya untuknya dan ibunya. Bagi anak seusianya, terlalu sulit melawan permainan para orang dewasa.


"Aku bukan tidak bisa lari, tapi aku tidak ingin lari. Aku tidak sendiri, tapi masih ada dia, ibu yang harus aku lindungi. Tubuh ini terlalu kecil, tangan dan kaki ini terlalu kecil, tapi aku masih bisa bertahan."


Dibandingkan dengan tatapan penuh amarah, ia hanya mampu menunduk dengan rasa takut terhadap ayahnya. Semua itu bukan salahnya, itu bukan pilihannya dan juga bukan keinginannya terlahir dalam keluarga yang hanya memberikan luka dan penderitaan.


"Aku tidak pernah menyesal terlahir sebagai putramu. Aku justru beruntung memiliki seorang ibu yang selalu berjuang untuk melindungiku. Aku bisa melihat dan merasakan kasih seorang ibu yang sesungguhnya dari pengorbananmu."


Mickey kecil berdiri di depan ruang ICU, sebuah ruangan dimana sang ibu terbaring koma dengan bantuan alat medis. Ia masih tidak bisa melupakan perjuangan ibunya yang selalu memeluk dirinya dengan menahan rasa sakit setiap kali melindunginya dari pukulan sang ayah yang kejam. Ya, hanya itu yang selalu terbesit dalam pikirannya setiap kali melihat sang ibu.


Bagi Mickey, Rayn adalah cahaya yang dikirim untuknya. Jika bukan karena kedatangan Rayn, mungkin Mickey dan ibunya akan memiliki nasib yang berbeda. Ia pun tidak tahu apakah dirinya masih bisa melihat ibunya atau mungkin dirinya yang sudah tidak bisa melihat dunia.


Rayn yang juga di rawat di rumah sakit yang sama dengan Mickey baru sadarkan diri. Ia sebelumnya jatuh pingsan saat team medis datang di kediaman Mickey.


“Ibu…”


Rayn baru sadar setelah tidur panjang dari pengaruh obat. Ia memanggil ibunya yang duduk dengan menggenggam tangannya. Ia pun merasakan setiap tetesan air mata ibunya yang jatuh membasahi tangannya.


Ibu Ryan mendekat dan memanggil namanya. "Kau sudah bangun sayang" ucapnya dengan menangis. Ia bangkit dari duduknya memanggil perawat dan dokter.


“Mickey, bagaimana dengan Mickey dan bagaimana dengan ibunya?” tanya Rayn kepada ibunya dengan suara lirih


Disaat ibunya sangat mencemaskan kondisinya, Ryan justru masih saja mengkhawatirkan orang lain. "Kau jangan khawatir sayang, Mickey telah mendapatkan penanganan medis, begitu juga dengan ibunya" sahut ibu Rayn dengan mengelus rambut Rayn.


Ibu Rayn pergi ke ruang perawatan Mickey, namun ia terkejut dengan kamar yang kosong. Mickey tidak ada di sana, bahkan jarum infus tergantung begitu saja. Ibu Rayn menjadi sangat panik, bahkan perawat yang berjaga ikut terkejut karena dirinya baru saja kembali dari toilet.


“Ini sudah tengah malam, kemana dia” ucap ibu Ryan dengan terus mencari menelusuri setiap bangsal rumah sakit dengan beberapa perawat dan pengawalnya.


Ditengah kepanikannya, ia akhirnya menemukan Mickey. Mickey duduk seorang diri di depan ruangan ICU dengan menangis, ia memohon kepada Tuhan akan keselamatan ibunya yang saat ini koma.


Ibu Rayn mendekat dan duduk tepat disebelah Mickey. “Kau pasti sangat mengkhawatirkannya” ucapnya.


Mickey membuka matanya dan menatap ibu Rayn dengan mata lebam. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, air matanya semakin jatuh. Ia pun menangis terisak didepan ibu Rayn. "Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan terputus-putus karena isakanya.


“Disini sangat dingin bagaimana kau bisa berkeliaran tengah malam” ucapnya dengan melepas jaket yang ia kenakan untuk Mickey.


Air mata ibu Rayn pun jatuh, hatinya merasa seperti teriris melihat betapa malangnya Mickey kecil. “Jika kau sangat mengkhawatirkannya, kau harus membuat tubuh ini sembuh. Ibumu akan menangis saat membuka matanya harus melihatmu memakai baju pasien ini” ucap ibu Rayn sembari mengancing jaket satu persatu, jaket yang terlihat sangat longgar pada tubuh yang mungil itu.


“Selesai” lanjutnya dengan tersenyum.


Mickey masih hanya menitihkan air matanya, ibu Rayn langsung memeluknya. Ibu Rayn membujuk Mickey untuk kembali ke kamarnya karena ia harus istirahat penuh agar cepat sembuh dan mereka pun kembali. Ibu Rayn terus menjaga Mickey hingga ia tertidur.

__ADS_1


“Anak yang malang, kau pasti bisa melewati ini semua” ucap ibu Rayn dengan mengelus rambut Mickey yang pulas tertidur.


Hari berganti hari dan 2 minggu berlalu, kondisi Mickey berangsur membaik. Dokter mengizinkan Mickey untuk pulang dan mendapat rawat jalan. Rayn memohon kepada ayah dan ibunya untuk membantu Mickey dan ibunya.


Rayn adalah putra satu-satunya di keluarga Anderson, permintaan Rayn adalah pioritas kedua orang tuanya. Ibu Rayn memutuskan untuk membawa dan merawat Mickey di kediaman Anderson, sementara ibu Mickey dipindahkan ke rumah sakit terbaik untuk mendapatkan perawatan maksimal.


Ayah Rayn, Tuan Charles Dean Anderson memerintahkan salah satu pengacara pribadi keluarganya untuk menyelesaikan kasus kekerasan yang dilakukan ayah Mickey.


“Pria itu harus ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara, pastikan dia mendapatkan hukuman terberat” perintah ayah Rayn kepada pengacaranya.


Satu bulan berlalu, ayah Mickey akhirnya ditangkap dalam pelariannya. Ayah Mickey dihukum 20 tahun penjara atas kejahatannya melakukan penganiayaan dalam rumah tangga, percobaan pembunuhan dan melanggar hak asasi manusia. Mickey bisa lebih tenang karena ia tidak harus takut lagi karena ayahnya sudah dijebloskan ke penjara.


Hukuman itu seharusnya masih belum setimpal dengan penderitaan yang dialami Mickey dan Ibunya. Bahkan hingga saat ini ibu Mickey masih koma di rumah sakit. 3 bulan berlalu, 6 bulan berlalu, dan hingga 1  tahun berlalu, ibu Mickey masih saja koma.


Selama berada dalam keluarga Anderson, Mickey mendapatkan tindakan medis untuk psikisnya. Ia pun akhirnya mulai bisa mendapatkan keceriaannya kembali berkat Rayn dan ketulusan ibu Rayn yang merawatnya.


Mickey sebenarnya adalah anak yang pandai, baik dan periang. Hal itu terlihat dari sikapnya paska terlepas dari trauma yang dimilikinya. Ibu Rayn sangat menyukainya, terlebih lagi Rayn juga merasa senang akan keberadaan


Mickey.


Ibu Rayn terus merawat dan mendidik Mickey seperti putranya sendiri, ia bahkan tidak membedakan apa yang ia berikannya kepada Rayn dan Mickey. Apa yang Rayn dapat, Mickey juga mendapatkannya, termasuk kasih sayang ibu Rayn.


Rayn tidak pernah mengeluhkan sikap ibunya yang sangat menyayangi Mickey, hal itu justru membuatnya senang, karena ayah dan ibunya berbesar hati menerima Mickey.


Waktu semakin berlalu, Ibu Rayn mulai mengharapkan lebih, ia merasa seperti memiliki 2 putra. Ia meminta Mickey untuk memanggilnya ibu. Ibu Rayn merasa sedih setiap kali Mickey terus memanggilnya dengan sebutan Nyonya.


“Maafkan saya nyonya, tapi saya hanya memiliki satu ibu” tolak Mickey dengan sopan.


Penolakan Mickey tidak membuat Ibu Rayn berkecil hati atau mengurangi rasa sayangnya. Hingga akhirnya ibu dan ayah Rayn membuat keputusan besar untuk Mickey. Mereka ingin secara hukum menjadi orang tua angkat Mickey, menjadikannya bagian dari keluarga Anderson.


Mickey kembali menolaknya, ia bukan tidak tahu terima kasih atas niat baik keluarga Anderson. Ia merasa jika dirinya masih memiliki keluarga, ia masih memiliki seorang ibu. Meskipun ibunya masih koma, tapi dia tetaplah keluarga yang ia miliki.


Keluarga Anderson menerima keputusan Mickey, mereka meminta Mickey untuk tetap bersedia tinggal dalam kediaman Anderson sampai ibunya kembali sadar dan membaik. Mickey mengatakan jika ia akan membalas budi kebaikan keluarga Anderson dengan mengabdikan hidupnya.


Keluarga Anderson tidak pernah mengharapkan balas budi apapun dari Mickey. Bagi orang tua Ryan, keberadaan Mickey telah membawa warna baru dalam keluarganya, terutama bagi putra mereka, Ryan. Mickey sangat menyayangi Ryan dan memperlakukannya seperti adiknya sendiri.


Mickey kini telah mendapatkan kehidupan yang baik, semua orang dalam keluarga Anderson menyayanginya. Sesekali ibu Rayn dan Rayn menemani Mickey untuk pergi mengunjungi ibunya di rumah sakit.


Namun, kehidupan dan kebahagiaan seketika sirna saat malam itu tiba, malam kecelakaan yang merenggut nyawa ibu Ryan. Tidak hanya keluarga Anderson, peristiwa itupun juga menjadi pukulan besar baginya. Ia harus kehilangan seorang yang sudah seperti malaikat baginya.


Tidak hanya sampai disitu, dua minggu kemudian setelah peristiwa kecelakaan itu, Mickey harus kembali menelan kabar duka lagi, ibu kandung Mickey meninggal dunia. Keluarga Anderson memutuskan memberikan tempat peristirahatan terakhir ibu Mickey tepat disebelah makam ibu Rayn.

__ADS_1


.


.


.


#Back


Rayn telah menceritakan semua kepada Lusia, kenangan pilu yang selalu Mickey simpan hingga dewasa.


“Aku tidak menyangka dia mengalami itu semua” ucap Lusia.


“Kau benar, bahkan sampai saat ini aku masih menyulitkannya” sahut Rayn.


Mickey yang telah mengabdikan hidupnya untuk Rayn, selalu terlihat lebih kuat dari Rayn. Kini mereka telah tumbuh dewasa. Semenjak Rayn mengalami Haphephobia, Mickey memutuskan untuk selalu berada disisi Rayn. Ia akan selalu menjaga dan melindungi Rayn. Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan Ryan. Ia bahkan selalu mengalah untuk Rayn.


Tidak hanya kepada Rayn, Mickey juga setia mengabdikan diri kepada ayah Rayn, Tuan Charles Dean Anderson yang selalu memberikan yang terbaik untuk dirinya. Termasuk upaya yang diberikan ayah Rayn untuk memenjarakan sang ayah.


Di saat hubungan Rayn dan ayahnya tidak baik, berada diantara keduanya adalah hal tersulit bagi Mickey. Ia harus tetap setia kepada keduanya. Demi menjaga janjinya melindungi Rayn dan demi menjaga kesetiannya kepada ayah Rayn.


"Itu pasti sangat menyulitkannya" ucap Lusia.


“Kau benar. Dia harus mengatakan apapun yang ayahku ingin tahu tentangku, begitu juga sebaliknya dia juga akan mengatakan dengan jujur apapun yang aku tanyakan tentang ayahku. Dia tidak akan pernah menolak dan akan selalu berusaha menyampaikannya dengan cara yang bijak agar kami tidak saling salah paham. Karena aku tahu itu akan semakin menyulitkannya, aku lebih memilih untuk tidak bertanya dan tidak peduli dengan apa yang ayahku rencanakan atau lakukan kepadaku" jawab Rayn.


Lusia menggandeng tangan Rayn. "Aku bisa melihatnya. Kau pun selalu terlihat berusaha menjaga perasaannya. Itu sebabnya kau tidak ingin menanyakan apapun kepadanya, termasuk tentang kecelakaan itu. Aku percaya akan ada jalan yang terbaik untuk kalian berdua. Aku yakin itu juga yang diharapkan ibu Mickey dan Ibumu di surga sana. Akhir yang baik untuk kedua putra mereka" ucapnya.


"Aku akan tetap melanjutkan hipnoterapi itu, tapi aku butuh waktu" sahut Rayn melangkah lebih dulu dan berdiri tepat dihadapan Lusia.


"Kau benar, pelan-pelan saja. Kita lakukan pelan-pelan saja" ucap Lusia tersenyum, ia mendekat dan melanjutkan perjalanan mereka.


Lusia menyandarkan kepalanya di bahu Rayn, ia berjalan seirama mengikuti langkah Rayn. Mereka melanjutkan kembali menikmati Aroma Petrichor yang ditinggalkan hujan.


"Terima kasih" ucap Rayn dalam hati dengan tersenyum menoleh ke arah Lusia.


.


.


*** To Be Continued***


 

__ADS_1


Maafkan Author yang baru up. Tuntutan rutinitas di kehidupan nyata membuat Author sulit meluangkan waktu. Tapi jangan khawatir, Author akan lebih banyak mencuri waktu dan tetap update untuk kalian semua. 🤗


__ADS_2