
Setelah melewati perjalanan yang panjang, kini Lusia telah sampai di Rumah Sakit, tempat dimana ibundanya sedang dirawat. Di Rumah Sakit, Lusia langsung disibukan dengan urusan administrasi Rumah Sakit. Ia juga harus mendampingi ibunya menjalani beberapa pemeriksaan. Hal ini membuat Lusia menjadi tidak fokus dengan ponselnya sehingga tidak tahu jika Ryan sudah beberapa kali menghubunginya.
Malam semakin larut, Lusia ingin menghubungi Rayn kembali untuk memberi kabar namun ia menjadi ragu. Lusia tidak ingin mengganggu Rayn yang mungkin saat ini sudah tidur. Lusia mencoba sekali menghubungi Rayn dan ia akan segera mengakhiri panggilannya jika Rayn tidak menjawab panggilannya. Namun tidak disangka jika Rayn langsung menjawab panggilan Lusia bahkan hanya dalam satu panggilan saja.
Lusia sontak menatap kembali jam pada ponselnya, jujur ia tidak percaya jika Rayn masih saja terjaga padahal sekarang sudah menunjukkan jam 3 petang.
"Kenapa kau masih belum tidur?" tanya Lusia. "Apa kau belum tidur karena menunggu kabar dariku? Maafkan aku Ryan, tadi..." jelas Lusia merasa sangat bersalah.
Rayn segera menepisnya. "Tadi aku terlalu serius melukis, jadi tidak terasa melukis sampai larut" jawab Rayn berbohong karena tidak ingin membuat Lusia merasa bersalah. Meskipun sebenarnya ia masih terjaga hanya karena sedang menunggu kabar dari istrinya hingga selarut ini.
"Bagaimana dengan kondisi ibu, apa sangat serius?" tanya Rayn.
"Tekanan ibu naik karena kelelahan. Ibu menerima banyak pesanan beberapa hari ini dan ibu hanya melakukannya dengan Bibi Nia. Tapi Dokter mengatakan jika kondisi ibu sudah membaik dan Dokter sudah memperbolehkan ibu pulang besok" jelas Lusia.
"Tapi, Rayn..." lanjut ucap Lusia tertahan.
"Apa ada sesuatu?" tanya Rayn.
Lusia meminta izin Rayn jika dirinya tidak bisa segera kembali pulang besok. Meskipun Dokter mengatakan kondisi ibunya sudah mulai membaik, tapi ia tetap harus memastikan ibunya benar-benar sehat. Selain itu dirinya dan Bibi Nia juga harus menyelesaikan pesanan yang sudah diterima ibunya, mereka sudah tidak bisa membatalkannya.
"Eemm... mungkin hanya sampai 2-3 hari saja" ucap Lusia lirih.
"2-3 hari saja? Saja? Saaa...Jaaaa...? Bagaimana dengan mudahnya dia mengatakan -Saja" batin Rayn lesu.
Rayn harus menahan rasa rindunya kepada sang istri tercinta untuk 2-3 hari kedepannya. "Baiklah, aku mengerti" sahut Rayn lirih.
"Ada apa dengan nada berat itu Ryan? Apa kau tidak senang?" tanya Lusia mendengar suara Rayn yang lemah.
"Bukan diriku tapi dia" sahut Rayn menatap yang ada dibawah sana.
"Dia...?" tanya Lusia. Ia tidak mengerti siapa orang yang dimaksud Rayn.
Rayn tertawa dan mengalihkan kebingungan Lusia dengan mengatakan jika dirinya hanya sedang bergurau. Rayn mengizinkan Lusia untuk merawat ibunya. Rayn juga meminta Lusia untuk tidak terlalu memaksakan diri dan bekerja terlalu keras, ia khawatir hal itu akan membuat Lusia menjadi kelelahan atau bahkan sampai ikut menjadi sakit seperti ibunya.
...***...
Keesokan hari usai mengurus kepulangan ibunya dari Rumah Sakit, Lusia harus pergi ke kedai sang ibu untuk menyelesaikan pesanan yang sudah diterima. Sesampai di Kedai, Lusia dikejutkan adanya seorang koki dan dua asisten koki yang sudah sibuk di dapur bersama Bibi Nia.
__ADS_1
"Bibi sangat senang karena kau mendapatkan suami yang sangat pengertian. Bahkan ia langsung mengirim mereka untuk membantu kita menyelesaikan semua pesanan" ucap Bibi Nia.
"Suami? Maksudnya apa Rayn yang mengirim mereka?" tanya Lusia bingung. Kebingungan Lusia membuat Bibi Nia menjadi ikut bingung karena ia mengira Lusia tahu akan hal itu.
Lusia segera menghubungi Rayn untuk memastikan apakah benar Rayn yang mengirim para koki. Dalam panggilan telepon, Rayn tidak membantahnya, ia membenarkan hal itu.
"Aku harap bisa membantumu dengan cara apapun. Apa kau tidak menyukainya? Jika kau menolak, bagaimana kalau aku yang membantumu langsung ke sana?" tanya Rayn.
"Rayn... terima kasih. Tapi kau tidak harus melakukannya, maafkan aku sudah membuatmu khawatir" sahut Lusia.
"Kenapa aku tidak harus? Aku suamimu dan aku tidak punya alasan lain selain alasan karena aku suamimu" jelas Rayn.
Lusia tersenyum dan terharu akan perhatian sang suami. "Terima kasih Rayn, aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu" puji Lusia.
"Kau membuat jantungku berdebar mendengarnya. Jangan memancingku atau jika kau tidak ingin aku benar-benar lari menyusulmu ke sana. Apa kau tidak tahu bagaimana aku menahannya selama ini?" goda Rayn membalas pujian Lusia.
"Tidak...tidak...tidak. Kau tidak harus menyusulku kemari" tolak Lusia.
"Muah..." terdengar suara kecupan dari Rayn. "Aku mencintaimu Lusia, jaga kondisi dan jangan sampai sakit. Aku akan menunggumu" ucap Rayn.
"Aku juga mencintaimu Rayn" balas Lusia lalu menutup teleponnya.
...***...
Setelah semua urusannya selesai dan memastikan ibunya sehat, Lusia memutuskan untuk kembali ke kota lebih awal dari waktu yang ia katakan kepada Rayn. Lusia menghubungi Arka, ia meminta Arka untuk menjemputnya di Terminal. Arka bersikeras menjemput Lusia langsung ke perkampungan nelayan, namun Lusia menolak.
Lusia tidak ingin merepotkan Arka yang harus jauh-jauh menjemputnya. Lusia mengatakan jika dirinya akan pulang naik bus dan arka cukup menjemputnya nanti jika ia sudah sampai di terminal pemberhentian.
Lusia sengaja tidak ingin memberitahu Rayn karena meskipun hanya sederhana ia ingin memberi kejutan kedatangannya. Sepanjang perjalanan pun Lusia terlihat bahagia dan masih memiliki semangat yang luar biasa, tidak terlihat sedikitpun lelah diwajahnya.
Setelah beberapa jam perjalanan, kini Lusia telah sampai di Terminal pemberhentian. Saat hendak turun bus, Lusia melihat seorang kakek yang tampak kesusahan turun karena banyaknya bawaan yang ia bawa. Lusia bergegas membantu mambawa barang dan menuntunnya turun dari bus dengan hati-hati. Lusia juga membantunya untuk mencari tempat duduk usai turun dari bus.
"Terima kasih nak" ucap kakek.
Lusia menawarkan diri untuk mengantar kakek pulang sampai rumah si kakek saat Arka sudah datang nanti. Namun kakek itu menolak karena cucu tercintanya sudah dalam perjalanan untuk menjemput dirinya. Kakek itu sangat berterima kasih kepada Lusia. Si kakek juga mengatakan jika dirinya merasa senang karena di era sekarang masih saja ada anak muda seperti Lusia yang masih mau memperhatikan dan membantu orang-orang disekitarnya meskipun orang itu adalah orang asing.
"Pulanglah nak, suamimu sudah menunggumu" ucap si kakek mengejutkan Lusia.
__ADS_1
"Bagaimana kakek tahu jika aku sudah menikah? Apa terlihat jelas di wajahku?" tanya Lusia tersenyum.
"Suamimu yang tampan itu pasti adalah pria yang baik dan sangat mencintaimu" lanjut puji sang kakek.
"Sudah dari tadi dia berdiri di sana menunggu dan memandangmu. Pergilah, suamimu sedang menunggumu" kembali ucap si Kakek memandang ke arah Rayn yang ternyata sudah berdiri tidak jauh di sana.
Si Kakek sudah melihat keberadaan Rayn sejak ia hendak turun bus. Ia melihat Rayn hendak melambaikan tangannya kepada Lusia. Namun karena Lusia yang saat itu disibukkan membantu dirinya sehingga Lusia tidak melihat kehadiran Rayn.
Si kakek langsung menyadari jika pria itu datang untuk wanita yang sedang membantunya. Bahkan si Kakek melihat Rayn yang memilih untuk menunggu di sana dan sama sekali tidak melepaskan tatapannya kepada sang istrinya.
Lusia seketika menoleh dan ia sungguh terkejut melihat seorang pria yang berdiri di sana, dibawah remangnya kedai di terminal itu adalah suaminya, Rayn Dean Anderson. Seorang pria tampan yang tidak pernah melepaskan tatapannya. Lusia pun tersenyum ke arah Ryan.
"Pergilah nak, cucuku sudah datang. Terima kasih sudah membantu" ucap si Kakek kepada Lusia lalu pamit untuk pergi.
Lusia mempersilahkan kakek untuk pergi lalu kembali menoleh memandang Rayn yang masih berdiri di sana.
Melihat Lusia yang kini seorang diri, perlahan Rayn melangkahkan kakinya berjalan ke arah Lusia. Lusia merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Rayn yang semakin dekat dengan dirinya.
"Benar, dia adalah suamiku. Suami yang sangat aku cintai dan mencintaiku" ucap Lusia lirih lalu mengurai senyum.
Lusia sungguh tidak menduga jika Rayn yang akan datang, ia mengira jika Arka yang menjemputnya. Namun ternyata Arka telah memberi tahu Rayn dan Rayn bersikeras jika dirinya sendiri yang akan menjemput istrinya.
Langkah Rayn semakin dekat dan ia langsung menyambut rentangan tangan Lusia dengan sebuah pelukan rindu.
"Aku sangat merindukanmu" ucap Rayn lalu mengecup lembut bibir manis sang istri yang juga dirindukannya.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued ***