
Malam semakin larut, Lusia masih belum tidur di kamarnya. Setelah beberapa hari berlalu kaki Lusia sudah membaik dan sembuh. Saat dia disibukkan dengan ponselnya tiba-tiba terdengar suara seseorang mengentuk pintu kamarnya.
“Apa kau sudah tidur?” tanya Rayn dari luar usai mengetuk pintu.
Lusia bangkit dari duduknya membukakan pintu untuk Rayn. Rayn berdiri di depan kamar dengan wajah lesu. “Aku sulit untuk tidur, aku ingin mencari udara segar, kau ingin keluar bersamaku?” tanya Rayn. “Aku ingin pergi ke suatu tempat” lanjutnya.
Lusia melirik jam di dinding kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Meskipun Lusia tahu ini sudah sangat larut malam, tentu saja ia tidak akan pernah menolak permintaan Rayn. Lusia menyetujuinya, ia pergi meraih jaket dan mereka pun pergi keluar mencari udara segar.
Lusia melirik ke sekitar terlihat sedang mencari seseorang. “Kemana Arka?” tanya Lusia yang tidak melihat Arka.
“Entalah, jika pun ada aku juga tidak ingin dia mengikuti kita” ucap Rayn seraya menggandeng tangan Lusia.
Lusia mengikuti Rayn dan mereka pergi jalan-jalan tidak jauh dari Villa. “Kau bilang ingin mencari udara segar dan pergi ke suatu tempat, lalu kemana kita akan pergi hanya dengan berjalan kaki seperti ini?” tanya Lusia.
Lusia menghentikan langkah kakinya saat Rayn mengatakan jika mereka hampir sampai pada tujuannya. Lusia mulai ragu dan bertanya saat Rayn memintanya lanjut berjalan memasuki sebuah jalanan setapak yang gelap gulita. Hanya ada sedikit penerangan dari sorot lampu jalanan utama.
“Kau ingin membawaku kemana?” tanya Lusia.
Rayn melepaskan tangannya, ia melangkah lebih dulu memasuki jalan setapak lalu ia behenti dan berdiri di hadapan Lusia. Rayn mengulurkan tangannya kepada Lusia.
Lusia terdiam, ia tidak ingin menaruh curiga apapun kepada Rayn tetapi tidak bisa dihindari jika dirinya mulai merasa takut. Ini sudah tengah malam, Rayn mengajaknya masuk menelusuri jalan setapak yang dikelilingi hutan pinus tanpa penerangan apapun. Lusia yakin jika Rayn juga tidak sedang dalam keadaan mabuk. Rayn sangat sadar sepenuhnya, tidak mungkin dia memilki niat yang macam-macam kepadanya.
Pikiran Lusia mulai liar mengingat beberapa hari sebelumnya, Rayn menggodanya dengan kata malam pertama yang diucapkan Rayn terakhir kali saat mereka di Rumah Sakit.
“Apa dia sebenarnya orang yang seagresif ini? Bahkan ia mengajakku masuk kedalam jalanan gelap dengan wajah yang begitu tenang” gumam Lusia dalam hati.
“Apa kau tidak percaya padaku?” tanya Rayn mulai membuka suara. Ia masih mengulurkan tangannya untuk Lusia raih.
“Rayn mengatakan kepadaku jika dia bukan pria jahat, aku percaya dia tidak akan menyentuhku sebelum kami meresmikannya seperti yang pernah ia katakan. Meskipun ia sudah beberapa kali mencuri bibirku tanpa izin, tapi aku yakin dia pria yang bisa aku percaya” lanjut ucap Lusia dalam hati meyakinkan perasaannya sebelum meraih tangan Rayn.
Lusia perlahan meraih uluran tangan Rayn. Rayn tersenyum, ia langsung menggenggamnya dan mengajak Lusia mengikutinya dan melanjutkan berjalan bersama.
Lusia menelan salivanya, ia lalu mulai melangkahkan langkah kaki pertamanya. Seperti sebuah magic dalam dunia dongeng, sebuah lampu penerangan menyala seiring dengan langkah kakinya.
Dengan wajah penuh kebingungan, Lusia mengerutkan keningnya memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lusia lanjut melangkahkan kakinya dan lampu penerangan lain ikut menyala. Lampu-lampu itu terus menyala satu persatu seiring dengan langkah mereka berdua. Rayn tersenyum melihat ekspresi Lusia. Wajah takut itu kini tampak berubah menjadi takjub.
“Kenapa ini bisa terjadi? Apa ada sensor tertentu?” tanya Lusia memperhatikan setiap lampu-lampu yang sudah ia lewati.
Rayn hanya menjawab dengan tersenyum akan pertanyaan Lusia, ia terus menggandeng tangan Lusia dan membimbing langkahnya menuju tempat yang ingin ia tuju.
__ADS_1
Mereka sudah akan sampai pada tempat yang di maksud Rayn. Sesusatu yang tidak terduga terjadi, tiba-tiba semua lampu penerangan padam bersamaan. Menjadikan jalanan itu kembali gelap gulita. Lusia langsung berteriak, ia menghentikan langkahnya, menarik tangan Rayn dan memeluknya.
“Kenapa tiba-tiba semuanya mati? Apa kita lebih baik kembali saja?” tanya Lusia yang masih memeluk Rayn. Ia berusaha meraba mencari ponsel di saku jaketnya untuk bisa memberi penerangan.
“Kita sudah sampai, mana mungkin aku membawamu kembali sekarang” sahut Rayn.
Hanya suara dari percakapan keduanya yang terdengar diantara gelapnya hutan pinus. Rayn meraih kedua tangan Lusia untuk melepaskan pelukannya.
“Apa yang kau lakukan Rayn? Aku sangat takut.”
Lusia menolak untuk melepaskan pelukannya. Ia justru semakin erat memeluk Rayn karena saat ini ia tidak bisa melihat apapun kecuali merasakan tubuh Rayn dalam pelukannya.
Rayn menatap jam tangannya yang menyala. “Aku rasa ini sudah waktunya, aku akan menunjukkan keindahan kepadamu” bisik Rayn ditelinga Lusia.
Lusia membuka matanya, ia melihat adanya cahaya di belakangnya. Cahaya yang bersinar sangat terang sampai ia bisa melihat bayangan dirinya dan Rayn dibalik tubuh Rayn yang masih ia peluk. Lusia perlahan mulai melepaskan pelukannya dan berbalik melihat cahaya apa yang bersinar begitu terang dibelakangnya.
Dervilia….
Rayn tengah malam membawa Lusia ke Villa Dervilia yang sudah di hiasai lampu seperti atmosfer malam penuh bintang. Lampu bintang bergantungan pada dinding Villa dan pepohonan kecil di sekitarnya. Lampu itu menyala berkelap-kelip bergantian memberi suasana yang mencerminkan langit malam.
Pemandangan yang sangat cantik dari berbagai ukuran lampu charyball dengan latar berwarna-warni. Tangga Villa dipenuhi dengan lampu tiga dimensi dari gelas kaca yang indah. Tidak hanya sampai disitu, begitu banyak lentera kaca berisi lampu charyball kecil didalamnya. Lentera-lentera kaca itu diletakkan di sudut manapun bersanding dengan vas berisi beragam bunga yang masih segar.
Rayn menaiki tangga Villa meninggalkan Lusia yang masih terlihat takjub dengan apa yang ia lihat. Rayn lalu kembali menghampiri Lusia dengan buket mawar merah yang terangkai indah berukuran besar ditangannya. Rayn berdiri tepat dihadapan wanita yang sangat dicintainya.
Dengan tatapan penuh cinta Rayn menyodorkan bunga itu kepada Lusia. Rayn telah menyiapkan semuanya untuk merayakan ulang tahun Lusia pertama kalinya bagi Rayn.
"Rayn…” ucap Lusia penuh haru.
Mata Lusia mulai berkaca-kaca disertai senyum bahagia. “Bagimana kau bisa tahu…?” tanyanya dengan menerima buket bunga dari Rayn.
Lusia merasa sangat terharu dengan apa yang sudah Rayn siapkan untuk merayakan ulang tahunnya. Ini seperti mimpi baginya, bahkan ia masih bertanya dalam hati apakah ini nyata?.
Selama ini Lusia tidak pernah berani memimpikan mendapat perlakuan romantis dalam hidupnya. Baginya sudah cukup dengan kehadiran Rayn yang akan melengkapi setiap kenangan indah di memory nya. Lusia tidak pernah mengharapkan lebih, cukup dengan Rayn selalu berada disisihnya.
“Terima kasih, terima kasih Rayn” ucapnya mulai menitihkan air matanya.
Rayn mendekat, ia mengusap air mata yang mulai membasahi pipi Lusia dengan kedua tanganya. “Aku harap ini adalah air mata kebahagianmu Lusia” ucap Rayn.
Rayn menatap Lusia dengan tatapan penuh kehangatan. “Aku tidak pernah mengucapkannya dengan baik selama ini. Seharusnya aku yang mengatakannya lebih dahulu kepadamu” ucapnya.
__ADS_1
“Aku mencintaimu Lusia.”
Mendengar kata-kata indah itu terucap dari bibir Rayn, membuat hati Lusia bahagia. Ia tersenyum kepada Rayn dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Senyum itu, senyum indah Lusia saat memandang Rayn adalah sebuah kecantikan yang membuat hati Rayn semakin bergejolak. Ia tidak ingin lagi menahan dan melewatkan keindahan yang kini mengisi penuh seluruh pandangannya.
Rayn yang masih mendekap kedua pipi Lusia, perlahan mendekatkan wajahnya. Lusia bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Rayn di wajahnya. Ia bisa melihat ketulusan hati Rayn dari sorotan mata Rayn.
Jantung Lusia berdeguk kencang, ia mulai semakin erat meremas buket bunga yang digenggamannya. Wajah pria itu semakin mendekat membuat Lusia memejamkan matanya.
Rayn membenamkan bibirnya di bibir ranum Lusia. Ia mengecup bibir merah itu dengan penuh kelembutan. Meskipun ini bukan pertama kalinya, Lusia merasa jika ciuman yang Rayn berikan saat ini berbeda. Rayn kembali memandang wajah Lusia yang perlahan membuka matanya.
“Aku juga mencintaimu Rayn. Kau tahu… aku sangat, sangat…, sangat mencin….” belum sampai Lusia menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah langsung kembali dikunci oleh ciuman Rayn lagi.
Lusia perlahan mulai menggerakkan tangannya memeluk tubuh Rayn, bahkan masih dengan buket bunga yang masih dipegangnya. Ini adalah ulang tahun terindah sepanjang hidupnya, warna baru akan hadirnya seorang pria yang dengan tulus mencintainya.
Di bawah jutaan bintang serta cahaya lembut bulan yang bersinar terang menambah romantis malam mereka. Lusia mulai membalas ciuman itu disertai dengan air mata yang membasahi pipinya.
.
.
.
*** To Be Continued***
-----
Author kok jadi ikut baper yah... haha
Kira-kira apa yang akan terjadi dengan keduanya yah ?
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
__ADS_1
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆