
Rayn menghubungi Mickey memberitahu jika dirinya akan kembali ke Kanada bersama Lusia. Ia meminta Mickey untuk mengatur segalanya baik paspor, Visa, penerbangan dan semua yang harus disiapkan. Mickey tampak terkejut akan permintaan Rayn. Mickey menanyakan alasan Rayn kembali ke Kanada bahkan sebelum peringatan kematian ibunya.
"Apa karena Lusia?" tanya Mickey.
"Karena aku tidak ingin memperkenalkan dia sebagai kekasihku saat itu" ucap Rayn dalam panggilan telepon dengan Mickey yang saat ini berada di Kanada.
Mickey tidak mengerti akan ucapan Rayn, ia khawatir apakah terjadi sesuatu lagi diantara Rayn dan Lusia sehingga membuatnya mengatakan tidak ingin memperkenalkan Lusia sebagai kekasihnya kepada mendiang Ny. Angelina.
"Lenoa memberitahuku jika dia akan melakukan pengobatan phobiamu, kenapa kau tidak menunggunya sampai phobia mu sembuh?" tanya Mickey.
Rayn mengatakan jika ia tidak akan khawatir lagi soal phobia nya. Apakah dirinya benar-benar bisa sembuh atau tidak, ia tidak ingin terbebani dengan pemikiran itu lagi. Saat ini yang perlu ia lakukan hanyalah mengikuti waktu dan tidak ingin menyia-nyiakan waktu itu hanya dengan kecemasan.
...***...
Lusia tampak sibuk membersihkan wajahnya, ia menunduk ke wastafel sembari memercikan air ke wajahnya. Tangannya merayap untuk meraih handuk, sayangnya handuk itu sudah ditangan Rayn yang kini berdiri tepat disebelahnya.
"Apa yang kau lamunkan sampai tidak menyadari kehadiranku?" tanya Rayn mendekat lalu membantu mengeringkan wajah Lusia dengan handuk ditangannya dengan sentuhan yang begitu lembut di wajah Lusia.
Lusia terlihat tersipu malu, ia sudah dewasa dan tidak ingin menjadi lebih manja. Ingin rasanya ia menolak untuk melakukannya sendiri, tapi sepertinya Rayn yang justru terlihat lebih menikmati kemanjaan itu. Lusia hanya tersenyum dan membiarkan Rayn melakukannya.
Belum sampai selesai, Rayn menghentikan pergerakan tangannya. Dengan teduhnya ia menatap lekat wajah Lusia.
"Ke...kena..pa?" tanya Lusia seketika bingung.
Pikiran Lusia mulai liar, tidak mungkin pria yang berdiri didepannya saat ini akan menyerangnya tiba-tiba. Namun, ia tidak heran karena itulah yang selalu Rayn lakukan kepadanya. Ryan meletakkan handuk yang ia pegang, perlahan satu tangannya mendekap dagu Lusia.
"Ia akan memulainya lagi" batin Lusia. "Jangan terpengaruh atau kau hanya akan berakhir dengan dibully Lusia" lanjut batin Lusia dengan wajah yang terlihat tetap tenang.
Sikap Rayn memang terkadang sulit ditebak, ia sering tiba-tiba mencuri bibirnya tanpa aba-aba. Namun terkadang disaat Lusia mengharapkan itu justru hanya berakhir dengan dibully.
"Ada apa dengan luka ini?" tanya Rayn lirih menyentuh bekas luka di dagu Lusia.
Lusia seketika menoleh menatap wajahnya pada kaca, ia mendongak melihat luka mana yang dimaksud Rayn. Hanya ada satu luka di sana, sebuah luka goresan yang akan selalu membekas seumur hidupnya.
"Aaaa... luka ini" sahut Lusia.
Lusia menjelaskan jika luka itu ia dapat sewaktu ia masih duduk di bangku sekolah, lebih tepat saat ia berlagak bak superhero. Rayn mengangkat alisnya seolah tak paham dan ingin mendengar penjelasan lebih detail dan lebih spesifik soal kejadian itu.
Lusia mengatakan jika itu karena dirinya berkelahi dengan beberapa berandalan sekolah. Rayn seketika beraksi nyinyir dan bertanya apakah wanitanya ini dulu seorang gangster sekolah yang suka melakukan perundungan.
Lusia sontak menepis tuduhan itu. Bagaimana bisa dikatakan menindas disaat dirinya hanya seorang gadis sendirian melawan beberapa pria yang bahkan juga seumuran dengannya.
__ADS_1
Raut wajah Lusia seketika mengerut kesal menyadari maksud pertanyaan Rayn. Jika begitu maka maksud dari ucapan Rayn adalah membalas berkelahi artinya bukankah sama-sama berandalannya.
Lusia terus menepisnya, ia menghela nafas karena harus kembali mengingat kejadian menyebalkan itu lagi. Saat itu dirinya berkelahi karena menolong seorang anak laki-laki yang terlihat seumuran dengannya atau tidak jauh dari itu. Anak laki-laki itu terlihat sedang dirundung oleh para berandalan dan dirinya pergi untuk menolongnya. Tapi, entah mengapa anak laki-laki itu bereaksi aneh saat dirinya membantu.
"Aku mengulurkan tanganku, tapi ia justru menepis lalu menggores luka ini di wajah ku. Dia...." ucap Lusia menatap tajam luka itu pada kaca.
Lusia mendengus singkat lalu berkata dengan penekanan. "Dia be...nar-benar me..mu...kul...ku tepat disini dan membuat bekas luka ini" jelas Lusia berbalik dan menunjukkan luka itu kepada Rayn.
"Aa...nak la...ki-laki?" tanya Rayn gugup.
"Eemmm... entah apa yang dipakainya sampai menggores daguku saat menghantam wajahku" sahut Lusia mengangguk.
"Lalu, apa menurutmu dia sangat pengecut saat itu?" tanya Rayn.
"Kau benar, bahkan saat itu aku menjadi sangat dendam, bagaimana dia bisa kabur begitu saja meninggalkanku yang sudah menolongnya" tegas Lusia mengeluhkan semua kepada Rayn.
"Bagaimana caranya dia kabur?" tanya Rayn yang terlihat sangat tertarik dengan insiden itu.
Lusia tampak berpikir sejenak mengingat kembali lalu menjelaskan lebih detail bagaimana anak laki-laki itu kabur meninggalkannya. Saat itu tiba-tiba sekelompok pria dewasa berpakaian bak bodyguard datang menolong mereka. Seorang pria dari mereka tiba-tiba membawa anak laki-laki itu pergi dengan sebuah mobil.
"Apa kau mengenalinya?" tanya Rayn.
"Kejadiannya begitu cepat aku tidak memperhatikan siapa mereka" sahut Lusia.
"Entahlah, bagaimana aku bisa tahu sementara dia memakai masker dan topi. Tapi aku sangat yakin dia orang kaya melihat para pria itu sangat hormat dengannya" sahut Lusia.
Rayn menelan salivanya, kejadian yang diceritakan Lusia sudah jelas jika anak laki-laki itu adalah dirinya. Kejadian itu adalah pertemuan pertamanya dengan Lusia, si gadis berkuncir satu. Rayn sangat ingat ia menepis uluran tangan Lusia karena reaksi phobianya saat itu, tapi ia sama sekali tidak sadar jika itu telah melukai Lusia.
Rayn mendekat dan kembali menyentuh bekas luka Lusia. "Apa saat itu benar-benar sangat sakit?" tanya Rayn dengan tatapan teduhnya.
"Eemmm... be....nar-benar sangat sakit" sahut Lusia dengan menyipitkan matanya sengaja memberi reaksi berlebihan. "Tapi jangan khawatir, lihatlah luka itu tidak membuatku mati" lanjut ucap Lusia tersenyum melihat raut wajah Rayn yang khawatir.
Saat ini bukan hanya kekhawatiran tapi juga kepanikan yang terlihat jelas tersirat di raut wajah Rayn. Ia adalah orang yang telah membuat luka itu tapi Lusia tidak menyadari jika anak laki-laki itu adalah dirinya.
Lusia meraih handuk untuk kembali lanjut mengeringkan sebagian rambutnya yang sudah terlanjur basah sembari berjalan keluar.
"Anak laki-laki itu adalah aku" ucap Rayn menghentikan langkah Lusia.
Lusia tersenyum mendengar pengakuan itu, ia tidak bereaksi terkejut ataupun kecewa. Lusia berbalik memandang Rayn. "Eemm... aku tahu itu" sahut Lusia.
"Kau sudah tahu?" tanya Rayn heran.
__ADS_1
"Arka sudah memberitahuku. Pria yang membawamu pergi adalah Mickey dan pria yang kau perintahkan untuk melindungiku si Gadis Berkuncir adalah Arka, benar kan?" tanya Lusia.
Lusia kembali mendekat dan memeluk Rayn. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu merasa bersalah, aku tahu kau melakukannya karena reaksi dari phobiamu. Dan juga aku ingat jika saat itu kau sudah memintaku untuk tidak meladeni mereka" ucap Lusia menepuk bahu Lusia.
Rayn membalas pelukan Lusia. "Maafkan aku karena menjadi orang pengecut saat itu" ucapnya lirih. Lusia melepaskan pelukannya lalu tersenyum kepada Rayn.
Rayn kembali menatap lekat wajah Lusia dan menyentuh luka itu lagi. "Aku akan bertanya kepada Leona apa dia memiliki kenalan dokter terbaik yang bisa membantumu menghilangkan bekas luka itu" ucap Rayn serius.
Lusia menyipitkan matanya untuk mengejek. "Oooowww... penilaianku saat itu benar jika anak-anak laki ini memang anak orang kaya" ucapnya tersenyum.
"Lalu apa kau juga bisa meminta Dr. Leona menemukan dokter yang bisa membuat hidungku lebih cantik?" tanya Lusia.
Rayn menyentuh kedua bahu Lusia lalu membalik tubuh Lusia lalu mendorongnya untuk kembali ke kamarnya. "Hidungmu sudah sangat cantik, kau tidak perlu melakukannya" sahutnya.
Lusia berbalik memandang Rayn. " Lalu, bagaimana dengan kelopak mataku?" tanya nya lagi menunjuk kelopak matanya didepan Rayn. "Aku rasa ini membuatku seperti mata panda" lanjutnya.
"Itu sudah sangat sempurna" sahut Rayn menggeleng kepala menunjukkan penolakan.
"Sungguh?" tanya Lusia.
Rayn menjawabnya dengan mengangguk. Bagi Rayn Lusia tidak perlu melakukan apapun untuk terlihat cantik karena dimatanya dia adalah wanita yang paling cantik dan sempurna.
"Baiklah, aku mengerti" ucap Lusia mengangguk berulang kali. "Jika begitu kau juga tidak perlu meminta Dr. Leona mencari dokter untuk menghilangkan bekas luka ini" lanjutnya dengan tersenyum.
Lusia pun sebenarnya juga tidak membutuhkannya, ia hanya ingin membuat Rayn tahu jika dirinya baik-baik saja dengan bekas luka itu dan Rayn tidak perlu khawatir atau melakukan apapun untuk menghilangkannya karena merasa bersalah.
"Tapi, aku menjadi penasaran akan sesuatu. Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau sudah tahu anak laki-laki itu adalah aku?" tanya Rayn.
Lusia tersenyum manis. "Itu karena aku ingin mendengarnya sendiri darimu" ucap Lusia meledek Rayn lalu berjalan meninggalkannya.
"Wah... jadi dari tadi kau sengaja melakukannya?" tanya Rayn mengejar langkah Lusia. Lusia pun langsung berlari menghindar dengan tertawa.
"Gadis Berkuncir Kuda, aku suka julukan itu" ucap Lusia sambil memperagakan mengikat rambutnya.
"Berhenti, aku belum selesai" panggil Rayn mengejar Lusia yang sudah masuk kamarnya lalu menutup pintu tepat sebelum Rayn masuk. Rayn pun menghela nafas dan mengulum senyum.
"Tuhan, Jika ini adalah kebahagian yang kau maksud, maka ini sudah cukup bagi kami untuk bertahan dengan kebahagiaan yang sederhana ini."
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued***