
Setiap hubungan memang unik dan sulit untuk ditebak. Bahkan hanya dalam sekejap semua bisa berakhir karena alasan yang begitu sederhana ataupun hal besar yang tidak bisa lagi untuk dipertahankan.
Dari sekian banyak alasan yang bisa terjadi dalam perpisahan, Lusia tidak bisa menerima jika Rayn, pria yang kini berdiri dihadapannya menggunakan kelemahannya sebagai alasan memutuskan hubungan diantara mereka.
Cinta saja mungkin memang tidak akan cukup untuk mempertahankan suatu hubungan, namun Lusia dan Rayn selama ini sudah berada pada titik saling mengasihi satu sama lain, saling percaya, melewati waktu sulit bersama dan bersenang-senang meski dalam perbedaan. Namun, kenapa semua itu masih tidak cukup untuk memperkuat pondasi hubungan mereka.
Takdir adalah garis yang menentukan, namun bagi Lusia menghindar bukanlah jalan yang terbaik. Selama itu bukan karena pikiran yang tak lagi selaras, prinsip yang berbeda, nilai-nilai yang tak sejalan atau cinta yang memudar diantara keduanya, Lusia yakin jika mereka masih bisa untuk berjuang dan mengatasi semuanya bersama. Rayn tidak bisa memutuskannya sendiri dan memilih lari tanpa memikirkan perasaan dirinya.
"Lalu kau ingin aku harus bagaimana? Kau ingin aku menerima keputusan sepihak mu? Tidak akan Rayn, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kenapa kita harus menyakiti diri kita sementara kita bisa melewatinya bersama? Ini sangat sulit untukku Rayn, ini tidak adil bagiku dan aku..." ucap Lusia tertahan dengan suara yang semakin lirih.
Lusia tertunduk sejenak untuk menjaga kesadarannya, ia meraih tangan Rayn lalu kembali memandang wajahnya dengan tatapan penuh kesedihan. Nafas Lusia mulai terlihat tidak beraturan, keringatnya mulai bercucuran, tubuhnya menjadi lemas, wajahnya pun semakin pucat.
"Aku.... " lanjut ucap Lusia namun kembali tertahan oleh nafasnya yang terputus-putus.
"Lusia..." panggil Rayn dengan mimik wajah cemas.
Rayn menyambut genggaman tangan Lusia dan berbalik menggenggamnya. Satu tangan Rayn meraih wajah Lusia dan mendekapnya, ia bisa merasakan wajah Lusia yang begitu panas karena memiliki suhu tinggi.
"Lusia, apa kau baik-baik saja?" tanya Rayn lagi dengan tatapan semakin khawatir.
Belum sampai menjawab pertanyaan itu, tubuh Lusia langsung jatuh lemas. Rayn segera meraih dan menahan tubuh Lusia. Lusia sudah tidak mampu lagi bertahan dan jatuh dalam dekapan Rayn.
"Arka....!!!" teriak Rayn panik memanggil Arka.
Arka yang sedari tadi berjaga tidak jauh dari keduanya segera berlari menghampiri Rayn dan Lusia.
"Cepat panggil Dr.Brian !" perintahnya kepada Arka untuk memanggil Dokter pribadi Rayn.
__ADS_1
Rayn segera menggendong tubuh Lusia dan membawanya ke kamar Lusia yang berada di lantai itu.
.
.
Dr. Brian pun tiba dan langsung memeriksa kondisi Lusia yang saat ini sudah tidak sadarkan diri. Rayn berdiri tidak jauh dari sana, hal ini karena phobianya tidak memungkinkan dirinya berada dekat dengan Dr. Brian. Dengan wajah cemas dan gelisah, Rayn tiada henti berdoa untuk Lusia.
Usai melakukan pemeriksaan, Dr. Brian berpesan agar Rayn bisa lebih menjaga kondisi Lusia dengan baik. Mereka perlu lebih memperhatikan pemulihan luka Lusia paska operasi.
Rayn meminta Dr. Brian mengirim seorang perawat ke kediamannya untuk membantu merawat luka Lusia selama masa pemulihan hingga benar-benar sepenuhnya sembuh.
"Baik, saya akan mengatur perawat terbaik di Rumah Sakit kami untuk anda" ucap Dr. Brian lalu pamit untuk pergi.
Lagi dan lagi Rayn harus melihat Lusia terbaring tak berdaya dengan jarum infus ditangannya dalam kondisi tidak sadar. Perlahan Rayn melangkahkan kakinya untuk mendekat, ia meraih tangan Lusia dan menatap lekat wajah Lusia yang masih memejamkan matanya.
"Maafkan aku jika pada akhirnya aku kembali menyakitimu lagi" ucap Rayn lirih.
"Aku sudah berusaha sebisa mungkin melenyapkan keinginan yang tersisa untuk memilikimu. Aku memaksa hatiku untuk bisa kembali hidup damai, seperti dulu sebelum aku mengenalmu. Menghapus semua kenangan dan hanya meninggalkan serpihan ingatan tanpa ada dirimu didalamnya. Aku pikir aku bisa melakukannya. Tapi, setiap kali orang bertanya padaku apakah aku baik-baik saja, hal ini semakin mengingatkan bahwa aku tidak baik-baik saja" ucap Rayn lalu memejamkan matanya diikuti buliran air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Kini tidak ada lagi jalan baginya untuk lari, ia telah menyesali waktu saat dirinya memilih pada sisi yang gelap. Rayn mulai menyadari jika ia telah membuang banyak momen untuk bahagia bersama.
Rayn bangkit dari duduknya lalu membaringkan tubuhnya dalam satu ranjang tepat disebelah Lusia. Ia terus menatap wajah Lusia dengan tangan yang masih bergandengan.
Setelah cukup lama tidur, Lusia akhirnya membuka matanya. Ia merasakan hangat tangan Rayn yang menggenggam tangannya. Lusia pun menoleh dan menatap wajah Rayn yang masih terjaga menatap dirinya. Lusia seketika menangis, sebuah tangisan tanpa suara yang menyiksa batin.
"Katakan kepadaku jika kau nyata. Katakan kepadaku jika ini bukan ilusi Rayn" ucap Lusia dengan air mata berderai.
__ADS_1
Selama ini Lusia memang tidak bisa melepas bayang-bayang Rayn. Ia takut jika pria yang saat ini bersamanya hanya sekedar bayangan yang tercipta dari kerinduannya. Ia takut jika semua yang terjadi baru saja hanyalah sebuah mimpi.
Rayn mengulurkan tangannya, menyibak helai rambut yang menutupi mata Lusia. Sentuhan itu membuat Lusia kembali menjatuhkan air matanya.
"Jika ini hanya mimpi, biarkan aku memiliki mimpi ini sebentar lagi" lanjut ucap Lusia yang hanya bisa menatap nanar pria yang juga memandang dirinya dengan tatapan teduhnya.
Mendengar perkataan Lusia membuat hati Rayn semakin menjerit. Tanpa membalas dengan kata, Rayn mendekatkan tubuh dan wajahnya untuk bisa lebih dekat dengan wajah Lusia. Kini wajah keduanya hanya menyisakan beberapa inci.
Rayn tak mampu lagi membendung kerinduan yang tertahan. Semakin lekat ia menatap manik mata indah Lusia yang masih berlinang air mata.
Perlahan Rayn mengusap air mata itu dengan penuh kelembutan lalu mendekap wajah mungil kekasihnya dengan sorot mata yang meneduhkan. Ya, bagaimanapun juga Lusia masih memiliki status sebagai kekasihnya.
"Ini bukan mimpi Lusia" ucap Rayn lirih lalu mengecup bibir ranum Lusia dengan lembut.
Sentuhan manis bibir Rayn menggetarkan hati Lusia. Ia memejamkan matanya merasakan setiap sentuhan yang begitu nyata, bersamaan ia kembali menjatuhkan air matanya.
Semua memang nyata, sentuhan yang begitu lembut dan manis, hangat hembusan nafas dan dekapan tangan Ryan yang ia rasakan semuanya memang nyata.
Bukan pilihan yang mudah jika harus mempertahankan sebuah hubungan ketika hanya satu hati yang memperjuangkannya. Juga bukan sebuah keputusan yang mudah melepaskan ikatan ketika hati masih menginginkannya.Apapun itu, tetaplah bukan sebuah jalan terbaik jika memilih berpisah dengan alasan demi kebahagian namun pada akhirnya saling menderita.
"Aku tidak ingin dan tidak akan melepasmu lagi apapun yang terjadi."
Ya, ungkapan ini yang sepertinya ingin mereka sampaikan kepada satu sama lain. Tuhan kini telah kembali menyatukan garis takdir Rayn dan Lusia setelah memberinya sebuah ujian untuk saling menguatkan hati.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***