
Sebelum kembali ke Villa, Rayn telah menyiapkan makan malam spesial untuk Lusia. Rayn telah melakukan reservasi di sebuah restoran italia. Tidak hanya satu meja, tetapi Rayn telah melakukan reservasi semua meja sehingga semua pelayan yang ada disana hanya akan melayani mereka berdua.
Rayn melihat selama acara reuni dengan teman-temannya, Lusia sama sekali tidak menyetuh makanan yang disajikan. Perilaku teman-teman Lusia tentu saja telah membuatnya kehilangan selera makan saat bersama mereka.
Lusia merasa seperti Dejavu, karena ini bukan kali pertama Rayn memperlakukan dirinya dengan istimewah. Menempatkan dirinya pada posisi yang membuat iri. Menikmati hidangan mewah bersama pria tampan yang mereka lihat begitu sempurna adalah impian setiap wanita. Para waiters yang berdiri pun saling berbisik karena merasa kagum dan iri dengan pasangan Lusia dan Rayn.
Lusia meletakkan kedua tangannya bertopang dagu diatas meja. Wajah tampan ini yang sudah membuat teman-temannya terkagum-kagum. Bahkan Lusia tidak menyadari jika pria yang dibicarakan mereka di acara reuni tadi adalah suaminya.
"Andai aku tahu dari awal yang mereka bicarakan adalah dirimu, tentu saja aku tidak akan membagi keindangan ini dengan mereka" ucap Lusia yang secara tidak langsung memuji suaminya.
"Apa kau cemburu?" tanya Rayn.
"Eemmm... sangat cemburu" sahut Lusia lalu mengurai senyum.
Rayn meraih kedua tangan Lusia, menyandarkannya pada meja lalu menggenggamnya. Rayn tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi ia juga tampak ragu. Rayn lalu kembali menatap wajah istrinya. "Bagaimana jika akhir pekan kita pergi piknik, hanya kita berdua" ajak Rayn.
Lusia diam sejenak mendengar hal itu. Tentu saja Lusia sangat senang mendengarnya. Pergi piknik adalah yang sangat menyenangkan dan semua menyukai kegiatan ini. Tapi, jika ajakan itu dikatakan oleh Ryan membuat Lusia sedikit ragu. Lusia kembali meyakinkan Rayn, apa dia sungguh baik-baik saja dengan itu.
"Pergi piknik itu artinya kita akan menikmati akhir pekan diantara begitu banyak orang berada disana. Apa kau yakin untuk melakukannya?" tanya Lusia.
Rayn mengangguk, ia mengurai senyum dengan mengatakan jika dirinya serius dengan hal itu. Sesulit apapun untuk dirinya, Rayn tidak akan membiarkan Lusia juga merasakan kesulitan yang sama. Terlalu banyak momen yang Lusia lewatkan hanya karena dirinya. Dan terlalu banyak kehidupan normal lainnya yang harus Lusia korbakan demi mengimbanginya.
Phobia yang dimiliki Rayn mungkin telah menjadi penghalang baginya, tapi bukan penghalang untuknya membahagiakan Lusia. Apapun akan Rayn lakukan untuk memberikan indahnya kehidupan pernikahan untuk Lusia.
.
__ADS_1
.
Di Villa...
Lusia yang baru saja selesai mandi menghampiri Rayn yang duduk di tepi ranjang. Rayn tampak sibuk dengan ponsel ditangannya sehingga tidak sadar Lusia memanggil namanya. Lusia duduk di samping Rayn dan mengejutkanya. Lusia sangat penasaran apa yang sedang Rayn sibukkan dengan ponselnya.
Rayn menunjukkan sebuah halaman pencarian di ponselnya kepada Lusia. Tertulis hasil penelusuran dimana dia sedang mencari tahu apa saja yang perlu disiapkan untuk pergi piknik. Lusia kembali bertanya kepada Rayn apakah dia yakin akan pergi piknik.
"Rayn apa kau yakin? Apa terjadi sesuatu?" tanya Lusia
Rayn menggelengkan kepala, ia mengatakan jika dirinya hanya ingin melakukan apa yang biasa dilakukan orang lain. Tidak peduli dengan kondisi phobianya, dia akan melakukan semuanya bersama dengan Lusia. Sebaliknya dengan Lusia yang tidak ingin jika Rayn melakukannya hanya karena demi dirinya. Kehidupan yang dia jalani bersama Rayn saat ini sudah cukup membuatnya bahagia.
Rayn mengatakan jika dirinya ingin pergi jalan berdua bersama Lusia, menggenggam tangan istrinya dengan bangga dan menikmati keindahan bunga yang bermekaran. Merasakan nikmatnya makan bekal piknik dengan duduk di tanah lapang, di kelilingi anak-anak kecil berlarian ceria. Semua momen itu yang Rayn inginkan.
"Baiklah, kita akan melakukan semuanya. Aku akan menggengam tanganmu seperti ini dan menikmati semua momen itu bersama" ucap Lusia tersenyum.
"Lusia.." panggil Rayn lirih
Lusia menoleh menatap suaminya, Rayn meraih ponsel ditanggan Lusia dan meletakkan diatas nakas. Rayn lalu meraih kedua tangan Lusia dan menggenggamnya. Hangat genggaman tangan Rayn justru membuatnya menjadi begitu gugup.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku minta darimu" lanjut ucapnya.
Tatapan Rayn yang begitu sendu membuat Lusia tidak bisa memikirkan atau menebak apapun. Tapi, melihat raut wajahnya seperti akan meminta sesuatu yang sulit.
Rayn menunduk sejenak menarik nafas dalam lalu kembali menatap wajah istrinya. "Bagaimana jika kita memiliki seorang bayi?" tanya Ryan.
__ADS_1
"Rayn..." sahut Lusia.
Tentu saja itu adalah permintaan yang tidak terduga. Memiliki seorang anak bukanlah permintaan yang berat bagi Lusia, apalagi itu adalah permintaan suaminya. Tentu saja Lusia pun sangat ingin menjadi seorang ibu dan menimang bayi yang lahir dari rahimnya.
Tapi...
Lusia tidak menyangka jika Rayn akan memintanya. Lusia dan Rayn selama ini bukan menunda untuk memiliki seorang anak tetapi keduanya hanya belum memikirkan hal itu. Alasan kenapa Lusia belum memikirkan seorang bayi karena ia takut jika itu akan semakin melukai Rayn yang masih menderita Haphephobia.
Sebagai seorang ayah, Rayn pasti akan merasa tersiksa karena bahkan dirinya sendiri tidak akan pernah bisa menyentuh apalagi menggendong bayinya. Phobia yang dimiliki Rayn akan menjadi penghalang baginya untuk bisa lebih dekat dengan bayinya.
Lusia tidak ingin jika situasi ini akan menjadi penderitaan baru untuk Rayn. Tidak ada orang tua yang ingin hidup hanya dengan memandang anaknya tanpa bisa menyentuhnya. Saat ini yang terpenting bagi Lusia adalah Rayn. Tidak apa baginya jika messki harus menunda untuk tidak memiliki seorang anak.
Lusia menatap lekat kedua manik mata Rayn. "Rayn, bukan aku tidak...." belum sampai Lusia menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh Rayn dengan tatapan serius dan meminta.
"Aku ingin dipanggil Ayah."
" Aku ingin dipanggil Ayah..." ucap Rayn dengan mata yang berkaca-kaca.
Lusia mendekap kedua pipi Rayn dan air mata itu tiba-tiba jatuh. Lusia mengusap air mata yang membasahi pipi Rayn perlahan dengan ibu jari nya. Lusia mengurai senyum menatap wajah senduh suaminya.
"Baik, mari kita memiliki anak" ucap Lusia lalu memeluk erat tubuh Rayn.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***