Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 158 - Rencana Derward, Goal !


__ADS_3

Mickey segera meraih tubuh Leona yang mulai tidak bisa menjaga keseimbangannya. Leona pun akhirnya jatuh dalam pelukan Mickey. Mickey mengira jika Leona sudah tidak sadarkan diri, tetapi ternyata Leona masih sadar. Leona terlihat berusaha membuat dirinya untuk tetap sadar dari pengaruh alkohol.


Masih dalam pelukan Mickey, Leona menatap kedua manik mata Mickey lalu mendekap pipinya. Leona hanya menatapnya lalu bertanya "Kenapa tiba-tiba aku menjadi gerah?" tanyanya kepada Mickey.


Lenoa melepaskan dekapannya pada pipi Mickey lalu membuka satu kancing baju nya tepat didepen mata Mickey. Setelah berhasil membuka satu kancing baju pertamanya, Leona kembali lanjut membuka kancing berikutnya. Mickey sontak menahan tangan Leona yang hendak membuka kancing baju kedua.


"Derward..!! Kau ingin mengubahnya menjadi rubah?" teriak Mickey marah kepada Derward.


Derward menghela nafas kasar akan tuduhan yang terdengar begitu kejam terhadapnya. "Wanita itu, dia mengatakan tidak ingin menjadi licik tapi lihatlah dirinya sekarang. Dia membuatku terlihat seperti pria jahat" gumam Derward lirih seraya menggelengkan kepalanya berulang.


Derward mengatakan jika dia tidak ada maksud membuat Leona hilang kendali seperti itu, semua ulah Leona sendiri. Derward meracik minuman itu untuk Mickey, tetapi Leona menolak memberikannya kepada Mickey dan sepertinya tanpa sadar Leona telah meminumnya sendiri.


Leona kembali menatap lekat Mickey. "Apa kau tidak merasa gerah? Apa hanya aku yang merasakan gerah?" tanya Leona masih berputar pada pertanyaan yang sama.


Mickey meminta Leona untuk mendapatkan kesadarannya kembali dan ia akan mengantarnya pulang. Leona menolak, ia terus saja berusaha membuka kancing bajunya karena merasa semakin gerah. Mickey yang geram segera menahan kembali tangan Leona untuk tidak membukanya. Melihat dua kancing baju Leona yang sudah terbuka memaksa Mickey melepas jaket jeans yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Leona.


"Aku merasa gerah kenapa kau memberiku..." belum sampai Leona menyelesaikan ucapannya, Mickey langsung menggendong tubuh Leona dan membawanya pergi meninggalkan bar milik Derward.


.


.


Di dalam sebuah kamar mewah, waktu masih menunjukkan pukul tiga petang, Leona tampaknya sudah cukup lama tertidur lelap. Pengaruh alkohol pun nampak mulai berkurang dan hanya menyisahkan rasa sakit dikepalanya. Sebenarnya, Leona bukanlah wanita yang lemah dengan alkohol, akan tetapi entah racikan racun apa yang sudah dibuat Derward.


Leona mengerjapkan mata bangun dari tidurnya, lampu temaram menandakan jika langit diluar sana masih gelap gulita. Tangan Leona merayap mencari ponselnya lalu menatap jam pada ponselnya. Leona masih merasakan sedikit sakit dikepalanya.


Leona bangkit dari ranjang tidurnya, ia berjalan mencari lemari es. Leona tidak bisa menahan tenggorokannya yang terasa begitu kering. Setelah berjalan beberapa langkah, Leona diam berdiri melihat sekelilingnya. Leona merasakan ada yang janggal dengan ruangan ini.

__ADS_1


"Dimana lemari es ku ?" tanyanya berbicara sendiri.


Leona membulatkan matanya menatap sekitar sekali lagi. "Ini bukan kamarku, bukan, ini bukan apartemen ku. Yaaa.....!!! dimana aku?" tanyanya masih berbicara sendiri.


Ditengah kebingungan Leona, Mickey dengan santai berdiri bersandar pada dinding dengan menyilangkan kedua tangannya. Sudah dari tadi dia memperhatikan dan membiarkan Leona mulai dari Leona bangun. Dia hanya diam tanpa suara menatap semua tingkah Leona.


"Kenapa? Apa ada yang mencuri lemari es mu?" tanya Mickey mulai bersuara.


Mendengar suara yang tidak asing, Leona langsung menoleh menatap ke arah sumber suara itu berasal. Leona menghela nafas lega setelah memastikan jika pria yang berdiri disana benar adalah Mickey. Mickey berjalan membuka lemari es mini yang juga dijadikan sebagai meja.


Mickey mengambil satu botol air mineral, ia membuka penutup botolnya lalu memberikannya kepada Leona. "Kenapa dengan reaksimu? Apa kau pikir kau sedang diculik? Ini kamar hotel, terlalu bagus untuk dijadikan tempat sandra" sahut Mickey dengan candaannya.


Leona tidak menjawab pertanyaan Mickey, dengan cepat ia meneguk air mineral ditangannya. "Derward...!! Akan aku pastikan dia menyesal besok" gerutunya kesal.


Mickey bertanya kenapa dia harus menyalahkan Derward sementara Leona sendiri yang meminumnya. Bahkan seperti yang Mickey tahu jika minuman itu sebenarnya diracik untuk dirinya. "Apa kalian sedang berencana menakhlukkanku?" tanya Mickey dengan nada santai.


Mendengar hal itu membuat Leona cegukan tiba-tiba. Menakhlukkan? itu adalah kata yang sangat memalukan baginya disaat semua itu adalah rencana Derward sepihak. Dengan tetap tenang Leona mengatakan jika semua itu hanya salah paham. Dia berusaha menjelaskan jika dirinya sama sekali tidak memiliki niatan apapun. Justru dirinya mencoba untuk melindungi Mickey dari rencana konyol Derward.


"Jadi, apa hanya aku yang terlalu berharap tinggi disini? Aku pikir membawamu kemari adalah pilihan yang benar. Atau apa kau kecawa karena aku tidak memesan kamar kelas suits?" lanjut tanya Mickey.


Leona memiringkan kepalanya ke kiri ke kanan, ia berusaha membaca raut wajah Mickey. Perkataan baru saja bukanlah seperti Mickey yang ia kenal. Dia tidak akan mungkin sengaja membawaku kemari hanya untuk melancarkan rencana gila Derward. Apa Mickey serius dengang ucapannya atau dia hanya ingin berkelahi denganku setelah membuliku dengan godaan manis barus saja. Leona masih berusaha membacara raut wajah Mickey.


"Kenapa kau terlihat seperti sedang berpikir keras? Masih teralu petang untuk memiliki banyak pikiran, lagi pula itu bukan seperti dirimu sebagai seorang dokter" sahut Mickey yang tidak ingin mencandai Leona lagi.


Mickey tersenyum dan meminta Leona untuk kembali istirahat karena mereka sudah harus kembali pagi-pagi. Leona mengerutkan keningnya "kau benar, apa yang bisa kuharapkan darimu" gumam Leona seraya membuka tirai kaca.


Leona duduk ditepi ranjang menatap gemerlap lampu kota diluar sana melalui jendela kaca. Leona terdiam ia tampak duduk dengan tenang. "Maafkan aku" ucap nya tiba-tiba.

__ADS_1


Mickey yang berdiri tak jauh dari Leona pun menatap ke arah jendela, ia menatap Leona dari balik kaca. Mickey bertanya kenapa Leona meminta maaf kepadanya.


Leona meminta maaf tentang apa yang terjadi hari ini pasti sangat merepotkan Mickey. Ia juga meminta maaf karena sudah membuatnya terlibat perkelahian dengan pria brengsek tadi. Dan juga rencana gila Derward yang pasti akan membuat Mickey tidak nyaman.


"Kenapa kau berpikir jika itu membuatku tidak nyaman?" tanya Mickey.


"Sudahlah hentikan, jangan lanjut membuliku seolah kau memberiku harapan. Apa kali ini kau ingin bilang ~Padahal aku sangat berpikir jika kita bisa mengabiskan malam bersama atau kau ingin bilang aku sangat mengharapkannya~. Huft, lupakan. Aku bukan anak kecil atau anak muda lagi" lanjut oceh Leona.


Mickey tersenyum kecil, ia merasa ada kalanya Leona bertingkah menggemaskan. "Tapi aku benar-benar kecewa jika kita pada akhirnya hanya akan mengahabiskan sisa malam ini, hanya untuk menatap lampu kota diluar kota sana seperti ini. Apa kau yakin hanya akan mengakhiri malam ini sebatas ini?" tanya Mickey.


Leona menoleh memandang ke arah Mickey. "Aku bilang hentikan" sahut Leona.


Mickey yang dari tadi hanya berdiri kini melangkahkan kakinya berjalan menghampiri Leona. Tanpa kata tanpa aba-aba, Mickey langsung meraih kedua pipi Leona. Ia mendekap kedua pipi wanita itu hingga memerah lalu mengecup lembut bibir ranum Leona. Mickey mencuri bibir Leona yang saat ini masih duduk diam mematung di tepi ranjang. Sementara Mickey yang berdiri harus membungkukkan badannya untuk memberikan sentuhan itu.


Leona terdiam membulatkan kedua matanya merasakan sentuhan hangat dan manis bibir Mickey. Apakah ia sedang bermimpi? hanya ini yang terpikirkan olehnya.


"Sudah aku katakan jika aku benar-benar kecewa" ucap Mickey lirih usai memberi kecupan manis pada bibir Leona.


"Apa aku sedang bermimpi?" tanya Leona dengan senyum polosnya.


"Apa kau ingin aku membuatmu merasakan yang lebih nyata lagi?" tanya Mickey.


Kali ini Mickey kembali menyambar senyum polos Leona yang menggetarkan jantungnya itu dengan ciuman yang lebih liar. Dengan nafas yang memburu sesekali Mickey melepas ciumannya, menatap wajah cantik Leona yang mempesona, wajahnya menengadah ke atas dengan dagu yang menggunggah dirinya untuk terus melu mmtnya. Leona melingkarkan tangannya pada jenjang leher Mickey dan keduanya kembali saling bertautan kecupan.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2