Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 97 - Dia Si Pria Misterius


__ADS_3

Lusia kembali masuk ke dalam Cafe, ia tidak bisa menemukan siapa orang yang sudah mengirim buket bunga itu. Lusia terdiam menatap bunga itu lagi. "Grace" panggil Lusia melihat Grace yang baru saja melewatinya.


"Ambilah bunga ini" ucap Lusia dengan wajah datar masih memandang bunga itu.


"Kau serius Lusia?" tanya Grace kaget, namun hatinya berbunga-bunga mendengarnya.


Lusia hanya bisa menjawab dengan anggukan berulang kali. Ia tidak akan mungkin membawa bunga itu pulang ke Villa. Lusia sudah bisa bayangkan apa yang akan terjadi dengan Rayn jika mengetahui dirinya mendapatkan kiriman bunga itu sebanyak dan seindah itu.


Lusia mulai membayangkan beberapa adegan yang mungkin saja akan dilakukan Rayn terhadapnya.


Cuplikan 1


"Lusia, apa kau selingkuh? Katakan siapa pria itu karena aku akan melenyapkannya" ucap Rayn serius.


Lusia mengakhiri lamunannya ."Ahhh tidak-tidak, itu tidak boleh terjadi. Atau dia akan...." ucap Lusia lanjut dengan lamunan yang lain.


Cuplikan 2


"Lusia keluarlah, lihatlah apa yang aku berikan untukmu" ucap Rayn.


Tergambar dalam lamunannya jika dirinya keluar villa dan melihat halaman Villa yang sudah dipenuhi bunga, bukan hanya ratusan lagi tapi ribuan bunga mawar yang memenuhi seluruh halaman. Lalu Rayn tiba-tiba muncul dan berkata. "Bukan hanya bunga, tapi aku juga bisa membangun istana untukmu" ucap Rayn.


Lusia mengakhiri kembali lamunannya ."Tidak, itu terlalu lebay" ucap Lusia lanjut dengan lamunan yang lain.


Cuplikan 3


Lusia terbangun dari tidurnya dan mendapati Ryan yang sudah berada di kamarnya. "Rayn apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Lusia.


"Membawakan susu untukmu" sahutnya. "Minumlah, setelah kita minum bersama maka kita akan bisa bersama di alam sana. Aku tidak rela berbagi dirimu dengan pria lain, aku hanya ingin kau menjadi satu-satunya milikku" ucap Rayn.


"Maksudmu kau sudah menaruh racun pada susu ini?"' tanya Lusia. Rayn menjawab dengan anggukan dengan senyum bahagia.


Lusia mengakhiri kembali lamunannya "Wahhhh... dia tidak akan sebodoh itu. Apa dia pikir kita pasangan romeo dan juliet" teriak Lusia.


"Siapa romeo dan siapa yang menjadi juliet?" tanya Dave yang sudah sedari tadi berdiri memandang Lusia.


"Dave...! Kau mengejutkanku" sahut Lusia.


"Justru kak Lusia yang membuatku takut karena dari tadi berbicara sendiri" jawab Dave.


Kali ini Lusia benar-benar mengakhiri lamunannya. "Kau benar, baiklah lupakan Dave" jawab Lusia lalu pergi sembari menepuk kedua pipinya meninggalkan Dave yang masih bingung dengan sikap aneh Lusia baru saja.


"Lusia, kau yakin bunga ini untukku?" teriak Grace.

__ADS_1


"Ya, ambilah semuanya" sahut Lusia memeberi kode dengan tanganya, ia berjalan dengan gontai untuk kembali lanjut bekerja.


.


.


.


Hari sudah mulai larut malam, Lusia dan rekan yang lain bersiap untuk menutup Cafe. Grace yang berada satu shif dengannya tiba-tiba mendadak izin pulang lebih dahulu karena sakit perut. Jika Grace pulang lebih dahulu maka hanya tersisa Lusia dan Dave yang mengambil lembur hari ini.


"Lusia, aku akan membantu membersihkan Cafe dulu, setelah itu apa aku bisa pulang lebih awal? aku tidak bisa menemani kalian menunggu Pak Kelvin untuk datang ke Cafe" izin Grace.


"Kau bisa pulang sekarang Grace, aku dan Dave akan menyelesaikan sisanya dan menunggu Kelvin. Hanya tinggal membereskan beberapa barang dan buang sampah. Jangan khawatitr, kita berdua bisa melakukannya" ucap Lusia mengizinkan Grace untuk pulang lebih dahulu.


Setelah Grace pulang, kini hanya menyisakan Dave dan Lusia. "Apa Kelvin jadi ke Cafe?" tanya Lusia kepada Dave.


"Pastinya, karena Pak Kelvin mengatakan jika ada barang yang tertinggal di ruangannya dan Pak Kelvin memerlukan itu untuk di bawa ke luar kota besok" sahut Dave.


.


.


.


Masih di sebuah restoran Italia diseberang Friends Cafe, pria yang sedari tadi memperhatikan Lusia masih duduk di sana.


Tanpa mengatakan apapun, pria itu mengeluarkan uang dengan jumlah yang besar kepada pelayan, ia meletakkan uang itu di atas meja.


"Maaf Tuan, mungkin anda bisa datang kembali esok hari untuk memesan, karena hari ini kami sudah close order" ucap pelayan yang mengira jika pria itu mengeluarkan uang untuk memesan.


"Uang itu, anggap untuk membayar pesanan yang mungkin harusnya aku pesan. Artinya, anggap uang itu untuk membayar sewa meja ini hari ini" ucap pria itu.


Pria itu kembali mengeluarkan uang dengan jumlah yang lebih banyak lagi kepada pelayan. "Itu untuk waktu 10 menit ke depan. Biarkan aku tetap ada disini 10 menit lagi" ucapnya.


Mendengar hal itu, seorang manager restoran menghampiri mereka dan memberi kode kepada pelayan untuk meninggalkannya.


"Sepertinya anda sangat menyukai tempat kami dan kami minta maaf jika mungkin menu kami belum bisa memuaskan anda sehingga tidak memesan apapun. Kami akan memberi waktu yang anda minta 10 menit ke dapan. Mohon maaf, anda bisa mengambil uang anda kembali. Anda tidak perlu membayar fasilitas yang ada di restoran ini dan silahkan anda menikmati waktu anda" ucap Manager restoran dengan sopan.


Tanpa menguncap terima kasih kepada sang manager restoran, pria itu kembali fokus menatap Lusia yang terlihat sedang bercanda gurau sembari membersihkan Cafe.


"Kak Lusia, aku akan pergi membuang sampah" ucap Dave


"Kau bisa sendiri dengan sampah sebanyak itu? Sebentar aku akan membantumu" ucap Lusia menyelesaikan membalik kursi.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya. Jika Kak Lusia ikut maka siapa yang akan menjaga Cafe" tolak Dave.


"Kau benar" sahut Lusia dan Dave pun pergi membuang sampah.


Lusia sibuk memastikan beberapa aliran listrik sudah dimatikan. Tidak lama terdengar bunyi lonceng pintu menandakan adanya orang yang masuk ke dalam Cafe.


"Kau sudah kembali Dave? Cepat sekali" ucap Lusia.


Lusia berjalan ke depan, ia terkejut jika ternyata bukan Dave. "Maaf, hari ini kami sudah tutup, mungkin anda bisa kembali esok hari" ucap Lusia dengan sopan kepada seorang pria yang kini berdiri didepannya.


"Aku tahu jika sudah tutup. Aku datang bukan untuk memesan sesuatu, tapi datang untukmu Lusia" ucap pria itu.


"Heh?" sahut Lusia tidak paham akan perkataan pria itu.


"Kenapa menyambutku dengan wajah seperti itu? Apa kau tidak senang dengan kehadiranku?" tanya pria itu.


Lusia terdiam, ia tampak sedang berpikir keras sesaat, ada yang salah dengan pria itu. Lusia lalu menatap pria aneh yang menggunakan masker dan topi itu. Tatapan Lusia berhenti pada tangan pria itu yang memegang setangkai bunga mawar. Seketika Lusia langsung teringat akan bunga mawar yang ia terima tadi sore.


[Lusia, apa kau tahu jika aku selalu ada disisimu? Seperti hari ini, aku akan melihat senyummu indahmu itu saat menerimanya. Dari 100 tangkai untukmu, 1 tangkai ada padaku yang akan aku berikut langsung kepadamu]


Pesan itu yang terpintas dalam pikiran Lusia saat ini. Kali ini pria itu datang dengan membawa setangkai bunga  mawar yang ia janjikan.


"Kau..." ucap Lusia yang baru menyadari jika pria itu adalah orang misterius yang mengirimnya banyak hadiah selama ini. Dia juga pasti orang yang sama yang selalu mengikutinya dan memiliki banyak informasi tentangnya seperti seorang penguntit.


"Ya, aku. Bukankah sudah aku katakan jika aku ingin melihat senyummu saat menerima hadiahku? kenapa kau mengecewakanku?" ucap pria itu.


"Apa kita saling mengenal?" tanya Lusia gugup.


"Tentu saja" jawab pria itu dengan nada kecewa. "Aku adalah satu-satunya orang yang mengenalmu dengan baik dibanding siapapun" lanjut ucapnya dengan tersenyum bangga.


Pria itu begitu cepat mengubah suasana hatinya, hal itu terlihat dari ekspresi wajahnya seperti orang dengan kepribadian ganda.


"Mendekatlah Lusia, kenapa kau menghindariku?" tanya pria itu merentangkan tanganya mengambil langkah maju mendekati Lusia.


Lusia mulai merasa ketakutan, ia perlahan mengambil langkah mundur selangkah demi langkah. Tangannya bergerak meraih ponsel yang ada didalam appron yang masih ia kenakan.


 


"Rayn, Dave, siapapun itu cepat datanglah, ku mohon selamatkan aku" ucap Lusia dalam hati dengan tubuh yang gemetar.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2