Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 08 - Psikopat


__ADS_3

Perkataan Rayn membuat Lusia auto parno. Ia berfikir jika Rayn secara tidak langsung memintanya mematikan panggilan seolah tidak ingin suaranya didengar orang lain.


“Hello Dave, Dave… Dave… ha.. haha…  sepertinya dia sudah tertidur” jawab Lusia langsung menutup panggilan dan melepaskan earphone bluetooth.


“Oh tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang. Kenapa situasinya semakin menakutkan. Berada ditengah hutan tanpa penerangan, angin bertiup pertanda akan turun hujan lebat, petir menyambar, hanya bisa melihat pepohonan sepanjang jalan ditambah bersama pria dingin yang duduk seperti patung disebelah ku. Kenapa mesti complicated


banget.” Lusia hanya bisa komat-kamit dalam hati.


“Tapi kau harus tenang Lusia, karena setidaknya dia masih seorang manusia sama sepertimu. Benar, dia masih manusia. Ia bukan hantu, Iblis, Goblin atau Vampire. Kau hanya terlalu berlebihan Lusia. Jika dia ingin berniat buruk, pasti sudah melakukannya dari tadi ketika kita mulai memasuki ke kawasan ini” ucap Lusia dalam hati sesekali melirik kearah Rayn.


Lusia semakin tidak bisa mengendalikan pikirannya, ia merasa seperti menjadi pemeran utama dalam drama bergenre thriller dan horor. Terjebak bersama seseorang yang mungkin psikopat dan mengancam nyawanya.


“Tidak, itu tidak mungkin. Semua hanya kebetulan, dia bukan orang jahat. Jangan memfitnahnya hanya berdasarkan rasa parno yang konyol itu Lusia” lanjut celoteh Lusia dalam hati berusaha menghibur diri.


Layar navigasi menunjukkan jika dia akan berada dalam titik tujuannya setelah melewati satu belokan lagi didepannya. Dari kejauhan sudah terlihat cahaya terang dibalik pepohonan.


“OK, semuanya akan berakhir setelah kita melewati belokan itu” ucap Lusia penuh semangat dalam hati dengan semakin menambah kecepatan mobilnya.


Mobil berbelok dan berhenti didepan bangunan Villa besar dengan konsep modern minimalis natural. Perpaduan interior kayu modern dan arsitektur yang menarik membuat Villa itu terlihat mewah dan nyaman. Halaman depan Villa yang luas dengan banyak titik lampu penerangan menambah keindahan hunian itu.


“Akhirnya kita sudah sampai, aku masih tidak percaya jika ada hunian semewah ini disini” ucap Lusia didalam mobil dengan mata membelalak melihat sekitar.


“Turunlah… .“ perintah Rayn membuka pintu keluar dari mobil lalu berjalan menuju Villa.


“Derrrrrrr….!!!!.


Suara petir kembali menyambar disertai hujan yang langsung turun dengan lebatnya.


Lusia membuka kaca mobil dan berteriak “Maaf..., aku akan langsung kembali” teriaknya kepada Rayn yang tampak santai berjalan dibawah guyuran hujan.


“Hei… !!!“ teriak Lusia kembali dengan keras, derasnya hujan membuat suaranya pasti tidak terdengar oleh Rayn.


"Ting Ting Teng Tung ... ."


Terdengar sebuah instrument musik berbunyi berulang kali, Lusia menoleh ke kursi penumpang tempat sumber suara itu berasal.


‘Perisai Mickey memanggil…’


“Perisai Mickey… ?“ Lusia meraih ponsel yang tidak lain milik Rayn.


“Heiii… !” teriak Lusia melalui kaca mobil. Dilihatnya Rayn sudah memasuki teras Villa. Lusia bergegas turun dan berlari menghampirinya menunju teras Villa.


“Kau meninggalkan ponselmu… !” teriak Lusia sambil berlari.


Rayn yang sudah menekan beberapa sandi pintunya sontak menghentikan jarinya dan berbalik kearah Lusia. Dilihatnya gadis yang sudah mengantarnya pulang itu basah kuyup.


“Tunggu…  situasi apa ini? Apa sebenarnya dia dengan sengaja meninggalkan ponselnya agar aku kemari?" gumam Lusia mengingat jika Rayn sempat memintanya turun sebelum keluar dari mobil.


“Kau sudah bisa memberikannya kepadaku ?“ tanya Rayn melihat Lusia yang hanya melamun dengan memegang ponsel miliknya.


“Apa … ? Apa yang kau ingin aku berikan padamu?” tanya balik Lusia mengerutkan dahi dengan mendekap tubuhnya.


“Ponselku… !” jawab Rayn singkat mengulurkan tangannya.


“Oh… ponsel… haha“ ucap Lusia geli dengan pikirannya sendiri sambil mengembalikan ponsel milik Rayn.

__ADS_1


“Masuklah… .” ucap Rayn kembali menekan sandi pintu.


“Oh tidak perlu, aku akan langsung kembali“ sahut Lusia menolak.


Sandi terverifikasi dan pintu terbuka, Rayn mempersilahkan Lusia masuk. “Aku bisa membantumu menghangatkan tubuhmu sebentar didalam“ ucap Rayn masuk meninggalkan Lusia dengan membiarkan pintu tetap terbuka.


“Menghangatkan… ? Apa maksudnya dengan menghangatkan tubuhku ? Sudah kuduga pasti ada sesuatu, apa dia pria cabul ? .“ Lusia kembali berfikir yang tidak-tidak dengan mengintip sekilas kepergian Rayn dibalik pintu.


"Aku akan langsung kembali... !” Teriak Lusia.


“Derrrrrr... !“


Suara petir terus mengejutkan Lusia. “Oh tuhan nasib buruk apa yang sedang terjadi padaku sekarang“ ucap Lusia mengelus dada.


“Derrrrrr… !"


Suara petir dan kilat kembali menyambar saat Lusia akan melangkahkan kakinya meninggalkan Villa. Sontak ia mengurungkan niatnya dengan cepat kembali ke teras karena sangat terkejut.


“Apa kau bisa mengemudi disaat hujan lebat begini ?“ tanya Rayn keluar dengan handuk ditangannya.


“Derrrrrrr… !“


“Mama…, teriak Lusia. Ia langsung jongkok menunduk dengan menutup kedua telinganya.


Kedatangan Rayn dan suara petir yang mengejutkan benar-benar sudah mengacaukan pikirannya. Ia tampak sudah menyerah dengan situasinya saat ini.


Rayn tanpa permisi langsung meraih tangan Lusia. Sangat jelas terasa tangan Lusia yang dingin dan gemetar membuat Rayn menariknya berdiri lalu menuntunnya masuk kedalam Villa.


“Sudah ku katakan dari tadi untuk masuk kenapa kau masih saja berdiri diluar?“ tanya Rayn dengan membantu Lusia duduk di sofa.


Lusia hanya tertunduk meraih handuk dari tangan Rayn. “Terima kasih” ucapnya dengan nada lirih tidak berani memandang kearah Rayn.


“Aku akan menyalakan perapian untuk bisa menghangatkan tubuhmu” ucap Rayn merapikan beberapa kayu kering dan membuat api.


“Aaa perapian yang ia maksud dengan menghangatkan" gumam Lusia dalam hati.


"Kau tinggal disini seorang diri ?” tanya Lusia kepada Rayn yang membelakanginya.


“Eemm… .” jawab Rayn singkat.


“Tinggallah sejenak hingga hujan redah, mengemudi seorang diri saat ini terlalu berbahaya” ucap Rayn berdiri setelah selesai menyalakan perapian.


“Tapi tinggal disini bersama seorang pria tidak dikenal justru jauh lebih berbahaya… “ gumam Lusia lirih.


“Berbahaya… ?“ tanya Rayn menghela nafas kasar mendengar gumaman Lusia.


“Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk datang kemari“ sahut Rayn dengan nada santai berbalik kearah Lusia.


“Ya Tuhan, siapa sebenarnya pria ini. Benarkah dia yang sedari tadi bersamaku ?“ ucap Lusia dalam hati tercengang melihat pria yang berdiri didepannya memiliki paras tampan dengan rambut yang masih basah.


Sejauh ini Lusia hanya bisa mendengar suara Rayn yang bass dibalik maskernya. Ia juga hanya dapat menyimpulkan jika Rayn adalah pria yang angkuh, dingin dan tidak tahu terima kasih hanya melalui sikap dan tatapan tajam matanya saja. Tidak disangka jika pria yang memiliki tinggi 182cm dari tadi bersamanya berwajah super duper tampan.


“Kenapa kau menatapku ?” tanya Rayn melihat Lusia hanya diam bengong menatapnya.


“Oh tidak, tidak ada. Aku hanya merasa tidak seharusnya terlalu lama disini” ucap Lusia meletakkan handuk yang diberikan Rayn dimeja tepat disebelahnya. Ia berniat kembali pulang saat itu juga.

__ADS_1


“Jangan memaksa, bukankan kau tahu jika jalanan yang akan kau lewati tidak memiliki penerangan, sangat gelap, menanjak dan berkelok-kelok. Kau hanya akan mengemudi diantara pepohonan dengan caraku mengemudi yang seperti keong” ucap Rayn copy paste perkataan Lusia dalam panggilan tadi.


"Apa dia benar-benar memperhatikannya ?. Semakin menakutkan saja mendengarnya seperti mesin pengulang. Rayn benar-benar mengingatnya tanpa melewatkan 1 katapun. Rayn ingat jelas perkataan Lusia artinya sesungguhnya dia memperhatikan semuanya sedari tadi.


“Kenapa sama sekali tidak ada penerangan jalan ?” keluh Lusia mengalihkan pembicaraan.


“Aku tidak membutuhkannya” jawab Rayn.


“Kau yakin seorang diri ? tidak memiliki seorang pembantu atau sebagainya ?” tanya Lusia. Rayn tidak menjawab, ia hanya menghela nafas kasar menatap tajam gadis penakut tapi sangat cerewet dari tadi.


“Aaaa… haha aku hanya merasa hunian ini sangat besar jadi menurutku pasti sulit merawatnya sendiri” lanjut ucap Lusia dengan tawa canggung.


“Kenapa dia harus memilih tinggal ditempat sesunyi ini seorang diri, siapa yang akan tahu jika dia sakit atau bahkan sekarat. Apa dia pikir sedang berada di negeri dongeng” gumam dalam hati Lusia.


“Aku akan mengambilkan minuman untukmu” ucap Rayn meninggalkan Lusia.


“Jangan… !” Teriak Lusia dengan cepat.


“Jangan… ?” tanya Rayn bingung dengan maksud teriakan Lusia. Jika normalnya orang menolak dengan mengucapkan 'tidak, terima kasih' tapi dia dengan kata aneh ~jangan.


“Barusan dia bilang apa, minum ? Tunggu... !” Pikiran parno Lusia soal psikopat kembali muncul.


“Eeee, em… bukan itu maksudku… ” ucap Lusia bingung.


“Kau tidak perlu repot-repot, saat ini aku tidak haus” lanjut jawab Lusia cepat setelah koneksi di kepalanya kembali normal.


“Sudah kukatakan jangan memaksakan diri” ucap Rayn melihat tangan Lusia yang masih gemetar. Rayn meninggalkan Lusia pergi ke Dapur.


“Apa maksudnya dengan memaksakan diri. Meskipun sekarang aku membutuhkan air agar bisa lebih tenang, tetapi siapa yang tahu jika dia akan memasukkan sesuatu didalamnya. Lalu aku dibuatnya tidak sadarkan diri dan dia... Wah, menakutkan !” Lusia berfikir keras, memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi.


Lusia berdiri melihat sekeliling. “Hunian ini sangat luas tapi sangat minim furniture, apakah karena dia tinggal seorang diri ?” tanya Lusia membelalak matanya melihat keseluruhan yang ada dilantai 1.


Lusia menatap jendela dengan tirai terbuka. Hujan masih lebat bahkan sesekali masih terlihat kilat petir menyambar. Seketika jantungnya semakin berdegup kencang setelah dilihatnya Rayn berjalan ke arahnya yang terlihat jelas pantulannya di kaca. Rayn mendekatinya dengan perlahan mengayunkan tangan seolah akan menyentuh tubuh Lusia.


“Sudah cukup Lusia, jangan memberinya kesempatan. Tidak peduli hujan badai guntur petir, kau harus segera meninggalkan tempat ini.” Tekat Lusia dalam hati. Lusia memberanikan diri dengan cepat berbalik badan menghadap kearah Rayn.


'Ting.. Tung…'


Bel pintu berbunyi sontak membuat Rayn dan Lusia menoleh kearah pintu bersamaan. Lusia merasa ini kesempatannya untuk kabur meninggalkan tempat misterius itu.


“Tunggu…!!!”


Rayn menahan pergelangan tangan Lusia yang bergegas untuk pergi.


***To Be Continue***


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.

__ADS_1


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2