Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 80 - Cemburu ?


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Rayn yang sudah berpakaian rapi menuruni tangga dari lantai 2. Ia menghampiri Lusia yang juga sedang bersiap untuk pergi ke acara amal Friend's Cafe tempatnya bekerja. Lusia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kemana Rayn akan pergi dengan berpakaian serapi itu.


“Aku ada janji dengan Leona, tapi aku akan mengantarmu lebih dahulu” ucap Rayn seolah sudah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Lusia.


Lusia tidak paham kenapa Rayn harus bertemu Dr. Leona diluar Villa sementara Rayn hanya punya satu urusan dengan Leona yaitu soal pengobatan medisnya.


“Apa kau akan melakukan hipnoterapi diluar Villa?” tanya Lusia tidak ingin memendam rasa penasarannya.


Rayn mengatakan jika ia akan menjemput Dr.Leona di bandara, ia baru saja kembali dari Canada. Selama Rayn menunda pengobatan, Dr.Leona kembali ke Canada. Hari ini, karena jadwal Dr. Leona yang padat, Rayn memutuskan menemuinya sekaligus menjemputnya karena ia memilki urusan yang mendesak.


“Bukannya seharusnya Mickey yang menjemputnya atau kau cukup meminta Arka yang pergi menjemputnya. Apa urusan mendesak itu tentang urusan medismu?” tanya Lusia.


“Kenapa? Apa kau cemburu?” tanya Ryan dengan tersenyum.


Rayn mendekati Lusia, ia memeluk kekasihnya yang masih memandangnya dengan wajah ingin tahu. “Ada sesuatu yang harus aku bahas tanpa Mickey. Tadinya aku ingin pergi menemuinya denganmu, karena tidak ada yang bisa aku lakukan tanpamu. Tapi, karena kau sudah memiliki jadwal lain, maka aku hanya bisa mengalah dan pergi tanpamu” ucap Rayn.


“Dan aku tidak ingin mengganggu waktumu itu” lanjut ucap Rayn melepaskan pelukannya memandang wajah Lusia penuh kehangatan. “Aku sudah meminta Mickey membantu mengatur beberapa cake ke acara amal kalian dan akan aku mengunjungimu disana sekalian menjemputmu” lanjutnya.


Lusia menganggukkan kepalanya. "Baiklah dan terima kasih kau sudah mengirimkan cake untuk acara cafe" ucapnya.


.


.


.


Hari ini Friend’s Cafe sedang mengadakan kegiatan amal yang rutin dilakukan setiap 6 bulan sekali. Acara amal itu dilakukan di sebuah panti jompo. Perusahan ayah Kelvin adalah salah satu donatur terbesar di panti jompo itu.


Kegiatan yang selalu mereka lakukan adalah mengadakan pesta kecil untuk para lansia. Serangkaian acara yang selalu mereka lakukan adalah bernyanyi, bermain game sederhana serta menyiapkan hidangan.


Kedatangan mereka selalu disambut hangat oleh para lansia yang sudah menantikan kehadiran mereka. Lusia dan staf Friends Cafe langsung disibukan dengan rangkaian acara yang begitu meriah diantara para lansia. Lusia dan staf yang lain begitu tulus dan penuh kesabaran dalam membantu para lansia yang memiliki beberapa keterbatasan.


Acara itu sudah sampai pada puncak acara dimana para lansia menikmati hidangan yang mereka sajikan. Lusia membantu seorang lansia yang ingin diantar kembali ke kamar olehnya. Seorang wanita yang sudah paru baya itu begitu manja dan bersikap seolah dia sangat mengenal Lusia.


“Nenek senang bisa melihatmu tumbuh dewasa dengan baik, bahkan kau masih saja cantik” ucap wanita paru baya itu duduk dikursi roda yang sedang Lusia dorong.


“Benarkah? Tapi kecantikan saya pasti tidak mampu mengalahkan kecantikan nenek waktu masih muda kan” sahut Lusia memuji balik.


“Kapan kau akan mengunjunginya?” tanyanya kepada Lusia.


Lusia berhenti mendorong, ia lalu berjongkok di depan kursi roda untuk mengimbangi sang nenek. “Mengunjungi siapa yang nenek maksud?” tanya Lusia.


Wanita itu tiba-tiba merangkul Lusia dengan menangis histeris, ia mengelus pundak Lusia dengan kasar. “Malang sekali nasibnya… oh Ya Tuhanku, apa salahnya harus mengalami semua penderitaan ini. Kenapa dia harus dikurung disini seorang diri sementara ada dirimu nak” ucap nenek itu dengan terus menangis.


Lusia tidak paham dengan apa yang dikatakan nenek itu, ia hanya bisa berusaha untuk menenangkannya tanpa tahu apa maksud dari ucapannya. Tidak lama datang dua orang perawat membantu Lusia. Salah seorang perawat itu membujuk sang nenek untuk tetap tenang dan mengantarnya kembali ke kamarnya.


“Maaf, beliau selalu seperti itu, terkadang suka tiba-tiba menangis histeris seolah mengingat sesuatu yang menurutnya jika ingatannya itu benar” ucap salah satu perawat meminta maaf kepada Lusia lalu pamit pergi menyusul rekannya.


Lusia hanya menghela nafas, ia pamit kepada perawat untuk kembali ke rekan-rekannya. Saat ia hendak kembali tiba-tiba terdengar keributan dari kamar nenek itu, ia mendengar nenek itu semakin menangis dan berteriak meminta seorang pasian lain untuk keluar.


“Keluarlah… cepatlah keluar sebelum kau menyesal” teriaknya.


Lusia berniat untuk mendatangi kamar itu, namun tiba-tiba Kelvin datang memanggilnya. Kelvin sudah dari tadi mencarinya, ia sudah menelusuri setiap bangsal untuk menemukan Lusia. Ia semakin kesulitan karena Lusia meninggalkan ponselnya.


"Apa ada masalah?" tanya Kelvin menghampiri Lusia.


"Tidak ada, tadi aku hanya mengantar seorang nenek tapi tiba-tiba ia menangis dengan memelukkan. Dia mengatakan sesuatu yang aku tidak mengerti. Mungkin ia salah mengingat atau semacamnya. Tapi sudah ada perawat yang membantunya tadi" ujar Lusia.


Kelvin mengajak Lusia kembali karena acara telah selesai dan staf lain sedang kemas-kemas untuk kembali. Melihat Lusia tampak kelelahan, Kelvin mengajaknya untuk duduk istirahat sejenak disebuah bangku kayu yang mereka temui dalam perjalanan kembali.


"Aku salut padamu yang selalu terjun sendiri ke acara seperti ini ditengah kesibukanmu dan juga ayahmu yang begitu dermawan” ucap Lusia memuji Kelvin.


“Meskipun tanpa acara ini, aku juga selalu datang kemari” sahut Kelvin.


“Sungguh?” tanya Lusia.


“Ada seseorang yang selalu aku kunjungi disini, ia adalah seorang pria yang sudah sangat lama dirawat disini. Jujur, awalnya aku membawanya kemari karena aku menginginkan kesembuhannya untuk alasan pribadi. Tapi semakin lama dan semakin sering aku mulai merasa iba dan merasa bersalah kepadanya. Pantaskah aku melakukannya sementara kita adalah orang yang berdosa kepadanya. Dan akhirnya aku memutuskan akan tetap merawatnya untuk menebus dosa itu” ucap Kelvin.


“Dosa? Apa dia keluargamu?” tanya Lusia.

__ADS_1


Kelvin menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin lagi lanjut membahasanya dengan Lusia. Kelvin tidak ingin mengatakan kepada Lusia jika pria itu sebenarnya adalah korban dari keserakahan ayahnya.


Kelvin tidak siap jika harus jujur mengatakan jika ayahnya tidak seperti yang Lusia pikirkan. Ayahnya memang seorang pebisnis yang kaya dan terkenal dibidangnya. Namun untuk gambaran jika ayahnya seorang dermawan yang memiliki berjuta kebaikan itu hanyalah image yang sengaja dibangun ayahnya untuk menutupi sifat aslinya. Sebuah topeng untuk mendapat perhatian dan empaty publik.


.


.


.


Rayn saat ini sedang dalam perjalanan menjemput Lusia ke panti jompo tempat dimana Lusia dan staf Cefe mengadakan acara amal. Rayn kesulitan menghubungi Lusia untuk memberitahu jika dirinya sudah dekat.


Saat sudah memasuki gerbang utama panti, Rayn dan Arka masih harus berkendara hampir 1km untuk bisa sampai di gedung utama. Ditengah perjalanan ia melihat seorang wanita yang tidak asing baginya duduk di tepi jalan dengan sepeda yang tergeletak disebelah wanita itu.


Rayn meminta Arka menghentikan mobilnya untuk menanyakan apakah wanita itu membutuhkan bantuan. Arka keluar dari mobil dan segera menghampiri wanita yang tidak lain adalah teman kerja Lusia di Cafe, wanita itu adalah Vhia.


“Apa anda baik-baik saja?” tanya Arka.


Vhia adalah wanita yang sangat pandai dalam mengingat setiap orang yang pernah ditemuinya apalagi jika pria itu pernah menarik perhatiannya. Vhia langsung tahu jika Arka adalah bodyguard yang berkali-kali datang ke Cafe bersama Lusia.


“Apa kau datang seorang diri?” tanya Vhia tanpa basi-basi. Kepalanya sudah clingak clinguk memastikan apa Arka datang dengan seorang pria yang juga pernah menarik perhatiannya. Tentu saja pria yang dia cari adalah Rayn.


Arka tidak menjawab pertanyaan wanita itu, karena baginya bukan urusan wanita itu apakah ia datang sendiri atau tidak. Arka hanya lanjut tetap bertanya apakah wanita itu membutuhkan bantuannya.


Melihat Arka tidak segera menyelaikan urusannya, Rayn akhirnya turun dari mobil dan bertanya apa dia bisa kembali lanjut berkendara.


"Oh, Tuan Rayn, anda bisa menunggu sebentar" ucap Arka.


"Maaf, jika anda tidak membutuhkan bantuan maka saya akan pergi" ucap Arka kepada Vhia.


Melihat keberadaan Rayn, Vhia mengabaikan apa yang sudah diucapkan Arka seolah ia tidak kasat mata. Vhia tiba-tiba memegang kakinya dengan merintih kesakitan. Ia mengatakan jika ia baru saja terjatuh dari sepeda dan saat ini merasakan sakit pada kakinya.


Arka mencoba memeriksanya, namun ia tidak melihat adanya tanda-tanda terkilir atau terluka. Vhia terus merintih dan meminta bantuan apakah dia boleh menumpang. Arka menoleh dan memandang ke arah Rayn. Ia tidak yakin jika Rayn akan mengizinkannya.


Rayn mengangguk yang artinya ia memperbolehkan Vhia menumpang. Arka membantu membopoh Vhia dan mengarahkannya untuk duduk dikursi depan.


Melihat Rayn yang duduk di kursi belakang, Vhia menolak untuk duduk didepan. "Tidak apa, aku bisa duduk dibelakang saja, bagaimana aku bisa duduk didepan sementara pemiliknya duduk dibelakang" ucap Vhia dengan sengaja supaya bisa duduk dekat Rayn.


“Jangan khawatir, kau bisa duduk didepan” potong Rayn.


Vhia akhirnya menyerah dan duduk dibangku depan. Sepanjang perjalanan ia terus bertanya tentang Rayn. Ryan tidak terlalu merespon, ia justru pura-pura tidak mendengar dan meraih earphone seolah mendengarkan musik.


Mereka telah sampai diparkiran gedung utama. Acara tersebut berada di halaman utama dan perlu berjalan kaki lagi untuk pergi kesana. Rayn meminta Arka membawa Vhia untuk mencari bantuan medis, sementara dia akan pergi seorang diri.


Mendengar perintah Rayn kepada Arka, tiba-tiba Vhia mengatakan jika kakinya sudah baik-baik saja. Ia menawarkan diri untuk mengantar Rayn karena ia juga akan pergi kembali ke rekan-rekannya.


Rayn tidak merespon, ia terus saja berjalan pergi menemui Lusia. Vhia mengikutinya berjalan tidak jauh disebelah Rayn karena terhalang Arka yang mencoba melindungi Rayn dari wanita itu.


“Apa kau punya hubungan spesial dengan Lusia?” tanya Vhia yang masih saja terus berbicara meskipun Ryan tidak terlalu merespon, sesekali Rayn hanya menjawab dengan senyuman.


"Lusia sangat serasi dengan bos kami Pak Kelvin, mereka bahkan tampak romantis, tapi entah kenapa dia menolaknya. Bukankah dia gadis yang aneh, menolak kesempatan emas yang diidamkan gadis-gadis lain" ucap Vhia.


Vhia adalah orang yang tidak pernah bisa menyaring ucapannya. Ia terus mencoba membuka obrolan dengan Rayn. Dan ia selalu menggiring pembicaraan itu dengan membahas Lusia. Seolah ia sengaja membuat Rayn berpikir buruk tentang Lusia.


Mereka sudah hampir sampai, Rayn melihat para staf Cafe yang sedang sibuk kemas-kemas tapi ia tidak melihat keberadaan Lusia diantara mereka.


Vhia kembali melanjutkan celotehnya. "Wah, bahkan disaat acara seperti ini dia pasti pergi berduan bersama Pak Kelvin. Pak Kelvin adalah pria yang pantang menyerah, ia akan mencari kesempatan untuk selalu bisa berdua dengan Lusia" lanjut oceh Vhia.


Rayn hanya diam, ia tidak merespon, padangannya hanya lurus memandang ke depan dengan serius. Hal itu membuat Vhia merasa kesal. Meskipun ia tidak mendapat respon yang memuaskan dari Rayn, Vhia masih tersenyum manis, sebuah senyum yang sangat berbeda dengan isi hatinya.


“Oh ya, kau adalah pria yang mengirim cake untuk acara cafe kita kan. Jika begitu kau juga tamu kita. Di akhir acara kita semua biasa pergi untuk acara makan bersama. Kita akan sangat senang jika kau bisa bergabung. Aku orang yang bertugas mengatur makan menu dan tempat. Aku juga belum memutuksan kita akan makan direstoran mana, apa mungkin kau punya saran?" Tanya Vhia.


"Atau kau suka masakan apa? Masakan Chiha, Japang, Korea, Eropa? Karena kau juga sudah menolongku, maka kau bisa memilihnya" lanjut ucap Vhia masih berusaha menarik perhatian Rayn.


Pandangan Rayn ternyata sedari tadi fokus melihat Lusia yang berjalan ke arahnya bersama Kelvin. Keduanya tampak menikmati perbincangan mereka. Hal itu terlihat dari senyum Lusia kepada Kelvin. Rayn melihat Kelvin menghentikan langkahnya lalu ia menyeka rambut Lusia.


Dengan wajah yang terlihat tenang Rayn bertanya kepada Vhia. "Apa kau juga makan-makanan mentah?" tanya Rayn singkat membuka suara tanpa memandang ke arah Vhia.


"Makanan mentah?" tanya Vhia dengan mimik jijik.


"Apa maksudmu sashimi? Aku menyukainya, apa itu menu yang kau usulkan? Jika begitu aku akan memesan tempat direstoran jepang disekitar sini" jawab Vhia.

__ADS_1


"Ada daun dirambutmu” ucap Kelvin meraih daun kecil dirambut Lusia.


"Terima kasih" sahut Lusia tersenyum. Ia lalu melihat keberadaan Rayn yang sedang menatapnya.


"Oh Rayn..." ucap Lusia. Ia segera mempercepat langkanya menghampiri Rayn dan meninggalkan Kelvin yang berjalan dibelakang. Kelvin hanya menghela nafas lalu tersenyum akan reaksi Lusia ketika melihat Rayn.


Lusia menghentikan langkahnya melihat Vhia memperkenalkan Rayn. "Teman-teman, dia adalah pria yang sudah mengirimkan begitu banyak cake untuk acara tadi. Dan karena kali ini kita ada tamu spesial, maka acara makan kita sudah aku pesankan Sashimi di restoran Jepang sekitar sini" ucap Vhia.


"Hore.... Yeah!!!" sorak para staf.


"Sashimi...?" tanya Lusia yang tidak bisa makan makanan mentah.


"Kenapa harus Sashimi, bukannya kau tau Lusia tidak bisa makan makanan mentah?" sahut Kelvin.


"Benar, kak Lusia tidak bisa memakannya" lanjut Dave.


"Tidak apa, sudah lama anggota tidak menikmati makanan istimewah. Aku bisa skip dan kalian bisa pergi. Sungguh, aku baik-baik saja, jangan khawaatir" ucap Rayn.


"Rayn, kau tetap bergabung dengan kita kan ya?" Tanya Vhia kepada Rayn.


"Aku juga tidak bisa makan Sashimi" ucap Rayn dengan memandang Lusia.


"Apa, kau tadi... ?" tanya Vhia.


"Aku bertanya apa kau menyukainya bukan berarti aku juga menyukainya. Aku tidak pernah mengatakan jika aku menyukainya, aku hanya bertanya" jawab Rayn.


Vhia geram karena ia merasa sudah dibodohi oleh Rayn. Ryan tahu jika Lusia tidak bisa makan makanan mentah, karena itu ia mengambil kesempatan dengan mendorong Vhia untuk menentukan menu makanan yang Lusia tidak bisa makan. Dengan begitu maka ia bisa segera membawa Lusia pergi dan memisahkannya dari Kelvin.


"Maaf jika kami tidak bisa bergabung. Aku datang kemari juga untuk menjemput kekasihku. Karena kebetulan kami sama-sama tidak bisa makan sahimi, jadi dengan sangat menyesal kami melewatkan makan bersama ini" ucap Rayn.


“Sayang, apa kita bisa kembali sekarang?" Tanya Rayn kepada Lusia.


Lusia mengangguk lalu ia segera pergi mengambil tasnya dan pamit. "Aku pamit dan maaf tidak bisa bergabung dengan kalian" ucap Lusia kepada Kelvin.


"Sungguh mengejutkanku" sahut Kelvin.


Lusia menunduk, ia paham dengan maksud ucapan Kelvin. Kelvin tampak terkejut dengan pernyataan Rayn jika Lusia adalah kekasihnya. Lusia hanya bisa meminta maaf lalu pamit.


Di dalam mobil, Lusia bertanya kepada Rayn kenapa Vhia berpikir jika Rayn menyukai Sashimi? Bahkan ia terlihat seolah sangat mengenal Rayn.


"Aku hanya tidak sengaja bertemu dan memberinya tumpangan" jawab Rayn. "Apa dia juga teman baikmu?" lanjut tanya Rayn.


"Tidak terlalu dekat, hanya sebatas teman kerja" jawab Lusia.


"Baguslah, sepertinya dia gadis dengan kepribadian kurang baik" sahut Rayn.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Lusia.


"Hanya feeling saja" jawab Rayn.


Rayn tidak mengatakan kepada Lusia jika Vhia sudah banyak mengatakan buruk tentang Lusia. Sepanjang perjalanan Rayn banyak bertanya soal Kelvin dan sejauh mana Lusia dekat dengannya. Lusia justru menjadikan kesempatan itu untuk menggoda Rayn dengan membuatnya cemburu.


Sesampai di Villa, Rayn memanggil Lusia yang hendak menekan sandi pintu. "Lusia..." panggilnya.


Lusia menoleh memandang Rayn yang tampak serius memandang dirinya. "Jika saja, jika saja aku tidak bisa sembuh atau mungkin lebih buruknya kau tidak bisa menyentuhku, apa kau akan tetap bersamaku?" tanya Rayn.


"Rayn ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?" tanya Lusia balik.


"Apa kau akan tetap bersamaku?" Rayn tetap kekeh pada pertanyaannya.


"Rayn... apa ini yang kau bilang urusan mendesak dengan Dr. Leona?" tanya Lusia kembali. Ia tidak menjawab pertanyaan Rayn karena pikirannya dipenuhi dengan kecemasan terhadap sikap Rayn yang tiba-tiba.


"Aku sudah membuat janji dengan Leona besok untuk melanjutkan hipnoterapi" sahut Rayn.


Lusia mendekat dan memeluk Rayn, ia tidak mengerti apa yang membuat Rayn tiba-tiba khawatir soal hubungan dan phobianya. Saat ini, yang Lusia bisa lakukan adalah meyakinkan Rayn jika apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkannya.


.


.


*** To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2