Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 23 - Jalan Hidupku Miliku


__ADS_3

Hari sudah mulai sore, Lusia bersiap untuk lanjut berkerja di Cafe berangkat dari Villa Rayn. Hari ini ia sudah sangat terlambat untuk pergi ke Cafe. Hal ini dikarenakan ia menunggu orang furniture menyelesaikan perkerjaannya. Bukan tugas Lusia menunggu mereka hingga selesai, ia bisa pergi begitu saja. Namun, Lusia khawatir jika harus meninggalkan Rayn seorang diri bersama orang asing di Villa.


Sepanjang perjalanan Lusia melihat beberapa orang sedang melakukan perkerjaan proyek di kawasan Villa Rayn. Ia sangat penasaran dengan apa yang mereka kerjakan. Namun karena sudah sangat terlambat, ia terus saja jalan dan semakin menambah kecepatan motornya.


Sesampai di Cafe, Lusia sangat merasa bersalah kepada Vhia karena datang terlambat. Vhia adalah karyawan sama seniornya dengan dirinya. Dan ini hari pertama Vhia kembali berkerja setelah ambil cuti liburan.


“Hai Vhia, maaf aku terlambat. Bagaimana dengan cutimu?” sapa Lusia meminta maaf.


Vhia dengan wajah tidak senang mencibirnya, ia merasa kesal karena tidak bisa pulang tepat waktu gara-gara Lusia datang terlambat. "Apa karena aku habis ambil libur panjang, kau sengaja melakukannya” ucapnya.


“Ahhh jangan bicara seperti itu, maafkan aku. Besok aku akan datang lebih awal dan kau bisa pulang lebih awal juga sebagai gantinya.” Lusia berusaha merayu agar Vhia tidak marah padanya.


“Jangan terlalu bereaksi berlihan, telat sedikit harusnya bukan masalah. Toh juga habis libur panjang.” sahut Dave membuat Vhia semakin geram.


“Bocah sepertimu tidak perlu banyak bicara, urus saja pacarmu yang sudah dari beberapa jam lalu duduk disana. Jika hanya ingin tenang belajar bukan pergi ke Cafe, tapi pergi saja ke perpustakaan atau diam dirumah” celetuk Vhia semakin kesal.


“Bukankah barusan kak Vhia mengeluh ingin pulang cepat, kenapa masih disini meributkan orang lain?” tanya Dave membalas perkataan Vhia.


“Sudahlah Dave” ucap Lusia meminta Dave melanjutkan pekerjaannya. “Dan Vhia, ini salahku. Aku minta maaf” ucapnya kepada Vhia.


"Ini karena kau terlalu memanjakannya, dia jadi berani melawan” bentak Vhia sambil melepas apronnya dan pergi. Ia bahkan pulang tanpa pamit masih dengan wajah kesal.


Lusia yang mengenal karakter Vhia sudah tidak kaget dan terbiasa dengan situasi ini. Namun, kali ini Dave yang selama ini selalu cuek tidak biasanya meladeni Vhia. Vhia memang selalu bersikap sinis kepada karyawan lain. Karakternya yang mudah marah dan selalu berkata pedas membuat karyawan lain tidak begitu menyukainya.


“Oh ya, apa gadis yang mengejarmu datang lagi?” tanya Lusia kepada Dave sembari memakai apronnya dan melilihat kesekeliling Cafe. Kemudian ia tersenyum setelah mendapati seorang gadis SMA yang duduk di ujung dengan wajah serius membaca membuku.


“Aaa…, apa jangan-jangan baru saja kau marah karena Vhia membawa-bawa gadis itu?” goda Lusia.


“Jangan suka mengaitkan hal yang tidak-tidak” jawab Dave yang fokus stok opname dengan mengobrak-abrik isi lemari.


“Kau ingin aku membantumu mengatakan cinta padanya?” tanya Lusia dengan menyandarkan tubuhnya di lemari es.


“Apa aku terlihat seperti orang yang sedang mengejarnya?” tanya Dave tegas sembari menutup buku ditangannya lalu berdiri menatap Lusia.


“Hahaha, aku hanya bercanda. Jangan memasang wajah seperti itu, menakutkanku saja. Sepertinya dia sangat menyukaimu karena selalu datang disaat masuk shiftmu. Entah hanya sekedar untuk melihatmu atau agar merasa selalu berada di tempat yang sama denganmu. Sungguh membuatku merinding” lanjut goda Lusia.


Tiba-tiba ponsel Lusia bergetar, panggilan masuk dari Kelvin membuatnya menjawab panggilan itu dengan cepat. Karena bagaimanapun juga Kelvin adalah atasanya.


“Apa yang dikatakan David benar?” tanya Kelvin tanpa menyapa.


“Tentang?” tanya kembali Lusia yang tidak paham perihal apa yang sedang ditanyakan Kelvin.


“Tentang kau berhenti dari toko bunga, tentang kau yang akan segera pindah. Tentang kau berkerja dan tinggal…” ucap Kelvin dengan nada semakin tinggi. Belum sampai ia menyelesaikan ucapannya Lusia sudah memotong.


“Semuanya bisa kita bahas nanti, kau tahu saat ini aku sedang berkeja. Ada pelanggan, aku matikan teleponnya. Sampai ketemu nanti malam" ucap Lusia memotong perkataan Kelvin.

__ADS_1


Mendengar Lusia mematikan telepon, Kelvin memejamkan matanya sejenak lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia sedang menatap layar cctv Cafe tepat di area Lusia berada sekarang. Kelvin tahu jika Lusia hanya ingin menghindarinya sekarang, karena saat ini tidak ada pengunjung yang harus ia layani.


“Ada apa denganku, aku bahkan tak mampu menjelaskannya by telepon. Jadi, bagaimana aku bisa menghadapinya langsung nanti” ucapnya dengan menghantukkan kepalanya berulang ke layar monitor kasir. Dave yang melihatnya langsung cepat menahan kepala Lusia dengan telapak tangannya. Lusia pun tersadar setelah merasakan kepalanya mendarat di telapak tangan Dave.


“Oh maaf“ ucap Lusia dengan suara lesu.


Dave menunjukkan perhatiannya dengan mengambilkan Lusia air minum untuk menjernihkan pikirannya. Tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu Cafe dan menutupnya dengan kasar. Hal ini menarik perhatian pengunjung lain termasuk Lusia dan Dave. Dilihatnya gadis yang datang untuk Dave pergi meninggalkan Cafe tiba-tiba.


Lusia meminta Dave mengejarnya, karena ia merasa sepertinya gadis yang bernama Nara itu kesal melihat perlakuan Dave kepada Lusia.


“Untuk apa aku mengejarnya, lagi pula baguslah jika itu bisa membuatnya berhenti mengusikku” jawab Dave singkat.


“Jangan seperti itu. Aku tidak ingin menjadi jembatan kesalapahaman diatara kalian. Menjadi orang ketiga karena disalahpahami itu menyakiti harga diiriku” ucap Lusia mendramatisir situasi yang ada.


Tidak lama gadis itu kembali menghapiri Lusia dan Dave yang masih membicarakannya. “Kak Lusia…” teriaknya.


“Yah…?” tanya Lusia.


“Aku menerimanya karena kau orang yang selalu baik kepadanya. Tapi, aku akan sangat marah jika itu adalah gadis lain. Jadi, bantu aku mengawasinya. Jangan biarkan dia melakukannya kepada gadis lain” ucapnya penuh ketegasan membungkam Lusia.


“Dan kau, aku akan selalu mengawasimu” ucapnya kepada Dave penuh ancaman dengan memberi simbol penganwasan dengan kedua jarinya lalu pergi. Dave hanya diam menghela nafas pendek menatapnya pergi.


“Wah, ini baru dirinya. Tidakkah kau merasa jika itu sangat keren?. Dia berani mengancamku seolah ingin mengatakan jika kau miliknya. Tapi tunggu, apa kau juga dengar dia tadi menyebut namaku?. Bagaimana dia tahu, sudah lama aku melihatnya mengekorimu, tapi kita belum pernah saling memperkenalkan diri” tanya Lusia kepada Dave.


“Dan bagaimana dia tahu aku baik padamu?” lanjut tanya Lusia heran.


“Tapi aku menyukai kegigihannya” sahut Lusia tersenyum. Dave hanya menggelengkan kepala.


***


Reisa malakukan panggilan Video dengan Lusia saat jam istirahat Lusia. Ia memberitahu Lusia jika David sudah meminta orang dari restaurant untuk mengatur pesta BBQ nanti malam. Kelvin juga sudah menyetujuinya. Saat ini ia sedang berbelanja peralatan baru yang mungkin akan dibutuhkan Lusia selama tinggal di Villa nanti.


"Lihatlah sendal ini sangat lucu bukan, apa kita beli sepasang?” tanya Reisa dalam panggilan Video.


“Kau tidak perlu repot, aku bsia membawa beberapa barang milikku yang lama” jawab Lusia.


“Tidak boleh! Biarkan itu tetap ada disana. Bukankah kau bilang masih akan mendapat libur diakhir pekan. Jadi, untuk apa kau membawa semuanya. Apa kau tidak ingin mengunjungiku lagi?” tanya Resia.


“Bukan begitu, tentu saja aku akan datang. Tapi, aku tidak yakin apa kau akan merindukanku?. Atau kau justru akan senang, karena tanpa adanya aku disana kau akan lebih memiliki banyak kesempatan bersamanya bukan?. Jangan-jangan kau juga sedang mencari beberapa keperluan baru untuknya tinggal?” ledek Lusia.


“Hei…, mana mungkin!” teriak Reisa dengan malu. Lusia hanya tertawa melihat reaksi sahabatnya.


“Jika dia tidak ingin membelikanku, aku bisa menyiapkannya sendiri” sahut David mendekat dan menunjukkan Boxer baru ditangannya kepada Reisa. Reisa yang sangat malu langsung mengambilnya secara kasar kemudian memukul David dan menyuruhnya pergi. “Apa kau sudah gila…!” teriaknya.


“Hahaha, awas kau berani macam-macam” sahut Lusia dengan tertawa. Ia sudah hafal mati jika David memang selalu suka menggoda Reisa.

__ADS_1


“Oh ya soal Kevin, aku tidak tahu bagaimana membahasnya nanti dengannya” potong Lusia.


“Lusia, bukan salahmu jika tidak menerima cintanya. Aku tahu, karena kau sangat menghargainya maka ini menjadi rumit bagimu. Jika kau benar-benar yakin memang tidak ada perasaan khusus untukknya, maka katakan dengan penuh percaya diri. Itu tidak akan menyakitinya. Keraguanmu nanti yang justru akan menjadi harapan baginya. Tapi, apa kau yakin dengan perasaanmu terhadapnya?” tanya Reisa.


“Eemm” jawab Lusia menunduk.


***


Malam ini mereka memulai pesta bbq tepat waktu. Dave disibukkan dengan membakar beberapa tusuk bbq. Sementara David sibuk membantu Reisa memotong buah.


Kelvin dari tadi hanya duduk dikursi memandang keseruan mereka. Lusia menghampirinya dengan membawa beberapa hasil panggangan Dave untuk Kelvin. Lusia dengan ragu perlahan duduk didepan Kelvin dengan menyodorkan makanan yang ia bawa. “Makanlah beberapa” ucapnya lirih.


“Selama ini aku hanya menunggumu untuk lebih dulu mengatakannya padaku, apapun itu. Tapi kali ini, aku pikir akan selalu berakhir sama. Kau tak akan pernah membuka diri kepadaku, karena itu kini aku yang akan bertanya” ucap Kelvin menegakkan bahunya menatap serius Lusia.


"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku tentang situasi yang sedang kau hadapi? Semua hal yang mereka tahu tapi tidak aku ketahui” tanya Kelvin.


"Tapi apa yang ingin ku katakan padamu kali ini sepertinya kau sudah mengetahuinya" jawab Lusia.


“Lusia, apa yakin dengan apa yang kau lakukan? Bahkan aku masih ingat jelas betapa ketakutannya dirimu waktu itu” sahut Kelvin dengan nada tinggi.


Reisa yang mendengarnya ingin menghampiri untuk membantu Lusia menjelaskan. Tetapi David menahan dan melarangnya. “Mereka harus menyelesaikannya sendiri” ucap David meminta Reisa kembali melanjutkan memotong buah.


“Aku bisa terima jika karena suatu alasan kau terpaksa menerima perkerjaan itu. Tapi tidak dengan tinggal disana” ucap Kelvin.


“Kenapa? Kenapa kau berfikir jika aku terpaksa? Dan kenapa kau tidak bisa menerimanya?” tanya Lusia tegas.


Melihat Kelvin tak menjawab, Lusia melanjutkan kembali perkataannya dengan hati-hati. “Aku tahu kau sangat menghawatirkanku. Tetapi, kau salah jika aku harus selalu mempertimbangkan apa kau akan mengizinkannya atau tidak. Hidupku, pada akhirnya akulah orang yang akan menjalaninya. Keputusan itu milikku dan aku tidak bisa terus mengandalkan orang lain untuk menuntunku. Aku sangat menghargai perasaanmu. Tapi, aku harap kekhawatiranmu tidak berlebihan sehingga membuatku sulit untuk bisa dengan percaya diri memilih jalanku.


Kelvin hanya diam menatap sendu Lusia. Ia menyadari jika apa yang dikatakan Lusia benar. Hanya saja ia merasa, jika selama ini dirinya terlalu bodoh hanya dengan berdiam diri dan menunggu.


“Kau pernah berkata padaku ketika aku hanya berjuang untuk keluargaku. Kau memintaku, jika sekali dalam hidupku cobalah untuk membuka pintu kebahagian bagi diriku sendiri.” Lusia memberanikan diri menyelesaikan kalimatnya dengan mengepalkan tangan diatas pangkuannya.


“Ini saatnya aku melakukannya” lanjutnya dengan tegas menatap Kelvin.


*** To Be Continued***


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Silahkan klik FAVORITE untuk terus update BAB selanjutnya yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.

__ADS_1


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2