
Wedding Day....
Lusia kini berada dalam ruangan bersama dengan para penata rias profesional yang biasa merias para model kelas atas. Perias wajah mulai merias dengan berbagai jenis bedak dan palette yang berisi macam-macam warna make up ditangannya. Mereka terlihat sangat menganggumi dan memuji wajah cantik Lusia yang terpancar alami seperti bidadari.
Seorang penata pakaian mulai membantu merapikan baju yang sudah dipakai Lusia, ia lalu memperhatikan sentuhan terakhir dan memperbaiki beberapa detail baju yang saat ini membalut indah tubuh Lusia. Lusia menatap dirinya pada kaca rias didepannya, perlahan senyum manis terurai dibibirnya.
Sungguh seperti sebuah mimpi, karena hari ini akan menjadi hari yang membahagiakan baginya. Ia mengenakan gaun nan cantik pada momen sakral sekali seumur hidupnya. Dirinya dan Rayn akan mengikat janji suci sebagai pasangan suami dan istri.
"Kau cantik sekali nak" ucap Ibu Lusia.
Lusia lekas memeluk sang ibu, ia berusaha menahan air matanya. Lusia menahan air mata itu bukan hanya agar riasannya tidak rusak, tapi ia sungguh ingin terlihat bahagia didepan sang ibunda.
"Ibu sangat bahagia dan ibu harap kau juga bahagia. Hari ini kau harus menjadi wanita yang paling bahagia didunia" ucap ibu Lusia sembari menggenggam tangan putrinya.
Lusia memeluk ibunya dan mengucapkan terima kasih karena sudah membesarkannya dengan baik. Tanpa sadar ibu Lusia meneteskan air mata, namun dengan segera ia mengusapnya lalu tersenyum. Ia melepas pelukan Lusia lalu pamit untuk pergi ke Church lebih dulu.
Lusia menatap punggung sang ibu yang berjalan keluar ruangan. Ia lalu duduk mepersiapkan diri dan menunggu waktunya. Lusia menghela nafas panjang untuk mengurangi rasa gugupnya lalu tersenyum.
Pernikahan Rayn dan Lusia memang akan menjadi sebuah pernikahan yang berbeda dengan pernikahan pasangan lainnya. Pernikahan keduanya hanya akan dihadiri ibu dan adik lusia sebagai saksi dari pengantin wanita, sementara Mickey dan Dr. Leona yang akan menjadi saksi mewakili keluarga Rayn.
Meskipun pernikahannya tidak semegah perikahan pada umumnya dan tidak bisa dihadiri banyak orang, namun Lusia tidak mengeluhkan apapun kepada Rayn. Ia sangat sadar kenapa mereka hanya bisa melangsungkan pernikahan sederhana ini, semua karena phobia yang diderita Rayn. Tidak ada yang Lusia sesali akan semua kondisi ini, karena ini telah menjadi keputusannya.
Rayn telah berjanji jika ia akan memberikan sebuah resepsi pernikahan seperti yang didamkan setiap wanita termasuk Lusia nantinya. Memang benar jika ia tidak bisa melakukannya saat ini, tapi Rayn menjajikan jika itu pasti akan terwujud karena dirinya akan berjuang untuk sembuh demi Lusia.
...***...
Di dalam sebuah Church yang akan menjadi tempat saksi bisu dimana Rayn dan Lusia mengikat janji suci mereka, Rayn berdiri tegap menanti kehadiran pengantin wanita. Rayn terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna hitam.
Tidak selang lama terdengar suara pintu terbuka dengan kasar. Meskipun terdengar mengejutkan, tapi Rayn yang sedari tadi menungggu langsung mengurai senyum lalu menoleh, mengira jika pintu itu terbuka karena kehadiran Lusia. Tidak hanya Rayn, semua yang ada didalam Church pun ikut menoleh dan mereka semua terkejut ketika melihat siapa yang masuk.
"Ada apa ini? Kemana pengantin wanitanya?" tanya Reisa dengan tergesa-gesa masuk diikuti David yang berjalan dibelakangnya.
"Apa acaranya sudah selesai? Apa aku terlambat? Atau apa terjadi sesuatu? dimana Lusia?" lanjut tanya Reisa dengan wajah panik.
Reisa semakin panik ketika semua hanya menatapnya dalam diam, seolah menunjukkan telah terjadi sesuatu atau lebih buruknya pernikahan ini dibatalkan.
"Reisa, tenangkan dirimu. Kau membuat mereka bingung dan ikut panik" pinta David meraih pundak Reisa.
Reisa dan David baru saja tiba di Kanada, ia langsung menuju tempat acara sesampainya dibandara. Sebenarnya Reisa sudahmerencanakan akan berada di Kanada satu hari sebelum hari pernikahan Lusia dan Rayn. Namun terjadi sedikit masalah dengan Visa Reisa, karena sebab itu ia datang terlambat.
__ADS_1
Reisa mengalami serangan panik, karena ia mengira jika dirinya terlambat dan melewatkan momen membahagiakan sahabat baiknya itu. Bahkan sepanjang perjalanan dari bandara ia tiada henti-hentinya mengeluh kepada David dan meminta driver untuk bekendara dengan cepat.
"Reisa, kau belum terlambat. Acara belum dimulai, duduklah, kita sedang menunggu pengantin wanitanya masuk" ucap Ibu Lusia meraih tangan Reisa dan menuntunya untuk duduk tepat disebelahnya, David pun ikut duduk disamping Reisa.
Seketika Reisa menghela nafas lega. "Syukurlah, aku benar-benar akan menyesal seumur hidup jika melewatkannya" ucapnya.
...***...
Lusia kini berdiri menatap pintu Church yang ada didepannya. Di depan Lusia, juga berdiri sepasang anak laki-laki dan perempun menggemaskan dengan buket bunga ditangan mereka. Keduanya menjadi pengiring pengantin wanita yang sudah siap untuk mengantarkan Lusia ke altar setelah pintu didepan mereka dibuka. Lusia menjadi semakin gugup, namun tiba-tiba terdengar suara seorang pria.
"Sukurlah jika belum terlambat" ucap seorang pria yang tiba-tiba berdiri disebelah Lusia.
Lusia seketika menoleh dan ia terkejut melihat siapa yang saat ini berada disampingnya. "Tuan Charles" panggilnya.
Tuan Charles tanpa kata menekuk siku tangannya dan memberi isyarat kepada Lusia untuk merangkul tangannya. "Aku tahu, seharusnya ini menjadi tugas ayahmu. Tapi, aku tidak akan membiarkan calon menantuku masuk seorang diri" ucapnya dengan tatapan fokus ke arah pintu tanpa memandang Lusia.
"Tuan Charles..." sahut Lusia lirih yang masih hanya bisa memanggil namanya.
"Bukankah seharusnya aku sudah bisa dipanggil -Ayah? Sama seperti Rayn memanggilku" ucap Tuan Charles tersenyum. Kali ini ia menoleh memandang Lusia dengan mengurai senyum hangat seorang ayah.
Lusia tersenyum lalu menggandeng tangan ayah Rayn karena kehadiran ayah Rayn itu artinya dia telah merestui mereka. Jujur, Lusia masih tidak mengerti apa yang membuat ayah Rayn merestuinya. Namun, yang Lusia rasakan saat ini, ia percaya jika ayah Rayn tidak seperti yang Rayn pikirkan selama ini.
Para staf sudah bersiap membukakan pintu untuk Lusia. Pintu terbuka, pengiring pengantin dan pengantin wanita pun masuk.
Lusia mulai berjalan perlahan-lahan menuju altar Church di iringi lagu Ave Maria bersama dengan ayah Rayn. Lusia nampak cantik dengan gaun berwarna putih, di kepalanya ada mahkota bunga dan memegang buket bunga yang sudah menjadi bagian dalam sebuah pernikahan. Lusia tersenyum memandang Rayn yang sudah manantinya disana, Ryan pun memandangnya dengan tersenyum manis.
Rayn menyambut Lusia yang kini sudah berdiri tepat di depannya. Tuan Charles melepaskan rangkulan tangan Lusia lalu menyerahkannya kepada Rayn. Rayn meraih tangan Lusia dan mereka saling berpandangan lalu melanjutkan langkah. Sampai depan altar, mereka menatap ke depan dan berhenti.
Rayn dan Lusia lalu saling berhadapan, mendengarkan intruksi seseorang yang membibing keduanya mengikat janji.
Rayn meraih tangan Lusia, perlahan ia mulai memasangkan cincin dijari manis Lusia dan mengucapkan Janji Sucinya.
“Saya, Rayn Dean Anderson, dengan ini menerima engkau Lusia Alkeysha sebagai pendampingku hidupku. Aku berjanji untuk selalu setia menemanimu, hingga maut memisahkan kita. Tidak akan goyah dikarenakan oleh godaan. Seratus tahun, bahkan seribu tahun lamanya, bagaikan sebuah batu karang aku akan mencintai, membahagiakan dan menghargaimu. Dengan ini saya berjanji.”
Lusia terharu mendengar janji suci yang diucapkan Rayn. Sekarang waktu dirinya memasangkan cincin di jari manis Rayn, mengucapkan janji suci didepan para saksi yang hadir dan juga didepan ibunya tercinta.
“Saya...” Lusia berhenti sejenak lalu melanjutkan kembali janji sucinya.
“Saya, Lusia Alkeysha, bersedia menjadi pendamping hidupmu, Rayn Dean Anderson. Saya berjanji untuk tetap setia menemanimu, hingga maut memisahkan kita. Sekalipun waktu berlalu seratus atau seribu tahun lamanya... Bagaikan sinar matahari dan angin yang bertiup, saya akan selalu setia menemanimu di sisimu. Mencintaimu, membahagiakanmu dan menghargaimu. Dengan ini saya berjanji.”
Rayn tersenyum bahagia mendengarnya, ia menatap wajah Lusia dengan teduhnya saat mereka sudah dinyatakan resmi sebagai pasangan suami dan istri. Rayn semakin erat menggenggam tangan Lusia yang masih dalam genggamannya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir ranum Lusia. Butiran cahaya kecil semerbak berkilauan mewarnai kebahagiaan mereka.
__ADS_1
Para saksi pun berdiri dan bertepuk tangan, mereka semua ikut berbahagia. Ibu Lusia mengurai senyum bahagia disertai air mata yang menetes. Air mata itu sungguh air mata kebahagiannya. Akhirnya ia bisa sedikit menebus rasa berasalahnya karena selalu menjadi beban bagi Lusia.
"Andaikan ayahmu ada disini, ia pasti akan sangat bahagia menggandeng dan mengantar putrinya ke altar. Sayang, maafkan aku karena tidak bisa membawamu kemari dan melihat momen bahagia putri kita. Kau tahu, putri kita sangat cantik hari ini, dia bahkan tersenyum bahagia" ucapnya dalam hati menatap Lusia yang sedang tersenyum bahagia didepan Rayn.
Kini, Rayn dan Lusia telah resmi menjadi pasangan suami dan istri baik dimata agama dan dimata hukum. Rayn mesih memandang lekat wajah istrinya yang sekarang benar-benar adalah pemilik hatinya dan juga menjadi miliknya seutuhnya. Senyum manis terurai dibibir Rayn saat melihat Lusia juga memandangnya dan membalas tersenyum kepadanya.
Rayn mendekat hendak memeluk Lusia, namun teriakan Reisa menghentikan langkahnya. "Kau sudah mendapatkan ciumannya, kali ini giliran kita membarikan pelukan untuk mengucapkan selamat" ucap Reisa lalu merentangkan tangannya hendak memeluk Luisa.
Rayn menelan salivanya menahan tangannya yang juga sudah siap memeluk Lusia. Perlahan ia menurunkan kedua tangnannya dan melangkah menjauh. Ia memberikan kesempatan kepada Reisa untuk mendapatkan hak nya sebagai sahabat baik Lusia.
"Paman..." teriak Lucas memanggil Rayn dari kejahuan.
Lucas merentangkan tangannya ke arah Rayn. "Lucas akan memberika paman pelukan jarak jauh" ucapnya tersenyum kepada Rayn.
Rayn pun membalasnya dengan tersenyum dan merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan jarak jauh dari Lucas. Dalam hati Rayn, ia sangat ingin benar-benar memberikan pelukannya, tapi ia tidak bisa memeluknya karena phobia yang ia derita.
Rayn lalu menatap sang ayah yang bediri disana, ayah Rayn tersenyum dan mengangguk tatkala Rayn memandang dirinya. Rayn pun ingin memeluknya, namun apalah daya, ia juga tidak bisa melakukannya.
Lusia berjalan menghampiri Rayn yang terlihat seorang diri. Ia lalu menggenggam tangan Rayn. "Ayo kita ambil gambar bersama mereka" ucap Lusia.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melepaskan tanganmu" lanjut ucap Lusia dengan tersenyum ketika melihat Rayn terdiam.
Rayn dan Lusia berdiri berdampingan dimana Lusia menggenggam erat tangan Rayn. Di belakang mereka berdua, berdiri ibu Lusia dan ayah Rayn serta yang lain dengan jarak satu meter dari mereka. Fotografer akan berusaha mengambil gambar sebaik mungkin agar tidak terlihat ada jarak diantara mereka.
Rayn berusaha menahan phobianya dan tersenyum menatap kamera, begitu juga dengan Lusia. Semuanya pun tersenyum bahagia dan foto pernikahan mereka tercipta.
.
.
*** To Be Continued ***
Happy Wedding ya, buat pasangan Lusia dan Rayn. Lusia Cantik bangetttt dan Rayn juga Ganteng bangettt, pada setuju tidak sih ??
Author turut mengundang kalian semua untuk ikut berhalu ria hadir di acara pernikahan mereka berdua. Silahkan isi buku tamu undangan di kolom komentar sebagai bukti kehadiran kalian yah ....
Welcome banget kalau para reader setia Lusia dan Rayn mau kasih hadiah pernikahan buat mereka, bisa dalam bentuk hadiah baik bunga atau apapun itu kolom hadiah dan Vote nya yah... 🤗
__ADS_1
Terima Kasih.... 🙏