Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 60 - Colokan Listrik


__ADS_3

Lusia masih sibuk telepon Reisa di ruang ganti. Tidak lama terdengar suara gaduh di luar. Lusia segera menutup telepon dan melihat situasi apa yang sedang terjadi di Cefe.


“Jika aku jadi pria itu, pasti aku sudah akan memutuskannya …” ucap Vhia menatap perdebatan antara sepasang kekasih yang saling beradu argumen.


"Apa yang terjadi? tanya Lusia kepada Lusia.


Wanita itu berdiri dari duduknya berniat meninggalkan pria yang sedang mencoba menahannya.


Pyar…!!!.


Suara gelas jatuh dan pecah diikuti dengan wanita itu yang terjatuh dan tersungkur. Bajunya basah karena mimuman yang tumpah dilantai. Terlihat kakinya mengalami luka memar kecil karena terhantuk lantai.


Pengunjung wanita itu terjatuh karena tersandung penutup colokan listrik yang berada di bawah meja. Penutup colokan listrik yang masih terbukalah yang membuatnya tersandung dan terjatuh saat hendak pergi meninggalkan meja.


“Hya…. Sialan!!!” teriak wanita itu, ia menoleh ke arah staf Cafe dengan wajah penuh esmosi.


“Vhia, bukannya aku sudah mengingatkanmu tadi untuk permisi menutupnya, karena gadis itu bisa jatuh jika tidak sadar” ucap Lusia dengan segera ia berlari membantu pengunjung wanita itu. Apa yang Lusia takutkan benar terjadi karena Vhia tidak melakukan apa yang ia minta.


Wanita itu menjadi semakin marah melihat para pengunjung Cafe yang lain sedang merekam kejadian saat ia jatuh tersungkur. Pria yang bersamanya hanya diam melihatnya lalu meninggalkanya tanpa perasaan usai mengatakan kata putus.


“Baiklah, aku turuti maumu, kita putus” ucapnya lalu pergi.


“Hya… !! Dasar bedebah sialan” teriaknya kepada kekasihnya yang pergi meninggalkan Cafe dengan menutupi wajahnya.


“Maaf, saya bantu anda untuk bangun” ucap Lusia dengan meraih tubuh wanita itu untuk bangkit.


Dugg…!!!.


Wanita itu malah mendorong Lusia yang berusaha membantunya hingga Lusia jatuh terduduk.


“Aaah…“ desis Lusia merasakan sakit di telapak tangannya karena terkena pecahan gelas saat ia mencoba menyanggah tubuhnya.


Wanita itu bangun dengan sendirinya dan berteriak kepada Lusia yang masih terduduk di lantai. “Hei, pelayan sialan, kalian jangan sok baik deh setelah membuatku terjatuh” ucapnya dengan berusaha membersihkan roknya.


“Apa dia sedang mabuk atau frustasi karena ditinggal kekasihnya?” bisik pengunjung lain.


“Dia kan jatuh sendiri, kenapa menyalahkan pelayan Cafe? Dasar wanita aneh dan tidak tahu diri“ gerutu para pengunjung yang membela Lusia.


Mendengar dirinya semakin dibicarakan buruk dan tetap direkam membuat wanita itu semakin murka.


“Hentikan rekamannya atau aku akan merusak semua ponsel murahan kalian” teriaknya pada pengunjung.


Dave yang baru dari toilet langsung keluar. Ia terkejut melihat Lusia yang terduduk di lantai, sementara staf lain termasuk Vhia tetap berada di dalam meja kasir hanya melihat apa yang sedang terjadi.


“Kalian tidak bisa bekerja dengan baik yah? Pemalas dan sangat payah. Kalian semua hanya makan gaji buta yah. Jika aku jadi bos kalian akan aku pecat kalian semua dan tidak sudih memperkejakan orang-orang seperti kalian” ocehnya dengan penuh amarah.


Wanita itu semakin tidak terkendali dengan semakin menunjukkan ketidakpuasan dan amarahnya dengan memaki makian yang tidak berdasar dengan terus merendahkan pelayan Cafe terutama Lusia.


“Bukankah kalian harusnya menutup lubang listrik usai kalian merapikannya dari pengunjung sebelumnya? Itu seharusnya sudah beres sebelum kita duduk. Karena kerja kalian tidak becus aku jadi sial” komplain gadis itu dengan menendang kursi.


Dave menghampiri Lusia dan membantunya bangun, Lusia kembali meminta maaf kepada wanita itu. “Maafkan kelalain kami, seharusnya kami sudah menutupnya sebelum anda memilih duduk disini“ ucap Lusia memohon.


“Kau tidak tahu berapa harga baju yang sudah rusak dengan noda ini? Dan kau juga harus bertanggung jawab atas lukaku. Aku akan menuntut Cafe ini dan meminta ganti rugi” ancam gadis itu.


“Tunggu, sebelum anda mengatakannya, kita harus melihat situasinya dahulu. Kita bisa bicarakan dengan baik-baik, seperti yang anda lihat dia juga terluka” potong Dave.


“Bagaimana dia tak tahu malu menuntutnya setelah dia juga mendorongnya” bisik pengunjung.


“Kalian tidak ingin berhenti merekam? Baiklah, aku akan memberi kalian tontonan yang lebih seru” teriaknya dengan menunjuk pengunjung.

__ADS_1


“Aku akan bermurah hati tidak menuntutmu dan Cafe ini, bersujutlah!” perintah wanita itu dengan menyilangkan kedua tangannya di depan Lusia.


“Gadis Gila…!” gumam Vhia yang masih hanya menjadi penonton.


Lusia terdiam, ia tidak ingin semua menjadi semakin rumit dan kacau apalagi sampai harus merugikan Cafe. “Baiklah” ucap Lusia memposisikan dirinya bersiap untuk bersujut.


“Kak Lusia, apa yang kak Lusia lakukan?” tanya Dave mencoba menahan Lusia.


Dave mulai kesal dan berteriak kepada wanita itu. “Apa kau sudah tidak waras?” teriaknya.


“Dave..!!!” teriak Lusia.


Wanita itu kembali kesal. “Apa? Tidak waras? Hei... !! Kalian lihat, bagaimana kurang ajarnya semua pelayan disini. Lihatlah, bahkan dia berani mengumpatku dan tidak merasa bersalah" teriaknya.


“Apa anda tidak lihat jika anda juga sudah melukainya?” teriak Dave melihat darah yang mengalir ditangan Lusia.


"Dasar wanita jal**ng tak tahu malu“ gumam Vhia berjalan keluar dan bersandar di depan meja kasir. Vhia tahu jelas, jika wanita itu sendirilah yang usai memakai colokan listrik itu.


Lusia menatap ke arah Vhia, namun Vhia justru menunduk memalingkan muka.


“Hentikan Dave, aku akan menyelesaikannya” perintah Lusia dengan suara lirih meminta Dave ambil langkah mundur dari wanita itu.


Lusia menarik nafas dan mengepalkan kedua tangannya dengan meremas apron yang ia pakai, ia mencoba menahan amarah meskipun terus disalahkan dan diperlakukan tidak adil. Ia sadar, saat ini bukan ego dan harga dirinya yang harus ia perjuangkan. Meskipun itu adalah kelalaian staf lain, namun ia merasa jika dirinya berada dalam satu perusahaan yang sama, maka itu juga menjadi kelalaiannya dan ia tidak ingin merugikan atau merusak nama baik Cafe.


“Maafkan kelalaian kami” ucap Lusia merendah dan memilih untuk bersujut agar semuanya selesai. Wanita itu tersenyum sinis dengan perasaan puas.


“Kak Lusia tanganmu semakin berdarah, kita obati lukanya dulu” ucap Dave dengan menahan Lusia yang sudah akan bersujut.


“Tidak apa Dave, ini hanya sebentar saja” ucapnya dengan tetap lanjut hendak bersujut.


Para pengunjung tetap merekam dan saling berbisik.


“Pelayan yang malang, kasihan sekali dia.”


“Gadis itu benar-benar sombong, kasar dan tak tahu malu”


“Pelayan itu melakukannya pasti takut jika Cafe ini dituntut.”


Diantara bisikan-bisikan pengunjung yang lebih membela Cafe, terdengar teriakan seorang pria yang masuk kedalam Cafe.


“Hentikan...!!!!” teriaknya


Kelvin masuk dan meletakkan kantong kopi yang is bawa di salah satu meja pengunjung. Ia dengan langkah cepat berjalan menghampiri Lusia. Kelvin mendengar keseluruhan dari Dave yang menghubungi Kelvin dan membiarkan ponselnya menyala dikantong apronnya.


“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Kelvin meraih Lusia yang sudah dalam posisi menunduk.


“Ahh…“ desah Lusia merasakan tangannya yang terluka digenggam Kelvin.


Melihat kedatangan Kelvin, Vhia langsung memasang raut wajah cemas dan ketakutan. Bagi seorang Vhia yang selalu bersikap tidak puduli, tentu saja ia sengaja hanya supaya Kelvin juga melihatnya perhatian.


Kelvin memandang wanita itu dengan tatapan kasar. “Kau ingin apa? menuntut kami?" tanyanya. "Meski aku belum tahu pasti masalahnya, tapi yang pasti kau juga sudah dengan sangaja melukai stafku” lanjut ucap Kelvin kepada wanita itu.


Kelvin menyindir dengan menatap luka kecil dilutut wanita itu. “Lakukanlah…, aku tidak akan memberi kompesansi apapun. Jadi, jika kau ingin menuntut... lakukanlah. Mari kita ambil jalur hukum” ucap Kelvin dengan lantang.


Kelvin kemudian menatap para pengunjung yang masih merekam. “Dan kalian semua, teruslah merekam hingga selesai. Karena aku akan membutuhkannya nanti" ucapnya.


Kelvin lalu kembali memandang wanita itu. "Aku adalah pemilik Cafe ini. Aku akan mengikuti caramu, menuntutmu balik dengan jalur hukum atas apa yang sudah kalu lakukan dengan stafku” lanjut Kelvin.


“Wahhh… Kalian lihat, orang-orang ini kini menyerangku bersamaan. Kalian semua dengar, Cafe ini sangat mengerikan dan aku tidak ingin membuang waktu berurusan dengan orang rendahan seperti kalian. Ini adalah Cafe terburuk dan aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku lagi disini. Akan aku pastikan Cafe ini akan tutup setelah mereka tahu betapa bobroknya Cafe ini. Aku akan menyebarkannya ke semua orang yang aku kenal” ancamnya dengan memaki lalu meraih tasnya dan pergi.

__ADS_1


Wanita itu sadar, jika sebenarnya kelalaian itu pada dirinya sendiri yang usai menggunakan colokan listrik tanpa menutupnya kembali. Ia berulah karena merasa sangat malu dan frustasi karena ditinggal dan diputuskan kekasihnya dengan kondisi yang memprihatinkan.


“Hah …!! Dia pergi begitu saja setelah membual” ucap Vhia memandang rendah gadis itu. “Memastikan semua orang yang dikenalnya tidak akan memasuki Cefe kami katanya? Aku bahkan ragu apa dia memiliki teman dengan karakter murahannya” lanjut ucap Vhia dengan membersihkan sisa pecahan gelas.


“Ambilkan kotak obat segera..!!! Teriak Kelvin kepada Dave.


“Wah… dia keren sekali” bisik para pengunjung wanita yang masih merekam. dan memuji Kelvin.


“Oh… Lusia, wanita tadi sangat mengerikan. Dave cepat bawa kotak obatnya” ucap Vhia penuh kepalsuan peduli dengan Lusia. Sebenarnya hal ini terjadi karena kelalaian Vhia. Tetapi ia tanpa rasa bersalah hanya menonton dan membiarkan Lusia dimaki dan direndahkan.


“Apa kau lupa menutupnya?” tanya Lusia.


“Ah, maafkan aku. Kau tahu jika Cafe sangat ramai bahkan aku tidak mengingat mana yang sudah terpakai atau tidak. Maafkan aku” jawab Vhia dengan nada seolah merasa sangat bersalah.


Vhia kali ini benar-benar sangat keterlaluan, dia bukan hanya tidak peduli dengan apa yang terjadi, namun dia secara tidak langsung sengaja membiarkan wanita tadi berbohong. Vhia jelas ingat akan permintaan Lusia dan hendak menutupnya saat menyajikan minuman ke meja gadis itu.


Vhia tidak melakukannya karena wanita itu masih menggunakannya, ia melihat dengan sangat jelas wanita itu sendirilah yang usai menggunakan colokan listrik dan tidak menutupnya.


“Aaaww…” desah Lusia merasakan sakit saat Kelvin membersihkan darah ditangannya.


“Hya, Lusia. Apa kau baru sadar jika lukamu sangat dalam dan menyakitkan?” tanya Kelvin mendapati tangan Lusia memiliki luka robek yang panjang dan dalam.


Lusia juga tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Hari ini benar-benar terasa berat untuknya. Saat ia masih risau dengan masalah Rayn, tapi masih juga harus terluka dan menerima makian dari pengunjung. Bahkan, sampai mengharuskannya untuk berlutut.


Kelvin memutuskan membawa Lusia ke Rumah Sakit untuk mendapatkan tindakan medis dengan jahitan. Lusia awalnya menolak, namun Kelvin memaksa dan mengancam akan memberhentikannya bekerja jika keras kepala. Lusia akhirnya mengikuti permintaan Kelvin pergi ke rumah sakit.


.


.


Di villa, Rayn sedang berebahan di kamarnya dan sibuk bermain dengan ponselnya. Ia sedang mengintip akun sosial media Lusia dengan iseng melihat postingan photo Lusia. Semakin lama pencarian Rayn mengarahkannya ke sebuah postingan, dimana postingan itu diunggah dengan memberi tag pada akun Lusia.


Sebuah unggahan Video yang terjadi di Cafe benar-benar sudah tersebar cepat.


“Apa-apan ini?” tanya Rayn terkejut melihat video Lusia terduduk di lantai dengan terus direndahkan oleh seorang wanita.


Ryan memeriksa waktu tayang unggahan itu. Mengetaui video itu baru diunggah sekitar 2 jam lalu, membuat Rayn menjadi geram. Ia sontak turun dari tempat tidurnya dan meraih jaket. Rayn mencoba terus menghubungi Lusia namun tidak mendapat respon dari Lusia.


“Hya.. hya… kau ingin pergi kemana?” tanya Mickey melihat Rayn keluar terburu-buru dengan kunci mobil ditangannya.


“Rayn…. !!!” teriak Mickey dengan nampan berisi segelas Ice Americano. Mickey mengikuti dan berjalan dibelakang Rayn dengan terus bertanya. Hingga akhirnya ia harus menghentikan langkahnya karena pintu yang tertutup didepan wajahnya usai Rayn keluar.


Mikcey pergi ke jendela dan memandang Rayn dari balik jendela. “Apa aku tak kasat mata?” tanyanya dengan meneguk Ice Americano yang seharusnya ia buat untuk Rayn.


“Haisttt… bagaimana dia bisa menikmati minuman pahit ini?” tanyanya dengan menatap Ice Americano milik Rayn yang asal Ia seruput.


Mickey meraih ponsel disakunya dan menghubungi Arka. "Dimana posisimu?" tanyanya.


"Saya sudah memasuki kawasan Villa dan sebentar lagi sampai Tuan Mickey" jawab Arka.


"Baguslah, kau sebentar lagi akan melihat Mobil Rayn keluar, ikuti dia dan laporkan kepadaku" perintah Mickey.


"Oh, benar. Saya sudah melihat mobil Tuan Rayn. Baik Tuan Mickey" sahut Arka menutup telepon lalu putar arah usai mobil Rayn melewatinya.


.


.


*** To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2