
Dalam perjalanan kembali Mickey masih terus penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan Arka dan Rayn. Ia kembali bertanya kepada Arka. “Apa itu soal Lusia?” tanyanya.
Arka bukannya menjawab apa yang Mickey tanyakan, tapi ia justru bertanya balik kepada Mickey. “Apa anda tidak mengenalinya setelah melihat photo Nona Lusia tadi Tuan Mickey?” tanya Arka.
“Tentu saja aku tahu jika itu Lusia. Jujur dia memang sedikit berbeda, mungkin hanya karena lebih muda, tidak terlalu memiliki rias wajah dan rambut kuncir kudanya yang membuatnya tampak…" Mickey berpikir sejenak merasa ragu akan sesuatu.
"Tunggu !!!” lanjut Mickey menghentikan ucapannya sendiri. Ia merogoh ponsel dari saku celananya.
Mickey membuka dan memandang kembali photo Lusia yang sempat ia potret di kedai Ibu Lusia tadi. “Penampilan ini tampak tidak asing” ucapnya ragu dengan semakin memperbesar gambar di ponselnya. “Ahh… apa dia gadis berandalan itu?” tanyanya kepada Rayn dan Arka dengan nada terkejut dan suara yang lantang di dalam mobil.
"Apa yang kau lakukan dengan photo di ponselmu itu” tanya Ryan menatap layar ponsel Mickey.
Dengan penuh percaya diri Mickey memamerkan photo Lusia yang ia ambil di kedai ibunya Lusia. “Aku memotretnya tadi untuk aku tunjukan dan membully nya… haha”’ jawab Mickey.
“Tanpa izin?” tanya Rayn.
“Hei, jangan konyol. Jika aku meminta izin dengan mengatakan untuk membully nya, apa menurutmu dia akan mengizinkan?” tanya Mickey dengan tertawa.
Rayn tanpa kata langsung merampas ponsel Mickey, lalu ia sibuk bermain dengan ponsel Mickey. “Bukan hanya tidak diizinkan untuk menyimpannya, tapi kau juga tidak aku izinkan untuk membully dia” ucap Rayn dengan melempar kembali ponsel kepada Mickey.
Dengan cepat Mickey menangkapnya dan langsung memeriksa ponselnya. “Rayn… kau menghapusnya????” teriak Mickey.
Rayn hanya tersenyum mendengarnya. Ia sudah dengan gerak cepat saat memakai ponsel Mickey mengirim gambar itu ke nomornya. Usai pesan itu masuk, ia langsung menghapus histori pesan dan menghapus photo itu dari ponsel Mickey. Terlihat wajah kecewa Mickey saat Rayn telah menghancurkan rencananya. Arka hanya tersenyum menanggapi sikap keduanya.
“Kau meledekku?” tanya Mickey melihat respon Arka. “Tapi bagaimana kau bisa mengingatnya? Dan sejak kapan?” lanjut tanyanya kepada Arka.
“Anda mungkin tidak terlalu mengenalinya karena saat itu anda tidak banyak berinteraksi dengannya, hanya saya dan Tuan Muda Rayn. Saya menyadarinya sejak saat pertama kali saya bertemu dengan Nona Lusia di Villa” jawab Arka.
“Apa? Jadi sejak awal? Lalu kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku jika dia adalah gadis berandal itu?” potong Mickey.
“Tuan Muda Rayn yang melarangnya” jawab Arka dengan memandang Rayn dari kaca spion.
Selama ini Rayn dan Arka sudah menyadari jika Lusia adalah gadis kuncir kuda itu. Namun, mereka menyembunyikannya karena Lusia pun juga tidak mengenali mereka.
Rayn menatap tajam Mickey. “Jaga ucapanmu!” sahutnya. Ia merasa kesal kepada Mickey yang menyebut Lusia adalah gadis berandal. Bagi Rayn, Lusia adalah seseorang yang sudah membantunya saat itu.
#Flashback.
Saat Rayn pertama kali kembali dari Canada, ia melihat sekumpulan para anak muda sekolah yang bermain skateboard jalanan. Mereka tampak sedang membully sesama teman sekolahnua. Saat itu Rayn yang masih berusia 17 tahun hanya seorang diri menyaksikan mereka dari kejauhan.
Mereka yang menyadari telah di perhatikan oleh Ryan langsung menghentikan aksinya. Merka meminta anak yg sedang di bully nya pergi. Salah seorang anak dari mereka hendak menghampiri Rayn dan memanggilnya. Ryan yang menyadari kelemahan akan phobia yang ia miliki, mengabaikan panggilan itu dan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Salah satu anak bernama Erik adalah ketua dari kelompok anak-anak itu. Ia berpikir jika sikap Rayn yang pergi dan mengabaikan mereka karena takut dan sengaja menghindar. Erik lalu memiliki niat lain dengan mengajak anggota lainnya untuk membully Rayn. Mereka mengira Rayn adalah anak penakut.
Meraka meminta Rayn untuk menghentikan langkahnya. Menyadari mereka semakin mendekat, Rayn semakin mengambil Langkah mundur. “Hei… apa kau takut? Hahaha” ucapnya diikuti tawa anggota yang lain.
Rayn tidak menjawab, dengan santai ia berbalik kembali untuk meninggalkan mereka begitu saja. Salah seorang dari mereka langsung mendekat meraih punggung Rayn untuk menahannya. Rayn dengan cepat menghindar sehingga anak itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh tersungkur.
Hal itu justru membuat mereka semakin marah dengan sikap Rayn yang terlihat angkuh.
Rayn berusaha menahan diri akan phobianya dan berusaha untuk tidak terlibat dengan mereka. Ia sangat menyadari jika benteng yang ia lakukan untuk menjaga diri akan phobianya akan selalu membawa kesalahpahaman dan masalah jika bertemu dengan orang-orang seperti mereka.
Erik geram dan langsung berniat mengeroyok Rayn bersamaan.“Hajar dia..” ucapnya dengan tangan yang sudah mengepal.
Namun aksi itu urung, tiba-tiba datang seorang gadis yang mengenakan seragam sama dengan mereka berteriak “Haisst, dasar bocah-bocah tengik” ucapnya. Ia langsung memukul mereka satu-persatu dengan bungkus snack miliknya.
“Hei, Hei, Hei … apa-apa’an kau” ucap Erik dengan mengibas bungkusan snack yang melayang ke kepalanya.
“Apa kau baru disini? Jangan khawatir, aku tahu siapa mereka. Jadi, aku akan melindungimu” ucapnya kepada Rayn.
“Hei Lusia, jangan ikut campur. Kau pergi saja atau kau mau gabung bermain dengan kita-kita. Kau tahu kita pria-pria yang butuh dimanjakan gadis” ucap Erik menggoda gadis dengan kuncir kuda itu.
“Lebih baik pergi, tidak ada gunanya meladeni orang seperti mereka” sahut Rayn melangkah pergi. Lusia langsung menghampiri Rayn untuk menahannya. Namun langkah Lusia dihentikan oleh mereka.
Mendengar perkataan itu Rayn menghentikan langkahnya, ia sudah akan berbalik badan untuk membantu Lusia. Sementara Erik juga sudah bersiap melayangkan tinjuan dari belakang.
Belum sampai Rayn berbalik dan belum sampai Erik memukulnya, Lusia sudah berlari dan menendang punggung Erik hingga jatuh tersungkur.
Lusia langsung pasang badan di depan Rayn, ia melepas tasnya dan melemparkannya kepada Rayn. “Tenang saja aku bisa menghadapi mereka” ucap Lusia kepada Rayn. Ia sudah memasang kuda-kuda dengan gaya siap adu tinju.
“Aku tidak memintamu untuk melawan mereka. Tidak bisakah kau mendengarkan ku untuk mengabaikannya” sahut Rayn.
Erik bangkit. “Haissttt, apa yang kau lakukan??” tanyanya dengan meregangkan bahu memukul punggung yang kesakitan akibat tendangan Lusia.
“Kenapa? Apa kau takut Hahhh ??” lanjut teriaknya kepada Rayn lalu diikuti oleh tawa yang lainnya.
“Tutup mulutmu atau aku akan menyumpalnya dengan sepatu” sahut Lusia.
“Ohhh…. Takut!!!” teriak mereka bersamaan lalu tertawa.
Rayn mengembalikan tas Lusia. “Jika kau tidak mau mendengarku, aku tidak memaksamu” jawab Rayn dengan melempar tas itu kepada Lusia.
“Hei… “ teriak Lusia sembari menangkap tas nya.
__ADS_1
“Kau punya sepatu sendiri untuk menyumpal mereka kan? Jadi kau tidak membutuhkanku. Lakukan sendiri jika kau masih tetap ingin meladeni mereka" ujar Rayn.
“Kau pikir mereka akan melepaskan kita begitu saja? Aku sudah mengenal betapa liciknya dia” ucap Lusia. Ryan hanya menghela nafas kasar.
Lusia mendekati Rayn, namun Rayn melangkah mundur. “Hei, ada apa denganmu? Kau juga takut padaku? Apa karena tendangan tadi?” tanyanya setelah melihat reaksi sikap Rayn.
Lusia mencoba mengikuti kata Rayn. “OK, jika begitu. Apa kau jago dalam lari?” lanjut tanya Lusia yang berniat mengajak Rayn kabur dengan berlari.
“Aku buruk dengan itu (lari)” jawab Rayn singkat mengambil langkah pergi dengan santai. Ia sudah melihat 2 mobil datang menghampirinya.
“Hei… tunggu” teriak Lusia dengan meraih baju Rayn untuk menahannya. Rayn Spontan menghempas tangan Lusia hingga tidak sengaja melukai wajah Lusia.
“Aw….” Teriak Lusia kesakitan. Ia merasakan ada benda ditangan Rayn yang menggores dagunya.
Para berandalan itu langsung menghampiri berniat untuk menyerang. Namun aksi mereka kembali terhenti oleh teriakan seorang pria yang tampak seusia Rayn turun dari mobil. “Hentikan langkah kalian” teriak Mickey yang datang diikuti beberapa bodyguard.
Mickey langsung menghampiri Rayn dan mempersilahkan Rayn untuk segera masuk ke mobil. Mickey memerintahkan para bodyguardnya untuk membereskan para berandalan itu. Rayn masuk mobil diikuti oleh Mickey dan 2 bodyguard lain yang berjaga untuk mereka.
“Aku tidak peduli dengan apa yang akan kalian lakukan dengan mereka, tapi cukup lindungi gadis berkuncir kuda itu” ucap Rayn sebelum naik mobil kepada seorang bodyguard yang terlihat paling muda diantara yang lainnya.
“Baik Tuan Muda” jawabnya dengan membungkuk. Bodyguard muda itu tidak lain adalah Arka.
Lusia hanya bengong melihat apa yang baru saja di lihatnya. Ia menyaksikan hal yang tidak biasa dan mungkin ia percayai hanya ada dalam drama. Sekelompok pria datang menolongnya dan di atur oleh anak muda seusianya memberi perintah seperti seorang Bos Mafia kepada para pengawal yang jelas lebih dewasa.
Sementara Pria yang sudah ditolongnya pergi begitu saja tanpa kata setelah datang para pengawal yang menjemputnya. Ia hanya menatap Rayn yang masuk kedalam mobil.
Mobil itu pergi usai Rayn dan Mickey masuk. Rayn hanya diam menatap Lusia yang masih memandang mobilnya hingga akhirnya hilang dari pandangannya.
#Back
Mickey tidak begitu mengingat Lusia karena saat itu ia tidak berinteraksi langsung dengan Lusia. Ia hanya ingat dan terus berpikir jika Lusia juga bagian dari anak berandalan itu. Ia hanya ingat jika terakhir Rayn terlihat fight dengannya.
Lusia tidak mengenali mereka karena Rayn dan Mickey saat itu menggunakan masker dan topi. Ia juga tidak mengenali Arka diantara banyaknya pengawal yang sudah membantunya. Arka saat itu masih sangat muda, ia baru menginjak usia 20 tahun. Ia menjadi pengawal termuda dan masih dalam masa pelatihan. Hari itu adalah hari pertama ia bergabung menjadi pengawal pribadi Rayn.
Rayn dan Arka tentu saja sangat jelas mengingat Lusia. Tidak sulit bagi keduanya hanya untuk mengenali 1 orang saja. Terutama bagi Rayn, Lusia adalah gadis pertama yang sudah mencuri perhatiannya.
.
.
*** To Be Continued***
__ADS_1