
Malam semakin larut....
Di waktu malam yang jauh lebih sunyi dan senyap, di saat masih banyak orang yang mungkin tetap terjaga untuk bercengkerama atau hanya sekadar merenungkan kehidupan atas semua hal yang dilakukan sepanjang hari. Di temani angin malam yang bertiup menusuk tulang bersama kabut yang pecah diantara pepohonan. Di bawah sinar sang rembulan yang dengan megahnya menghiasi malam, Rayn dan Lusia masih berpacu didalam Dervilia.
Di kawasan Villa, Arka yang baru saja kembali dari cuti berkendara hendak pergi ke Villa. Arka tiba-tiba menghentikan kendaraannya tatkala melihat mobil Rayn yang terparkir di depan jalan setapak menuju Dervilia.
Arka melirik jam di tangannya, sebentar lagi akan memasuki waktu tengah malam tapi mobil tuan nya masih terparkir di sana. Arka segera turun dari mobil nya, ia pergi menghampiri mobil Rayn. Ia terlihat celingak-celinguk mengintip kedalam mobil dan dibuat bingung karena tidak mendapati sosok Rayn di dalam mobil.
Ia lalu sontak menatap ke arah jalan setapak menuju Dervilia. Di depan jalan Dervilia, Arka mencoba menghubungi Rayn untuk memastikan apakah benar saat ini Rayn sedang berada di Dervilia hingga tengah malam begini.
Ponsel Rayn berdering namun tidak ada jawaban akan panggilannya, hal ini membuat Arka menjadi cemas.
Apa yang sedang Tuan Muda lakukan saat ini?
Mungkinkah Tuan Muda sedang mabuk lagi?
Mungkinkan terjadi sesuatu dengan Tuan Muda?
Apa Tuan Muda baik-baik saja?
Pertanyaan inilah yang saat ini mengusik pikiran Arka karena yang dirinya tahu jika tidak ada hal yang baik setiap kali Rayn pergi ke Dervilia, kecuali satu saat Rayn memberi kejutan ulang tahun untuk Lusia. Jika tidak pasti karena adanya sesuatu atau perasaan yang sedang buruk yang selalu menjadi alasan Rayn pergi ke sana.
Arka yang penasaran memutuskan untuk pergi ke Dervilia. Ya, itulah yang harus dilakukannya sebagai pengawal pribadi, memastikan Tuan nya berada dalam kondisi baik-baik saja.
Namun, sepertinya kekhawatiran Arka saat ini sangat bertolak belakang dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Di dalam Dervilia, Rayn tengah melakukan kewajibannya memberi kehangatan terhadap sang istri. Tidak ada yang ingin ia lewatkan, ia terus memberikan setiap kecupan yang terus ia eksplor kesemua bagian.
Perlahan tapi pasti, itulah pepatah yang menggambarkan kegiatan mereka saat ini. Tangan Rayn mulai melepas setiap helaian yang melekat seiring dengan tautan yang tidak ingin ia lepaskan. Rayn menyingkirkan semua yang menghalanginya meninggalkan jejak kepemilikannya pada wanita yang terbaring dibawah kukuhannya saat ini. Manik mata hitamnya berbinar menatap nanar tubuh sang istri.
Selama ini Rayn telah menepati janjinya menjaga Lusia dengan tidak menyentuhnya. Tetapi kini saatnya Rayn mengklaim jika hanya dirinyalah adalah pemilik tunggal tubuh wanita yang sudah resmi menjadi istrinya.
"Kau seutuhnya milikku Lusia, begitu juga dengan diriku yang akan selalu menjadi milikmu" ucap Rayn lalu kembali bangkit melepas semua yang melekat pada tubuh nya hingga keduanya benar-benar polos.
Rayn kembali merangkak ke atas mendaratkan ciuman.Tangan Rayn mulai bergerak memberikan sebuah rasa nikmat disetiap lekuk keindahan yang dimiliki Lusia melalui sentuhan hangat dari jemarinya. Rayn terus mengecup satu persatu dan kecupan itu semakin turun dan menyapu kemulusan yang menghanyutkan hassratt nya saat ini.
"Rayn...." lengkuh Lusia disaat pergerakan Rayn turun dan mendarat ke miliknya.
Lusia menggigit bibirnya menahan sebuah rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Rayn..." panggil Lusia lirih saat Rayn kembali menyentuh miliknya yang ada dibawah sana.
Rayn kembali menatap wajah Lusia yang terlihat sangat gugup. Ia kembali mengecup singkat bibir manis Lusia untuk membuatnya merasa lebih nyaman. "Aku akan melakukannya pelan-pelan, aku tidak akan menyakitimu dan katakan kepadaku jika kau ingin aku menyudahinya." ucap Rayn.
Lusia mengangguk lalu tersenyum malu, Rayn sudah menahan dan menunggunya cukup lama maka sudah menjadi kewajibannya saat ini melayani hassratt sang suami. Tanpa ingin menunggu lagi Lusia langsung menyambar bibir Rayn. Tanpa melepaskan tautan bibirnya , Rayn berusaha memposisikan dirinya untuk melakukan penyatuan.
"Rayn... " pekik Lusia ketika merasakan sesuatu yang berusaha menusuk dan menghujam miliknya hingga membuat aliran darahnya terasa mengalir begitu cepat.
Sungguh menyakitkan, itu yang dirasakan Lusia saat ini seiring dengan hentakan yang terus dilakukan Rayn untuk menjebol gawang pertahanan nya yang begitu sempit dibawah sana. Rayn ingin membuat jalan untuk menebar benih yang akan menjadi bukti kasih cinta keduanya. Memberi klaim jika hanya dirinya satu-satunya pria yang boleh masuk dan merenggutnya.
Lusia terus menahan rasa sakit luar biasa untuk pertama kalinya. Ia tidak ingin menyerah atau menyudahinya hanya karena dirinya lemah. Rayn mulai memelankan ritmenya saat melihat Lusia mencengkeram erat menahan setiap rasa sakit yang ia berikan. Rayn membuka tangan Lusia yang menutup wajahnya sendiri.
"Kau menangis?" tanya Rayn melihat air mata Lusia yang mengalir membasahi pipi. Lusia bahkan menangis tanpa suara.
"Jangan hiraukan aku Ryan, teruskan saja Rayn. Buat rasa sakit itu menjadi kenikmatan seperti yang sudah kau rasakan sekarang. Berikan kenikmatan itu kepadaku Rayn, buat aku merasakannya" ucap Lusia dengan nafas tersengal-sengal lalu mengurai senyum.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, yang mungkin tidak bisa melakukannya dengan baik, tapi aku akan segera memberikannya. Jadi.... berikan aku jalan,sayang" bisik Rayn dengan suara basah yang semakin membuat Lusia semakin mendidih.
Rayn kembali menyambar senyum indah Lusia yang menggetarkan jantungnya itu dengan ciuman liarnya. Setelah beberapa saat saling bertautan kecupan, Rayn meraih tangan Lusia, melepaskan kepalan tangannya yang masih saja mencengkeram. Jemari Rayn memasuki setiap sela-sela jemari Lusia untuk menguatkannya serta mremmas lalu kembali menghujam milik Lusia.
"Raynsss...aaaa!!"
Hanya dengan dua kali hentakan saja Rayn berhasil masuk seutuhnya, membuat Lusia merasakan penuh dan mulai menginginkan pergerakan lebih. Sel sel darah Lusia serasa mendidih serta memanas, sementara Ryan tetap pada aksinya memberikan kenik matan yang tiada tara. Merasakan penyatuan yang membuatnya seperti terbang melayang ke nirwana.
Dengan nafas yang memburu Rayn kembali menatap wajah cantik Lusia yang mempesona, wajahnya menengadah ke atas dengan dagu yang menggunggah dirinya untuk terus men cumbbu. Perlahan ia mulai mendengar rintihan itu berubah menjadi dessa han nikmat yang dirasakan Lusia. Dessa han itu semakin membuat Rayn menambah ritmenya dan terus menghentakkan senjatanya pada si ratu.
"Aku mencintaimu Rayn"
"Aku juga mencintaimu Lusia"
D'ssahan terus lolos dari mulut Rayn dan Lusia, keduanya terus memacu dan meracau memanggil nama satu sama lain. Deru nafas yang saling memburu, d'ssahan yang saling bersautan, jemari tangan yang saling membelai, membuat keduanya semakin memanas dengan keringat yang terus bercucuran bak sedang berada di dalam sauna meskipun saat ini berada di kamar dengan suhu yang dingin.
"Kau menyukainya? Apa tidak sakit lagi?" tanya Rayn.
"Kenapa kau bertanya dan membuatku sangat malu Rayn" sahut Lusia memalingkan wajahnya.
Rayn mengejar untuk bisa menatap wajah Lusia. "Tatap aku Lusia" ucap Rayn meraih wajah Lusia untuk kembali menatapnya. Rayn mengurai senyum saat Lusia kembali menatap wajahnya. "Aku ingin melihatnya, saat kau menikmatinya" ucap Rayn masih dengan terus memacu ritme nya memberikan kenikmatan dengan pergerakan dibawah sana.
"Ini sungguh luar biasa Rayn...aku menyukainya...." sahut Lusia kembali menautkan bibir keduanya dengan ciuman.
Malam semakin larut tapi tubuh keduanya semakin memanas di dalam kamar Dervilia dengan suhu AC yang dingin. Suara menghanyutkan keduanya yang lolos di setiap sen-ttuhan telah memecahkan kesunyian diluar sana. Sautan suara yang mungkin akan membuat setiap orang tersenyum tersipu malu bila mendengarnya.
"Lepaskan Rayn..." pinta Lusia tiba-tiba.
Lusia menggelengkan kepalanya. "Ini tidak adil, aku pun ingin memimpin permainan dan membuatmu terus merasa candu dengan ttbuh dan sennt'uhan ku" sahut Lusia berbisik di telinga Rayn lalu mengangkat Lusia untuk bangkit.
Rayn tersenyum lalu menarik Lusia untuk duduk di atas pangkuannya dengan kaki yang menekuk. Ia meraih kedua tangan Lusia untuk merangkulnya. Rayn mengusap bulir keringan yang mengalir membasahi kening Lusia. Ia mengecup singkat bibir Lusia lalu berbisik di telinganya. "Kita mulai lagi sayang...kini kau yang memimpin."
Rayn tersenyum lalu memandang Lusia dengan sorot mata yang semakin menggunggah rasa ingin Lusia untuk ronde selanjutnya. Lusia mulai kembali permainan dan kini dirinya yang memimpin. Rayn mengeratkan pelukannya dengan nafas memburu.
...***...
Klekkk....!
Suara patahan ranting terdengar ketika Arka menarik ttbuh nya untuk melangkah mundur. "Apa yang aku lakukan disini???" tanyanya berbicara sendiri.
Mata arka membulat menutup mulutnya rapat-rapat sekita menyadari jika saat ini dirinya tidak boleh bersuara. Tidak seharusnya ia mendengar apa yang tidak pantas ia dengar. Meskipun Arka belum melihat ke dalam, tapi ia sudah tahu pasti apa yang sedang terjadi di dalam Dervilia.
...***...
Lusia terus berayun di atas pangkuan Rayn dengan keringat yang terus bercucuran membasahi keduanya. Dengan nafas yang terus memburu ia meletakkan satu tangannya pada pipi Rayn dan satu tangannya pada bahu Rayn. Lusia terus mend'ssah, membawa Rayn tenggelam dan semakin menyeretnya dalam gelombang yang menghanyutkannya pada rasa nikmat yang kini dia berikan.
Sesaat Lusia menghentikan gerakannya dan mereka saling berpelukan erat untuk mengatur nafas. Ia menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Rayn sementara tangan Ryan terus mengusap punggung Lusia.
"Aku mencintaimu Rayn" ucap Lusia lalu kembali menyambar bibir Rayn.
__ADS_1
Lusia mengucapkan cinta ditengah rasa nikmat yang kembali ia berikan kepada Rayn. Jemari Lusia menelusup kedalam setiap helai rambut hitam Rayn dan menenggelamkan wajah Rayn pada belah han kedua bola dunia miliknya. Di bawah sana, Lusia terus menekan milik nya semakin dalam, merasakan milik Rayn semakin memenuhi nya, menguasainya, menghanyutkannya dan mengendalikan dirinya.
"Rayn, sepertinya aku akan mencapai..." ucap Lusia terputus-putus dengan terengah-engah lelah.
Rayn segera membaringkannya Lusia, kini ia yang akan memberi denyutan terakhir sebelum Lusia mencapai puncaknya. Rayn mencondongkan dirinya untuk lebih dekat sambil tetap menggoyang dan menekannya perlahan-lahan.
"Kita akan mencapai puncaknya bersama" bisik Rayn diikuti dengan erangan keduanya secara
bersamaan. Rayn tersenyum lalu ambruk di atas Lusia setelah keduanya mencapai puncaknya, nafas mereka tersengal-sengal. Keduanya menghempaskan diri berdampingan. Ryan memiringkan badannya lalu menarik selimut
untuk menutupi tubuh polos istri tercintanya.
"Kau akan mulai merasakan suhu dingin kamar ini" ucap Rayn.
Lusia menarik tangan Rayn untuk menjadikannya bantalan kepala. Ia mendekat dan menempel pada Rayn. Lusia memeluk Rayn dan menenggelamkan kepalanya pada bidang dadda Rayn.
"Jika begitu, aku akan tidur dengan memelukmu seperti ini" ucap Lusia lalu memejamkan matanya.
Rayn tersenyum "Semalam malam" ucap Rayn semakin erat memeluk Lusia.
...***...
Pagi telah menyambut, sinar matahari yang menembus sela-sela tirai Dervilia mengusik mata Lusia hingga membuatnya terbangun. Perlahan Lusia membuka matanya dan menatap Rayn yang masih terlelap. Lusia pun menjadi penasaran apa suaminya benar-benar kelelahan akibat pertempuran panas semalam.
Lusia mengusap lembut memainkan alis Rayn dan menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Rayn. Ia lalu tersenyum dan terus menatap wajah tampan suaminya.
"Apa aku harus terus memejamkan mataku, agar istriku bisa terus menatap wajah suaminya sampai dia puas" ucap Rayn masih dengan mata yang terpejam.
"Kau sudah bangun?" tanya Lusia tersenyum.
Rayn perlahan membuka matanya, membuat mata keduanya saling bertemu dan memandang.
"Sepertinya, aku telah melewatkannya semalam" ucap Lusia
"Melewatkan?" tanya Rayn.
"Selain nafsu dan gaira yang membuat darahku mengalir begitu cepat, aku ingin melakukannya dengan lebih lembut. Aku ingin menikmati setiap sen'tuhan mu dengan tetap bisa menatap wajahmu seperti ini Rayn. Aku ingin merasakan cintamu, rasa ingin mu memilikiku. Merasakan setiap kerinduan dan ketulusan yang kau tunjukkan melalui sen'tuhan mu itu" ucap Lusia.
"Jika begitu...,kau ingin kita melakukannya lagi?" tanya Rayn tanpa dosa.
"Lagi?" tanya Lusia mengerutkan kening dan memicingkan matanya.
Lusia segera menepisnya. "Aku mengatakan itu bukan aku karena ingin memintanya lagi, tapi...." belum sampai Lusia menyelesaikan ucapannya Rayn langsung mendekatkan wajahnya untuk kembali mencuri bibir istrinya lagi.
Rayn langsung membungkam bibir Lusia dengan ciumannya untuk kembali membangkitkan gairrah ber cinta Lusia. Dan lagi..., mereka melakukanya lagi dibawah sinar cahaya pagi yang memberi kehangatan lain.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***