Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 62 - Karena Aku Suka


__ADS_3

Keesokan hari, Lusia bangun lebih awal, sepertia biasa untuk menyiapkan sarapan Rayn. Lusia melihat dirinya sendiri pada cermin kamar mandi. “Ini buruk sekali” ucap Lusia menatap matanya yang lebam karena menangis


semalam.


“Sangat memalukan, sangat memalukan. Mau kau sembunyikan dimana wajahmu Lusia” lanjut gumam Lusia dengan memukul kepalanya berulang kali. Ia merasa sangat malu mengingat kejadian semalam dimana dirinya menangis di dalam pelukan Rayn.


Lusia memandang tangannya yang masih dalam balutan perban yang Rayn pakaikan untuknnya. “Ini salahnya dia, kenapa harus memelukku sehingga membuat air mataku pecah. Benar, ini salahnya jadi kau tidak perlu malu Lusia” ucapnya lalu dengan kasar membasuh wajahnya dengan satu tangan.


Lusia lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan Rayn. Ia terkejut melihat Rayn yang ternyata sudah bangun lebih dulu darinya dan sudah sibuk di dapur.


“Rayn…? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Lusia menghampiri Rayn.


“Saus barbeque atau pedas manis?” tanya Rayn tiba-tiba saat melihat kehadiran Lusia. Ia bertanya dengan menyodorkan 2 botol saus di tangannya kepada Lusia.


“Pe…dass.. ma..niss” jawab Lusia ragu sambil melirik sebenarnya apa yang sedang diolah Rayn.


Rayn mengangguk. “Baiklah, jika begitu tunggu dan duduklah” perintah Rayn.


“Aku? Duduk?” jawab Lusia dengan menunjuk dirinya sendiri. “ Tapi aku kemari untuk menyiapkan sarapanmu”


lanjut ucap Lusia.


“Sudah, duduklah. Kau tidak lihat jika aku sedang menyiapkanya” sahut Rayn memegang bahu Lusia lalu mengarahkannya untuk duduk kemudian kembali sibuk mengurus olahannya.


Lusia dengan ragu mengikuti perintahnya dan duduk di meja makan, ia hanya menunggu dan melihat Rayn yang sibuk mengolah sesuatu. Rayn terlihat sangat ahli dan cekatan, seolah ia sudah biasa berurusan dengan peralatan dapur. Bahkan terlihat lebih baik dari dirinya saat berada di dapur.


Rayn membuat menu sarapan yang sederhana namun juga bergizi. 2 sosis bakar berukuran sedang dilumuri saus pedas manis yang dipilih Lusia sendiri. Ia bahkan melengkapinya dengan kentang kukus dan rebusan sayuran jagung manis pipil, buah wortel dan buncis yang dipotong kecil.


Sarapan telah jadi, Rayn langsung menyajikannya dengan meletakkan porsi itu di depan Lusia. Ia kemudian duduk  berhadapan Lusia dengan menu salad sayuran miliknya.


“Kau memintaku menghabiskan ini semua sementara dirimu sendiri hanya makan salad? Aku merasa ini ada yang tidak adil” ucap Lusia sambil menggelengkan kepala melihat sarapan yang Rayn sajikan untukknya.


“Kenapa? Kau takut gemuk? Ini semua makanan yang akan memberimu gizi” ucapnya dengan memutar garpu miliknya di atas piring Lusia.


“Kenapa tiba-tiba kau yang membuat sarapan?” tanya Lusia.


“Apa kau bisa menyiapkan semua ini dengan satu tanganmu saja?” tanya balik Rayn. “Tidak perlu berterima kasih atau merasa tersanjung, aku hanya tidak tega melihat tangan tidak berdayamu itu” lanjut Rayn.


Mendengar ucapan Rayn justru membuat Lusia tersenyum lebar. Dengan memasang wajah manis, ia membuat Rayn hampir salah tingkah.


"Ada apa dengan senyumu itu?” tanya Rayn dengan tatapan curiga.


“Apa aku perlu melukai kakiku juga agar kau lebih perhatian? Mungkin aku tidak hanya akan mendapatkan sarapan tiap hari, tapi kira-kira perlakuan apa lagi yang bisa aku terima?” tanya Lusia menggoda Rayn dengan candanya.


“Kaki…?” tanya Rayn lalu berpikir.

__ADS_1


“Eemmm” jawab Lusia mengangguk dengan meneguk air minum.


Rayn meletakkan garpunya, ia lalu menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap Lusia. “Kenapa tidak sekalian dengan hatimu, jika terluka aku juga rela mengobatinya” ucapnya dengan ekspresi santai.


Byuurrrrr…! Huk huk huk…!


Ucapan Rayn yang tanpa dosa membuat Lusia terkejut dan menyemburkan air dari mulutnya. Untungnya ia sempat memalingkan wajahya sehingga menyemburkannya ke samping. “Hya….!!!” teriaknya kepada Rayn.


Rayn tersenyum. “Sepertinya kini tenggorokanmu juga sedang sakit” lanjut goda Rayn dengan candaanya melihat reaksi Lusia.


“Sangat memalukan” gumam Lusia lirih sambil bangkit dari duduknya hendak membersihkan bekas semburannya.


“Hentikan...! Biarkan saja, akan ada yang membersihkannya nanti" perintah Rayn sambil meneguk jus.


“Kau masih mau bercanda? Memangnya siapa yang akan melakukannya? Dirimu? Hanya ada kita berdua disini. Ah... tidak, masih ada Arka. Tapi tetap tidak mungkin aku membiarkan kalian membersihkannya.


.


.


1 jam berlalu usai mereka menyelesaikan sarapannya. Rayn dan Lusia duduk santai di sofa ruang tamu lantai 1.


“Kau serius memanggil mereka?” tanya Lusia melihat 4 petugas kebersihan masuk usai di bukakan pintu oleh Arka.


“Hanya..., hanya karena semburan tadi kau membuang uang dengan memanggil mereka?” tanya Lusia hendak berdiri dari duduknya.


Menyadari Lusia yang hendak pergi ke dapur, Rayn langsung meraih tangan Lusia dan menahannya. “Aku ingin membaca buku dengan tenang. Itu sulit dilakukan jika ada orang asing dirumah ini” ucap Rayn dengan memandang Lusia yang sudah berdiri.


Rayn lalu melanjutkan ucapannya dengan memandang tangannya yang menggenggam tangan Lusia. “Untuk itu aku lebih membutuhkanmu disini, jadi tetaplah duduk” lanjutnya meminta Lusia duduk kembali di sebelahnya.


“Tapi…” sahut Lusia menatap petugas kebersihkan yang sudah memasuki dapur. “Lagi pula jika kau ingin tenang baca buku kenapa tidak membaca di ruang baca saja” gerutu Lusia kembali duduk.


Rayn hanya tersenyum lalu kembali membuka halaman buku dongengnya. Ia sengaja membaca di lantai bawah meskipun sadar jika akan ada petugas kebersihan yang datang. Rayn mencari kesempatan untuk bisa bersama dengan Lusia dengan alasan adanya petugas keberdihan. Jika ia membaca di ruang baca lantai 2, maka ia tidak punya alasan untuk membuat Lusia tetap berada disisihnya.


“Jangan khawatir, aku tidak membuang-buang uang hanya untuk semburanmu itu. Mereka datang untuk membersihkan seluruh Villa. Mereka adalah orang yang memang dipekerjakan Mickey selama ini untuk membersih Villa dengan jadwal rutin yang dibuat Mickey. Tapi, semenjak ada dirimu dan aku dengar dulu kau yang memaksa untuk melakukannya sendiri, maka kita tidak memerlukan mereka” Jelas Rayn dengan pandangan yang tetap fokus dengan bukunya.


"Aaah.. dengan kata lain, secara tidak langsung kau telah merebut pekerjaan mereka" lanjut Rayn menatap Lusia sekilas lalu kembali melanjutkan membaca.


“Lalu kenapa kau memanggil mereka kembali sekarang?” tanya Lsuia.


“Ssssstt...” desis Rayn menghentikan bacanya. Ia memposisikan duduknya dengan menghadap Lusia. “Apa gadis itu juga mencederai kepalamu? Sampai kau tidak paham kenapa aku memanggil mereka?" tanyanya.


“Kenapa tiba-tiba kau salahkan kepalaku?” sahut Lusia dengan menggerutu.


Rayn menarik nafas dan menghelanya. “Itu karena tanganmu” ucapnya dengan memadang tangan Lusia yang diperban. “Bagaimana bisa aku membiarkanmu membersihkan Villa sebesar ini dengan tangan yang terluka seperti itu.” lanjutnya dengan tatapan yang berbeda.

__ADS_1


“Hya…Rayn!!” teriak Lusia berdiri dan melepas tangannya dari genggaman Rayn. “Jangan berbicara kepadaku dengan tatapan seperti itu."


“Memangnya apa yang salah?" tanya Rayn. "Hei, Lusia… kenapa wajahmu menjadi memerah?” tanya Rayn.


“Lupakan, lanjutkan saja baca bukumu di ruang baca lantai 2. Lagian mereka juga akan membersihkan lantai ini” jawab Lusia berjalan pergi naik lantai 2 lebih dahulu dengan mengipas wajahnya yang terasa panas.


“Lusia…” panggil Rayn dengan nada suara yang bisa membuatnya terhanyut.


Lusia langsung menghentikan langkahnya. “Apa lagi ini...” gumamnya dalam hati dengan menoleh.


Rayn mengulurkan tangannya dengan raut wajah mengiba yang dipaksakannya. “Disana ada beberapa orang, bantu aku” ucapnya meminta Lusia menggandengnya naik ke lantai atas dengan alasanya karena adanya para petugas kebersihan.


Lusia menghela nafas kasar, ia kembali dan meraih uluran tangan Rayn. Mereka berjalan pergi naik ke lantai 2 bersama.


“Tidak hanya si pria kopi itu yang bisa memberimu cuti. Aku pun bisa memberimu waktu istirahat penuh, bahkan dengan bonus memanjakanmu” ucap Rayn masih lanjut menggoda Lusia sehingga membuat wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


“Hentikan…, atau aku juga akan membuatmu merasakan diperban” ancam Lusia.


“Tidak apa, aku suka. Maka tangan kita akan menjadi couple” sahut Rayn masih terus menggoda Lusia.


“Teruskan saja, jika kau tidak ingin aku melepas tanganmu dan kau lanjutkan naik sendiri” kembali ancam Lusia saat mereka baru saja menaiki beberapa anak tangga.


Rayn langsung menghentikan langkah kakinya dan memandang Lusia. “Kau yakin akan melepaskannya? Bukannya kau sudah berjanji, apa kau lupa? Aku masih ingat jelas, bahkan di tangga ini kau berkata kepadaku...eemmm“ ucap Rayn sambil pura-pura mengingat. Ia masih saja menggoda Lusia dengan wajah mengiba.


Lusia mengehela nafas, ia menyerah dan melajutkan langkah kakinya dengan tetap menggandeng tangan Rayn. “Ada apa denganmu hari ini, apa karena kau merasa bosan?” tanya Lusia dengan langkah lesu menaiki anak tangga.


Rayn lagi-lagi tersenyum puas, ia mengubah posisi tangannya yang menggenggam Lusia lalu mengambil langkah lebih cepat sehingga ia yang memimpin jalan di depan Lsuia. “Karena aku suka” sahutnya.


Lusia membelalakkan matanya. Dengan menatap punggung Rayn, ia merasa ada yang salah dengan apa yang baru saja ia dengan dari bibir Rayn. “Su…sukaaa?” tanyanya Ragu.


“Ya… suka” sahut Rayn menoleh. Ia kemudian duduk di sofa baca lebih dahulu lalu manarik tangan Lusia hingga Lusia terduduk di sebelahnya. Lusia duduk dengan tubuh tegang , ia tidak percaya dengan apa yang Rayn katakan. Ia mencoba menyadarkan diri untuk tidak salah paham.


Rayn semakin berulah, ia mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Lusia. “Suka menggodamu” bisik Rayn yang artinya, suka yang dimaksud adalah suka menjahili Lusia.


Lusia memejamkan matanya dan kembali membuang nafas dengan kasar mencoba untuk bersabar. Rayn pun semakin tersenyum puas karena sudah menjahili Lusia. “Apa lagi melihat wajahmu sampai memerah seperti itu” lanjut ucap Rayn.


Mendengar Rayn masih tidak berhenti, Lusia membuka matanya dan langsung menoleh melirik Rayn dengan tatapan tajam  seolah ingin memakan Rayn. Rayn langsung memalingkan muka dengan wajah pura-pura serius ia membuka buku dongengnya dan berlagak lanjut membacanya.


Kejahilan Rayn terhadap Lusia selalu saja membuat Lusia hampir salah paham. Tapi itulah Rayn, tidak ada yang tahu dibalik kejahilannya, apakah semua hanya keisengan semata atau ada sebagian yang memang benar-benar ingin ia utarakan dari hatinya. Hanya Rayn sendirilah yang tahu jawabanya. Apapun itu, untuk orang yang selalu seorang diri sepertinya, ini kali pertama ia merasa nyaman bersama orang lain. Dan itulah caranya untuk mempertahankan kedekatannya dengan Lusia.


.


.


*** To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2