
Sepulang dari bekerja di Cafe, sampainya di Villa, seperti biasa Lusia langsung pergi naik ke lantai 2 untuk mengunjungi Rayn. Lusia menaiki anak tangga, ia melihat Rayn tampak sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerja ruang baca.
“Aku tidak tahu harus menyebut ruangan ini sebagai ruang baca atau ruang bekerjamu. Aku pun juga tidak tahu pekerjaan apa yang kau miliki selain menulis” ucap Lusia menghampiri Rayn.
Selain melukis dan membaca buku, Rayn terkadang juga sibuk di meja komputernya. Selama ini Lusia mengira jika Rayn sedang sibuk bekerja atau semacamnya. Tapi, ia tidak tahu pekerjaan apa itu. Mickey tidak pernah menanyakan kepada Mickey atau Rayn. Ia hanya ingat pesan Mickey untuk tidak mengganggu Rayn saat ia sedang serius dengan apa yang dilakukaknnya.
“Kau sudah kembali?” tanya Rayn.
“Eeemmm… karena Arka membawaku kembali dengan selamat” sahut Lusia.
Lusia semakin mendekat pada meja Rayn, ia mengintip pekerjaan apa yang membuat Rayn tampak serius. Lusia terkejut melihat Rayn sedang mencoret-coret memberi tanda pada buku yang cukup menggelitik Lusia.
“Panduan kegiatan romantis?” tanya Lusia.
Rayn memberitahu Lusia jika dirinya baru saja memesan sebuah buku yang menarik perhatiannya di sebuah toko buku online. Sebuah buku tentang panduan kegiatan romantis yang diinginkan wanita. Buku berjudul ‘Sempurnakan Harinya’ itu dibeli Rayn usai menerima ledekan dari Mickey tentang mencarikan konsultan cinta untuknya.
Lusia tidak menyangka jika Rayn akan membutuhkan buku seperti itu. Lusia percaya tanpa panduan dari buku itu pun Rayn sudah bisa dikatakan pria yang sangat romantis.
“Mari kita lakukan bersama” ajak Rayn mendongakkan kepalanya memandang Lusia.
“Heh?” tanya Lusia bingung.
Rayn tersenyum, ia mengatakan apa yang ada dipikirannya. “Pergi berbelanja bersama, memasak bersama, menonton bersama, shoping, pergi ke taman hiburan dan semuanya. Mari kita lakukan bersama” ajaknya.
“Rayn…” panggil Lusia.
Lusia tidak bisa memungkiri jika sebagai wanita yang sama dengan wanita lain, tentu saja ia juga ingin melakukannya. Melakukan semua kegiatan romantis yang disebutkan Rayn. Namun, ia tidak ingin memaksa jika itu sulit untuk Rayn.
Tidak bisa menikmati indahnya kencan seperti pasangan yang lain tidak membuat Lusia menyesali pilihannya pada Rayn yang menderita haphephobia. Bagi Lusia, kencan yang akan ia miliki bersama Rayn bukanlah kencan yang berbeda, namun kencan yang lebih istimewah dari yang lain.
“Rayn… kau tidak perlu menjadi diriku, tapi aku bisa menjadi bagian dari dirimu. Dan kita tidak perlu memaksakan apapun untuk menjadi sama dengan yang lain. Cukup kita nikmati saja, kita akan terbiasa satu sama lain. Cukup bagiku dengan kau tetap membiarkan aku menikmati kenyamanan dari dirimu yang apa adanya. Cukup ada aku dan dirimu” ucap Lusia.
Rayn meraih tangan Lusia, satu tangan yang lain meraih tubuh wanita itu dan memintanya untuk duduk dipangkuanya. Rayn menatap manik mata Lusia, menatap wajah merona Lusia yang sedang tersipu akan perlakuan Rayn.
"Aku tidak mengerti, kenapa wanita menyukai hal-hal yang cukup sederhana" ucap Rayn.
"Sederhana?" tanya Lusia.
Rayn mengangguk, ia meraih buku yang ia baca dan membaliknya pada halaman yang berisi gambar kartun dimana seorang gadis duduk dipangkuan kekasihnya di ruangan kerja. Rayn menunjukkan gambar itu kepada Lusia. Salah satu kegiatan romantis yang disarankan dalam buku itu.
"Awalnya aku tidak berpikir ini akan bekerja untukmu. Tapi melihat wajahmu yang memerah, aku rasa apa yang dituliskan dan digambarkan dibuku ini benar. Romantis tidak selalu dengan sesuatu yang besar, hanya cukup dimulai hal sederhana seperti ini" ucap Rayn kepada Lusia.
Lusia tersenyum kecil, rasa senang dan rasa malu kini telah menyerangnya bersamaan. Ia mengipas wajahnya yang memerah bak kepiting rebus. Rayn benar-benar telah mempelajari semua yang ada pada buku itu dan mempraktikkannya langsung.
Rayn masih menatap Lusia. “Aku suka saat aku bisa menggenggam tanganmu. Aku suka saat kita berjalan bersama. Aku suka dengan semua waktu dan hari-hari yang sudah aku lalui bersamamu, hari-hari dimana aku mencintaimu sepenuh hatiku. Aku suka meskipun hanya ada kita berdua, hanya ada aku dan dirimu. Tapi, aku tetap ingin melakukannya. Ini bukan hanya ketulusan terdalamku untuk dirimu. Tapi ini sebagian kecil dari upaya yang ingin aku lakukan untuk membahagiakanmu” ucap Rayn dengan tatapan manis.
“Rayn…” panggil Lusia kembali.
Rayn tersenyum. “Mungkin akan berbeda dan sedikit sulit, tapi biarkan aku mencobanya. Mari kita coba lakukan bersama, Lusia” ucapnya meyakinkan Lusia.
Mendengar semuanya, Lusia tidak bisa berkata apapun lagi. Ia langsung memeluk Rayn dengan tersenyum bahagia. Masih dalam pangkuan Rayn, Lusia merangkul dan membenamkan kepalanya di leher jenjang Rayn. Ia tidak pernah sekalipun menyalahkan phobia Rayn yang akan membuatnya memiliki kehidupan yang berbeda, termasuk cara kencan mereka.
“Baiklah, mari kita lakukan bersama” ucap Lusia lirih.
Lusia dan Rayn lanjut menghabiskan malam mereka di ruang baca hingga larut. Keduanya duduk di sofa lanjut menandai berbagai kegiatan romantis yang akan mereka lakukan bersama.
“Kau yakin membeli buku ini hanya karena terprovokasi ledekan Mickey?” tanya Lusia.
“Hanya kebetulan" elak Rayn dengan cepat.
"Mana mungkin aku menerima saran dari pria yang sudah gagal dalam cinta” lanjut ucap Rayn.
“Gagal dalam cinta? Seorang Mickey? Aku justru berpikir ia tidak pernah berpacaran sama seperti dirimu. Bahkan aku melihat dia sangat cocok dengan Dr. Leona. Apa kita perlu menjodohkan mereka berdua?” saran Lusia yang tampak sangat bersemangat.
"Kenapa ia gagal dalam bercinta?" lanjut tanya Lusia.
"Itu karena satu orang yang membuatnya harus menyerah untuk tidak lagi bercinta" sahut Rayn.
“Siapa?” tanya Lusia penasaran.
__ADS_1
“Aku” jawab Rayn.
Rayn menjawabnya dengan wajah datar tanpa ada rasa bersalah ataupun menyesal telah menjadi penyebab kegagalan cinta Mickey. Lusia menegerutkan keningnya. Tidak mungkin Rayn menjadi orang ketiga dalam kisah cinta Mickey.
Kesetiaan Mickey kepada Rayn yang membuat Mickey tidak pernah serius dalam menjalin sebuah hubungan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak pernah lagi jatuh cinta atau berpacaran.
Mickey pernah sekali menjalin hubungan dengan seorang gadis yang juga mengenal Rayn. Seseorang yang tahu posisi Mickey dalam keluarga Anderson. Namun, hubungan mereka harus berakhir saat gadis itu mulai lelah dengan sikap Mickey yang selalu lebih mempioritaskan Rayn daripada gadis itu.
“Dan akhirnya hubungan mereka berakhir begitu saja?” tanya Lusia yang serius mendengarkan.
Rayn mengangguk. “Berakhir begitu saja dengan cara yang sangat dingin” sahut Rayn seraya mengingat masa itu.
#Flasback
Hari itu Mickey sedang menjaga Rayn yang dirawat karena over dosis obat. Tepatnya dihari Rayn ingin menyerah dengan memilih mengakhiri hidupnya. Dan hari itu juga menjadi hari dimana Mickey menyerah dengan cintanya yang berakhir dengan perpisahan.
Saat itu Mickey memiliki janji temu dengan kekasihnya yang sedang berulang tahun. Gadis itu telah menyiapkan sebuah pesta mewah dan sudah berencana mengenalkan Mickey kepada teman-temannya.
Namun saat dalam perjalanan, Mickey menerima telepon dari Arka yang memberitahunya jika Rayn tidak sadarkan diri dikamarnya karena over dosis. Mickey langsung putar arah pergi ke rumah sakit usai memberi perintah kepada Dokter pribadi Rayn untuk segera mengirim ambulans.
Mickey yang panik dan cemas tidak ingat dengan kekasihnya yang sudah menunggunya. Kekasih Mickey langsung menyusul ke Rumah Sakit setelah mengetahui keberadaan Mickey.
Di malam yang dingin, di balkon Rumah Sakit. “Jadi kau akan tetap selalu lebih memilih dia?” tanya gadis itu dengan menangis. Ia sedang menuntut kejelasan hubungan mereka kepada Mickey.
“Sudah pernah aku katakan padamu, apapun alasannya aku akan tetap memilihnya. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih jika kau bisa mengerti dan memahaminya. Tapi aku tidak memaksamu dan jangan menyesalinya" jawab Mickey.
Kekasih Mickey tersenyum mengusap air matanya. Ia seperti sudah sangat frustasi dengan apa yang dikatakan Mickey. Ini bukan kali pertama Mickey melakukannya. Sudah terlalu sering Mickey meninggalkannya bahkan mengingkari janji karena Rayn. Lagi dan lagi semua karena urusannya dengan Rayn.
Gadis itu sudah berulang kali mencoba bersabar dan yakin jika suatu saat nanti Mickey akan berubah. Tapi ia seperti mengharapkan bunga tumbuh di tanah yang tandus. Mengharapakan perubahan yang hanya akan terjadi karena keajaiban diluar dari kendalinya. Kekasih Mickey tidak pernah tahu jika Rayn menderita haphephobia, karena Mickey tidak pernah mengatakanya.
“Sudah berapa kali aku memahamimu dan mencoba terus mengerti dirimu? Sampai kapan? Aku pun juga lelah Mickey" ucap gadis itu.
"Akhirnya kini kau paham. Apa kau ingin menyerah?” tanya Mickey.
“Ok, jika begitu ini terakhir kali aku bertanya. Antara aku dan dia, siapa yang kau pilih?” tanya gadis itu dengan raut penuh amarah.
“Apa kau lupa yang pernah aku katakan kepadamu? Jangankan dibandingkan dengan dirimu, dengan nyawaku pun aku akan tetap memilihnya” sahut Mickey serius.
Mickey mulai geram, ia mengepalkan tangannya mencoba menahan amarah pada gadis yang berdiri dihadapannya itu.
“Jangan menatapku seolah aku pria lemah. Jangan mengasihaniku dan berhenti berpikir jika aku adalah seorang tawanan yang tidak berdaya. Kau salah besar jika aku telah dikendalikan olehnya. Aku tidak akan pernah menyalahkan ucapanmu itu karena kau tidak tahu apapun tentangnya. Tapi, satu hal yang tidak bisa kau pungkiri, alasan terbesarku yang bisa aku katakan kepadamu. Jika bukan karena dia, aku mungkin sudah tidak ada didunia ini. Artinya kau pun tidak akan pernah bertemu denganku dan kita tidak akan berada disini seperti sekarang" ucap Mickey.
Gadis itu menaiki dinding dengan melentangkan tangan hendak meloncat, ia mengancam Mickey. “ Kau pergi, maka aku akan loncat, aku tidak peduli dengan masa lalu kalian. Tapi, kau sekarang hanya berada dalam pilihan yang ada didepan matamu. Kita lihat, apa kau masih memilihnya" ancamnya.
“Kita akhiri saja hubungan ini. Mulai detik ini kita putus” ucap Mickey tidak mengindahkan ancaman kekasihnya.
“Apa?” tanya gadis itu tidak percaya jika Mickey malah memutuskannya.
“Dengan begitu, tidak ada gunanya kau loncat, itu percuma karena kau sudah bukan kekasihku lagi” jawab Mickey.
“Mickey... !!!! Why…. ????” terianya.
“Aku rasa aku tidak bisa melanjutkannya, kau tahu dia saat ini sedang berjuang untuk tetap bisa bertahan hidup. Tapi apa yang kau ingin aku lakukan disini? Menyaksikan drama konyolmu itu?. Disaat seperti ini saja kau sudah mengancamku dengan kecerobohanmu itu, maka kedepannya kau akan melakukan apa? Hal sperti ini akan terus terjadi berulang kali, lagi lagi dan lagi. Pada akhirnya aku hanya akan menjadi pria jahat dan kau orang yang akan terus tersakiti. Dengan begitu sudah pasti jika kita bisa bersama lagi" ucap Mickey.
Gadis itu hanya menangis mendengar ucapan Mickey. Mickey sama sekali tidak memintanya turun dan menghentikan aksi berbahayanya.
“Maaafkan aku…” ucap Mickey pergi meninggalkan gadis yang masih berada diatas pembatas balkon.
.
.
.
#Back
“Apaaa…. ???" teriak Lusia.
"Dia pergi begitu saja saat gadis itu masih berdiri disana?” lanjut tanya Lusia melotot kepada Rayn. "Wahh sulit dipercaya dia sekejam itu" lanjutnya.
__ADS_1
“Menurutmu, apa yang terjadi pada gadis itu setelah itu?" Tanya balik Rayn meminta Lusia memikirkannya.
“Semoga ia bisa tenang dialam sana” ucap Luisa mendo’akan mantan kekasih Mickey.
“Dimana ada gadis yang tenang setelah diputuskan seperti itu" sahut Rayn tertawa kecil.
Lusia tamapk bingung dengan jawabab Rayn. “Pasti gadis itu tetap nekat melakukannya kan? Dan itu sebabnya Mickey memutuskan tidak lagi menjalin hubungan dengan siapapun karena kejadian itu adalah penyelasan terbesanya yang membuatnya trauma, iya kan?" tanya Lusia penasaran.
“Hhahaha" tawa Rayn.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Lusia.
“Untuk gadis penakut yang berdiri dengan kaki gemetar tidak akan berani melakukannya. Mickey sudah sangat mengenal gadis itu, itu sebabnya ia tidak akan jatuh dalam permainannya.
“Jadi itu hanya ancaman dan gadis itu masih hidup?” tanya Lusia serius.
“Eemmm... bakan ia masih bisa melampiaskan kemarahannya kepadaku” jawab Rayn kembali melanjutkan membolak-balik menandai buku ‘Sempurnakan Harinya’.
"Heh ?" celetuk Lusia.
"Kau ingin tahu apa yang dilakukannya?" tanya Rayn.
Lusia menjawab dengan anggukkan berulang kali. Rayn meminta Lusia untuk lebih dekat, ia menepuk pahanya memberi isyarat Lusia untuk memposisikan dirinya berbaring dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Rayn. Lusia membulatkan matanya, melihat sikap Rayn yang tidak biasanya. Dengan wajah tersenyum malu, Lusia mengikuti permintaan Rayn, ia pun berbaring dengan menjadikan paha Rayn sebagai bantal.
"Ini juga bagian dari salah satu kegiatan romantis yang dikatakan dibuku ini" ucap Rayn masih lanjut membali bukunya. "Jika yang ditulis disini aku seharusnya mencerikan kisah romantis kepadamu, tapi kini aku harus menceritakan kisah cinta Mickey yang tragis" lanjutnya.
"Lalu apa yang dilakukan mantan kekasih Mickey kepadamu?" tanya Lusia ingin lanjut mendengar kisahnya.
#Flashback
Rayn kembali melanjutkan cerita jika gadis menuduhnya telah merebut Mickey. Mantan kekasih Mikcey itu datang ke ruang rawat inap Rayn saat Mickey sedang tidak ada. Dia membuat keributan saat pengawal Rayn menghadangnya untuk masuk.
Rayn akhirnya mengizinkan gadis itu masuk karena ia tidak ingin mengganggu kenyamanan pasien di kamar VVIP yang lain. Rayn hanya mengizinkannya berdiri sampai dipintu. Hal itu membuatnya marah dan langsung melemparkan Voice Recorder kepada Rayn yang berisi rekaman suara sewaktu di balkon.
Mantan kekasih Mickey mencurigai Rayn telah menjalin hubungan terlarang dengan Mickey. Hal itu dia tuduhkan karena Mikcey tetap memilih Rayn meskipun ia sudah mengancam mengakhiri nyawanya. Ia terus mengumpat Rayn dengan kata-kata kasar. Ia terus menyebut Rayn sebagai perebut kekasih orang.
Arka yang geram dengan sikap kurang ajar gadis itu langsung menyeretnya keluar meskipun tanpa adanya perintah dari Rayn. Rayn hanya menghela nafas atas semua umpatan yang ia terima.
"Aku tidak heran kenapa Mickey tidak mempertahankanmu" gumamnya dalam hati lalu kembali berbaring untuk lanjut istirahat.
#Back
"Hahahaha." Lusia tertawa keras akan cerita Rayn.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Rayn.
“Jangan salahkan dia jika menduganya seperti itu. Untuk semua orang yang tidak tahu kisah kalian juga pasti akan berpikir sama melihat kesetiaan kalian berdua. Bahkan aku juga sempat berpikir jika kau dan Mickey memiliki hubungan Bromance" ucap Lusia dengan tertawa.
Rayn dan Lusia terus berbagi cerita mereka hingga keduanya ketiduran di sofa.
.
.
*** To Be Continued***
.
.
Dears Reader...
Karya P. B. M. H
"Pilihanku Bersamamu Mr. Haphephobia"
sedang ikut kontes tahunan Noveltoon. Mohon dukungannya yah My Lovely Reader untuk Rayn dan Lusia Couple. ☺
Baik Like, Vote, Hadiah, Comment dan apapun itu yang bisa membantu cerita ini up untuk dapat promosi di beranda, Author ucapkan banyak banyak banyak Terima Kasih untuk kalian semua 🥰
__ADS_1
#Semoga kita semua selalu diberi kesehatan 🙏