Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 94 - Melepaskan Rasa


__ADS_3

Di tengah perbincangan Kelvin dan Lusia, tiba-tiba ponsel Lusia berbunyi adanya panggilan masuk dari Rayn. Tanpa ragu Lusia segera menjawab panggilan itu meskipun dihadapan Kelvin. Lusia merasa seperti tertolong oleh panggilan telepon Rayn yang mengakhiri kecanggungan diantara keduanya.


"Aku sudah di depan Cafe" ucap Rayn yang saat ini sudah berada didalam mobilnya.


"Eeemm... Aku sudah selesai, tunggu aku" jawab Lusia lalu menutup teleponnya.


"Kau sudah akan kembali?" tanya Kelvin.


"Maafkan aku, aku harus kembali. Dia sudah menungguku" ucap Lusia lalu pamit.


Kelvin dapat melihat dari sikap Lusia saat ini menunjukkan jika dia adalah gadis yang tidak akan mudah goyah. Bahkan tak sedikitpun ia memandang Kelvin sebagai seorang pria, bukan teman atau atasannya.


"Lusia...." panggil Kelvin.


Lusia menghentikan langkah kakinya, ia lalu menoleh menatap Kelvin. "Ada apa?" tanyanya.


"Ku harap kau mempertimbangkannya lagi" ucap Kelvin memberi waktu untuk Lusia memikirkan tawarannya.


"Maafkan aku Kelvin, keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan mempertimbangkan apapun lagi. Maafkan aku" ucapnya membungkukkan badan lalu pamit dan meninggalkan Kelvin.


Kelvin menghela nafasnya lalu menunduk. Bahkan ia tidak ingin menatap punggung Lusia yang meninggalkannya.


.


.


"Kau sudah lama menunggu?" tanya Lusia sembari masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah Rayn.


Rayn tersenyum dengan menggelengkan kepala yang menunjukkan jika itu tidak lama. Rayn masih merasakan jika sesungguhnya ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia ingin menanyakan semua pertanyaan yang sedari tadi mengusik seluruh isi kepalanya. Tapi, ia memilih untuk menahan semua itu. Rayn tidak ingin membuat kesalahan karena rasa cemburu yang tidak berdasar itu. Ia memilih untuk mempercayai Lusia daripada pikiran kekanakannya.


Dari atas balkon, Kelvin terus menatap Lusia yang menghampiri Rayn dan masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan Cafe. Kelvin hendak kembali setelah mengunci Cafe.


"Apa Pak Kelvin baik-baik saja?" tanya Dave yang tiba-tiba mengejutkannya. Ia berdiri bersandar pada dinding Cafe dengan menyilangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Apa Pak Kelvin butuh teman minum?" tanya Dave.


"Kau tahu jika aku tidak bisa minum" sahut Kelvin.


"Bukan itu tujuan dari ajakan saya pak" ucap Dave.


Kelvin terdiam menatap Dave dengan mengerutkan keningnya memikirkan apa maksud dari ucapannya itu. Butuh teman minum yang dimaksud Dave bukan hanya sekedar menghabiskan waktu minum bersama. Teman minum sama dengan teman untuk mendengarkan setiap keluh kesah dan kegelisahan hati yang butuh tempat untuk melampiaskan semuanya. Seorang teman yang bisa menjadi pendengar atau penasehat.


Setelah terdiam begitu lama, akhirnya kini keduanya kembali masuk ke dalam Cafe. Kelvin dan Dave duduk berhadapan dengan 2 botol minuman beralkohol milik Kelvin dan 1 botol soda milik Dave.


Kelvin yang mulai terpengaruh alkohol meskipun hanya dengan setengah gelas saja mulai mabuk. Ia mulai menceritakan semua keluhan yang ia lepaskan yaitu tentang perasaannya terhadap Lusia. Kelvin merasa jika dirinya sudah semakin jauh dari cintanya.


"Itu karena Pak Kelvin memilih untuk diam di tempat. Jika jarak diantara kita dan wanita yang kita cintai tidak berubah, maka seharusnya kita yang lebih dulu maju satu langkah untuk lebih dekat" ucap Dave.


Kelvin tersenyum mendengar ucapan Dave. "Kau benar, kita yang harus mengambil satu langkah lebih dekat. Aku pun sudah mencobanya, tapi langkah yang aku ambil membuatnya mengambil satu langkah mundur" ucapnya dengan senyum kesedihan.


Satu langkah yang Kelvin lakukan adalah ketika dirinya mabuk didepan Lusia. Meskipun kondisinya saat itu sedang mabuk, Kelvin ingat jelas jika ia mengungkapkan perasaannya kepada Lusia. Ia menyadari jika itu adalah tindakan seorang pengecut, tapi dari situ ia juga mendapatkan jawabannya.


Semenjak saat itu Lusia tidak pernah menanyakan hal apapun kepadanya soal kejadian itu. Bahkan, ia selalu menghindar jika ada menyinggung kejadian itu. Lusia mulai menjaga jarak dari Kelvin dan bersikap seolah dia tidak pernah mendengarnya ataupun menganggapnya serius.


"Tapi Pak Kelvin tidak bisa membiarkan perasaan itu terus menguasai pikiran anda. Karena itu akan menjadikan Pak Kelvin serakah dan semakin serakah. Semakin lama Pak Kelvin akan membandingkan diri anda dengan pria itu. Semakin lama Pak Kelvin hanya akan melihat nilai positif anda sendiri, menganggap jika pria itu tidak pantas dan tidak cocok untuk kak Lusia. Sampai pada titiknya, Pak Kelvin akan melakukan apapun untuk mendapatkan hatinya meskipun itu harus dengan memaksa" ujar Dave.


"Kau melihatnya?" tanya Kelvin.


Dave melihat apa yang coba Kelvin lakukan kepada Lusia dan Rayn selama di balkon. Dave terdiam, lalu membuka suara bukan untuk menjawab pertanyaan Kelvin tapi mengucapkan kata-kata yang meminta Kelvin untuk berhenti.


"Aku rasa anda tidak akan bisa menggoyahkannya, baik pria itu ataupun kak Lusia. Merelakan, itu adalah jalan yang terbaik" ucap Dave.


"Bagaimana aku bisa melupakannya ketika aku sudah menyimpan perasaan itu begitu lama" ucap Kelvin. Ia tampak semakin mabuk.


"Bukan melupakan, tapi menghilangkan rasa" sahut Dave memandang pilu Kelvin yang sudah semakin mabuk tapi tidak berhenti meneguk minuman.


"Karena seberapa keras usaha kita melupakan, kita justru akan semakin terluka setiap kali menyadari bahwa hati kita sendiri masih menginginkannya. Karena itu, bukan melupakannya tapi melepaskan rasa hingga hati bisa berdamai dengan kenyataan" lanjut ucap Dave sembari meraih botol alkohol dari tangan Kelvin.

__ADS_1


"Melepaskan rasa...." ucap Kelvin perlahan lalu tidak sadarkan diri dimeja.


"Jangan sampai anda menyesalinya karena telah menghalangi kebahagian orang yang anda cintai. Melepaskan lebih baik daripada bertahan dengan paksaan namun penuh kesengsaraan."


Dave menghela nafas, ia hanya bisa bergumam dalam hati memandang Kelvin yang sudah tidak sadarkan diri di depannya.


.


.


Sesampai di Villa, Lusia lebih dahulu turun untuk masuk kedalam Villa. Rayn menyusul Lusia usai memarkirkan mobilnya. Rayn dikejutkan oleh Lusia yang masih berdiri didepan pintu, ia terlihat menunggu Rayn.


"Kenapa kau belum masuk" ucap Rayn sembari menekan sandi pintu.


Sandi terkonfirmasi, Lusia menahan tangan Rayn yang hendak membuka pintu. Rayn menoleh, melihat wajah teduh Lusia membuat Rayn memutar tubuhnya berbalik hingga sepenuhnya menghadap Lusia.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Lusia merasa ada yang tidak biasa dari sikap Rayn.


Tanpa menjawab pertanyaan Lusia, Rayn justru meraih tubuh Lusia dan memeluknya. "Maafkan aku, jika sikapku membuatmu khawatir" ucapnya.


Lusia semakin cemas, ia melepaskan pelukan Rayn dan kembali menanyakan sesuatu yang semakin mengusik hatinya. "Kau yakin baik-baik saja?" tanyanya. "Kau tau, jika aku akan selalu menjadi tempat yang kau tuju. Jika sulit, jangan pernah menanggungnya seorang diri" lanjut ucap Lusia.


Rayn mengulurkan satu tangannya mendekap pipi Lusia. Ia mengangguk sembari mengurai senyum manis di bibirnya. "Jangan khawatir, ini masalah yang ada pada diriku, dan aku orang yang akan mengatasinya sendiri" ucap Rayn.


"Karena aku percaya padamu" lanjut ucap Rayn dalam hati memandang lekat manik mata Lusia.


Lusia memandang dekapan tangan Rayn yang terasa begitu hangat diwajahnya, ia lalu menatap wajah Rayn dengan tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued***


__ADS_2