
Di Friends Cafe...
Hari ini Lusia cukup disibukkan dengan aktifitas Cafe yang sedang ramai pengunjung. Sesibuk apapun, Lusia selalu bisa menyelesaikan perkerjaannya dengan baik.
Waktu terus berlalu dan kini matahari kembali ke peristirahatannya setelah seharian berjuang memberi sinar kehidupan untuk bumi. Lusia menatap langit senja, dimana warna jingga cerah menghiasi langit membawa kedamaian hati.
Apa yang dikerjakannya seharian? Apa dia merasa bosan? Apa mungkin sekarang dia juga sedang memandang langit senja yang sama? Pertanyaan ini yang sepintas lewat dalam benak Lusia ketika memikirkan Rayn.
Kita mungkin memang ditakdirkan untuk jauh raga oleh jarak. Tapi, kita juga ditakdirkan untuk melihat senja yang sama tanpa jarak.
"Aku harap dia tidak merasa bosan" gumam Lusia menatap langit senja dibalik kaca Cafe.
"Siapa yang kau harapkan untuk tidak merasa bosan?" tanya Kelvin tiba-tiba mengejutkan Lusia.
Lusia sontak terkejut karena Kelvin tiba-tiba muncul dari belakang begitu saja tanpa pertanda. Lusia tidak menjawab pertanyaan itu tapi ia justru berbalik tanya kepada Kelvin tentang rencananya pergi ke Luar Negeri.
Kelvin meminta Lusia untuk duduk sejenak karena ada yang ingin ia sampaikan. Secara kebetulan shift Lusia baru saja berakhir.
Kelvin mengatakan jika dalam minggu ini dia akan pergi ke Luar Negeri dalam waktu yang sangat lama untuk urusan pekerjaan. Mulai sekarang Kelvin akan fokus mengejar karirnya.
Sesungguhnya Kelvin ingin berbincang ditempat lain karena dia tidak ingin membuat Lusia tidak nyaman duduk berdua didepan rekan kerjanya. Tapi, mungkin ini lebih baik jika mereka berada ditempat dimana banyak mata yang memandang untuk menghindari kesalapahaman yang bisa saja terjadi.
Disaat Lusia dan Kelvin tampak nyaman berbincang berdua, lonceng yang tergantung pada pintu berbunyi, menandakan adanya pelanggan yang datang. Lusia hendak berdiri dari duduknya karena dia harus menyambut pelanggan. Namun Kelvin menahannya, dia meminta staf lain melakukannya karena saat ini sudah bukan lagi jam kerja Lusia.
Lusia yang duduk membelakangi pintu dengan setengah berdiri pun kembali duduk atas perintah Kelvin. Kelvin membutuhkan waktu Lusia hanya untuk sebentar saja, karena Kelvin takut jika tidak akan ada kesempatan lain untuk mereka saling berbicara sebelum dirinya pergi ke luar negeri.
Hal pertama yang ingin Kelvin sampaikan adalah tentang kasus ayah Lusia. Meskipun Kelvin akan pergi dalam waktu yang sangat lama, namun Lusia tidak perlu khawatir karena dia sudah mengurus semua. Kelvin sudah mengutus perawat pribadi untuk ayah Lusia. Selain itu, Kelvin juga sudah mengutus orang kepercayaannya untuk membantu mengusut kasus ayah Lusia.
Seperti janji yang pernah diucapkannya kepada Lusia jika dirinya tidak akan pernah menyerah untuk menemukan kebenaran dalam kasus ayah Lusia.
__ADS_1
Perjuangan yang Kelvin lakukan untuk keluarganya semakin membuat Lusia tidak enak hati. Bahkan masih belum cukup Lusia membalas semua kebaikan Kelvin terhadapnya selama ini.
Hal lain yang ingin Kelvin katakan kepada Lusia adalah tentang Lusia sendiri. Kelvin merasa jika Lusia bertahan bekerja di Cafe untuk membalas budi, maka dia tidak perlu lagi melakukannya. Semua yang Kelvin lakukan untuk Lusia selama ini adalah keputusan yang ia pilih tanpa mengharapkan apapun. Karena itu Lusia tidak perlu lagi merasa terbebani dan dia bisa berhenti kapanpun dia mau.
Semakin Lusia merasa terbebani, Kelvin pun juga akan merasa terbebani dan bersalah. "Semua yang aku lakukan murni tulus dari hatiku. Tapi, jika kau merasa terbebani dengan itu, lalu apa yang harus aku lakukan, aku hanya akan merasa sedih" jelas Kelvin.
Lusia meminta maaf jika sudah membuat Kelvin merasa sedih. Lusia meminta Kelvin untuk tidak mencemaskan hal itu. Lusia mengatakan jika dirinya suatu saat nanti mungkin akan benar-benar berhenti bekerja, tapi itu bukan sekarang. Untuk saat ini, Lusia meminta Kelvin mengizinkan dirinya untuk membantu Kelvin menjaga Friends Cafe, jika sudah waktunya tiba nanti dirinya akan berpamitan untuk berhenti.
"Jika waktu itu tiba nanti, jangan pernah berani melarangku! " ancam Lusia dalam candanya.
Kelvin pun tersenyum mendengarnya. "Satu hal lagi, bisakah kau sampaikan kepadanya?" tanya Kelvin kepada Lusia.
Lusia tampak bingung, kiranya siapa orang yang dimaksud Kelvin dan hal apa yang ingin ia sampaikan.
"Dia adalah Rayn, suamimu. Katakan kepadanya ucapan terima kasih ku."
Lusia tidak mengerti, apa yang membuat Kelvin harus mengucapkan terima kasih kepada Rayn. Selama ini Kelvin dan Rayn sangat jarang bertemu apalagi berbagi sesuatu yang membuat mereka harus saling mengucapkan terima kasih satu sama lain.
"Semuanya, terima kasihku kepadanya untuk semuanya."
Apa yang dikatakan Rayn saat dia menemui Kelvin malam itu membuat Kelvin menyadari satu hal. Rayn benar, jika perasaan yang dia miliki untuk Lusia selama ini bukanlah cinta. Karena itu Kelvin merasa jika dirinya tidak berhak mengharapkan balasan cinta itu dari Lusia. Kelvin merasa sangat bersalah karena dirinya hanya memberikan beban yang tidak bisa dia pertanggung jawabkan.
Kelvin tidak memberi jawaban yang jelas kepada Lusia. Ia hanya mengatakan hal yang Lusia tidak mengerti. "Aku rasa dia sangat mencintaimu. Lihatlah, sekarang dia bisa sangat tenang seperti pria sejati. Bahkan, kali ini dia memberiku tatapan yang berbeda dari biasanya. Apa karena dia sekarang bisa membaca perasaanku hanya dengan menatapku? Sepertinya dia sangat tahu jika aku benar-benar sudah melepasakan perasaanku" ucap Kelvin tanpa melepaskan tatapannya.
Lusia mengetuk meja tiga kali untuk mengalihkan tatapan Kelvin. "Aku tidak mengerti, kau berbicara kepadaku seolah-olah aku adalah Rayn yang sedang berada didepanmu"
"Dia memang disini..." jawab Kelvin.
Lusia sontak menoleh menatap ke arah mata Kelvin memandang sekarang. Ia melirik ke arah pintu masuk yang berada dibelakang Lusia duduk. Mata Lusia seketika membelalak melihat seorang pria yang sedang duduk sendiri disana, dan pria itu sekarang sedang melempar senyum kepadanya.
__ADS_1
"Sejak kapan dia berada disana?" tanya Lusia berbicara sendiri dengan tatapan tidak percaya akan situasi tiba-tiba ini.
"Sejak kita duduk berdua, sejak langit jingga mulai berganti dengan langit malam. Sejak saat itu juga dia tidak melepaskan tatapannya" sahut Kelvin.
Lusia mengeluhkan kenapa Kelvin tidak memberitahunya jika Rayn sudah sedari tadi duduk diisana. Rayn adalah pelanggan yang hendak disambut Lusia tapi ditahan oleh Kelvin.
Kelvin meminta Lusia untuk pergi menemui Rayn karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan.
"Ini menjadi kedua kalinya aku mengatakannya. Pergilah, karena dia pasti sudah sangat menunggumu" ucap Kelvin lalu juga berdiri.
Lusia pamit untuk menemui Rayn. Lusia tidak menyangka jika Rayn akan datang. Lusia menghampiri Rayn dan menanyakan alasannya data ke Cafe. Tidak mungki Rayn datang untuk menjemputnya sementara Lusia membawa kendaraanya sendiri.
Rayn mengatakan jika dirinya bosan dan ingin segera bertemu dengan Lusia. Lusia mengatakan jika sekarang dia belum bisa langsung pergi meninggalkan Cafe. Meskipun jam kerjanya sudah selesai, namun masih ada pekerjaan di dapur yang ia tunda tadi.
Lusia meminta Rayn untuk menunggunya sebentar lagi karena itu tidak akan memakan waktu lama. Tapi tidak disangka jika Cafe tiba-tiba ramai kedatangan pengunjung, Lusia meminta Rayn untuk menunggunya di meja VIP yang ada di dalam ruangan.
"Tunggulah sebentar saja, Ok" ucap Lusia.
Dari kejauhan Kelvin melihat bagaimana Lusia berusaha menjaga Rayn.
"Sekarang aku mengerti takdir seperti apa yang mereka miliki. Dan kali ini aku benar-benar tulus mendoakan kebahagiaan kalian berdua. Terutama kebahagianmu, Lusia."
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued ***