Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 116 - Melindungnya Dengan Caraku


__ADS_3

Pagi telah menyambut, disebuah hunian apartemen mewah, Lusia berjalan membuka tirai jendela kamar tempat dirinya berdiri saat ini. Lusia memandang keindahan yang memanjakan matanya setelah merasakan lelah karena perjalanan jauh. Ia memandang kagum kepadatan kota dibawah sana yang dipenuhi kendaraan lalu lalang diantara deretan gedung-gedung tinggi pencakar langit.


Lusia tampak menikmati sinar matahari pagi yang masuk menembus kaca jendela berderet ke dalam kamarnya, sebuah cahaya yang membuat kamar itu terasa hangat, terang, dan sangat nyaman. Ya, sebuah sambutan pagi yang begitu indah dengan suasana dan suguhan pemandangan yang begitu sangat mempesona.


Namun, sayangnya keindahan ini bukanlah keindahan dari negaranya yang akan bisa ia nikmati setiap pagi. Keindahan ini melainkan keindahan di negara orang lain. Tepatnya negara yang menjadi tempat dimana kekasihnya, Rayn Dean Anderson dilahirkan.


"Aku tidak mengerti, kenapa dia membawaku jauh-jauh datang kemari tapi memintaku tinggal disini daripada tinggal dirumahnya" keluh Lusia yang saat ini seorang diri didalam kamar Presidential Suite sebuah Hotel berbintang.


Ya, saat ini Lusia sedang berada di Kanada. Bagaimana dia tiba-tiba bisa berada di sana bukanlah pertanyaan yang susah untuk dijawab. Tentu saja membawa Lusia ke Kanada bukanlah hal yang sulit bagi Rayn. Rayn sudah meminta Mickey untuk mengurus semuanya sehingga Lusia dan dirinya hanya perlu menikmati liburan bersama di Kanada.


Tapi..., seperti yang dikeluhkan Lusia jika ada yang salah dengan rencana liburan ini. Kenapa Lusia harus tinggal di sebuah hotel dibandingkan tinggal di rumah Rayn. Meskipun tidak mengerti alasannya, Lusia melempar keluhan itu hanya untuk melampiaskan kekesalannya. Hal ini tidak sedikitpun mengurangi kepercayaannya terhadap keseriusan hati Rayn kepadanya.


......***......


Di sebuah restoran rumah batu abad 19th dekat Porte Saint-Jean, sebuah daerah yang penuh dengan pasar dan para petani kecil. Di sana, Rayn dan Mickey duduk santai menikmati sajian yang disajikan oleh Chef Stephane Roth, seorang Chef yang sudah mereka kenal. Dalam suasana yang akrab, Chef Stephane Roth menyajikan menu andalannya dari hasil bumi lokal yang memiliki rasa alam kepada Rayn dan Mickey.


"Kalian sudah lama tidak datang kemari, tapi aku masih bisa menyajikan menu kuno favorit kalian untuk bisa bernostalgia" ucap Chef Stephane Roth yang menyajikan hidangan itu sendiri kemeja Rayn dan Mickey.


"Terima kasih Roth" sahut Mickey sembari menyambut makanan dari tangan Chef Stephane Roth karena Rayn sudah cukup menahan diri dari phobia nya semenjak kedatangan Chef Roth ke mejanya.


Rayn hanya bisa menyapa dengan melempar senyum kepada Chef Roth sebelum akhirnya Chef Roth kembali ke dapur.


"Kau meninggalkan Lusia sendiri di kamarnya hanya untuk menemuiku?" tanya Mickey kepada Rayn sembari memotong daging yang hendak ia santap.


"Jangan menyebut jika itu adalah kamarnya sementara aku tidak akan pernah menganggap itu sebagai kamarnya" sahut Rayn dengan tatapan serius kepada Mickey yang hendak memasukkan makanan ke mulutnya.


Tatapan tajam Rayn membuat Mickey mengurungkan suapannya dan meletakkan garpu kembali ke atas piring. Dia sangat sadar akan sindiran Rayn baru saja, Mickey pun terdiam. Seperti memiliki sebuah ikatan menakjubkan diantara dua insan, Rayn pun mengeluhkan hal yang sama dengan keluhan Lusia kepada Mickey.


Ternyata kesalahan itu bukan atas dasar keputusan Rayn, melainkan semuanya adalah rencana yang sudah diataur oleh Mickey. Kenapa Lusia dan Rayn harus tinggal di sebuah hotel sementara Rayn memiliki rumah sendiri di Kanada. Itu yang dipertanyakan oleh Rayn saat ini.


Rayn dari awal sudah berencana saat kembali ke Kanada dia akan membawa Lusia pulang ke rumah pribadinya yaitu kediaman keluarga Anderson. Hunian yang begitu besar dan luas itu tentunya tidak akan mungkin kekurangan kamar hanya untuk seorang Lusia. Tapi Mickey melarang Rayn pulang dan justru menyiapkan hotel untuk keduanya selama berada di Kanada.


Mungkin masih masuk akal dan bisa diterima jika larangan itu untuk Lusia, tapi larangan ini juga berlaku untuk Rayn. Bahkan yang lebih menggelikan lagi, Rayn juga dilarang untuk tinggal di Penthouse yang merupakan aset pribadi Rayn sendiri. Hunian mewah Penthouse itu selama ini hanya Rayn gunakan setiap kali datang dia ke Kanada ketika memperingati hari kematian ibunya.


"Apa ayahku sudah jatuh bangkrut lalu menjual semua asetnya dan juga asetku ? Atau jika tidak, apa dia benar-benar sudah mendepakku keluar sebagai putranya?" tanya Rayn dengan wajah datar.


Mickey menghela nafas, ia menyandarkan punggungnya pada kursi dan menyilangkan kedua tangannya. "Aku tahu kau tidak akan menyingkapi situasi ini dengan berpikiran sebodoh itu, Rayn" sahut Mickey.

__ADS_1


"Karena itu, katakan apa yang terjadi disini sebenarnya!" perintah Rayn penuh penekanan pada nada bicaranya. Kali ini kembali dengan raut wajah lebih serius.


Mickey kembali dengan santai meraih sendok dan menikmati hidangan yang ada didepannya. Mickey meminta Rayn untuk memikirkan hal yang lain, dia hanya perlu menikmati liburannya bersama Lusia. Mickey juga mengatakan jika dia akan mengirim beberapa pengawal yang akan selalu mengikuti semua kegiatan Rayn dan Lusia selama berada di Kanada.


"Apa kau perlu melakukan sejauh itu?" tanya Rayn.


Mickey meminta Rayn untuk tidak perlu khawatir ataupun merasa terganggu dengan orang-orang yang ia utus. Mickey memastikan jika mereka akan menjaga jarak dan benar-benar tidak terlihat bahkan sampai Rayn dan Lusia tidak akan menyadarinya. Namun, bagaimanapun juga Mickey menekankan kepada Rayn jika ada kejadian yang dirasa mengancam, maka orang-orangnya akan tetap langsung melakukan tugasnya seperti apa yang sudah diperintahkan olehnya tanpa memberi tanda apapun.


Rayn ingin tahu kenapa tiba-tiba Mickey melakukan semua itu. Selama ini, setiap tahun Rayn datang ke Kanada tetapi Mickey tidak pernah melakukan hal seperti ini. Ia yakin jika hal ini bukan karena saat ini dirinya datang bersama Lusia.


"Apa semua ini ada hubungannya dengan pamanmu? Apa kau menemukan sesuatu tentang pamanmu? Kau sudah terlalu lama berada di Kanada. Bahkan kau memperpanjang keberadaanmu disini melebihi batas waktu yang aku berikan kepadamu. Apa terjadi sesuatu?" tanya Rayn.


Mickey terdiam sejenak lalu mengurai senyum dan kembali berbicara dengan santai. "Aku merasa tersakiti, apa sebuta itu yang namanya cinta sampai membuatmu baru menyadari jika sudah lama aku tidak kembali?" sahut Mickey mengalihkan pembicaraan mereka lagi.


Rayn pun semakin menatap Mickey dengan tatapan serius. Sorot matanya meminta Mickey untuk menjawab pertanyaannya. Mickey menghela nafas lalu kembali menyantap hidangannya.


"Jangan khawatir, aku akan menyelesaikannya. Nikmati saja waktumu dan aku pastikan tidak akan terjadi sesuatu yang terjadi kepada kalian selama berada di sini" jawab Mickey.


"Mickey, kau tahu jika itu tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Rayn.


"Aahh... dan juga soal larangan kenapa kau tidak bisa pulang ke rumahmu, itu bukan karena ayahmu mendepakmu bocah! Apa kau masih tidak mengerti jika semua ini demi keselamatanmu?" sahut Mickey masih mengalihkan pembicaraan.


"Kau sudah tahu jika aku tidak pernah sarapan makanan lain selain...." sahut Rayn masih dengan ekspresi wajah yang sama.


"Ya, ya, ya, aku tahu" potong Mickey.


Rayn mendengus kasar akan sikap Mickey yang tidak menjawab pertanyaanya tentang apa yang terjadi di Kanada sampai mengharuskan Rayn dan Lusia tinggal di Hotel dan mendapat pengawalan ketat.


"Jika apa yang terjadi disini juga akan mengancam Lusia, tentunya aku akan segera membawanya kembali. Tapi, setelah itu jangan melarangku kembali lagi kesini untuk ikut campur" tegas Rayn.


Mickey meletakkan alat makannya , ia lalu menyeka mulutnya dan meneguk wine yang tersaji di mejanya. Mickey menghela nafas lalu berbicara serius dengan Rayn. "Beri aku kesempatan untuk menyelesaikannya. Percayalah kepadaku, aku mohon padamu Rayn" minta Mickey.


Kali ini Mickey benar-benar mengatakannya dengan raut wajah serius. Mickey belum siap memberi tahu Rayn fakta jika ayahnya masih hidup. Inilah kenapa Mickey tidak bisa melarang Rayn datang ke Kanada, ia tidak memiliki alasan untuk melakukannya.


Meskipun ayahnya saat ini masih berada dibalik jeruji besi penjara, namun Mickey yakin jika ayahnya pasti memiliki koneksi diluar penjara yang bisa saja mengancam Rayn atau bahkan juga mengancam Lusia yang kini telah menjadi orangan yang berharga bagi Rayn.


Selama ini tidak ada yang tahu dimana dan seperti apa sosok putra tunggal Charles Dean Anderson. Maka dari itu lebih baik membiarkan Rayn menjadi orang asing selama berada di Kanada.

__ADS_1


Rayn pun terdiam, ia hanya menatap Mickey dengan tatapan marah yang tertahan lalu kembali memasang wajah datar seolah dia baik-baik saja dengan keputusan Mickey yang tetap bungkam.


"Aku harus kembali, Lusia pasti menungguku" ucap Rayn berdiri lalu pergi meninggalkan makanan yang sama sekali tidak ia sentuh.


Rayn meninggalkan Mickey seorang diri di sana. Mickey hanya diam membiarkan Rayn pergi, ia lalu kembali meneguk wine menghabiskannya dengan sekali minum. Mickey tertunduk usai menghela nafas yang begitu panjang.


Meskipun tidak mendapat jawaban dari Mickey, namun Rayn sudah tahu jika ini pasti ada hubungannya dengan pelaku pembunuhan ibunya.


"*Sampai kapan kau akan menanggungnya seorang diri*. Kau bebas lakukan apapun yang kau mau untuk melindungiku. Tapi, aku juga akan melakukan apapun yang aku mau dengan caraku sendiri untuk melindungi diriku dan dia" ucap Rayn lirih berbicara seorang diri sembari berjalan keluar restoran


......***......


Di hotel, Lusia sedang merias wajahnya. Ia sebelumnya sudah menerima pesan dari Rayn yang meminta dirinya untuk bersiap-siap karena Rayn sedang dalam perjalanan menjemputnya.  Tidak lama terdengar suara seseorang membunyikan bel. Lusia bergegas keluar dari kamarnya. Ia mengunci door guard penahan pintu lalu membuka pintu.


"Ryan" ucap Lusia tersenyum.


Tatapan mata Rayn tertuju pada penahan pintu yang dikunci Lusia. Lusia menutup pintu kembali untuk melepas penahan pintu sebelum membukanya lagi untuk Rayn.


"Melihat begitu cepat kau membuka pintu itu artinya kau tidak memiliki kecurigaan sama sekali tentang siapa yang datang. Aku akui kau cukup waspada membukanya setelah mengunci penahan pintu. Tapi, jika ancaman itu datang dengan sebuah pistol yang ditodongkan, kau tetap tidak akan selamat" ucap Rayn sembari masuk.


"Memangnya siapa lagi yang akan datang menemuiku disini jika bukan dirimu?" tanya Lusia yang tidak menanggapi serius ucapan Rayn.


Rayn menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Lusia. "Kau harus tetap memiliki kewaspadaan dimanapun itu terutama disaat aku tidak bersamamu" potong Rayn dengan wajah serius.


Lusia pun hanya diam mendengarkan ocehan Rayn. "Wah... apa sekarang kita sedang memerankan adegan drama trailer Canada?" celetuk Lusia sembari tersenyum menggoda Rayn.


Rayn menghela nafas panjang, ia sadar jika tidak seharusnya ia menunjukkan kecemasannya kepada Lusia. Rayn mengubah raut wajahnya yang serius dengan senyuman yang begitu manis.


"Tentu saja bukan..." sahut Rayn sembari mengulurkan tangannya. "Apa kau sudah siap? karena kita akan memerankan drama romansa sesungguhnya" lanjut ucap Rayn menggandeng Lusia.


Rayn akan membawa Lusia pergi jalan-jalan menikmati keindahan Kanada berdua. Ya, mereka hanya perlu menikmati waktu itu bersama tanpa mencemaskan apapun.


"Tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Siapapun itu, aku tidak akan membiarkannya menyentuh wanitaku. Aku tidak akan membiarkan diriku mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. "


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2