Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 163 - Cemburu Kekanakan


__ADS_3

Langit masih gelap gulita, bahkan cahaya bulan masih bersinar terang. Rayn memeluk erat istrinya yang kini tertidur dalam dekapannya. Rayn masih bisa merasakan kecemasan Lusia melalui pelukan itu. Mata Lusia yang lebam karena terlalu lama menangis membuat hatinya seperti diiris. Rayn pun kembali memeluk erat tubuh Lusia sembari mengucapkan kata maaf dengan lirih.


"Maafkan aku Lusia" ucap Rayn lalu menutup mata kembali tidur disisi istrinya.


.


.


Hari telah berganti pagi, cahaya mentari pun telah benar-benar menampakkan diri. Merasakan cahaya itu, Rayn memicingkan mata menghindari paparan cahaya matahari yang menembus jendela kamarnya karena tirai utama yang terbuka. Dengan sekuatnya, ia membuka mata saat melihat sesorang yang masuk dan berjalan ke arahnya.


"Kau sudah bangun..." sapa Lusia.


Lusia mengurai senyum, lalu mengecup singkat bibir Rayn sebagai sambutan pagi seperti yang sudah menjadi kegiatan pagi mereka. "Selamat pagi sayang" ucapnya.


Usai kecupan singkat itu, Lusia masih menahan wajahnya berada tepat diatas wajah Rayn dengan jarak yang begitu dekat. Ia melakukannya agar Rayn bisa mengecup keningnya sebagai balasan sambutan pagi darinya. Rayn mendekap wajah Lusia dengan satu tangannya, ia lalu mendaratkan kecupan hangat pada kening Lusia.


Hal itu akan selalu menjadi awal pagi yang begitu manis. Lusia langsung sibuk memeriksa cairan infus Rayn. Berkat Rayn kini Lusia dapat memahami sedikit tentang medis, meskipun hanya mengganti cairan infus. Hal ini Lusia lakukan karena dengan kondisi Rayn yang sudah sadar, tentu saja Rayn tidak akan membiarkan orang lain melakuakannya. Karena itu, akan menjadi percuma jika para dokter datang ke Villa. Para dokter tidak bisa melakukan apapun, Phobia Rayn yang akan menjadi penghalang mereka untuk melakukan pemeriksaan secara langsung.


Rayn terus menatap istrinya yang sibuk melakukan ini itu untuk dirinya. Seperti layaknya seorang perawat sungguhan, Lusia merawat Rayn dengan sangat baik. Bahkan ia juga sudah menyiapkan sarapan pagi penuh nutrisi untuk suaminya.


Berulang kali Rayn mengaakan jika dirinya sudah baik-baik saja. Ia tidak ingin membuat Lusia lelah karena merawatnya. Sesekali Rayn mengeluh karena Lusia benar-benar memperlakukannya seperti seorang pasien. Rayn merasa sangat sehat dan Lusia tidak perlu lagi mengkhawatirkan dirinya.


Menanggapi keluhan Rayn, Lusia mengerutkan keningnya. Jujur, ia menjadi sangat kesal dengan sikap Rayn yang selalu mengatakan baik-baik saja.Lusia hanya ingin Rayn membiarkan dirinya melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang isrti.


Dan disaat momen ini, Lusia menggunakan kesempatan menggoda Rayn. Ia ingin membuat Rayn menyesalinya. Lusia pun membalas, jika Rayn merasa seperti itu, maka dirinya tidak perlu lagi ambil cuti kerja untuk menemani Rayn hari ini.


"Baiklah, jika begitu aku bisa bekerja hari ini" sahut Lusia. "Padahal aku sudah mendapat cuti libur untuk hari ini" lanjut gumam Lusia dengan suara yang ia sengaja keras agar didengar Rayn.


Rayn sontak menaikan alisnya, dengan cepat ia menggeser tubuhnya mendekat dan merangkul pinggang istrinya yang masih duduk di bibir ranjang. "Apa kau sudah berencana tidak bekerja hari ini? Jika begitu jangan pergi bekerja" perintah Rayn seraya menggelengkan kepala.


"Bukankah kau bilang..." sahut Lusia. Belum sampai ia menyelesaikan ucapannya sudah kembali dipotong oleh Rayn.


"Aaaass, kepalaku sakit" potong Rayn.


Rayn semakin erat merangkul pinggang Lusia, dengan manja Ryan mengatakan jika tiba-tiba tubuhnya merasa lemas dan sedikit pening. Dengan panjang kali lebar ia menjelaskan jika dirinya takut seorang diri dalam keadaan seperti itu. Bagaimana jika tiba-tiba menjadi demam dan tidak ada seorang pun yang bisa membantunya. Para pengawal mungkin akan langsung datang hanya dengan sekali panggil saja, tapi mereka juga tidak akan bisa melakukan apapun. Bagaimana jika tiba-tiba dirinya jatuh pingsan atau sesutau lebih buruk lagi terjadi tanpa seorang pun yang tahu.


"Jadi, apa kau tega akan meninggalkanku sendiri" tanya Rayn dengan tatapan mengiba.

__ADS_1


Lusia mendengus kasar lalu tertawa kecil. Ia tidak tahan betapa menggelikannya sikap Rayn baru saja. Sudah jelas jika itu bukan sikap Rayn biasanya dan ia sudah bisa menduga ia akan melakukan itu. Lusia sangat tahu jika yang diinginkan Rayn adalah dirinya tetap berada disisinya.


"Kau bilang jika kau sudah baik-baik saja, bahkan kau mengeluh karena aku merawatmu." sahut Lusia jual mahal.


Rayn semakin erat merangkul Lusia, ia bahkan menyandarkan kepalanya pada bahu istrinya. "Aku hanya ingin kau tatap ada disisiku, hanya itu" lanjut ucapnya dengan manja menatap Lusia yang memasang raut wajah kesal.


"Aku lebih memilih melihatmu kesal kepadaku daripada melihatmu menangis" ucap Rayn lalu memejamkan matanya. Senyum manis pun tanpa sadar mengurai menggambarkan perasaan nya yang bahagia saat ini.


Rayn menggunakan kesempatan itu untuk bisa bersikap manja, tidak peduli dengan harga dirinya, Rayn rela bersikap seperti seorang pasien lagi. Ia meminta Lusia melakukan banyak hal mulai dari mengganti pakaiannya, membacakan buku dongeng untuknya, membuatkan panceke dan banyak hal lagi. Ia ingin terus diperhatikan oleh Lusia.


"Hah, ini yang dia bilang hanya butuh diriku disisinya" gerutu Lusia.


Kini keduanya memiliki waktu untuk bersantai. Rayn membaringkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya pada pangkuan Lusia yang duduk disudut sofa. Mereka tampak sedang menikmati momen itu untuk menonton televisi. Tapi, seperti tidak tahu apa yang ia ingin saksikan, Rayn terus saja mengganti siaran. Tiba-tiba teriakan Lusia yang memintanya untuk berhenti. Sungguh teriakan yang sangat mengejutkan Rayn.


Lusia meraih remot tv dari tangan Rayn lalu kembali ke channel yang sudah terlewat. Sebuah acara Live Band Music sedang berlangsung pada siaran itu. Terlihat wajah Lusia yang berbinar, menunjukan jika dia sangat mengidolakan penyanyi itu.


Ryan mengerutkan keninganya menujukkan wajah kesal saat melihat raut wajah Lusia yang begitu sengat bahagia menyaksikan penampilan yang sedang berlangsung dilayar kaca. "Kau berteriak kepadaku baru saja dan mengejutkan jantungku yang lemah ini hanya untuk peria itu?" tanya Rayn menunjuk ke arah layar.


Lusia mengabaikan pertanyaan Rayn baru saja. Ia bahkan semakin mengurai senyum manis seperti sedang terhipnotis tidak ingin melepaskan tatapan dari layar kaca.


"Apa yang kau suka darinya, tidak ada yang istimewah selain bakat suara yang sudah menjadi berkat Tuhan dari ia dilahirkan" lanjut gerutu Rayn menatap tajam penyanyi pria yang sedang mencuri hari istrinya.


Meskipun Rayn dengan jelas menujukkan rasa tidak sukannya, tapi Lusia benar-benar mengabaikannya. Tanpa menatap ke arah Rayn, Lusia hanya menjawab dengan anggukan dengan tatapan yang tetap fokus kedepan.


"Aaah... sayang tiba-tiba jantungku" keluh Rayn merasa sakit.


"Jantungmu ada disini" sahut Lusia memindah tangan Rayn yang salah tempat lalu kembali fokus dengan penyanyi idolanya.


Rayn meraih air mineral di meja dan meneguknya hingga habis hanya dalam 1 kali minum. Ia tidak percaya jika Lusia juga seorang fangirl. Bahkan dia sampai mengabaikan suaminya hanya demi pria yang saat ini tampil disana. Ia hanya bisa dengan pasrah membiarkan istrinya menyalurkan fangirling nya.


"Lusia...." panggil Rayn tiba-tiba menatap lekat ke arah Lusia.


"Lusia, aku benar-benar sakit" ucap Rayn lagi kini dengan nada suara lemah dan terdengar sungguhan.


Lusia pun segera berhenti dan langsung memperhatikan Rayn. Raut wajah yang berbungan itu pun kembali menjadi cemas. "Rayn, dimana yang sakit? Maafkan aku, beri tahu aku, apa sungguh sakit?" tanya Lusia mendekap pipi Rayn dengan satu tangan.


Rayn meraih tagan Lusia yang mendekap pipinya lalu mengarahkannya dan meletakkan pada dada nya. "Disini.. " ucap Rayn.

__ADS_1


Lusia yang mencium aroma bau-bau tipuan dan segera melepas tangannya. Namun Rayn menahan tangan Lusia. "Hatiku sakit melihat kau mengabaikanku" lanjut ucap Rayn.


Lusia mengatakan jika dia mengidolakan penyanyi tu semenjak ia masih duduk dibangku sekolah. Lusia sangat menyukai suara dan lagu-lagu yang dia ciptakan, wajah tampan hanya point plus saja. Disaat teman-temannya mengatakan jika akan pergi ke acara konser nya, Lusia pun juga berjuang mengumpulkan uang itu untuk bisa bisa membeli tiket versi online. Tiket online lebih bisa dia jangkau daripada membeli tiket live.


Namun, saat itu sekali seumur hidupnya ia bisa pergi menyaksikan konser nya secara langsung. David memberinya tiket konser, entah bagaiamana David bisa tahu dan mendapatkan tiket itu. Namun, Lusia sangat terharu dan merasa sangat senang.


"Karena dia menyukaimu saat itu, aku yakin dia sudah tau banyak hal tentangmu" sahut Rayn dalam hati.


"Penyanyi itu, kau sangat menyukainya?" tanya Rayn pada Lusia.


Lusia mengatakan jika dia menyukai lagu-lagu yang dibawakan seperti relate dengan kehidupan nya. "Setiap aku merasakan kesulitan seorang diri tanpa ada satupun yang mengerti dan mendengarku, hanya dengan mendengar  lagunya yang memiliki makna seolah memberiku semangat sudah cukup membuatku merasa lebih baik. Di saat tidak ada satupun orang yang berada dipihak ku, setidak aku bisa menganggap jika lagu-lagu yang dia bawakan cukup mewakili perasaanku dan membuatku tidak sendiri. Dengan bodohnya aku merasa jika lagu itu sangat mengerti dan memahami semuanya."


Lusia pun lalu memicingkan mata nya menatap Rayn. "Kenapa? Apa kau juga akan membelikanku tiket konsernya? Atau... jangan-jangan kau sudah berencana membuang uang untuk menyewa tempat menggelar acar khusus seperti yang kau lakukan saat melamarku?" tanya Lusia.


Rayn mengurai senyum tipis. "Jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan melakukan itu untuk wanitaku menggilai pria lain" ucapnya penuh percaya diri.


"Wah.... Cemburu mu sangat mengerikan dan norak. Lalu jika bukan pria, apa aku hanya boleh mengidolakan bintang wanita? Bukannya itu justru sangat aneh. Kau ingin aku tergila-gila terhadap wanita? Menggelikan" celetuk Lusia.


Rayn meraih gelas dimeja hendak meminumnya, tapi ia lupa jika dirinya sudah mengahabiskannya sedari tadi. Rayn meletakkan gelas itu lagi lalu berusaha mengalihkan pembicaraan konyolnya. "Aku baru ingat, jika aku belum mencuci rambutku, bisakah kau membantuku?" ucap Rayn sembari mengurai senyum manis.


Alih-alih kesal dengan sikap kekanakan bahkan kecumburuan yang lebih kekanakan, Lusia justru tersenyum penuh paksa menahan diri untuk bersabar "Baiklah, aku akan melakukannya untukmu" ucapnya.


Rayn tidak terlihat seperti orang yang tidak bisa mencuci rambutnya sendiri, tapi tidak ada gunanya menolak atau dia akan bersikap lebih kekanakan lagi. Lusia meminta Rayn untuk pergi ke kamar dan menunggunya. Ia akan meyiapkan air hangat dan keperluan Rayn untuk membantunya mencuci rambut.


Rayn merebahkan tubuhnya di sofa yang ada dikamarnya. Dengan setia ia menunggu Lusia yang sedang menyiapkan air hangat untuk mencuci rambutnya. Mengingat cerita tentang David yang pernah diam-diam membelikan tiket konser untuk Lusia membuat Rayn kembali menjadi kesal.



"Kenapa dia selalu bersikap keren untuk Lusia" gumam Rayn merasa kesal.


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2