
Lusia keluar Villa, ia melihat Rayn sibuk dengan sepeda seolah sedang serius memeriksa segala fungsinya.
“Apa yang akan kau lakukan dengan sepeda itu?” tanya Lusia.
“Apa lagi, jika bukan untuk dikendarai” jawab Rayn masih tetap fokus dengan sepedanya.
“Kau ingin kita pergi bersepeda pagi ini? Kau memintaku untuk ikut pergi olahraga denganmu, tapi kenapa hanya ada satu sepeda untuk kita berdua?” tanya Lusia.
Rayn tidak menjawab pertanyaan Lusia, ia justru berjalan menghampiri Lusia dengan langkah kaki yang membuat jantung Lusia berdeguk kencang. Rayn menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di depan Lusia.
Lusia semakin menatap tajam Rayn. Segala gerak-gerik Rayn kini menjadi perhatian penuh Lusia. Ia menjadi lebih banyak salah tingkah dan semua sikap Rayn kini tiba-tiba membuatnya kikuk setiap didekat Rayn.
Rayn mengulurkan tangannya seolah akan menyentuh tubuh Lusia. “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Lusia dengan tegas, ia mengambil satu langkah mundur dari Rayn.
Tanpa banyak bicara, Rayn langsung meraih pinggul Lusia saat Lusia hendak menghindarinya. Rayn menarik kembali tubuh Lusia agar tetap berada di dekatnya.
Lusia membulatkan matanya, menatap gerakan manik mata Rayn yang juga mentapnya. Apa yang dilakukan Rayn semakin menggetarkan hatinya. Lusia terpaku pada wajah tampan Rayn yang tidak ingin ia lewatkan. Sorot mata yang meneduhkan, hidung mancung, bibir tipis dan jakun yang menggoda. Lusia tidak melewatkan setiap inci dari wajah Rayn yang kini terpampang tepat didepan matanya.
Rayn tersenyum menaggapi reaksi Lusia. “Memangnya apa yang berani kulakukan kepadamu?” tanya Rayn melepas tangannya, ia lalu fokus mengaitkan resleting jaket Lusia yang masih terbuka. Rayn menariknya naik hingga menutupi leher Lusia.
“Selesai” lanjut ucap Ryan. Ia lalu mengacak lembut rambut Lusia dengan senyum yang begitu manis.
Lusia segera membuang nafas yang sudah ia tahan selama Rayn melakukannya. Ia langsung melangkah menghindar dan mendekati sepeda Rayn.
“Wah… aku kini tahu kenapa kau memintaku ikut pergi olahraga denganmu, tapi kau hanya menyiapkan satu sepeda ini saja. Kau ingin kita melakukan kegiatan romantis dipagi hari kan? Mengendarai sepeda berdua, alih-alih pergi olahraga. Benar kan? Melihat cara kau menggodaku baru saja, itu sudah sangat kentara sekali” celoteh Lusia.
Rayn tanpa dosa menjawab singkat. “Karena aku tidak bisa mengendarainya” ucapnya.
Rayn terlalu berterus terang sehingga mematahkan kepercayaan diri Lusia akan semua dugaan yang disimpulkannya. Lusia sontak langsung mati kata.
“Apa katamu?” tanya Lusia.
“Aku memintamu menemaniku dan kenapa hanya ada satu sepeda, karena aku ingin kau mengajariku. Apa ada masalah dengan itu?" tanya Rayn.
“Ha… haha… ingin belajar ternyata” sahut Lusia memalingkan wajahnya karena malu sendiri dengan celotehnya.
Lusia lalu bergumam dalam hati. “Tidak bisakah dia basa-basi sedikit” gerutunya sembari menaikkan stand sepeda dengan kasar.
“Lagian lucu sekali, kenapa orang sepertimu yang bisa mengendarai mobil sebesar itu, tapi tidak bisa mengendari sepeda ini? ” lanjut tanya Lusia.
“Karena mengendarai mobil tidak membutuhkan keseimbangan saat duduk dikursi kemudi” celetuk Rayn.
“Haha, kau benar. Tapi apa kau tahu, itu sebabnya kenapa para orang terdahulu mengingatkan kita untuk belajar dari hal yang kecil dulu. Agar yang seperti ini tidak keluar dari urutannya” sahut Lusia mematahkan kata-kata Rayn.
__ADS_1
Lusia kesal, namun ia juga mengakui jika Rayn pandai bicara dan selalu benar. Rayn seolah tidak pernah mau kalah, meskipun kejujurannya terdakang sangat menjengkelkan.
Pada akhirnya, Lusia mulai mengajari Rayn bersepeda dengan mempelajari hal-hal dasar terlebih dahulu. Lusia berusaha dengan kesabarannya mengulang semuanya meskipun Rayn masih selalu saja gagal. Lusia terus mencoba membantu Rayn menjaga keseimbangannya dan mendorongnya pelan. Namun Rayn masih selalu gagal, bahkan ia tidak bisa sampai lebih dari 4 kayuhan.
Rayn masih pantang menyerah, ia terus meminta Lusia membantunya mengulang lagi, lagi, dan lagi.
“OK, kau dengarkan intruksiku. Ja..nga..n memperlambat kayuhanmu. Ingat! Jangan perlambat kayuhamu. Relax… OK!” perintah Lusia yang mulai kehilangan kesabarannya, ia kembali memposisikan dirinya untuk mendorong sepeda Rayn lagi.
Jauh dari harapan, Rayn masih saja gagal. Lusia tiba-tiba meminta Rayn berhenti dan turun sebentar. Ia lalu meraih dan menurunkan stand sepeda Rayn kemudian pergi menjauh. Rayn dengan wajah bingung mengikuti perintahnya begitu saja.
“Aaaarrggggghhhhh…..!."
Teriak Lusia berjalan menjauh untuk membuang kekesalannya. Ia mengambil nafas dalam agar mendapatkan kesabarannya kembali lalu menghampiri Rayn. "Ok, kita coba lagi" ucapnya singkat. Ia meraih sepeda Rayn kembali usai berteriak, seolah ia menjadi orang yang baru lagi dengan semangat yang baru.
Rayn tertawa geli dengan apa yang baru saja Lusia lakukan. Entah mengapa ia merasa cara Lusia melampiaskan kekesalannya dengan berteriak menjauh itu sangat menggemaskan. Karena jika normalnya akan memakinya atau berteriak.
“Apa yang kau tertawakan? Kau seharusnya tertawakan dirimu sendiri karena malu” ucap Lusia kepada Rayn.
“Menyingkirlah” perintah Rayn dengan tersenyum lalu meraih sepeda dari tangan Lusia.
Rayn langsung menaiki sepedanya. “Kemarilah” ucap Rayn meminta Lusia untuk duduk di depan.
“Apa kau ingin membawaku ikut celaka bersamamu?” tanya Lusia. Ia merasa konyol dengan Rayn yang memintanya untuk duduk di bagian depan, seolah ia akan membonceng Lusia.
Lusia masih saja diam dengan tatapan penuh curiga. Ia tidak percaya jika Rayn bisa melakukannya. Melihat Lusia yang masih ragu, Rayn langsung menarik tangan Lusia dan memintanya untuk duduk sesuai perintahnya.
“Kau yakin?” tanya Lusia. “Aku akan membunuhmu jika kita jatuh. Jika kau ingin melukai kaki dan tanganmu, kau bisa melakukannya sendiri. Tidak perlu repot-repot mengajakku” lanjut ancam Lusia.
Rayn mengabaikannya dan bersiap mengayuh.
“Hya…! aku serius Rayn, Hentikan!” teriak Lusia yang ketakutan saat Rayn mulai mengayuh sepedanya.
Rayn mengabaikan teriakan Lusia dan tetap mengayuh sepedanya. Lusia sangat terkejut melihat Rayn bisa melakukannya, bahkan ia juga bisa mengendarainya dengan membonceng dirinya. Mereka pun mulai bersepeda meninggalkan halaman Villa.
Mickey tersenyum melihat keduanya, ia sedari tadi sudah memperhatikan mereka dari balkon lantai 2. “Dasar bocah itu, trik apa lagi yang dimainkannya? Mana mungkin dia tidak bisa melakukannya, sementara ia dulu pernah membawaku kabur dari kejaran anjing dengan kecepatan bak pembalap” gumam Mickey masih memandang Rayn dan Lusia yang mulai meninggalkan Villa.
“Wahh… Kau bisa melakukannya dengan baik” ucap Lusia dengan tersenyum seolah memuji Rayn.
Lusia lalu menoleh, ia mendongakkan kepalanya menatap Ryan. “Jadi, dari tadi kau sedang membodohiku?” tanyanya dengan raut wajah yang berubah 100% . Ia menatap kesal Rayn yang selalu jahil kepadanya.
“Siapa yang membodohimu? Aku hanya perlu pelatihan kecil karena sudah lama tidak bersepeda” sahut Rayn tersenyum.
“Hya…, kau sengaja melakukannya bukan? Pelatihan apanya” gerutu Lusia dengan kembali memandang ke depan.
__ADS_1
“Ini seperti kita sedang membuang-buang waktu saja. Jika tidak, mungkin saat ini kita seharusnya sudah berada disana” tunjuk Lusia kedepan.
Lusia lalu mengarahkan tangannya berputar menunuju jalan di belakangnya. “Dan seharusnya kita sudah bisa berada diarah putar balik kembali ke Villa sana” lanjut tunjuk Lusia. Ia terus saja komplain di atas sepeda yang dikayuh Rayn.
“Lusia…” panggil Rayn.
“Apa?” tanya Lusia dengan tetap memandang kedepan. Ia masih saja celoteh.
“Heii… aku memanggilmu” sahut Rayn mulai menghentikan sepedahnya.
“Apa lagi?" tanya Lusia menoleh dan memandang Rayn.
Rayn dengan cepat mengecup bibir Lusia saat Lusia menoleh. “Ini salah satu cara untuk mengunci bibirmu agar tidak comel. Sikapmu terlalu menggemaskan sehingga membuatku takut menginginkan lebih” ucap Rayn dengan tersenyum usai mencium singkat bibir Lusia. Ia memandang Lusia yang terdiam seribu kata dan tidak berkutik lagi.
“Kita nikmati saja pemandangannya” lanjut ucap Rayn kembali mengayuh sepedanya.
Lusia menutupi wajahnya, ia sangat malu dan langsung kembali fokus kedepan. Mereka pun kembali melanjutkan bersepeda dimana Rayn masih membonceng Lusia di depan.
“Aku kira kau akan membalas kecupan itu seperti yang pernah kau lakukan sebelumnya” ucap Rayn kembali menggoda Lusia dengan kejahilannya.
“Hentikan…” sahut Lusia meminta Rayn berhenti menggodanya.
"Jika dihitung, seharusnya hari ini aku sudah melakukan 3 hal romantis. Mengancing jaketmu, memboncengmu dan ……” Rayn memperlambat ucapannya.
“Hentikan….!” sahut Lusia semakin malu menyadari jika selanjutkan yang mungkin akan di ucapkan Rayn adalah kecupan dibibirnya baru saja.
“Aku ingin kita bisa melakukannya banyak hal, haruskan aku membeli buku khusus untuk mempelajari hal-hal romantis yang diinginkan wanita?” tanya Rayn masih saja menggoda Lusia sembari tetap mengayuh sepedanya.
"Fokus saja dengan jalannya" sahut Lusia.
"Hanya itu yang kau ucapkan? Kau tidak ingin membalas mengunci bibirku yang comel ini?” tanya Ryan dengan tertawa membahas ciumannya baru saja.
“Raynnnnn…..!” teriak Lusia.
Rayn tertawa mendengar teriakan Lusia. Ia masih saja mengayuh dan terus bersepeda jauh meninggalkan Villa. Sepanjang jalan Rayn tidak berhenti menggoda Lusia. Rayn terus membuat hati Lusia semakin meleleh disetiap candaannya.
Rayn tidak ingin jika hubungannya kini membuat Lusia merasa tidak nyaman. Ia tetap akan menjadi dirinya seperti biasa, salah satunya yaitu sikap jahilnya yang mulai berbau-bau romantis.
.
.
*** To Be Continued***
__ADS_1