
"Lusia..."
Dengan nada suara lirih, Rayn memanggil nama wanita yang kini masih berdiri didepannya. Tatapan mata Rayn semakin kuat menatap lekat manik mata Lusia. Semakin erat ia menguatkan genggaman tangannya menunjukkan kecemasan akan jawaban Lusia.
"Mungkin aku salah mendengarnya."
Pemikiran ini yang sedang dipertahankan Rayn untuk tidak menyakiti perasaannya sendiri. Ia mengharapkan jawaban yang berbeda, namun kenyataannya tetap sama. Rayn berusaha menyembunyikan deru nafasnya yang terus berpacu begitu cepat. Seolah ia berusaha bertahan di ujung tebing melawan angin yang siap menghempas tubuhnya jatuh ke jurang.
"Apa karena aku tidak memiliki kesempurnaan yang layak seperti pria normal lainnya?" tanya Rayn.
Mungkinkah Lusia memandang kesempurnaan dalam arti yang sama dengan mereka. Apakah dia juga selama ini menganggap dirinya orang lemah yang tidak memiliki kelayakan. Seperti bom waktu yang akan meledak di kepalanya, pertanyaan itu membuat Rayn tak lagi bisa memiliki harapan.
Pernikahan? Sepertinya ia telah mengharapkan sesuatu yang mustahil. Inilah kepingan pikiran yang tersisa di kepala Rayn saat Lusia melepaskan genggaman tangannya.
"Rayn..."
Dengan lirih Lusia menyebut nama itu usai melepas genggaman tangan Rayn. Lusia melepasnya bukan memberi sebuah tanda penolakan dengan jawaban yang mengerikan, tapi dia yang kini berbalik menggenggam tangan Rayn dengan kedua tangannya.
"Rayn, apa yang kau bicarakan. Kau tahu jika aku sangat mencintaimu, aku pun ingin menghabiskan sisa waktuku bersanding denganmu dan keinginanku itu mungkin melebihi dari yang kau rasakan. Kejutan ini, lamaran ini, aku sangat bahagia Rayn. Bahkan aku merasa jika aku mungkin sedang bermimpi saat ini. Tanpa kau menanyakannya, seharusnya kau sudah tahu jawabanku. Ya, aku menerimanya Rayn, aku pun sangat ingin menikah denganmu. Tapi..., untuk pernikahan yang kau katakan, aku tidak bisa jika kau ingin melaksanakan sebelum kita kembali Rayn" ucap Lusia.
"Bukan aku tidak ingin Rayn, tidak. Aku sangat menginginkannya meskipun itu hanya sebuah pernikahan sederhana dan aku tidak masalah dengan itu Rayn. Tapi apa kita bisa menundanya? Jika kau ingin kita menikah disini tidak masalah bagiku, tapi tidak sekarang. Aku butuh waktu karena ibuku. Aku tidak bisa melakukannya tanpa kehadiran ibuku. Kau tahu jika dia adalah orang yang berarti untukku. Bagaimanapun juga aku harus mendapatkan restu darinya. Ini sebuah pernikahan Rayn, bagaimana mungkin aku bisa melakukannya tanpa kehadiran ibuku" jelas Lusia.
Lusia terus berjuang dan bertahan hingga saat ini karena dan demi sang ibu dan keluarga kecilnya. Pernikahan adalah hal sakral yang tidak mungkin ia lakukan tanpa restu dan kehadiran sang ibu.
Rayn meletakkan buket bunga pada kursi lalu mendekap pipi Lusia dengan lembut. Apa itu yang kau khawatirkan? Apa menurutmu aku akan sekejam itu?" tanya Rayn dengan tatapan teduhnya.
"Rayn, apa kau bisa menungguku? Apa kau mau menemuinya untuk mendapatkan restu itu?" tanya Lusia.
Alih-alih menjawab pertanyaan Lusia, perlahan seulas senyum mulai terurai di bibir Ryan. Ia sangat mengerti dan memahami kekhawatiran Lusia. Tentu saja ia sudah memikirkan segalanya, termasuk apa yang dikhawatirkan wanitanya saat ini.
"Kak Lusia ..."
Tiba-tiba terdengar suara anak laki-laki menggema memanggil nama Lusia. Lusia pun terdiam pandangannya langsung mencari ke arah dimana suara panggilan itu berasal. Lusia menoleh, sontak ia membulatkan matanya melihat sosok anak laki-laki yang berlari ke arahnya sembari merentangkan kedua tangannya untuk memeluk.
"Lucas....?" balas panggil Lusia dengan nada masih tidak percaya.
Ya, anak itu adalah Lucas, adik Lusia. Lusia segera menyambut hangat adiknya dengan pelukan. Dia sangat bahagia akan kehadiran adiknya. Kebahagian itu terlihat jelas diraut wajah Lusia karena ia juga sangat merindukan Lucas, adiknya.
Rasanya Rayn tidak hanya ingin memberikan kebahagiaan itu hanya sampai disitu. Dibalik tubuh Lucas, terlihat langkah kaki seorang wanita paru baya berjalan ke arah Lusia yang masih memeluk Lucas.
"Ibu...." panggil Lusia menatap wajah sang ibu.
__ADS_1
Lusia pun langsung memeluk ibunya dengan menangis, ia tidak percaya jika ibunya benar-benar ada bersamanya saat ini. Lusia tidak bisa menahan isakan, pertemuan itu membuat haru sebagian pemain orkestra yang melihatnya.
Rayn telah memberikan kejutan yang sempurna untuk Lusia. Tidak hanya lamaran romantis, tapi ia juga mendatangkan adik dan ibu Lusia untuk memberikan restu akan pernikahannya.
"Ibu merestuimu nak. Terlepas dari dukungan ibu yang selalu percaya dengan pilihanmu, dia adalah pria yang baik" ucap ibu Lusia.
Lusia menoleh menatap Rayn yang saat ini berdiri kembali dengan buket bunga ditangannya. "Ibu..." ucap Lusia kembali menatap wajah ibunya.
Ibu Lusia mendekap pipi Lusia, ia tersenyum lalu mengangguk. Anggukan yang menunjukkan restunya kepada Lusia untuk menerima Rayn sebagai pendamping hidupnya.
Lusia lalu pergi menghampiri Rayn, ia menghentikan langkah kaki itu tepat didepan Rayn. Perlahan Lusia meraih bunga yang disodorkan Rayn kepadanya. Ia memeluknya dan menyandarkan kepalanya pada bidang dada Rayn.
"Terima kasih Rayn" ucap Lusia masih memeluk Rayn.
Lusia mendongakkan kepalanya menatap wajah Rayn, tangannya masih memeluk tubuh pria itu dengan bunga ditangannya. Lusia meletakkan bunga itu lalu mendekap kedua pipi Rayn dengan kedua tangannya.
"Apa kau tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan restu dari ibumu" ucap Rayn menatap Lusia yang mendekap pipinya.
"Rayn... pernikahan itu, aku menerimanya. Mari kita menikah" ucap Lusia lalu mengecup bibir manis Rayn dengan lembut.
Sebuah kecupan hangat yang disaksikan oleh semua pasang mata yang ada didalam gedung pertunjukkan seni itu. Terdengar suara tepuk tangan dari para pemain orkestra yang juga merasa bahagia untuk keduanya.
"Ibu dan Lucas sedang menatap kita" ucap Lusia malu.
"Bukankah kau yang memulainya, kenapa kau boleh melakukannya tadi sementara aku tidak" keluh Rayn masih memeluk tubuh calon istrinya itu.
"Karena aku juga baru menyadarinya sekarang" sahut Lusia dengan wajah yang memerah.
"Apa karena kau terlalu bersemangat ? Bukankah kita akan memiliki banyak waktu setelah menikah nanti" goda Rayn berbisik ditelinga Lusia dengan nada suara sensualnya.
"Oh ya, aku memiliki sesuatu untukmu" lanjut ucap Lusia mengalihkan topik Rayn.
Lusia mengambil paper bag ditempat ia duduk tadi, ia lalu mengeluarkan sebuah scarf berwana hitam yang ia beli saat jalan-jalan seorang diri. Lusia berencana memberikannya kepada Rayn saat bertemu, tapi ia tidak menyangka jika Rayn akan membuat kejutan besar kepadanya. Lusia merasa jika hadiah kecilnya ini tidak akan bernilai.
"Aku tidak tahu, apakah scaft ini akan sebanding dengan kejutan yang kau berikan. Jika aku tahu, mungkin aku akan membelikanmu yang lebih baik dari ini" ucap Lusia sembari memakaikan scarf itu pada jenjang leher Rayn.
Rayn mengurai senyum di bibirnya lalu mengecup singkat kening Lusia. "Apa ini boleh? Ini sudah cukup bagiku untuk sekarang" ucap Rayn mengingat Lusia menolak ciumannya tadi.
Rayn sangat bahagia dan ia menyukai hadiah yang diberikan Lusia. Bagi Rayn bukan harga dan rupa yang bisa menilai, tapi ketulusan hati Lusia. Rayn menggandeng tangan Lusia dan mereka pun berjalan menghampiri ibu Lusia.
"Ada 2 orang yang belum menunjukkan restunya kepada kita" ucap Rayn meminta Lusia untuk kembali memandang layar kembali, bersama dengan Ibu Lusia dan Lucas yang berdiri disampingnya.
__ADS_1
Mereka semua menatap ke arah layar, kali ini bukan sebuah video momen romantis yang diputar, melainkan sebuah panggilan video dengan seseorang. Terlihat nenek Lusia bersama laki-laki muda berpakaian rapi yang mengarahkannya untuk berbicara kepada layar notebook didepannya.
"Apa cucuku bisa melihatku dari sana?" tanyanya pada pria laki-laki itu.
Lusia terkejut melihat neneknya di sana, ia menoleh menatap Rayn dan Rayn membalas dengan anggukan. Tidak lama seorang pengawal mendekat dan memberikan earbuds kepada Lusia. Laki-laki di sana ternyata adalah utusan Ryan yang diminta untuk menjaga nenek Lusia sementara adik dan ibu Lusia pergi ke Kanada.
Nenek Lusia menolak ajakan Rayn ke Kanada karena ia tidak ingin pergi jauh apalagi meninggalkan kediamannya meskipun hanya untuk beberapa hari. Karena itu Rayn mengirim beberapa pengawal untuk menjaganya.
"Lusia, maafkan nenek tidak bisa menemuimu di sana, tapi do'a nenek selalu bersamamu nak. Anak itu siapa namanya?" tanya si nenek kepada pengawal yang berdiri disebelahnya.
"Tuan Muda Rayn" sahut pengawal.
"Rayn, namanya Ryan nek. Rayn Dean Anderson. Apa menurut nenek dia cocok untukku?" tanya Lusia sembari menatap Rayn yang menunduk memberi salam kepada neneknya.
"Maafkan nenek belum mengingat namanya, tapi saat dia datang menemui nenek, dia meminta untuk mempercayakan dirimu kepadanya. Nenek bertanya kepadanya bagaimana nenek bisa mempercayainya? dia berkata 'Senyum'. Dia berjanji akan selalu membuatmu tersenyum, dia berjanji jika nenek akan bisa melihatmu selalu tersenyum" ucap nenek Lusia yang mulai meneteskan air matanya.
"Jika dia adalah laki-laki yang bisa membuatmu selalu bisa tersenyum, maka nenek bisa melepas mu dengan tenang. Nenek ingin kau bisa mengejar kebahagiaanmu sendiri Lusia, tidak perlu lagi hanya selalu memikirkan kebahagian nenek, ibumu dan Lucas. Nenek sangat bersyukur jika mulai saat ini ada orang yang akan memikirkan kebahagiaanmu dan memberikan kebahagian itu untukmu. Maafkan nenek, ibumu dan Lucas jika hanya bisa memberikan beban untukmu selama ini, maafkan nenek Lusia" ucap nenek Lusia menangis.
"Nenek..." panggil Lusia ikut menangis.
"Doa nenek untuk kalian, semoga kalian bahagia" ucap nenek mengusap air matanya lalu tersenyum ia melambaikan tangan untuk Lusia dan yang lainnya. "Jaga dirimu" lanjut ucapnya lalu meminta pengawal mengakhiri penggalian.
Rayn meraih bahu Lusia dan mengarahkan Lusia untuk menatap dirinya, ia lalu mengusap air mata Lusia dengan kedua tangannya.
"Bukankah aku sudah berjanji kepada nenek agar dia bisa selalu melihatmu tersenyum. Biarkan aku melakukannya" ucap Rayn lirih dengan tatapan yang meneduhkan lalu memeluk Lusia.
Lusia pun membalas pelukan Rayn, ia semakin erat memeluknya dan bersandar pada bahu Rayn. Ini adalah momen yang ingin membuatnya menguras air mata. Tapi Lusia berusaha menahan dirinya untuk tidak menjatuhkan air matanya lagi, ia ingin membantu Rayn memenuhi janjinya yang tidak akan membuatnya menangis dan akan selalu tersenyum.
"Kau adalah takdirku, pria yang dikirim Tuhan untukku Rayn. Kau akan selalu menjadi kebahagiaanku, meskipun hanya dengan perubahan kecil yang kau lakukan untukku. Aku sangat bahagia ketika kau memelukku dengan hangat seperti ini. Aku sangat mencintaimu Rayn. Terima kasih telah memberikan warna dalam hidupku ketika aku hanya bertahan dengan sesuatu yang menurutku selalu sama." --- Lusia
"Maafkanlah aku karena memiliki banyak hal yang tidak bisa aku lakukan dan berikan padamu. Tapi, tetaplah menggenggam tanganku ketika aku bersikap tidak dewasa dan tidak berpendirian. Maafkan aku yang tidak sempurna karena kekuranganku. Tapi, aku akan tetap berusaha melakukan yang terbaik dan memperlakukanmu dengan baik. Jika kau bertanya sebesar apa cintaku padamu, aku hanya bisa menjawab dengan pernikahan kita." --- Rayn
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1