Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 41 - Kau Kekasihku


__ADS_3

Keesokan harinya, Rayn kembali menghabiskan waktunya di ruang melukis. Meskipun Lusia sudah melarangnya dan meminta Rayn untuk tetap istirahat, namun Rayn menolak. Ia mengatakan jika melukis bukan hanya pekerjaan baginya, tapi juga bagian dari hidupnya.


Melihat kondisi Rayn yang sudah membaik, Lusia akhirnya bisa merasa lebih tenang saat meninggalkannya pergi bekerja di Cafe. Di selang waktu istirahatnya, Lusia mencoba menghubungi Reisa untuk berbagi cerita yang sudah ia alami selama bekerja dan tinggal di Villa.


Semenjak keduanya sudah tidak tinggal serumah, mereka menjadi tidak banyak memiliki waktu untuk bercengkrama atau pun bertemu. Reisa tidak bisa dihubungi, ia tidak menjawab panggilan Lusia. Tidak lama Reisa kembali menghubungi Lusia. “Ada apa Lusia, maaf baru bisa menerima panggilan teleponmu” ucap Reisa dalam panggilan telepon dengan Lusia.


“Apa kau sibuk atau sedang lembur lagi? Tidak biasanya kau lama menjawab panggilanku” jawab Lusia.


“Oh, tidak. Hanya ada sesuatu yang sedang ku kerjakan. Oh ya, ada apa kau menghubungiku?” tanya kembali Reisa.


Lusia yang tadinya ingin berbagi cerita mengurungkan niatnya. Ia merasa sepertinya Reisa sedang sibuk, Lusia tidak ingin mengganggunya hanya untuk urusan yang tidak terlalu penting. Meskipun biasanya Reisa yang justru selalu lebih kepo terhadapnya. Tapi kini, kesibukan keduanya membuat semua terasa berbeda. Lusia akhirnya hanya menanyakan kabar, membahas hal kecil secara singkat lalu menutup telepon.


Reisa saat ini sedang berada di sebuah Restauran, ia merasa tidak enak hati dengan Lusia. “Reisa, kau sudah datang?” tanya seorang wanita berpakaian pelayan menghampirinya. Lusia merespon dengan senyum lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Cepat ganti bajumu, 1 jam lagi tamu yang reservasi meja VVIP akan datang. Kau bantu Nadia untuk menyambut dan melayaninya” lanjutnya lalu pergi ke dapur.


Reisa kini telah bekerja paruh waktu di sebuah Restauran mewah yang menghadirkan makanan khas Perancis. Ia sengaja mengambil kerja ekstra untuk membantu Lusia. Ia tidak tega melihat Lusia berjuang seorang diri. Reisa merasa seperti sahabat yang tidak berguna bagi Lusia. Meskipun tidak banyak yang dapat ia berikan nantinya, namun Reisa berharap jika itu bisa membantu meringankan beban sahabatnya.


Reisa merahasiakan pekerjaannya ini dari Lusia dan David. Ia tidak memberitahu Lusia karena pasti lusia akan melarang keras dan menolak bantuannya jika tahu. Ia juga merahasiakannya dari David, karena tidak ingin membuat David khawatir.


Di tengah kesibukannya bekerja di restauran, Reisa selalu membuat banyak alasan setiap kali David menghubunginya atau ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat. Terakhir kali David tidak sengaja mendapati Reisa sedang berbohong. Ia mengatakan jika di hari liburnya bekerja di Galery, ia sedang pergi mengunjungi neneknya sehingga tidak bisa pergi menemani David.


Namun, tidak sengaja David melihatnya dan ia mencoba memperjelas kebenarannya dengan Reisa dan kenapa ia berbohong. Tapi keduanya justru berakhir dengan perdebatan. Meskipun saat ini hubungan mereka terlihat baik-baik saja, namun keduanya kini saling menjaga jarak.


David memberi Reisa waktu untuk sendiri seperti apa yang ia minta terkahir kali dalam perdebatan mereka. Ketidakjujuran Reisa yang sesungguhnya ia lakukan demi Lusia justru menjadikan hubungannya dengan David renggang. Namun, Reisa sama sekali tidak menyalahkan Lusia ataupun menyesalinya.


Reisa sudah berganti pakaian dan merapikan rambutnya. Ia bergegas menuju meja VVIP yang berada di ruangan khusus dengan interior yang kental dengan suasana Eropanya. Pelayan lain yang sudah ada didalam memberinya kode untuk keluar menyambut tamu yang sudah dalam perjalan.


Reisa sudah berdiri di depan pintu ruangan sekitar 15 menit lamanya. Mekipun kakinya mulai kesemutan karena sudah seharian bekerja di Galeri dengan heels, ia tetap harus bertahan. Tidak lama terlihat beberapa tamu VVIP yang akan memakai ruangan itu datang. Reisa membungkukkan badannya memberi salam.


“Reisa?” sapa penuh tanya dari seorang pria dibalik barisan beberapa para wanita paru baya.


Reisa kembali bangkit setelah menyelesaikan salamnya, pandangannya tertuju ke sumber suara yang sangat tidak asing baginya.


“David ?” tanya Reisa balik.


“Dav, kau mengenalnya?” tanya seorang gadis yang memiliki paras wajah yang sangat cantik.


“Dia…” belum sampai David menyelesaikan kata-katanya, seorang wanita baru baya yang tidak asing bagi Reisa memotong perkataannya.


Wanita paru baya itu mempersilahkan gadis itu masuk lebih dahulu. “Sudah, masuk dulu yuk Lili. Dia hanya teman David" potongnya.

__ADS_1


"Tante juga mengenalnya?” tanya gadis bernama Lily itu.


“Dia yang merekomendasikan tempat ini kepada David, maklum promosi demi dapat tips lebih" jawabnya.


“Mama…!” teriak David kepada wanita paru baya yang terlihat jauh lebih muda dari usianya itu. David kesal dengan perkataan ibunya yang menyebut Reisa hanyalah kenalan biasa.


“Silahkan masuk, kami sudah menyiapkannya di dalam” potong Reisa mempersilahkan mereka masuk.


Tidak disangka jika tamu VVIP yang harus Reisa jamu dan layani adalah David kekasihnya. David datang dengan kedua orang tuanya mengadakan makan malam dengan keluarga rekan bisnis ayahnya.


David terkejut melihat Reisa ada di sana sebagai pelayan. Ibu David sudah mengenal Reisa dan mengetahui hubungan putranya dengan Reisa. Namun ia tidak menyukai Reisa yang di anggap tidak pantas untuk David putranya.


Ibu David sedang berusaha menjodohkan David dengan Lily, putri dari rekan bisnis ayah David. David dan Lily sendiri pun sudah lama saling mengenal. David menganggap kedekatannya dengan Lily selama ini hanya sebatas teman. Namun, berbeda dengan Lily yang sudah jatuh hati dengan David.


“Silahkan nyonya, saya akan mengantarkan anda ke meja anda” ucap Reisa mengabaikan David.


David menahan Reisa dengan menarik tangannya. Ibu David yang melihat itu langsung mempersilahkan Lily masuk lebih dahulu. Lily masuk dengan wajah penasaran akan apa yang terjadi dan siapa pelayan itu.


“Apa-apaan kamu David? Cepat masuk susul Lily !” Perintahnya kepada David.


David menolak, ia menarik tangan Reisa untuk membawanya pergi. Namun, Reisa menolak ajakan David. ”David, dengarkan kata ibumu” tolak Reisa menahan langkahnya.


“Konyol kata mama?” tanya David.


“Kamu lihat, apa yang ia lakukan sekarang. Ia menjadi pelayan yang akan melayani kita. Menurutmu apa mungkin mama akan bilang dia ini pacar kamu?. David, mama sudah bilang putuskan dia karena tidak pantas untuk kamu” ucapnya dengan wajah sinis memandang rendah Reisa.


“Mama… “ panggil seorang pria yang tidak lain ayah David, Pak William Colin. David yang tadinya sudah ingin membalas perkataan ibunya terhenti setelah mendengar panggilan sang ayah kepada ibunya.


Ayah David bersama Pak Pras yang berjalan di belakang baru sampai. Ayah David langsung menghampiri sang istri yang terlihat sedang ribut dengan putranya. Ayah David mempersilahkan Pak Pras masuk dahulu setelah dibantu Reisa membukakan pintu.


“Mama, ada apa ini?” tanyanya kepada sang istri setelah Pak Pras memasuki ruangan. “Reisa? Kau bekerja disini?” lanjut tanyanya kepada Reisa yang baru ia sadari adalah pelayan yang baru saja membukakan pintu untuk Pak Pras.


“Pak William” sapa Reisa membungkuk. Pak William bukan hanya sekedar ayah dari David kekasihnya, tapi ia adalah pemilik Galery tempatnya bekerja.


“David, apa ada sesuatu yang ingin kau selesaikan dengan Reisa?” tanya Pak Willian kepada putranya. David hanya mengucapkan Maaf kepada Ayahnya.


“Pergilah, ayah akan meminta pelayan lain menggantikannya untuk menjamu didalam” lanjutnya. David pamit meninggalkan ayah dan ibunya dengan membawa Reisa. Reisa hanya pasrah mengikuti David.


Tidak hanya ibu David, tapi Pak William juga mengetahui hubungan David dengan Reisa. Berbeda dengan sang istri, Pak William tidak pernah ikut campur dengan urusan percintaan putranya. Ia juga tidak pernah memandang status dan membatasi siapa saja yang berhak bersama putranya.

__ADS_1


“Papi ini bagaimana sih, kok malah David dibiarkan pergi begitu saja. Papi tidak lihat di dalam sudah ada keluarga Pak Pras yang juga ingin David ada di dalam bersama dengan Lily” kesal ibu David.


“Ma, kita dan Pak Pras makan malam hanya untuk menjaga hubungan baik sebagai rekan bisnis. Bukan untuk acara perjodohan.”


“Tapi mama malu dong pi kalau tiba-tiba David main pergi begitu saja, kasihan Lily di dalam yang sudah menunggunya.”


“Kenapa harus malu? Sementara Lily tidak protes. Mama yang justru harusnya malu dengan sikap mama barusan yang juga di lihat oleh Pak Pras tadi. Sudah masuk, Papi justru akan malu jika membuat mereka terlalu lama menunggu” perintah ayah David.


“Ihh… papi. Anak sama ayah sama saja” ucapnya kesal lalu pergi lebih dulu masuk. Pak William hanya menggeleng kepala melihat sikap istrinya.


David membawa Reisa keluar Restauran. Sesampai diluar Reisa menghempas tangan David. “Apa yang kau lakukan?” tanya Reisa.


“Kau tidak merasa jika itu yang harusnya kutanyakan?” tanya David. “Bagaimana kau bisa ada disini?” lanjut tanyanya.


“Kenapa? kau juga malu melihatku ada disini”jawab Reisa.


“Bisakah kau hanya menjawab apa yang kutanyakan tanpa mengaitkan ke hal yang lain yang hanya ada dalam pikiranmu sendiri” ucap David.


David tidak menyalahkan Reisa bekerja di sana, namun ia kecewa karena Reisa tidak memberitahunya dan menyembunyikan darinya. Ia merasa seperti bukan kekasih yang baik sehingga membuat wanita yang dicintainya tidak berani berterus terang.


“Aku tidak pedulI siapa yang sedang di jamu ibuku, kau adalah kekasihku dan akan tetap menjadi kekasihku. Aku tidak pernah malu dengan itu. Jadi berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak” lanjut ucap David.


"Kau mungkin tidak akan malu, tapi tidak dengan ibumu. Aku pun tidak ingin merusak citra keluargamu hanya untuk orang rendahan sepertiku.


“Reisa apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau ucapkan?” tanya David.


“emm…” sahut Reisa. “Aku sadar, bahkan aku sangat sangat sangat sadar dengan perbedaan kita David” lanjutnya.


Perkataan Reisa membuat David sangat kecewa. “Apa kau sadar jika apa yang kau katakan artinya kau sendiripun memandang rendah dirimu sendiri” ucap David.


Reisa menunduk, ia menghela nafas lalu kembali memandang David. “Kau benar, aku bahkan tidak berani membanggakan diriku sendiri didepan dirimu. Lalu bagaimana aku bisa mengatasi keluargamu? Maafkan aku David jika sudah merusak perjamuan malam kalian” ucapnya lalu meninggalkan David kembali masuk.


David memejamkan matanya akan kepergian Reisa yang meninggalkannya masuk kembali ke dalam restauran. “Apa kau tidak mengerti jika kau yang lebih ku khawatirkan saat ini” ucapnya dalam hati.


.


.


***To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2